Eyang ABY ini gencar kampanye tentang Morotai tetapi manggil Bung Bawole pakai 
CAK, kan aneh...mosok namanya BAWOLE sudah aneh kok masih diformat dengan 
perspektif Jawanisme...dikira orang Jawatimuran....mosok sih ada orang Jawa 
Timur yang namanya Bawole.....Panggil DAENG atau apalah...yang ada di 
Morotai....biar lebih pas.....orangnya memang lucu...kayak Rhoma Irama 
begitu..heheheee...perepektifnya yang konsisten gitu lhoh Eyang....masak Jawa 
deles banget.....mengindonesia-lah......atau BLI seperti orang Bali yang 
memanggil temannya....

Salam,



Djarot Purbadi



http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenonemologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 11/19/08, paulus bawole <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: paulus bawole <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Cak Bawole Re: Sreet Vendors
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 19, 2008, 12:30 PM










    
            Eyang Aby dan rekan-rekan yang baik,



Ya pancen awakku iki rodok ngawur respone, wong uthek

yo mek pas-pasan je.



Maksud saya bukan mau melegalkan fenomena informal

yang ada di tengah kota seperti pemukiman informal

(squatter settlements) dan PKL, tetapi kita melihat

fakta yang ada di lapangan bahwa program penggsusuran

yang dilakukan oleh pemerintah atau swasta seperti

program "Tutup Lobang - Gali Lobang". Satu sisi

penggusuran berusaha mempercantik suatu kawasan yang

tadinya kumuh, tetapi sisi lain program demolation

menstimulan munculnya fonomena informal baru di

wilayah lain, apakah di kota yang sama atau di kota

yang lainnya. 



Faktanya adalah masyarakat yang sering dicap sebagai

pembuat kotornya kota sama sekali tidak mampu membeli

fasilitas yang sifatnya formal walaupun oleh

pemerintah dikatakan sebagai perumahan untuk

masyarakat miskin. Sak jane temenan lho iki Eyang, nek

sedulur-sedulur sing golongane termasuk akar rumput,

mereka mecari nafkah ya untuk kebutuhan sehari

saja.Kehidupan esok akan mereka cari esok juga. Aku

dadi terharu krungu riwayate Bung Djarot sing gak

nduwe dalan liyane selain nyurung gerobak dodolan nang

PKL kota Magelang.



Nah menurut pendapat dan pikiran saya, pihak

pemerintah sudah banyak membuat peraturan-peraturan

yang membela masyarakat akar rumput ini. Misalnya dari

UUD 1945 :

Pasal 33

3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di

dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk

sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 



Pasal 34

Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara

oleh Negara.



Juga tentang Amandemen Pasal 28 UUD 1945 tentang  HAK

ASASI MANUSIA :



Pasal 28

Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak

mempertahankan hidup dan kehidupannya. 



Selain UUD 1945 ada banyak lagi UU atau PP yang isinya

sebenarnya juga berpihak pada kaum papa. Tetapi

kenyataannya tetap saja, masyarakat yang termarginal

yang selalu yang dikejar-kejar oleh Satpol bahkan

sampek digubuki awake nganggo penthungan.



Eyang dan rekan-rekan militer yang baik, pikiran saya

simple saja. Prinsipnya tolong diusahakan melihat atau

mengapresiasi fenomena informal di tengah kota,

janganlah berfikir yang negatif terhadap kehidupan

saudara-saudara kita ini. Apabila kita melihat

fenomena informal, pikiran kita sudah banyak diracuni

dengan image-image indahnya kota di Monconegoro, sudah

pasti yang akan muncul adalah :

> Squatter settlements adalah pemukiman liar yang

penuh dengan kriminal, tidak sehat, sumber penyakit,

Bau, merusak image kota, dll.

> Demnikian juga dengan PKL kita pasti melihat mereka

adalah pedagang yang menyerobot public space, membuat

jalan menjadi kotor, membuat kemacetan lalu lintas,

membuat kota menjadi bau dan pebuh dengan sampah ,

dll.



Mengenai list tentang negatifnya fenomena informal,

saya kira masih bisa rekan-rekan tambahkan lebih

banyak lagi sederetan aspek negatif lainnya.



Kalau memungkinkan usahakan apresiasi dan pemikiran

kita dibalik 180 derajat dengan mencoba melihat apa

yang positif dari kehidupan masyarakat yang selalu

dicap sebagai perusak lingkungan kota. Kalau boleh

jujur masyarakat yang saat ini tinggal pada pemukiman

informal yang kumuh, juga tidak mau tinggal pada

pemukiman tersebut apabila mereka mempunyai kesempatan

dan kemampuan untuk tinggal yang lebih layak.



Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah

pelaku-pelaku peraturan yang sudah dibuat pemerintah.

Kalau dipikir-pikir kontribusi mereka juga cukup besar

terhadap berkembangnya fenomena informal di tengah

kota. Tidak ada satupun pemukiman informal dan PKL

yang berkmbang pada satu wilayah secara bersama-sama

dalam jumlah yang besar. Pada umumnya mereka

mendirikan gubuk atau rombong PKL satu per satu. Nah

parahnya para pimpinan daerah yang paling ujung dalam

hal ini pihak kelurahan dan kecamatan,  membiarkan

fenomena informal berkembang, bahkan banyak diantara

mereka yang menarik retribusi terhadap munculnya

fenomena informal. Setelah jumlahnya semakin banyak

mulailah mnereka mencoba melakukan penertiban. Keadaan

ini akan menjadi lebih bengis dan ganas lagi, apabila

ada kunjungan dari boss-boss besar dari Jakarta

seperti pak Presidan atau menteri-mentrinya yang

berkunjung untuk meresmikan bangunan di kawasan yang

penuh dengan PKL. Semua PKL yang ada di sekitar

bangunan yang akan diresmikan, dalam sehari sudah

harus hilang dari muka bumi. Jadi kalau saya mau

berteori tentang kota yang indah apapun, kalau yang

punya wilayah tidak bisa dengan tegas mengantisipasi

berkembangnya fenomena informal, akhirnya sami mawon.

Percuma kita mendesain kota dengan teori yang

ndakik-ndakik tetapi implementasinya

wes...awes.. ..ewes... bablas angine alias

PerCumTakBerGun.



Wuaaaduhhhh Eyang dan rekan-rekan, aku wis kakean

cangkem !!! Mohon maaf atas celothehan yang tidak

terstruktur dengan baik. Anyway saya akan sangat

senang dan bangga sekali kalau kita mau bersusah payah

mendiskusikan saudara kita di sektor informal untuk

MENINGKATKAN KELAYAKAN HIDUP mereka dan bukan membuat

mereka SEMAKIN TERPURUK DENGAN KEMISKINAN yang sudah

mereka alami bertahun-tahun.



Salam sayang,

Bawole  



Saudara-saudara kita yang ada di golongan grass root

merasa mendapat angin segar (iki seger temenan lho

Eyang Aby...he..he. ..) dengan munculnya UU N0. 26

Tahun 2007 tentang Tata Ruang. Pada UU tersebut

terselip sangsi-sangsi pada pelaku peraturan, apabila

sipelaku peraturan tidak mentaati peraturan yang ada.

Mudah-mudahan UU tersebut dapat diimplementasikan

sampai pada ujung tombak pemerintah daerah.

Mudah-mudahan kita bisa mengontrol pemerintah daerah

dalam mengaplikasikan Perda (Master Plan Kota) yang

sudah dibuat oleh para planner dan arsitek yang

canggih dan super canggih.  



--- hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:



> 

> Ysh Cak Bawole yang lucu,

>  

> Sampeyan ngawur ae yo?… angin segar piye to rek

> sampeyan  iku?…. coba deh ilmu terawang yg hasil

> sampeyan les diperguruan Si Buntu Dari Gua Hantu

> dulu itu sampeyan pakai dulu sebentar gitu lho…..

> Sampeyan khan seharusnya tanggap ing sasmito bahwa

> lembaga  yang mengurus perkara ruwange kutho

> (kawasan maju)  iku tugase khan noto kutho,

> mengendalikno aktivitase kutho, membatesi

>  aktivitase kutho dan sakpiturute…. Bukannya tugase

> noto PKL ben berkembang dan uripe penak …..

>  

> Mending sampeyan podho karena awak2 iki nonton ae

> rek.… biarlah mereka terus menerus  memilih-milih

> menangani masalah yang populer dan menangani

> langsung pada fenomenanya… dan bukan pada akar

> masalahnya…. Dan bukan mengkaitkan dgn

> multidisipliner yg  luas spt demografi , migrasi,

> redistribusi sistem city size kota dsb…..

> Jenenge nduwe anggaran rak  yo wis pantes  to rek

> nek dibelanjakno dan dientek-entekno… . Jenenge duwe

> kekuasaan rak yo terserah to rek… arep gae

> opo….hasile gak penting…. Mumpung komisi nasional

> penataan ruang durung lahir fitu lho……

> (Maap tgp kembali utk teman2 yang lain nyusul ya…

> saya izin cuti sebentar gak nulis yg serius dulu)…….

