Diskusi dengan pak Risfan :

+++: Rekans ysh, Mencoba memahami yang disampaikan Pak Aby:
1. Ada Rencana Tata Ruang, ada Rencana Pengembangan Wilayah - yang merinci dari 
program jangka panjang, menengah, hingga kegiatan tahunan. Serta Action Plan - 
yang bisa dilakukan hari ini
>>>: Betul

+++: 2. Soal posisi Morotai dalam konstelasi transportasi regional, mungkin 
perlu dilihat pula Rencana skala provinsi dan wilayah lebih luas, termasuk 
rencana sektor perhubungannya.
>>>: Betul

+++: 3 Mas Dwiagus menambahkan,"APA yang di trade kan? Wisata apa yang 
ditawarkan?
Ini mengundang pertanyaan berikutnya: "Kepada siapa itu akan (sesuai) di jual?" 
misal kepada negaranya Nakamura, yang semasa PD2 terdampar disitu. Atau siapa? 
Adakah mereka sudah berwisata di sekitar situ? Berapa length-of-stay rerata 
mereka? Bisa nambah ke Morotai? Apa gimmick promo yang bisa ditawarkan?
>>>: Yg ini biarlah mas Dwiagus sendiri yg menjawabnya dan/ menambah uraiannya 
>>>bila perlu

+++: 4. Dalam action plan, perlu juga diidentifikasi, di approach SIAPA aktor 
utama ekonomi disana. 
>>>: Betul
 
+++: Mitos investor biasanya adalah "dari luar". Tapi prakteknya yang jalan 
adalah pelaku setempat, atau di wilayah itu. 
>>>: Betul
 
+++:Tanya mereka apa bisnis mereka, dan apa bisnis yang potensial disitu? 
Pebisnis lah yang tahu bisnis, bukan planner atau ekonom. Tanya juga kalau tak 
ada kendala, ada modal, mau ngembangin apa mereka disana.
>>>: Spt telah saya kemukakan pada ‘morotai (6) atau (7)’.. pembahasan tentang 
>>>social –economic development saya bagi menjadi 2 bagian  ialah 
>>>“intra-regional socia econ. devlpment” dan  “inter-regional” social econ. 
>>>dvlpment”…. Dimana saya katakan saya akan “tinggalkan dulu pembahasan 
>>>“intra-regional econ. Devlpment” dan akan mau lebih membahas  
>>>“inter-regional econ. social devlpment”….. 
Maka jelas bahwa sementara saya tidak akan bahas ttg perekonomian 
lokal/pedalaman …. tapi lebih tentang eksos(tambah bud) inter-regional… atau 
dalam kaitan hubungan eksosbud ”Dengan dunia luar”…... 
Jadi pak Risfan, mas Djarot  atau siapa yg lain mau bahas lbh dalam  masalah 
“intraregional econ/soc/cultural silahkan saja…… (khan ceritanya dibalik….… yg 
didalam pagar istana sekolah planning/ kerajaan pengatur planning  biarkan saja 
memilih “menonton”… sementara yg diluar pagar biarlah ”menari dan menyanyi” 
ditonton…tapi gratis…hehe)…. Bagi saya membahas keduanya sekaligus akan terlalu 
”luas”…… saya juga bukannya ‘tahu segalanya semuanya’…. dan yg baca juga 
nanti bisa mabok…..
 
+++: 5. Maaf pertanyaan nakal: Bapak-bapak sekalian ke Morotai itu proyek apa? 
Misi utamanya apa? 
>>>: Seharusnya ada pihak lain lebih berkompeten utk menjawabnya….. jadi jawab 
>>>dari saya anggaplah saja satu bagian kecilnya saja…….
Jawabnya tentu : dalam rangka menjalankan wewenang dan sekaligus tgjwb yg 
dipikul……. Seperti anda tahu….. wilayah RI ini dari sabang sampai merauke pada 
DJPR dibagi dalam 4 wilayah PR…. Dan morotai menjadi bagian wilayah PR IV…. Dan 
seperti anda tahu… tiap wilayah memiliki banyak mamcam direktorat/ sub 
direktoratnya.... dimana masing2 memiliki anggaran dan target rencana kerjanya 
… dan konsekwensinya masing2 memiliki ‘rencana kegiatan’…… 
Morotai adalah bentuk dari “salah satu rencana/ target kerja/ kegiatan” dari 
salah satu sub direktorat….. dan kebetulan bahwa ada sedikit yg  dapat saya 
tulis……. 
Wilayah lain seperti Pulau Enggano, Simeulue, Rempang, Galang, pulau Wetar, 
Yamdena atau Natuna  atau Depok, Tangerang, Bogor bukan tak mungkin memiliki 
model anggaran dan kegiatan yg sejenis …. Hanya barangkali disana tidak ada 
‘aby’nya…. sehingga tak ada yg bersedia menuliskan reportnya  panjang lebar 
walau ‘materinya’ sebenarnya sedikit dan sempit  tapi dipanjang2kan dan 
dilebar2kan saja seperti oleh saya….. dimana kalau ditanya pak Risfan "Misi 
utamanya apa?"... motivasi saya (utk literatur) tak lain adalah utk memperkaya 
literatur perencanaan negeri ini... sokur bisa mencerdaskan bangsa... entah 
kalau 'misi' orang lain....
 
+++: Menjaga perbatasan supay pulau tak diduduki bangsa lain? 
>>>: pulau ini sudah dihuni 55.000 jiwa penduduk berktp RI....
 
+++: Mengamankan hutan lindung? Menata-ruang? Peduli ekonomi warga disana?
>>>: Yg namanya mengamankan hutan lindung adalah sudah menjadi pekerjaan 
>>>‘standard’… jadi tak perlu didiskusikan lebih panjang lebar….  Menata 
>>>batasan2 cara pemanfaatan ruang sudah jelas… agar pemanfaatan ruang2 tidak 
>>>“tak terkendali” dan merusak berbagai standar aturan pemanfaatan ruang…….
Peduli ekonomi warga disana?... jelas iya…….
 
+++: Kalau masih sepi kan tak ada kerusakan lingkungan, jangan-jangan karena 
direncanakan ekonomi dan fisiknya - malah mengundang perusakan lingkungan. 
>>>: Sepi jelas iya…. Tapi pemberian ‘HPH’ oleh pemda lokal untuk tukar 
>>>pembabatan hutan dengan tanaman kopra yg izin resminya ‘cukup peduli etika 
>>>lingkungan’… dalam praktek lapangannya bisa saja pelaksana HPH sengaja 
>>>melewati batas luasan izin hph… karena siapa mau ngukur dan memberi tanda 
>>>dilapangan ttg batas2 hutan yg boleh ditebang dan mana yg tidak……. Atau 
>>>kalau “batas dilapangan” bisa ‘dikompromikan’ dengan petugas lapangan…..  
>>>Kalau sudah begini bisakah ‘campur tangan luar utk kepedulian lingkungan” 
>>>tidak diperlukan?......
 
+++:Kalau mayoritas hutan lindung ya dihutankan saja, biar kehutanan saja yang 
jaga. Biar tetap utuh.
>>>: Kalau untuk hutannya… ya… itu jelas… tapi untuk manusianya perlu perlakuan 
>>>lain… karena manusia bukan pohon…. Disana ada 55.000 manusia….. Manusia 
>>>perlu memberi nafkah pangan, sandang, pendidikan bahkan kebutuhan spiritual/ 
>>>non matrial utk anak2nya dan istrinya…. Kalau pohon cukup menyedot sari 
>>>makanan dari dalam tanah.. entah ada air atau tidak…. Kalau ada angin 
>>>kencang entah bisa bertahan diri tegak  atau roboh dan tamat riwayatnya…. 
>>>Pohon tak  perlu beli pulsa utk bertelpon2an dgn temannya utk transaksi atau 
>>>say hello…. tak perlu pergi kemana2/ naik apa… tak perlu  kuliah… tak perlu 
>>>berdemokrasi dan memilih pemimpin… tak perlu ambisi kekuasaan… tak perlu  
>>>ber-kb… dsb…. Kalau manusia perlu semua itu….

+++: Kalau tujuannya pengamanan, ya bangun saja pos atau pelabuhan/ pangkalan 
militer.
>>>: pihak hankam sendiri pernah katakan …. Pertahanan terbaik itu bukanlah 
>>>pertahanan peralatan militer dan tentara… tetapi adalah pertahanan sosial 
>>>ekonomi (masyarakat)….

+++:Saya kuatir ada kontradiksi dari tujuan-tujuan "orang Jakarta" yang kesana. 
>>>: kalau yg namanya kontradiksi…. Prinsip dasarnya adalah lain kepala lain 
>>>isinya…. Suami dan istri sajapun pendapatnya utk satu masalah  bisa 
>>>kontradiktif…..
 
