Betul pak Aby ysh,
Kita sangat ketinggalan jauh dari negara lain, termasuk dari Malaysia yang dulu 
banyak minta guru dari Indonesia (kecuali dalam bidang korupsi dan hiburan 
murahan). Memang banyak yang sudah S-3 tetapi ternyata 'Sulit Selesaikan Soal' 
yang terjadi di negeri tercinta ini atau mungkin 'Soalnya Salah Sekolah' 
sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan realitas dilapangan ? Sepertinya kita 
memang butuh 'terobosan' yang dapat memecahkan kemandekan proses mengejar 
ketinggalan ini ? Apakah harus mulai dari nunggu/cari 'pemimpin'nya dulu yang 
dapat mengarahkan agar 'irama musik pembangunan' dapat lebih harmonis, serasi 
dan merdu ?
Okay, selamat liburan akhir tahun, semoga tahun 2009 muncul 'pemimpin' yang 
kita tunggu.
Wassalam,
Onnos



To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Tue, 9 Dec 2008 
17:10:03 -0800Subject: [referensi] Re: Paradigma Re: ibukota RI








  
  
Bambang Tata Samiadji [EMAIL PROTECTED] com wrote: 
  
“…..Menurut teman-teman lulusan S-3 yang baru, Regional Planning tidak lagi 
pola pikir semacam "counter magnet", "tricling down", membuat 
tandingan-tandingan , memindah-mindahkan, atau semacamnya. Membangun daerah, 
kata kuncinya adalah INOVASI…….”. 
  
Saya tidak komen utk masalah pemindahan ibukota....  tapi tertarik utk masalah 
'paradigma regional planning'.... 
Pertama… sependengaran saya…. Yg namanya inovasi itu adalah kata kunci 
perubahan kehidupan manusia bahkan sejak zaman neolitikum…. Seperti bahwa 
semula manusia memakai alat2 dari batu… lalu meningkat menjadi alat2 dari 
logam….. lalu ketika pada 1769 mesin uap yg pertama dipatenkan…. Lalu kehidupan 
manusia seluruh duniapun berubah drastis dst… dst… 
Kedua…. jadi pengin tahu…. Itu pola pikir global campuran negara maju dan 
miskin atau khusus negara maju saja ya?..... dan yang disebut para S3 baru… 
atau setengah  baru atau setengah lama itu yg pada  injak kakinya pada dimana 
ya?..... 
sebab sependengaran saya … negeri2 seperti Indonesia ini tertinggalnya 
setidaknya selalu 100 tahun dalam hal apa saja (entah kalo soal kurupsi, tipu 
dan KKN) dari negeri2 maju…. dan nggak levellah untuk masalah ‘inovasi’  mau 
bersanding sama negeri2 maju itu…. 
Kalau dinegeri maju yg namanya paradigma regional planning sudah tak lagi 
ngomong contermagnet, trickling down segala…. Tentu saja… wong dari hasil dari 
kolonialisasi diera pertanian saja yg berabad2 mereka sudah kelewat makmur…. 
Dan AS pada 1950 pantai baratnya sengaja atau tidak sudah berkembang sebagai 
countermagnet utk megalopolis (deretan metropolis pantai timurnya 
Bos-NY-Ph-Bal-Was)… dan Perancis pada 1960 sudah bikin 8 countermagnet coba 
mengurangi dominasi Paris….. 
Jepang yg hanya 3 thn  menjajah Indonesia saja juga berhasil mengangkut segala 
rupa barang besi bekas kita…. Sampai para pemuda dan bapak2 kita pakai 
celananya saja dari karung sampai ada kutunya segala yang dinamai ‘tumo katok 
(kutu celana)….karena segala sabun cuci juga tidak ada….. 
Belum lagi dari revolusi industri…. Negeri2 maju juga berpuluh tahun ada 
didepan kita untuk urusan industri manufaktur dan inovasinya….. 
Kalau sekedar untuk acara bagi daging kurban saja bangsa kita masih berdesakan 
hingga jatuh pingsan… menyerbu pembagian uang 20 ribuan di Pasuruan mati 12 
orang …. di Petak Sembilan Jkt Kota utk hari raya Imlek ratusan orang2 yg pada 
dasarnya bukan agama budha berjejer jongkok  mengantri menerima saweran dari 
kelenteng juga (setidaknya malu2in agama saya)….. hasil dari national  family 
planning dan regional devlpmnt yg gagal…. Sementara Jepang misalnya penduduknya 
hari ini 120 juta (pada 1950 80 juta) lalu pada  th 2100 akan menjadi hanya 65 
juta….. dan primacy disegitiga  Tokyo-Yokohama-Chiba pelan2 juga diimbangi 
dengan pertumbuhan Kinki megapolitan Region (Kyoto-Osaka-Kobe)….  Selain 
inovasi ipteknya.. belum lagi overseas economic investmentnya….. 
Pada 1994 (maaf data kuno)…. Perekonomian dari pulau Hokaido (pulau paling 
utara paling ‘tertinggal’) saja disebutkan sebagai masih lebih besar dari 
perkonomian Indonesia plus Thailand…. Atau perkonomian pulau sangat minor 
Shikoku ditenggara Osaka disebutkan sebagai  lebih besar daripada Hongkong, 
Malaysia atau Singapura…. 
Jepang pun tida serta merta melejit menyamai budaya perkonomian barat…. tetapi 
juga melewati masa2 ‘primitip’nya .. seperti pada setting cerita Oshin pada 
sekitar 1907 dimana orang desa di Jepang sana pada musim dingin masih memakai 
alas kaki dari jerami …… nyangkul masih pakai sekop…. 
Ketika perekonomian negara maju terus melejit kedepan.. kita lihat televisi 
kita yg belasan channel banyaknya hanya banyak menyajikan acara2 goyang pinggul 
dan cengengesan serta kisah2 murahan selebritis lokal kita saja…. 
Dengan angka pengangguran setinggi ini dan ketimpangan serta keterpencilan dan 
ketertinggalan wilayah Jawa-luar Jawa yg dipisah2kan oleh laut2 luas sedahsyat 
itu (jauh dari kondisi laut dan jarak antar pulau di Jepang dan Pilipina).... 
Bagaimana kita mau mendadak sontak sok sama dan sok selevel dengan pola pikir 
atau paradigma pembangunan hari ini dari para negeri maju itu?.... 
  
