Eyang Aby dan rekan-rekan yang baik, Ya pancen awakku iki rodok ngawur respone, wong uthek yo mek pas-pasan je.
Maksud saya bukan mau melegalkan fenomena informal yang ada di tengah kota seperti pemukiman informal (squatter settlements) dan PKL, tetapi kita melihat fakta yang ada di lapangan bahwa program penggsusuran yang dilakukan oleh pemerintah atau swasta seperti program "Tutup Lobang - Gali Lobang". Satu sisi penggusuran berusaha mempercantik suatu kawasan yang tadinya kumuh, tetapi sisi lain program demolation menstimulan munculnya fonomena informal baru di wilayah lain, apakah di kota yang sama atau di kota yang lainnya. Faktanya adalah masyarakat yang sering dicap sebagai pembuat kotornya kota sama sekali tidak mampu membeli fasilitas yang sifatnya formal walaupun oleh pemerintah dikatakan sebagai perumahan untuk masyarakat miskin. Sak jane temenan lho iki Eyang, nek sedulur-sedulur sing golongane termasuk akar rumput, mereka mecari nafkah ya untuk kebutuhan sehari saja.Kehidupan esok akan mereka cari esok juga. Aku dadi terharu krungu riwayate Bung Djarot sing gak nduwe dalan liyane selain nyurung gerobak dodolan nang PKL kota Magelang. Nah menurut pendapat dan pikiran saya, pihak pemerintah sudah banyak membuat peraturan-peraturan yang membela masyarakat akar rumput ini. Misalnya dari UUD 1945 : Pasal 33 3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal 34 Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara. Juga tentang Amandemen Pasal 28 UUD 1945 tentang HAK ASASI MANUSIA : Pasal 28 Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Selain UUD 1945 ada banyak lagi UU atau PP yang isinya sebenarnya juga berpihak pada kaum papa. Tetapi kenyataannya tetap saja, masyarakat yang termarginal yang selalu yang dikejar-kejar oleh Satpol bahkan sampek digubuki awake nganggo penthungan. Eyang dan rekan-rekan militer yang baik, pikiran saya simple saja. Prinsipnya tolong diusahakan melihat atau mengapresiasi fenomena informal di tengah kota, janganlah berfikir yang negatif terhadap kehidupan saudara-saudara kita ini. Apabila kita melihat fenomena informal, pikiran kita sudah banyak diracuni dengan image-image indahnya kota di Monconegoro, sudah pasti yang akan muncul adalah : > Squatter settlements adalah pemukiman liar yang penuh dengan kriminal, tidak sehat, sumber penyakit, Bau, merusak image kota, dll. > Demnikian juga dengan PKL kita pasti melihat mereka adalah pedagang yang menyerobot public space, membuat jalan menjadi kotor, membuat kemacetan lalu lintas, membuat kota menjadi bau dan pebuh dengan sampah , dll. Mengenai list tentang negatifnya fenomena informal, saya kira masih bisa rekan-rekan tambahkan lebih banyak lagi sederetan aspek negatif lainnya. Kalau memungkinkan usahakan apresiasi dan pemikiran kita dibalik 180 derajat dengan mencoba melihat apa yang positif dari kehidupan masyarakat yang selalu dicap sebagai perusak lingkungan kota. Kalau boleh jujur masyarakat yang saat ini tinggal pada pemukiman informal yang kumuh, juga tidak mau tinggal pada pemukiman tersebut apabila mereka mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk tinggal yang lebih layak. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah pelaku-pelaku peraturan yang sudah dibuat pemerintah. Kalau dipikir-pikir kontribusi mereka juga cukup besar terhadap berkembangnya fenomena informal di tengah kota. Tidak ada satupun pemukiman informal dan PKL yang berkmbang pada satu wilayah secara bersama-sama dalam jumlah yang besar. Pada umumnya mereka mendirikan gubuk atau rombong PKL satu per satu. Nah parahnya para pimpinan daerah yang paling ujung dalam hal ini pihak kelurahan dan kecamatan, membiarkan fenomena informal berkembang, bahkan banyak diantara mereka yang menarik retribusi terhadap munculnya fenomena informal. Setelah jumlahnya semakin banyak mulailah mnereka mencoba melakukan penertiban. Keadaan ini akan menjadi lebih bengis dan ganas lagi, apabila ada kunjungan dari boss-boss besar dari Jakarta seperti pak Presidan atau menteri-mentrinya yang berkunjung untuk meresmikan bangunan di kawasan yang penuh dengan PKL. Semua PKL yang ada di sekitar bangunan yang akan diresmikan, dalam sehari sudah harus hilang dari muka bumi. Jadi kalau saya mau berteori tentang kota yang indah apapun, kalau yang punya wilayah tidak bisa dengan tegas mengantisipasi berkembangnya fenomena informal, akhirnya sami mawon. Percuma kita mendesain kota dengan teori yang ndakik-ndakik tetapi implementasinya wes...awes....ewes...bablas angine alias PerCumTakBerGun. Wuaaaduhhhh Eyang dan rekan-rekan, aku wis kakean cangkem !!! Mohon maaf atas celothehan yang tidak terstruktur dengan baik. Anyway saya akan sangat senang dan bangga sekali kalau kita mau bersusah payah mendiskusikan saudara kita di sektor informal untuk MENINGKATKAN KELAYAKAN HIDUP mereka dan bukan membuat mereka SEMAKIN TERPURUK DENGAN KEMISKINAN yang sudah mereka alami bertahun-tahun. Salam sayang, Bawole Saudara-saudara kita yang ada di golongan grass root merasa mendapat angin segar (iki seger temenan lho Eyang Aby...he..he...) dengan munculnya UU N0. 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. Pada UU tersebut terselip sangsi-sangsi pada pelaku peraturan, apabila sipelaku peraturan tidak mentaati peraturan yang ada. Mudah-mudahan UU tersebut dapat diimplementasikan sampai pada ujung tombak pemerintah daerah. Mudah-mudahan kita bisa mengontrol pemerintah daerah dalam mengaplikasikan Perda (Master Plan Kota) yang sudah dibuat oleh para planner dan arsitek yang canggih dan super canggih. --- hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ysh Cak Bawole yang lucu, > > Sampeyan ngawur ae yo? angin segar piye to rek > sampeyan iku? . coba deh ilmu terawang yg hasil > sampeyan les diperguruan Si Buntu Dari Gua Hantu > dulu itu sampeyan pakai dulu sebentar gitu lho .. > Sampeyan khan seharusnya tanggap ing sasmito bahwa > lembaga yang mengurus perkara ruwange kutho > (kawasan maju) iku tugase khan noto kutho, > mengendalikno aktivitase kutho, membatesi > aktivitase kutho dan sakpiturute . Bukannya tugase > noto PKL ben berkembang dan uripe penak .. > > Mending sampeyan podho karena awak2 iki nonton ae > rek. biarlah mereka terus menerus memilih-milih > menangani masalah yang populer dan menangani > langsung pada fenomenanya dan bukan pada akar > masalahnya . Dan bukan mengkaitkan dgn > multidisipliner yg luas spt demografi , migrasi, > redistribusi sistem city size kota dsb .. > Jenenge nduwe anggaran rak yo wis pantes to rek > nek dibelanjakno dan dientek-entekno . Jenenge duwe > kekuasaan rak yo terserah to rek arep gae > opo .hasile gak penting . Mumpung komisi nasional > penataan ruang durung lahir fitu lho > (Maap tgp kembali utk teman2 yang lain nyusul ya > saya izin cuti sebentar gak nulis yg serius dulu) . > > Salam, > > > > Re: Bls: [referensi] Street vendors > Monday, November 17, 2008 11:40 PM > From "paulus bawole" <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > > Rekan-rekan milister yang baik, > > Nahhh....mudah- mudahan hal ini adalah angin segar > untuk saudara kita yang