Bapak & Ibu semua, boleh ikutan ya... Saya sedang menunggu, ada tidak good practice atau pengalaman kasus di Indonesia. Saya yakin ada, hanya saja yang punya pengalaman belum mau bercerita atau belum masuk ke milis ini. Salah satunya adalah Pak JOKOWI. Bagaimana kalau kita undang beliau untuk ikutan menuliskan resepnya di milis ini? setuju?
Terimakasih, Toro --- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hi Mas Djarot, > > Long time no see, ternyata sudah rame dengan K5. > Kalau tak salah (dalam 'Informal City'? buku saya hilang setelah dipinjam) > terdapat pendapat bahwa semua yang formal berawal dari informal. Namun ada > yang tidak mampu atau tidak mau formal, sehingga sektor informal tetap > mengada. > Saya jadi teringat beberapa dekade silam ada rekan yang baru selesai sekolah > di LN dan membawa isu bahwa saat itu di Eropa sektor tersebut tidak lagi > dipersalahkan bahkan dianggap salah satu solusi penyedia lapangan kerja. > Gagasan tersebut kemudian dibawanya ketingkat pemerintah kota waktu itu. > Tampaknya karena selama itu penggusuran tidak berjalan dan konsep "self > help" dan "enabling strategi" menjadi populer, seolah-olah konsep tersebut > dapat menjadi alasan "lepas tangan"-nya pihak yang sedang pegang kota saat > itu untuk memberi alternatif fasilitasi secara berbeda. Jadilah > lokasi-lokasi belanja pinggir jalan kembali marak di kota besar kita, yang > sebelumnya secara tegas dibatasi secara ketat. > > Ternyata perkembangan tersebut (alokasi waktu-ruang utk informal sektor > berjualan 2 x seminggu) memang populer akhir tahun 70'an di Eropa, dan > nyaman bagi kami yang memang tidak terlalu berkocek tebal di negeri orang. > Namun kelonggaran yang diberikan pemerintah setempat ternyata > juga menggairahkan mereka untuk menuntut lebih dan khirnya menimbulkan chaos > dibidang ekonomi. Akibatnya pengelola negara setempat jatuh dan diganti > kembali oleh pengelola yang lebih ketat, tegas dan bertangan besi. Kebebasan > ada batasnya. Hak "self-help" atau "enabling" tidak dapat diterapkan > kesemua kelompok masyarakat, tanpa penyiapan sistem, kondisi dan sarana yang > jelas, tegas dan konsisten. > > Masalahnya di negeri ini, antara yang "anti kebebasan" dan yang "setuju > pemberi peluang lebih" sama-sama berhenti dalam wacana, dan kurang > menyiapkan konsep, sistem, program dan mekanisme pengelolaan yang > komprehensif dan berlanjut. Akibatnya kebebasan yang telah terlanjur dilepas > sukar untuk ditarik kembali tanpa meninggalkan korban. > > Belakangan ini tampaknya tindakan yang tampaknya tidak populer tetapi lebih > jelas, tegas dan menuju perbaikan kondisi kota mulai diterapkan kembali > dan berpeluang lebih bermanfaat. Beberapa kota di Indonesia sudah mulai > menerapkan penindakan terhadap pelanggaran ketentuan yang telah "disepakati" > di tingkat kota. Mungkin pendekatan ini yang perlu kita kembangkan, bersama > pemangku kepentingan kota yang perlu dilibatkan dalam proses awalnya..... > > Toleransi hendaknya bukan dengan membiarkan perkembangan segala jenis sektor > "informal" menjadi tak terkendali, namun perlu lebih terarah kekondisi yang > lebih tertata, menyeluruh, dan baik buat semua... > > Ah, cape deh....agak teoritis....tapi mungkin secara bertahap bisa lebih > bermakna bagi perkembangan ruang kota, lingkungan hidup yang lebih baik dan > peningkatan kesejahteraan generasi yang akan datang....walaupun dalam > tahap recovery dalam masa krisis yang juga penuh aroma politis ini perlu > melalui langkah yang lebih hati-hati dan bijaksana ... > > Segitu dulu mas, > > abimanyu > (o ya, diskusi mengenai "arsitek sebagai perusak lingkungan" tempo hari > tidak berlanjut ya?. Mungkin khusus untuk arsitek, pengertian arsitektur > "hijau" hendaknya lebih kontekstual....itu saja dulu jawabannya) > > > > On Wed, Nov 26, 2008 at 4:05 PM, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Sssstt Daeng Bawole, jangan keras-keras, saya memang sering dibilangin > > seperti itu ! Kasihan banyak yang tahu.... > > > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > > > --- On *Wed, 11/26/08, paulus bawole <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > > > From: paulus bawole <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors > > To: [email protected] > > Date: Wednesday, November 26, 2008, 3:01 PM > > > > Rekan-rekan milister yang budiman, > > > > Weleh...weleh. .welehhhhh. ...bung Djarot ini memang > > profokator yang hebat sehingga diskusi kita pada > > milist ini bisa semakin fokus pada lontaran pertama > > Kang Deden yaitu pedagang kaki lima di pinggir jalan > > yang sering kali disebut sebagai pedagang liar yang > > tidak berstatus hukum dan beberapa sebutan lagi yang > > negatf. > > > > Memang benar kata kang mas Priyo karena kalau dalam > > pikiran, opini dan apreasiasi kita pada PKL diawali > > dengan sesuatu yang sudah negatif, bisa dipastikan > > output yang keluar akan membuat sengsara PKL yang > > menjadi obyek penerapan UU atau peraturan yang akan > > dibuat. Kebenaran yang lain yang sudah diungkapkan > > kang Deden adalah tentang PKL adalah komponen kota yg > > mesti dikembangkan. Bukan dikembangkan kumuh dan > > ketidakteraturannya , tapi perannya sbg bagian dari > > ekonomi kota yg tak terpisahkan" > > > > Kebetulan saat ini kami sedang mengamati beberapa spot > > jalan yang banyak PKLnya di kota Yogyakarta. Opini > > rekan-rekan dari pemerintah dan beberapa tenaga ahli > > (?) sudah mengatakan bahwa : > > > PKL di spot-spot jalan tersebut membuat jalan raya > > menjadi macet > > > PKL menyerobot jalur pedestrian > > > PKL membuat lingkungan di jalan tersebut menjadi > > kotor, bau dan tidak teratur > > > PKL membuat situasi di wilayah tersbut menjadi > > tidak aman > > > dan beberapa apreasiasi yang negative > > > > Karena yang memberikan apresiasi adalah para ahli dan > > para bapak-bapak dari pemerintah yang memiliki wilayah > > tersebut, jadi ya mau bagaimana lagi, akhirnya ya > > saudara-saudara kita di PKL terpaksa juga disapu > > bersih. > > > > Nah rekan-rekan milister yang baik hati, seusai dengan > > pengamatan kami yang sedikit intensif, ternyata semua > > tuduhan yang negative yang dilontarkan benar adanya. > > Hanya ada sisi-sisi lain yang tidak mereka lihat atau > > mungkin sengaja membutakan mata agar dapat menciptakan > > kota-kota taman yang indah seperti di boulevard > > sekitar menara Eifel dan La Defense atau taman-taman > > kota yang ada di sepanjang sungai Mains di kota > > Frankfurt, atau di kota-kota Eropah dan Amerika > > lainnya. > > > > Dari pengamatan kami pada spot-spot jalan yang banyak > > PKL nya ternyata yang melakukan aktivitas disana bukan > > hanya PKL, melainkan banyak actor-aktor lain seperti > > para langganan PKL yang tentu saja ada yang bekerja > > sebagai pegawai negri bahkan pegawai pemerintah daerah > > setmpat, ada pengendara sepeda, sepeda motor, mobil, > > kendaraan umum bis kota, taxi, dan juga ada pak polisi > > yang kelihatannya mengatur jalan di sekitar spot jalan > > tersebut. Jadi seberapa besar kntribusi rusaknya > > lingkungan yang disebabkan oleh PKL perlu > > dipertanyakan lagi. Selain itu kita akan mencoba > > mengamati profil perputaran ekonomi yang ada pada > > kawasan PKL yang tentu saja mempunyai kontribusi > > terhadap perputaran ekonomi di kota. Nanti kalau hasil > > poenelitiannya sudah selesai kita bisa ngobrol lagi > > lebih banyak tentang PKL di tengah kota. > > > > Pada prisnsipnya kalau bu Cut Safana akan membuat > > usulan untuk menangani PKL atau fenomena informal > > lainnya di tengah kota, cobalah kita merenung dan > > berusaha menempatkan diri kita seperti mereka yang > > sering dikalakan pelaku PKL. Pasti kita akan tidak mau > > digusur, dihancurkan geroibak dagangan kita, dan tentu > > saja kita tidak mau dikatakan sebagai sampah kota. > > Dengan demikian UU atau PP atau apapun yang akan > > dibuat, supaya berguna untuk kesejahteraan untuk semua > > lapisan masyarakat dan bukan hanya untuk mereka yang > > mempunyai modal atau mereka yang berada pada lapisan > > kelas menengah ke atas. > > > > Baiklah baoak dan ibu milister yang baik, saat ini > > agak berat sekali buat saya karena saya berusaha > > menulis dengan standard bahas Indonesia yang menurut > > saya sudah baik dan mudah dimengerti. Kalau tulisan > > ini masih susah dimengerti ya mohon maaf, > > mudah-mudahan lain kali saya akan belajar menulisa > > dalam bahasa Indonesia yang baik. > > > > Terima kasih dan salam hangat dari