Salam, 
aby--- On Tue, 12/9/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>Subject: Re: [referensi] ibukota 
RITo: [EMAIL PROTECTED]: Tuesday, December 9, 2008, 1:42 AM







Pemikiran Andrinof sih oke-oke saja. Banyak awam yang  mempunyai pemahaman yang 
seperti itu. Menurut saya pandangan seperti itu adalah pandangan Ilmu Regional 
Planning paradigma yang lama yang  dan tidak  melihat fenomena empiris dan 
perubahan-perubahan yang terjadi.  Menurut teman-teman lulusan S-3 yang baru, 
Regional Planning tidak lagi pola pikir semacam "counter magnet", "tricling 
down", membuat tandingan-tandingan , memindah-mindahkan, atau semacamnya. 
Membangun daerah, kata kuncinya adalah INOVASI.
 
Yang rada nggak ngerti itu penggampangan tentang biaya pemindahan ibukota 
sebesar Rp 50 triliun. Pertanyaan awam adalah bagaimana memobilisasi uang 
sebesar itu? Lucunya lagi dibandingkan dengan kerugian akibat kemacetan sebesar 
Rp 43 triliun pertahun. Memangnya siapa yang rugi Rp 43 triliun itu?
 
Thanks. CU. BTS.--- On Tue, 12/9/08, arinynta <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: arinynta <[EMAIL PROTECTED] com>Subject: [referensi] ibukota RITo: [EMAIL 
PROTECTED] ps.comDate: Tuesday, December 9, 2008, 8:37 AM




Wacananya sudah ramai dibicarakan di milis ini beberapa waktu lalu, eh sekarang 
ada yg mengangkat ke publik... apa yg mengangkatnya di milis ini memberi 
bocoran ke andrianof??? salam,nitaPindahkan Ibu Kota RI ke Kalimantan 

/
Selasa, 9 Desember 2008 | 15:21 WIB
JAKARTA, SELASA - Pembangunan Indonesia yang terjadi saat ini tidak seimbang. 
Sekitar 80 persen industri terkonsentrasi di Pulau Jawa, yang luasnya hanya 6,8 
persen dari daratan Indonesia. Padahal, daya dukung lingkungan dan sumber daya 
air di Jawa sudah mencapai titik yang memprihatikan dan tidak layak memenuhi 
kebutuhan penduduknya yang mencapai 59 persen dari total populasi 
Indonesia.Demikian juga dengan Jakarta, yang masih didera oleh berbagai 
masalah, seperti banjir, kemacetan, urbanisasi, serta tingkat kriminalitas yang 
tinggi. Biaya yang harus ditanggung akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 43 
triliun per tahun. Maka itu, pengajar ekonomi politik di jurusan Politik 
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, 
kembali mengangkat wacana perlunya pemindahan ibu kota Indonesia ke wilayah 
Kalimantan Timur atau Kalimantan Tengah."Pemindahan ibu kota dapat turut 
menggerakkan tumbuhnya keseimbangan pembangunan antarwilayah dan mencegah 
semakin parahnya dampak kongesti pemakaian prasarana transportasi di Jawa," 
ujar Andrinof dalam peluncuran Visi Indonesia 2033, Selasa (9/12) di 
Jakarta.Menurutnya, Kalimantan memiliki posisi yang strategis di Indonesia, 
karena tidak terlalu ke Barat maupun Timur. Andrinof melanjutkan, 
program-program pemercepatan pemerataan, seperti program transmigrasi, 
percepatan pembangunan daerah tertinggal tidak efektif, serta hanya menimbulkan 
pemborosan anggaran, sepanjang pemerintah hanya fokus melakukan pembangunan di 
pulau Jawa, yang hanya memberikan manfaat kepada segelintir pihak. Ia 
menambahkan, berdasarkan perhitungannya, biaya memindahkan ibu kota dapat 
mencapai Rp 50 triliun. Pihak yang mengatakan bahwa angka tersebut terlalu 
tinggi, kata Andrinof, terlalu menyederhanakan masalah. "Biaya pembangunan 
tersebut memang tinggi, tapi ini sekali lempar. Sedangkan biaya kemacetan di 
Jakarta, Rp 43 triliun, harus ditanggung setiap tahun," kata Andrinof.Dengan 
biaya tersebut, pemerintah dapat melakukan efisiensi dan menggerakkan 
pertumbuhan moda transportasi udara dan laut nasional, memperkuat ekonomi, 
menghilangkan faktor penyebab struktural urbanisasi, dan migrasi penduduk ke 
Jawa.

Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before 
someone else does!  





_________________________________________________________________
Easily publish your photos to your Spaces with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview

Kirim email ke