+++:Sudahkah ditanya mereka sendiri mau apa? 
>>>: Sekedar cerita sedikit… utk sampai pada sesi dialog dgn masyarakat lokal 
>>>tentang “mereka sendiri maunya apa”….. Kalau staf ahli meneg PDT pak Rofiq 
>>>pernah ceritakan pengalamannya tahun lalu bahwa beliau dengan 50 rombongan 
>>>dari berbagai departemen dan kantor menko pernah kemorotai sana dan katakan 
>>>“..saya kapok kesana… karena dibentak-bentak” … setidaknya itu menggambarkan 
>>>.. telah berapa puluh kali sejak kemerdekaan 63 thn lalu… atau sejak orde 
>>>baru 43 th lalu…. ‘Orang luar’ datang kesana dan dalam kerangka ‘peduli 
>>>pembangunan disana’ maka lalu terjadi survai, dialog… dsb.... (yg krn tak 
>>>muncul konkretisasi apa2 lalu mereka marah/ dan membentak utk siapapun yg 
>>>kemudian datang utk acara yg sama)……
Maaf sedikit tambahan lagi…. 
Mungkin bedanya.. kalau pak Rofiq yg lemah lembut itu dibentak dan tidak mau 
balas bentak….. 2 kali kesana ‘rombongan kecil’ sayapun (pada acara pertama) 
dibentak dan saya balas dengan bentak dan justru lalu bisa muncul dialog… bisa 
muncul kata ‘maaf’ (inilah gaya bicara orng KTI begitu kata lawan bicara saya 
waktu itu) … dan justru lalu muncul pengertian bahwa mereka yg datang jauh2 
kesana  walau belum tentu akan memberi ‘hadiah konkretisasi pembangunan’ 
seketika atau dlm waktu dekat…... tetapi mereka setidaknya telah ‘dengan 
menyabung nyawa’ utk resiko perjalanannya yg jauh kesana dgn meninggalkan 
anak-istri….… datang utk pemikiran pembangunan disana… dan konkretisasi  
pembangunan memang memerlukan jalannya yg panjang .. krn negeri ini luas 
(5000kmx1500km)…  uangnya cekak… dan ribuan kawasan tertinggal lain juga butuh 
pembangunan yg sama…... ribuan kawasan lain… bahkan di Jkt sendiri rakyatpun 
marah… merasa
 dikecewakan oleh ‘pembangunan’ utamanya selama masa orde baru…. 
Jadi kalau yg datang ke morotai sanapun nantinya pulangnya lalu tak memberikan 
hadiah perubahan apapun disana… itu tak perlu disikapi dgn cara seperti itu…. 
Penjelasan  yg demikian justru memunculkan pengertian dan selanjutnya 
persahabatan yang akrab…. Justru juga lalu kesigapan utk membantu….. 
Kembali kepertanyaan “Sudahkah ditanya mereka sendiri mau apa?”….  (sekalian 
sedikit menjawab  kritik mas Djarot) mereka yg datang kesana utk mencoba jumpa 
dengan  representasi berbaga lapisan masyarakat disana….hampir pasti setidaknya 
perlu  jumpa dengan camat dan stafnya serta komandan pangkalan udara/ 
laut/darat/kepolisian dan berbagai subdinas sebagai representasi kepala 
pemerintahan serta tokoh masyarakat disana…. Yg beruntung boleh jumpa/ 
dikunjungi oleh tetua masyarakat pulau itu… seorang kakek sekitar 85 th saksi 
hidup pendaratan jendral McArthur utk pembuatan 7 air stripes utk persiapan 
penyerbuan ke Jepang semasa PD-II…. Boleh datang kepasar utk jumpa dgn berbagai 
lapisan pengusaha lokal disana…. Boleh datang kedusun tempat pembuatan perahu 
utk berbincang dengan ‘industrialis lokal’ disana….boleh datang  selang-seling 
kedesa-desa (semuanya di) pesisir… antara desa ‘mesjid’ dan desa 
’gereja’….Dsb…..
Yg jelas kata  seorang  ‘elit lokal’ disana adalah : “….Ditahun 1943 disini 
sudah jadi ‘metropolitan’…. Ada ribuan kendaraan (tentara sekutu)…ada listrik…. 
ada fasilitas pembuatan cocacola utk perbekalan tentara ….”. Lanjutnya : “…Hari 
ini… jalan tembus pulau ALS (asal bisa lewat saja)  sajapun kami tak punya….. 
karena terus diterlantarkan… kami mau minta ‘merdeka’ dengan setidaknya status 
pulau ditingkatkan menjadi kabupaten agar kami bisa mengurus pulau kami sendiri 
dgn lebih baik’…. 
Ketika pada akhir bulan lalu diumumkan dalam daftar Depdagri bahwa Morotai 
ditunda izin pemekaran wilayahnya menjadi kabupaten .. seketika itu (sebagian)  
masyarakat disana marah dan merusak beberapa fasilitas umum… lalu bbrp hari 
kemudian (awal Nopember ini)  diumumkan bahwa morotai diberi status 
‘kabupaten’…… beberapa masyarakat (pasti termasuk staf pemda kecamatan disana)  
bersukacita….. alamat a.l.  bakal naik status…..
Kebalikan dari keinginan beberapa milisters yg ingin menjaga ‘keperawanan kota2 
ditimur’….. nampaknya ‘keperawanan’ desa/ kota dimorotai sana sudah dirobek 
oleh  pasukan jendral McArthur (dan sebelumnya oleh 1500 tentara jepang disana) 
pada setidaknya 1942…… dan anda mau bilang apa dengan status ‘keperawanan kota’ 
disana kini  dengan keinginan menggebu sementara masyarakat disana tentang 
peningkatan status Daruba dari kecamatan menjadi ibukota kabupaten yg akhirnya 
disetujui awal nopember kemarin…. Bukankah ‘keperawanan’ itu justru 
diobral?”……….    
 
