Artikel ini ada hubungannya dengan regional inequalities atau kesenjangan
antara Jakarta versus daerah-daerah terkebelakang di Indonesia. Yakinlah,
tidak ada maksud buruk, selain menyatakan bahwa mereka yang hidup di daerah
terkebelakang adalah manusia juga; sama seperti  beberapa dari kita yang
kebetulan berdomisili di Jakarta.
Salam,
Andri

Sumber: Surat Cinta buat Shireen Sungkar

http://www.facebook.com/<http://www.facebook.com/profile.php?id=650845499#/note.php?note_id=54889622628>
profile.php?id=650845499#/<http://www.facebook.com/profile.php?id=650845499#/note.php?note_id=54889622628>
note.php?note_id=54889622628<http://www.facebook.com/profile.php?id=650845499#/note.php?note_id=54889622628>

by M Aan Mansyur (http://pecandubuku.blogspot.com)

---forwarded message begins---

Pengantar: Muhammad Ruslailang

  Sering nonton sinetron di TV?

Dulu di tahun 80 dan 90-an ruang hiburan kita disesaki oleh telenovela atau
drama malaysia, sekarang, demi mendukung produk lokal, maka tayangan kisah
cinta itu diganti dengan tayangan bermuatan local content tinggi. Pelakon
nya boleh beda, tapi contentnya sejatinya sama saja. Dari Lhok Sukon hingga
Saumlaki, semua pada terbetot matanya ke tayangan sinetron di layar kaca
ini. Sadarkah kita, banyak yang belajar dari sinetron ini.

Anak2 kita di kampung nun jauh disana, mungkin lebih hapal pemeran Cinta
Fitri dibanding nama menteri di kabinet Indonesia Bersatu (emang penting??).


Ibu2 kita gandrung memberi nama-nama bayi mereka yang baru lahir dengan
nama-nama yang eye cacthing, dan praktis, karena hanya mencomot nama dari
judul sinetron yang lagi tayang di Prime Time; Fitri, Intan, Khanza, Sekar,
Ningrum, Melati, Tukul (??)..hehehe, Tentu saja nama2 keren ini jauh lebih
menarik hati dibanding nama2 pimpinan partai politik...:)

nah, ini ada surat cinta dari seorang penggemar Shireen dari Lorwembun...:))


http://www.facebook.com/profile.php?id=650845499#/
note.php?note_id=54889622628

Surat Cinta buat Shireen Sungkar
-- by M Aan Mansyur (http://pecandubuku.blogspot.com)

Sun 2:11pm
DALAM pelajaran sastra di sekolah, bukan penyair atau pengarang yang
ditanyakan guru, tapi nama-nama pemain sinetron. Karena itulah, saya
mengirim surat ini padamu, Shireen.

***

RUANG guru. Pukul 11.00. Seorang membacakan sebuah kalimat kepada seorang
lain yang duduk di depan mesin ketik tua. *Sebutkan nama-nama pemeran
sinetron Cinta Fitri!* Perempuan yang duduk di depan mesin ketik itu meminta
diulangi. Perempuan di dekatnya mengulangi. Lebih pelan. Kata per kata. *
Sebutkan-nama-nama-pemeran-sinetron-Cinta-Fitri.* "Tanda seru," kata
perempuan itu mengakhiri kalimatnya.

Shireen, adegan itu tidak diambil dari sebuah sinetron. Adegan itu saya
saksikan sendiri Juni lalu saat mengunjungi sebuah Sekolah Menengah Pertama
di Pulau Yamdena, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. (Apakah gurumu pernah
menyebut pulau seluas 3.333 km² itu di pelajaran geografimu?) Dua perempuan
dalam adegan itu sedang mempersiapkan soal ulangan Bahasa dan Sastra
Indonesia untuk siswa mereka. Esok harinya puluhan siswa kelas dua sekolah
itu wajib menjawab soal itu agar tidak disebut bodoh.

Sekolah itu terletak di sebuah desa bernama Lorwembun, Shireen. Jika kau
hendak ke sana, kau harus ke Ambon dulu dengan 4 jam penerbangan. Dari Ambon
ke Saumlaki, ibukota kabupaten itu, kau membutuhkan waktu 2 jam lagi. Dari
Saumlaki ke Lorwembun kau membutuhkan waktu sehari perjalanan. Naik bus di
jalan yang tak beraspal setengah perjalanan. Lalu naik sampan menyeberangi
sungai. Kemudian naik speed boat membelah laut, jika beruntung ada speed
boat. Kalau tidak ada kau harus rela menunggu hingga esoknya lagi. Sungguh,
Shireen, itu perjalanan yang sangat melelahkan!

