Saya sih lebih suka menanyakan langsung ke kota-kota di kalimantan,… mereka mau 
gak dijadikan Ibukota,… 

Saya sih curiganya mereka takut kena ‘capital curse’ alias “kutukan ibukota” 
hehehehhehe …

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [EMAIL PROTECTED] 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of arinynta
Sent: 09 December 2008 17:01
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] ibukota RI

 

ini memang cuma dari spotong berita . 
harus ada pakar lain yg bicara, bgmn analisis + & - nya, inovasi sumber dana 
drmana dan kerugian akibat kemacetan itu total items apa saja...  bgmn kalau 
tulisan tntang pemindahan ibukota di milis ini disarikan, lalu dikirim ke 
kompas.... 
& yg belum pernah dibahas juga, brp lama waktu pemb ibukota baru itu. 
asumsinya, dana lancar

salam,
nita

 

  _____  

From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, December 9, 2008 16:42:46
Subject: Re: [referensi] ibukota RI


Pemikiran Andrinof sih oke-oke saja. Banyak awam yang  mempunyai pemahaman yang 
seperti itu. Menurut saya pandangan seperti itu adalah pandangan Ilmu Regional 
Planning paradigma yang lama yang  dan tidak  melihat fenomena empiris dan 
perubahan-perubahan yang terjadi.  Menurut teman-teman lulusan S-3 yang baru, 
Regional Planning tidak lagi pola pikir semacam "counter magnet", "tricling 
down", membuat tandingan-tandingan , memindah-mindahkan, atau semacamnya. 
Membangun daerah, kata kuncinya adalah INOVASI.

 

Yang rada nggak ngerti itu penggampangan tentang biaya pemindahan ibukota 
sebesar Rp 50 triliun. Pertanyaan awam adalah bagaimana memobilisasi uang 
sebesar itu? Lucunya lagi dibandingkan dengan kerugian akibat kemacetan sebesar 
Rp 43 triliun pertahun. Memangnya siapa yang rugi Rp 43 triliun itu?

 

Thanks. CU. BTS.

--- On Tue, 12/9/08, arinynta <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: arinynta <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [referensi] ibukota RI
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Tuesday, December 9, 2008, 8:37 AM

Wacananya sudah ramai dibicarakan di milis ini beberapa waktu lalu, eh sekarang 
ada yg mengangkat ke publik... apa yg mengangkatnya di milis ini memberi 
bocoran ke andrianof???   <http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/04.gif> 

salam,
nita

Pindahkan Ibu Kota RI ke Kalimantan 

 
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/09/15212286/Pindahkan.Ibu.Kota.RI.ke.Kalimantan.>
 /

Selasa, 9 Desember 2008 | 15:21 WIB

JAKARTA, SELASA - Pembangunan Indonesia yang terjadi saat ini tidak seimbang. 
Sekitar 80 persen industri terkonsentrasi di Pulau Jawa, yang luasnya hanya 6,8 
persen dari daratan Indonesia. Padahal, daya dukung lingkungan dan sumber daya 
air di Jawa sudah mencapai titik yang memprihatikan dan tidak layak memenuhi 
kebutuhan penduduknya yang mencapai 59 persen dari total populasi Indonesia.

Demikian juga dengan Jakarta, yang masih didera oleh berbagai masalah, seperti 
banjir, kemacetan, urbanisasi, serta tingkat kriminalitas yang tinggi. Biaya 
yang harus ditanggung akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 43 triliun per 
tahun. 

Maka itu, pengajar ekonomi politik di jurusan Politik Fakultas Ilmu Sosial dan 
Ilmu Politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, kembali mengangkat 
wacana perlunya pemindahan ibu kota Indonesia ke wilayah Kalimantan Timur atau 
Kalimantan Tengah.

"Pemindahan ibu kota dapat turut menggerakkan tumbuhnya keseimbangan 
pembangunan antarwilayah dan mencegah semakin parahnya dampak kongesti 
pemakaian prasarana transportasi di Jawa," ujar Andrinof dalam peluncuran Visi 
Indonesia 2033, Selasa (9/12) di Jakarta.

Menurutnya, Kalimantan memiliki posisi yang strategis di Indonesia, karena 
tidak terlalu ke Barat maupun Timur. Andrinof melanjutkan, program-program 
pemercepatan pemerataan, seperti program transmigrasi, percepatan pembangunan 
daerah tertinggal tidak efektif, serta hanya menimbulkan pemborosan anggaran, 
sepanjang pemerintah hanya fokus melakukan pembangunan di pulau Jawa, yang 
hanya memberikan manfaat kepada segelintir pihak. 

Ia menambahkan, berdasarkan perhitungannya, biaya memindahkan ibu kota dapat 
mencapai Rp 50 triliun. Pihak yang mengatakan bahwa angka tersebut terlalu 
tinggi, kata Andrinof, terlalu menyederhanakan masalah. "Biaya pembangunan 
tersebut memang tinggi, tapi ini sekali lempar. Sedangkan biaya kemacetan di 
Jakarta, Rp 43 triliun, harus ditanggung setiap tahun," kata Andrinof.

Dengan biaya tersebut, pemerintah dapat melakukan efisiensi dan menggerakkan 
pertumbuhan moda transportasi udara dan laut nasional, memperkuat ekonomi, 
menghilangkan faktor penyebab struktural urbanisasi, dan migrasi penduduk ke 
Jawa.

 


  _____  


Get your new Email address!  
<http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http:/mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
 
Grab the Email name you've always wanted before someone else does! 

 

 

  _____  

Get 
<http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http:/mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
  your new Email address! 
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

 

Kirim email ke