Yogyakarta, > > Bawole > > > > --- Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com <aunurrofiqhadi% 40yahoo.com>> > > wrote: > > > > > Mas djarot kenapa saya lebih senang kalau kita > > > bicara street vendor atau kaki lima? karena kalau > > > kita mau menata kota justru pedagang kaki lima > > > (termasuk warung pinggir jalan) yang harus diatur. > > > Kita mengatur sebenarnya bukan hanya untuk > > > keindahan, tetapi memberi peluang pada mereka > > > berkembang, oleh karena itu ruang buat mereka harus > > > dipikirkan. Sedangkan aktifitas informal bisa > > > menyangkut apa saja, yang tidak bisa kita bayangkan > > > misalnya kegiatan MLM (masarin lewat mulut), atau > > > seperti tetangga saya yang jago masak, meskipun dia > > > secara resmi bukan pengusaha catering atau buka > > > warung...karena permintaan tetangga maka setiap > > > minggu dia buka rumahnya supaya kita bisa kongkow > > > sambil menikmati masakan beliau dan membayar semau > > > kita...juga teman-teman di kantor yang suka nawarin > > > dagangannya. ..ini semua kan aktifitas > > > informal..tetapi mereka tidak membutuhkan ruang > > > publik. Di Amerika orang sering menempelkan sesuatu > > > di papan di kampus atau tempat laundry > > > menawarkan jasa atau barangnya ...ini juga informal > > > tapi kan tidak ada aturannya.. > > > > > > Nah sekarang kita mencoba apa itu "kaki lima" > > > apakah istilah ini bisa digunakan di peraturan > > > menteri? kalau nggak ya kita ganti namanya. Kalau > > > istilah "kegiatan informal" maksudnya kegiatan kaki > > > lima, maka definisi KInya dipersempit yang maksudnya > > > ya street vendor tersebut.Salam > > > Aunur Rofiq > > > > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ __ > > > From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com <dpurbadi% 40yahoo.com>> > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com <referensi%40yahoogroups.com> > > > Sent: Wednesday, November 26, 2008 7:02:33 AM > > > Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors > > > > > > > > > Ya mungkin kita memang harus mencari kejelasan di > > > awal daripada runyam di belakang hari mas. Kalau mau > > > tahu tentang pengalaman di USA ada bukunya, berjudul > > > The Informal City karangan seorang Perancis (lupa > > > namanya). Buku itu hasil penelitian di dua kota > > > (kalau nggak salah) yang menceriterakan > > > karakteristik sektor informal di sana. > > > > > > Salam, > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com<http://arsitekturnusantara.wordpress.com/> > > > http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com<http://fenonemologiarsitektur.wordpress.com/> > > > > > > --- On Tue, 11/25/08, Aunur rofiq > > > <aunurrofiqhadi@ yahoo.com <aunurrofiqhadi%40yahoo.com>> wrote: > > > > > > From: Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com<aunurrofiqhadi% 40yahoo.com> > > > > > > Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com <referensi%40yahoogroups.com> > > > > > Date: Tuesday, November 25, 2008, 10:40 PM > > > > > > > > > Mas Djarot, > > > Daripada sussah nyari definisi apa itu sektor > > > informal.... .mbok lebih baik membahas yang obyeknya > > > jelas dengan apa yang diinginkan yakni seperti judul > > > diskusi ini "street vendor" atau "kaki lima". Karena > > > sektor informal ya jelas definisinya tidak akan > > > menyentuh objek yang jelas namanya juga informal.. > > > > > > Salam > > > Aunur Rofiq > > > > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ __ > > > From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com> > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > > Sent: Tuesday, November 25, 2008 9:08:59 PM > > > Subject: RE: Bls: [referensi] Street vendors > > > > > > > > > Pak Onno, saya terima kasih atas informasinya yang > > > menegaskan bahwa selama ini ada pemahaman yang belum > > > tepat tentang sektor atau kegiatan informal. Apakah > > > sektor informal adalah kegiatan sampingan ? > > > Mahasiswa atma jaya saya amati secara formal dia > > > ditugasi orang tuanya untuk sekolah, tetapi nyatanya > > > mereka juga menjalankan bisnis HP dsb yang bukan > > > main-main. Disini kegiatan bisnis menjadi sampingan > > > dari tugas formalnya. Begitu mereka lulus langsung > > > menjadi juragan