Di Lorwembun tak ada listrik, Shireen. Telivisi yang hanya dimiliki sedikit
rumah di desa itu butuh bahan bakar yang mahal. Bahan bakar itu hanya bisa
didapatkan di Saumlaki, di mana satu-satunya pasar di pulau itu berada. Agar
mereka bisa beli bahan bakar, ibu-ibu harus menjual hasil kebun mereka ke
Saumlaki. Ubi, pisang dan kelapa. Kebun-kebun itu jauh dari rumah mereka.
Ada yang sampai 10 kilometer. Mereka harus jalan kaki naik-turun gunung
untuk mencapainya. Hasil kebun itulah yang mereka jual agar bisa beli bahan
bakar. Jika pergi ke pasar, ibu-ibu itu membutuhkan 3 hari sebelum tiba di
rumah mereka.

Mereka rela melakukan semua itu agar setiap malam anak-anak mereka bisa
menontonmu. Agar bisa melihatmu menangis tersedu-sedu di telivisi. Agar
mereka bisa meniru gayamu. Agar bisa menjawab soal ulangan dari guru mereka,
Shireen. Dan apakah kau tahu, saat di Jakarta pukul 20.00 di Lorwembun sudah
pukul 22.00? Apakah kau tahu, Shireen?

***

RAYMOND Williams (kau pernah dengar namanya, Shireen?) pernah mengatakan
bahwa media hiburan utamanya televisi kini telah menjadi institusi
pendidikan jutaan anak di dunia. Kau itu guru, Shireen, bagi anak-anak
Lorwembun dan jutaan anak lain di Indonesia. *Cinta Fitri*, yang sudah
ratusan episode itu, adalah mata pelajaran. Saya pernah mendengar produsermu
akan membuat *Cinta Fitri* bisa memecahkan rekor sebagai mata pelajaran
terpanjang di Indonesia. 777 episode. Itu sungguh angka yang cantik,
Shireen!

Saya harus buru-buru menambahkan kata-kata Raymond Williams bahwa bukan
hanya jutaan anak yang jadi murid televisi. Guru-guru juga, Shireen. Seperti
sepasang guru yang membuat soal ulangan itu. Saya juga tak akan pernah lupa,
saya pernah melihat di acara *infotainment* banyak guru sengaja datang ke
tempat syutingmu dan berebutan ingin berfoto bersama kau. Dan bahkan, saya
juga melihat BJ Habibie datang menemuimu, Shireen, dan mengatakan sangat
menyukai mata pelajaran itu.

"Saya ada di sini karena saya mengikuti sinetron *Cinta Fitri* dari episode
pertama sampai sekarang. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri." Kau
ingat kata-kata Mantan Presiden RI itu, bukan? Saya juga membaca kalimatnya
itu, Shireen, yang dikutip banyak media. Dan, ah, saya lihat fotomu
bersamanya ada di internet. Kalimat itu dia ucapkan saat menghadiri *press
conference* peluncuran *Cinta Fitri 3*. BJ Habibie bahkan mengaku
memperhatikan semua gerakan, mimik dan bahasamu sampai sedetail-detailnya.
Pasti kau lebih tahu soal ini, Shireen!

Jika kau belum percaya bahwa televisi adalah institusi pendidikan, saya akan
menambahkan fakta lain, Shireen. Ibuku adalah murid yang patuh dari tantemu
yang kata-katanya sejuk saat mengajar di pagi hari itu. Ibuku juga menjadi
sangat sejuk jika bicara padaku, Shireen, seperti tantemu itu. Dia belajar
dari televisi, Shireen, di mana tantemu itu mengajar. Dan banyak kawanku
pernah ingin sekali jadi penyanyi dan pemain film seperti ayahmu sebelum
sadar suara dan wajah mereka tak sebagus milik ayahmu. Mereka juga berguru
pada ayahmu di televisi, Shireen.

***

SHIREEN, kau menjadi mimpi banyak orang. Ibu-ibu di Lorwembun (dan di daerah
lain) bermimpi anaknya menjadi seperti kau. Guru-guru bermimpi muridnya
menjadi seperti kau—atau seperti BJ Habibie. Para pria, muda dan tua,
bermimpi memiliki kekasih atau istri seperti kau, Fitri yang lugu, baik hati
dan taat itu. Gadis-gadis, bahkan yang berkulit gelap dan berambut keriting,
bermimpi menjadi kembaranmu. Saya juga, Shireen, selalu bermimpi menjadi
kekasihmu. Selalu, Sayang!

Sampaikan salam dan ucapan terima kasih pada teman-temanmu, Shireen, yang
telah menjadi guru kami. Sampaikan pula terima kasih kami kepada produser
dan sutradara yang merumuskan mata pelajaran favorit seperti *Cinta Fitri*.
Jangan lupa, sampaikan pula salam hormat dan terima kasih kami kepada yang
menciptakan institusi pendidikan tempatmu mengajar. Sampaikan bahwa mereka
sungguh berjasa! Sungguh mereka telah berjasa membodohi kami!


*catatan: surat ini saya kirim ke Kompas, semoga dimuat agar lebih banyak
yang membacanya.*

 ---forwarded message ends---

Kirim email ke