memikul sebutan sebagai > "pelaku informal" di tengah kota. > > Mudah-mudahan para pemberi masukan dan pengambil > keputusan bertolak dari persepsi yang mencoba > melihat > sisi positif dari fenomena informal di tengah kota, > karena untuk melihat aspek negatif sangat mudah dan > banyak list/daftar yang dapat dicatat seperti: > kumuh, > tidak teratur, menyerobot public space, sarang > kriminal, tempat beredarnya mafia obat bius, dll. > Apabila persepsi awal yang dipakai sebagai rujukan > untuk melihat fenomena informal adalah aspek-aspek > negatifnya, saya kuatir output yang menjadi hasil > dari > Peraturan Menteri atau Peraturan Pemerintah apapun > hasilnya "Setali Tiga Uang" alias sami mawon dengan > peraturan yang sebelumnya yang implementasinya bisa > dikiyak-kiyuk yang membuat masyrakat golongan bawah > yang menderita semakin menderita. > > So, kalau boleh tolong proses yang akan dilakukan > adalah dengan mencoba berfikir positif terhadap > fenomena informal di tengah kota, sehingga aturan > yang > akan diterapkan dapat meningkatkan aspek-aspek > positif > tersebut dan meminimalsir aspek-aspek negatif dari > fenomena informal di tengah kota. > > Yach semoga puisi yang telah diungkapkan mas Priyo > dari Yogya nantinya akan terbalik subyek pengamatnya > menjadi : > > Disana dianggap kuman .... disini jadi idaman > Disana dianggap masalah ..... disini adalah berkah > Disana dianggap keruwetan ..... disini justru jadi > idaman Aah PKL ... berbahagialah dikau ... bukan > hanya jadi > pembicaraan tapi lebih dari sebatas pembicaraan. > .... > Nasibmu ..... banyak orangpun tahu...hik.. > .hik...hik. . > (terharu bukan nelongso lho mas !!!) > > > Re: [referensi] Street vendors > Monday, November 17, 2008 5:31 PM > From "paulus bawole" <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > > REkan-rekan milister semuanya, > Enak juga membaca pantunnya mas Priyo. > Kalau boleh meraba-raba makna pantunnya mas Priyo, > kira-kira seperti ini : > Yang dimaksud "Disini" sepertinya orang-orang kita > yang mempunyai image kota yang indah adalah seperti > kota-kota di negara papan Sam atau di negarta maju > lainnnya yang penuh dengan taman-taman indah yang > kehidupannya sudah teratur dengan baik. Sedangkan > yang > dimaksud "Disana" kira-kira yach orang-orang di > negeri > maju yang tahu dan sadar mengenai konteks dan > kekayaan > kota-kota di negeri Indonesia tercinta. > Jadi ya begitulah, pol pole yo mek isok ngomong > "Kasihan", karena kalau kita-kita saja yang > berbicara, > apalah kekuatan kita dibanding kekutan satpol PP > yang > beringas menghancurkan gerobak dorong PKL. Tanpa ada > good will dari sing nduwe negoro opo sing nduwe > kutho > untuk melihat sisi positif tentang fenomena informal > di kota, ya pada akhirnya tetap saja terjadi > bongkar-membongkar gusur-menggusur, atau yang lebih > gila lagi bakar membakar. > Demikian rekan-rekan interprestasi saya tentang > pantun > mas Priyo yang sedikit nelongso...he. .he..he.. . > > salam hangat dari Yogya juga mas, > bawole > > --- "[EMAIL PROTECTED] net.id" <[EMAIL PROTECTED] > net.id> > wrote: > > > > > Kang Deden ysh, milister yth. > > > > Ibaratnya ungkapan .... > > Disini dianggap kuman .... disana jadi idaman > > Disini dianggap masalah ..... disana adalah berkah > > Disini dianggap keruwetan ..... disana justru jadi > > idaman > > Aah PKL ... kasihan dikau ... hanya jadi > pembicaraan > > tapi hanya sebatas pembicaraan. .... > > Nasibmu ..... tak seorangpun tahu. > > Salam > > > > bsp - yg sehari2 berteman dg PKL di Jogja > > > > >