+++: Maaf he he he
>>>: Tak ada yg perlu dimaafkan krn tak ada yg salah dari pak Risfan….Milis ini 
>>>justru  harus amat berterimakasih… krn bapak telah mengembangkan dan 
>>>menghidupkan diskusi yg penuh manfaat….. Trims pak RIsfan (sementara hutang 
>>>saya lunas ya?)……
 
Salam,
aby
 
 
-----Original Message-----
From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED] com>
Sent: Tuesday, November 18, 2008 4:40 AM
To: [EMAIL PROTECTED] com
Subject: RE: [plbpm] Re: Morotai Lagi (8)

Rekans ysh,

Mencoba memahami yang disampaikan Pak Aby:
1. Ada Rencana Tata Ruang, ada Rencana Pengembangan Wilayah - yang merinci dari 
program jangka panjang, menengah, hingga kegiatan tahunan. Serta Action Plan - 
yang bisa dilakukan hari ini
2. Soal posisi Morotai dalam konstelasi transportasi regional, mungkin perlu 
dilihat pula Rencana skala provinsi dan wilayah lebih luas, termasuk rencana 
sektor perhubungannya.
3 Mas Dwiagus menambahkan,"APA yang di trade kan? Wisata apa yang ditawarkan?
Ini mengundang pertanyaan berikutnya: "Kepada siapa itu akan (sesuai) di jual?" 
misal kepada negaranya Nakamura, yang semasa PD2 terdampar disitu. Atau siapa? 
Adakah mereka sudah berwisata di sekitar situ? Berapa length-of-stay rerata 
mereka? Bisa nambah ke Morotai? Apa gimmick promo yang bisa ditawarkan?
4. Dalam action plan, perlu juga diidentifikasi, di approach SIAPA aktor utama 
ekonomi disana. Mitos investor biasanya adalah "dari luar". Tapi prakteknya 
yang jalan adalah pelaku setempat, atau di wilayah itu. Tanya mereka apa bisnis 
mereka, dan apa bisnis yang potensial disitu? Pebisnis lah yang tahu bisnis, 
bukan planner atau ekonom. Tanya juga kalau tak ada kendala, ada modal, mau 
ngembangin apa mereka disana.
5. Maaf pertanyaan nakal: Bapak-bapak sekalian ke Morotai itu proyek apa? Misi 
utamanya apa? Menjaga perbatasan supay pulau tak diduduki bangsa lain? 
Mengamankan hutan lindung? Menata-ruang? Peduli ekonomi warga disana?
Kalau masih sepi kan tak ada kerusakan lingkungan, jangan-jangan karena 
direncanakan ekonomi dan fisiknya - malah mengundang perusakan lingkungan. 
Kalau mayoritas hutan lindung ya dihutankan saja, biar kehutanan saja yang 
jaga. Biar tetap utuh.
Kalau tujuannya pengamanan, ya bangun saja pos atau pelabuhan/ pangkalan 
militer.
Saya kuatir ada kontradiksi dari tujuan-tujuan "orang Jakarta" yang kesana. 
Sudahkah ditanya mereka sendiri mau apa? Maaf he he he

Salam,
Risfan Munir
 


      

Kirim email ke