>  

> Salam,  

>  

>  

>  

> Re: Bls: [referensi] Street vendors

> Monday, November 17, 2008 11:40 PM

> From  "paulus bawole" <paulus_bawole@ yahoo.com>

> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com

>  

> Rekan-rekan milister yang baik,

> 

> Nahhh....mudah- mudahan hal ini adalah angin segar

> untuk saudara kita yang memikul sebutan sebagai

> "pelaku informal" di tengah kota. 

> 

> Mudah-mudahan para pemberi masukan dan pengambil

> keputusan bertolak dari persepsi yang mencoba

> melihat

> sisi positif dari fenomena informal di tengah kota,

> karena untuk melihat aspek negatif sangat mudah dan

> banyak list/daftar yang dapat dicatat seperti:

> kumuh,

> tidak teratur, menyerobot public space, sarang

> kriminal, tempat beredarnya mafia obat bius, dll.

> Apabila persepsi awal yang dipakai sebagai rujukan

> untuk melihat fenomena informal adalah aspek-aspek

> negatifnya, saya kuatir output yang menjadi hasil

> dari

> Peraturan Menteri atau Peraturan Pemerintah apapun

> hasilnya "Setali Tiga Uang" alias sami mawon dengan

> peraturan yang sebelumnya yang implementasinya bisa

> dikiyak-kiyuk yang membuat masyrakat golongan bawah

> yang menderita semakin menderita.

> 

> So, kalau boleh tolong proses yang akan dilakukan

> adalah dengan mencoba berfikir positif terhadap

> fenomena informal di tengah kota, sehingga aturan

> yang

> akan diterapkan dapat meningkatkan aspek-aspek

> positif

> tersebut dan meminimalsir aspek-aspek negatif dari

> fenomena informal di tengah kota. 

> 

> Yach semoga puisi yang telah diungkapkan mas Priyo

> dari Yogya nantinya akan terbalik subyek pengamatnya

> menjadi :

> 

> Disana dianggap kuman .... disini jadi idaman

> Disana dianggap masalah ..... disini adalah berkah

> Disana dianggap keruwetan ..... disini justru jadi

> idaman Aah PKL ... berbahagialah dikau ... bukan

> hanya jadi

> pembicaraan tapi lebih dari sebatas pembicaraan.

> ....

> Nasibmu ..... banyak orangpun tahu...hik..

> .hik...hik. .

> (terharu bukan nelongso lho mas !!!)

>  

>  

> Re: [referensi] Street vendors

> Monday, November 17, 2008 5:31 PM

> From  "paulus bawole" <paulus_bawole@ yahoo.com>

> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com

>  

> REkan-rekan milister semuanya,

> Enak juga membaca pantunnya mas Priyo.

> Kalau boleh meraba-raba makna pantunnya mas Priyo, 

> kira-kira seperti ini :

> Yang dimaksud "Disini" sepertinya orang-orang kita

> yang mempunyai image kota yang indah adalah seperti

> kota-kota di negara papan Sam atau di negarta maju

> lainnnya yang penuh dengan taman-taman indah yang

> kehidupannya sudah teratur dengan baik. Sedangkan

> yang

> dimaksud "Disana" kira-kira yach orang-orang di

> negeri

> maju yang tahu dan sadar mengenai konteks dan

> kekayaan

> kota-kota di negeri Indonesia tercinta.

> Jadi ya begitulah, pol pole yo mek isok ngomong

> "Kasihan", karena kalau kita-kita saja yang

> berbicara,

> apalah kekuatan kita dibanding kekutan satpol PP

> yang

> beringas menghancurkan gerobak dorong PKL. Tanpa ada

> good will dari sing nduwe negoro opo sing nduwe

> kutho

> untuk melihat sisi positif tentang fenomena informal

> di kota, ya pada akhirnya tetap saja terjadi

> bongkar-membongkar gusur-menggusur, atau yang lebih

> gila lagi bakar membakar.

> Demikian rekan-rekan interprestasi saya tentang

> pantun

> mas Priyo yang sedikit nelongso...he. .he..he.. .

> 

> salam hangat dari Yogya juga mas,

> bawole

> 

> --- "[EMAIL PROTECTED] net.id" <[EMAIL PROTECTED]

> net.id>

> wrote:

> 

> > 

> > Kang Deden ysh, milister yth.

> > 

> > Ibaratnya ungkapan ....

> > Disini dianggap kuman .... disana jadi idaman

> > Disini dianggap masalah ..... disana adalah berkah

> > Disini dianggap keruwetan ..... disana justru jadi

> > idaman

> > Aah PKL ... kasihan dikau ... hanya jadi

> pembicaraan

> > tapi hanya sebatas pembicaraan. ....

> > Nasibmu ..... tak seorangpun tahu.

> > Salam

> > 

> > bsp - yg sehari2 berteman dg PKL di Jogja

>  

>  

> 

> 

>       




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke