Ysh Pak Aby dan milister lainnya.
 
Diskusi tentang aglomerasi "Jakarta" haruslah jelas batasannya (definisinya). 
Jakarta yang mana? Kalau Jakarta yang dimaksud adalah DKI Jakarta yang berbatas 
administrasi, maka urbanisasi sudah sangat rendah dan bahkan antara in-migrasi 
dan out-migrasi diduga sudah negatif. Jakarta administratif juga sudah sangat 
sedikit dan sudah tak menarik bagi industri manufaktur.
 
"....Jkt adalah pusat investasi, pusat perdagangan, jasa dan industri’……. 
Betulkah? Kalau investasi jangka pendek yang di BEJ itu betul, tapi real 
investment itu adanya di Bobotatabekbek. Pusat Perdagangan? Nanti dulu, berapa 
nilai transaksi di Jakarta dan Bobotatabekbek? Bisa jadi transaksi di Jakarta 
itself itu lebih kecil lho. Saya belum punya data. Pusat jasa? Itu betul. Tapi 
kalau Pusat Industri...rasanya salah ya. Pusatnya ada di Bobotatabekbek.
 
Polemik pemindahan Ibukota untuk mengurangi intensitas Jakarta dengan 
meng-counter di lokasi lain, sampai kapanpun nggak akan ketemu. Soalnya ada 
perbedaan pandangan yang bertolak belakang sih. Yang setuju pindah punya 
anggapan bahwa fungsi pemerintahan keibukotaan itu dianggap manjur untuk 
menarik aktivitas ekonomi (begitu menurut kronologis sejarah), sementara yang 
kontra itu menganggap sebaliknya dengan bukti-bukti empirik pemindahan ibukota 
di Indonesia maupun negara-negara lain.
 
Kembali soal Jakarta...Jakarta yang mana? Apakah DKI Jakarta? Apakah "Greater 
Jakarta" (termasuk periphery DKI Jakarta)? Apakah Metropolitan Jakarta 
(Jabodetabek, kota-kotanya saja tidak termasuk kabupatennya)? Ataukah 
Megapolitan Jakarta (The giant of Jakarta, yang mencakup 
Jabobotatadebekbek-jur). Jadi perlu jelas karena umplikasi analisisnya juga 
akan berbeda.
 
Thanks. CU. BTS.
 


--- On Tue, 12/23/08, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Cara Migran dan Investor Memandang Jkt
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Tuesday, December 23, 2008, 10:09 AM












  
Belum lama muncul lagi dan muncul lagi diskusi pemindahan ibukota RI….. 
Cara memandang dominansi dan problema Jkt ada bermacam2…. banyak yg melihatnya 
krn Jkt adalah ibukota RI atau pusat pemerintahan… .. Itu tak sepenuhnya salah 
tapi juga tak sepenuhnya benar…… 
  
Pada awal2 kemerdekaan RI ketika Indonesia masih sangat agraris…..dan ketika 
Jkt masih berpenduduk krg dari  1 juta jiwa… yg itu artinya industrialisasi di 
Jkt dpt dikatakan sbg belum lahir dan trade di Jkt masih gitu2 aja…. Jelas 
bahwa motivasi migran utk mendekati Jkt adalah lebih karena pertimbangan “Jkt 
adalah ibukota/ pusat pemerintahan” ….. 
Walau tanpa bukti penelitian .. tapi diperkirakan status mayoritas migran kala 
itu  lebih ‘terpelajar’… artinya belum muncul motivasi mayoritas migrasi ke Jkt 
utk tujuan sektor informal……   
Tujuan   bersekolah dan bercita2 sebagai pegawe kantoran departemen di Jkt spt 
lebih dominan….. pindah berdagang ke Jkt belum banyak menjadi tujuan…  kerja 
dipabrik belum masuk kepikiran…… kerja bangunan belum terpatri diingatan……. 
Itu sebabnya angka migrasi masih sangat amat rendah (sampai 1980 proporsi 
penduduk urban masih sekitar 17.7%)...... .. 
  
Kini proporsi penduduk urban kita sudah 50%..... yg itu artinya dari sekitar 
235 juta jiwa penduduk nasional kita….. sebanyak 115-an juta jiwa telah 
meninggalkan pekerjaan diladang, kolam atau perahu nelayan (spt  kisah Rokhmin 
Dahuri) dan mengalir menuju perkotaan… baik kota kecamatan, kota kabupaten kota 
madya atau metropolitan…… 
Itu artinya…. Profesi/ sumber penghidupan masyarakat kita telah sebanyak 50% 
tidak lagi dikais  diatas tanah ladang/ kolam ikan/ perahu nelayan 
tradisional…. . tetapi adalah bersumber dari perekonomian perkotaan… seperti 
industri, jasa, trade, konstruksi, sektor informal…dsb… dimana seiring 
‘kemajuan zaman’ variasi kesempatan kerjapun semakin meluas pula…...… 
Ketika sampai 1960 nyaris tak ada motivasi migrasi menjadi artis penyanyi, 
pemain film atau sinetron, sales representatif atau pekerja bangunan ‘diproyek’ 
misalnya…. Semenjak diatas tahun 2000…. Bahkan profesi menjadi disc jokey, joki 
three in one maupun penjual pulsapun telah muncul pula………… 
Pertimbangan  migrasi  manusia menuju Jkt setelah tahun 2000 jelas amat berbeda 
dengan masa pra 1970 dan 1960….. 
  
Sementara itu pertimbangan pemilihan lokasi investasi utamanya  PMA (sebagai 
leading industries) utk industri manufaktur…… utk bbrp aspek hampir sama 
seperti motivasi migran pra 1960….. ialah bahwa Jkt adalah ibukota RI… yg 
adalah juga kota primat…… Pertimbangan lain adalah bahwa Jkt adalah yg paling 
siap infrastrukturnya seperti infrastruktur kota sebagai tempat tinggal kaum 
ekspatriat…. Korps diplomatik yg jelas akan membantu kelancaran urusan bisnis 
PMA….  pelabuhan  laut dan pelabuhan udara sebagai infrastruktur angkutan impor 
ekspor dan mobilitas……… ‘konsumen perkotaan’ sbg  sasaran pasaran produk 
manufaktur maupun jasa perkotaan tingkat tinggipun paling tersedia diJkt…….. 
Selanjutnya terjadi proses aglomerasi (kecenderungan memusat) yang semakin 
dahsyat  dari berbagai investasi, juga kecenderungan memusat dari SDM karena 
keuntungan skala dan jarak…… yang semuanya itu sebenarnya semakin jauh dari 
pertimbangan bahwa ‘Jkt adalah ibukota RI’…. Tetapi lebih karena 
‘Jkt adalah pusat investasi, pusat perdagangan, jasa dan industri’……. 
Disinilah sekitar asumsi pandangan awam bahkan banyak masyarakat planologi juga 
masih keder ….. bahwa mereka percaya….  mengurai masalah Jkt adalah dengan 
“memindahkan ibukota/ pusat pemerintahan” sbg sebuah jalan keluarnya….. dan 
bukan mengintervensi overkonsentrasi industri manufakturnya. ..... Maklumlah 
.... mitos bahwa planning adalah 'fisik' masih tumbuh subur.....  
  
Salam, 
aby 
  
  
 
 














      

Kirim email ke