Ysh Cak Bawole yang lucu, Sampeyan ngawur ae yo?… angin segar piye to rek sampeyan iku?…. coba deh ilmu terawang yg hasil sampeyan les diperguruan Si Buntu Dari Gua Hantu dulu itu sampeyan pakai dulu sebentar gitu lho….. Sampeyan khan seharusnya tanggap ing sasmito bahwa lembaga yang mengurus perkara ruwange kutho (kawasan maju) iku tugase khan noto kutho, mengendalikno aktivitase kutho, membatesi aktivitase kutho dan sakpiturute…. Bukannya tugase noto PKL ben berkembang dan uripe penak ….. Mending sampeyan podho karena awak2 iki nonton ae rek.… biarlah mereka terus menerus memilih-milih menangani masalah yang populer dan menangani langsung pada fenomenanya… dan bukan pada akar masalahnya…. Dan bukan mengkaitkan dgn multidisipliner yg luas spt demografi , migrasi, redistribusi sistem city size kota dsb….. Jenenge nduwe anggaran rak yo wis pantes to rek nek dibelanjakno dan dientek-entekno…. Jenenge duwe kekuasaan rak yo terserah to rek… arep gae opo….hasile gak penting…. Mumpung komisi nasional penataan ruang durung lahir fitu lho…… (Maap tgp kembali utk teman2 yang lain nyusul ya… saya izin cuti sebentar gak nulis yg serius dulu)……. Salam, Re: Bls: [referensi] Street vendors Monday, November 17, 2008 11:40 PM From "paulus bawole" <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Rekan-rekan milister yang baik,
Nahhh....mudah- mudahan hal ini adalah angin segar untuk saudara kita yang memikul sebutan sebagai "pelaku informal" di tengah kota. Mudah-mudahan para pemberi masukan dan pengambil keputusan bertolak dari persepsi yang mencoba melihat sisi positif dari fenomena informal di tengah kota, karena untuk melihat aspek negatif sangat mudah dan banyak list/daftar yang dapat dicatat seperti: kumuh, tidak teratur, menyerobot public space, sarang kriminal, tempat beredarnya mafia obat bius, dll. Apabila persepsi awal yang dipakai sebagai rujukan untuk melihat fenomena informal adalah aspek-aspek negatifnya, saya kuatir output yang menjadi hasil dari Peraturan Menteri atau Peraturan Pemerintah apapun hasilnya "Setali Tiga Uang" alias sami mawon dengan peraturan yang sebelumnya yang implementasinya bisa dikiyak-kiyuk yang membuat masyrakat golongan bawah yang menderita semakin menderita. So, kalau boleh tolong proses yang akan dilakukan adalah dengan mencoba berfikir positif terhadap fenomena informal di tengah kota, sehingga aturan yang akan diterapkan dapat meningkatkan aspek-aspek positif tersebut dan meminimalsir aspek-aspek negatif dari fenomena informal di tengah kota. Yach semoga puisi yang telah diungkapkan mas Priyo dari Yogya nantinya akan terbalik subyek pengamatnya menjadi : Disana dianggap kuman .... disini jadi idaman Disana dianggap masalah ..... disini adalah berkah Disana dianggap keruwetan ..... disini justru jadi idaman Aah PKL ... berbahagialah dikau ... bukan hanya jadi pembicaraan tapi lebih dari sebatas pembicaraan. .... Nasibmu ..... banyak orangpun tahu...hik.. .hik...hik. . (terharu bukan nelongso lho mas !!!) Re: [referensi] Street vendors Monday, November 17, 2008 5:31 PM From "paulus bawole" <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] REkan-rekan milister semuanya, Enak juga membaca pantunnya mas Priyo. Kalau boleh meraba-raba makna pantunnya mas Priyo, kira-kira seperti ini : Yang dimaksud "Disini" sepertinya orang-orang kita yang mempunyai image kota yang indah adalah seperti kota-kota di negara papan Sam atau di negarta maju lainnnya yang penuh dengan taman-taman indah yang kehidupannya sudah teratur dengan baik. Sedangkan yang dimaksud "Disana" kira-kira yach orang-orang di negeri maju yang tahu dan sadar mengenai konteks dan kekayaan kota-kota di negeri Indonesia tercinta. Jadi ya begitulah, pol pole yo mek isok ngomong "Kasihan", karena kalau kita-kita saja yang berbicara, apalah kekuatan kita dibanding kekutan satpol PP yang beringas menghancurkan gerobak dorong PKL. Tanpa ada good will dari sing nduwe negoro opo sing nduwe kutho untuk melihat sisi positif tentang fenomena informal di kota, ya pada akhirnya tetap saja terjadi bongkar-membongkar gusur-menggusur, atau yang lebih gila lagi bakar membakar. Demikian rekan-rekan interprestasi saya tentang pantun mas Priyo yang sedikit nelongso...he. .he..he.. . salam hangat dari Yogya juga mas, bawole --- "[EMAIL PROTECTED] net.id" <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote: > > Kang Deden ysh, milister yth. > > Ibaratnya ungkapan .... > Disini dianggap kuman .... disana jadi idaman > Disini dianggap masalah ..... disana adalah berkah > Disini dianggap keruwetan ..... disana justru jadi > idaman > Aah PKL ... kasihan dikau ... hanya jadi pembicaraan > tapi hanya sebatas pembicaraan. .... > Nasibmu ..... tak seorangpun tahu. > Salam > > bsp - yg sehari2 berteman dg PKL di Jogja