HP.... > > > > > > Menurut saya definisi harus menyangkut obyek yang > > > jelas dan menjangkau situasi ke depan yang sudah > > > terbayangkan, jadi tidak sekedar memberi deskripsi > > > atas fenomena yang sekarang dan kemarin yang > > > terjadi. Nah seperti apa ? Sumonggo dilanjutkan saja > > > diskusinya. > > > > > > Salam, > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > > http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > --- On Tue, 11/25/08, Sugiono Ronodihardjo > > > <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > > > > > From: Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] com> > > > Subject: RE: Bls: [referensi] Street vendors > > > To: "[EMAIL PROTECTED] ups.com" > > > <[EMAIL PROTECTED] u ps.com> > > > > > Date: Tuesday, November 25, 2008, 12:21 PM > > > > > > > > > Mas Djarot dan rekan-rekan milister ysh, > > > Betul sekali, kiranya perlu definisi yang jelas > > > tentang apa itu 'sektor informal' di ruang kota. > > > Dalam UU PR 26/2007 hanya disebut sedikit banget > > > yaitu dalam Pasal 28: 'c. ..., kegiatan sektor > > > informal, ...., yang dibutuhkan untuk menjalankan > > > fungsi wilayah kota sebagai pusat pelayanan sosial > > > ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah', di dalam > > > penjelasan pasalnya juga tidak ada atau sudah > > > dianggap jelas ?. > > > Mungkin 'sektor informal' itu merupakan kegiatan > > > yang dianggap tidak kena 'pajak' secara resmi (?) > > > walaupun kenyataan dilapangan kegiatan 'sektor > > > informal' seperti PK5 dll. juga kena pungutan > > > 'liar'. Saya sepakat bahwa kegiatan 'sektor > > > informal' ini merupakan salah satu 'katup > > > penyelamat' pada saat kita sedang kesulitan/krisis > > > ekonomi, baik untuk 'penjual' maupun 'pembeli'. > > > Dalam kenyataannya fenomena PK5 dll. ini merupakan > > > salah satu karakter atau ciri khas dari hampir > > > seluruh ruang kota-kota di Indonesia, yang sebaiknya > > > harus ditingkatkan nilai positifnya dan dikurangi > > > faktor negatifnya. > > > Wassalam, > > > Onnos R. > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ __ > > > > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > > From: [EMAIL PROTECTED] com > > > Date: Sun, 23 Nov 2008 17:16:59 -0800 > > > Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors > > > > > > > > > > > > Dear All, > > > > > > Mohon maaf, saya punya pertanyaan naif, apakah forum > > > ini sudah punya definisi yang mantap tentang sektor > > > informal ? Menurut sebuah buku yang berjudul > > > "Informal City" kalau nggak salah, yang namanya > > > informal itu tidak formal dan bisa bermacam-macam > > > bentuknya. Ruang yang secara formal dirancang untuk > > > fungsi tertentu kemudian diisi dengan fungsi lain, > > > misalnya garasi diubah menjadi tempat foto copy, > > > bisa disebut muncul fungsi informal di rumah kita > > > itu. Seseorang yang pegawai Tata Usaha ketika > > > bekerja di kantor sempat menjajakan daster untuk > > > para pegawai perempuan, dan bisnis daster itu > > > bisnisnya di rumah, juga merupakan wujud kegiatan > > > informal di antara yang formal. Di tempat lain > > > bahkan sektor/kegiatan informal lebih menjanjikan > > > daripada yang formal. Orang bahkan melepaskan > > > pekerjaan formal yang pendapatannya kecil kemudian > > > memilih mengembangkan yang informal. > > > > > > Menurut saya, sektor informal tidak hanya PKL, masih > > > banyak yang lain, dan mungkin diperlukan sebuah > > > daftar panjang tentang "sektor informal" di ruang > > > kota terlebih dahulu, setiap kota bisa beda-beda, > > > dan ditetapkan wujud-wujud kegiatan informal mana > > > yang akan diatur. Maaf ini pertanyaan nakal, supaya > > > memicu diskusi yang lebih jelas arahnya. > > > > > > Salam, > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > > http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > --- On Sun, 11/23/08, [EMAIL PROTECTED] <dennyz%40pl.itb>. ac.id > > > <[EMAIL PROTECTED] <dennyz%40pl.itb>. ac.id> wrote: > > > > > > From: [EMAIL PROTECTED] <dennyz%40pl.itb>. ac.id <[EMAIL > > > PROTECTED]<dennyz% 40pl.itb>. > > ac.id> > > > Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > > Date: Sunday, November 23, 2008, 6:04 PM > > > > > === message truncated === > > > > > > > > >

