Belum lama muncul lagi dan muncul lagi diskusi pemindahan ibukota RI….. Cara memandang dominansi dan problema Jkt ada bermacam2…. banyak yg melihatnya krn Jkt adalah ibukota RI atau pusat pemerintahan….. Itu tak sepenuhnya salah tapi juga tak sepenuhnya benar…… Pada awal2 kemerdekaan RI ketika Indonesia masih sangat agraris…..dan ketika Jkt masih berpenduduk krg dari 1 juta jiwa… yg itu artinya industrialisasi di Jkt dpt dikatakan sbg belum lahir dan trade di Jkt masih gitu2 aja…. Jelas bahwa motivasi migran utk mendekati Jkt adalah lebih karena pertimbangan “Jkt adalah ibukota/ pusat pemerintahan” ….. Walau tanpa bukti penelitian .. tapi diperkirakan status mayoritas migran kala itu lebih ‘terpelajar’… artinya belum muncul motivasi mayoritas migrasi ke Jkt utk tujuan sektor informal…… Tujuan bersekolah dan bercita2 sebagai pegawe kantoran departemen di Jkt spt lebih dominan….. pindah berdagang ke Jkt belum banyak menjadi tujuan… kerja dipabrik belum masuk kepikiran…… kerja bangunan belum terpatri diingatan……. Itu sebabnya angka migrasi masih sangat amat rendah (sampai 1980 proporsi penduduk urban masih sekitar 17.7%)........ Kini proporsi penduduk urban kita sudah 50%..... yg itu artinya dari sekitar 235 juta jiwa penduduk nasional kita….. sebanyak 115-an juta jiwa telah meninggalkan pekerjaan diladang, kolam atau perahu nelayan (spt kisah Rokhmin Dahuri) dan mengalir menuju perkotaan… baik kota kecamatan, kota kabupaten kota madya atau metropolitan…… Itu artinya…. Profesi/ sumber penghidupan masyarakat kita telah sebanyak 50% tidak lagi dikais diatas tanah ladang/ kolam ikan/ perahu nelayan tradisional….. tetapi adalah bersumber dari perekonomian perkotaan… seperti industri, jasa, trade, konstruksi, sektor informal…dsb… dimana seiring ‘kemajuan zaman’ variasi kesempatan kerjapun semakin meluas pula…..… Ketika sampai 1960 nyaris tak ada motivasi migrasi menjadi artis penyanyi, pemain film atau sinetron, sales representatif atau pekerja bangunan ‘diproyek’ misalnya…. Semenjak diatas tahun 2000…. Bahkan profesi menjadi disc jokey, joki three in one maupun penjual pulsapun telah muncul pula………… Pertimbangan migrasi manusia menuju Jkt setelah tahun 2000 jelas amat berbeda dengan masa pra 1970 dan 1960….. Sementara itu pertimbangan pemilihan lokasi investasi utamanya PMA (sebagai leading industries) utk industri manufaktur…… utk bbrp aspek hampir sama seperti motivasi migran pra 1960….. ialah bahwa Jkt adalah ibukota RI… yg adalah juga kota primat…… Pertimbangan lain adalah bahwa Jkt adalah yg paling siap infrastrukturnya seperti infrastruktur kota sebagai tempat tinggal kaum ekspatriat…. Korps diplomatik yg jelas akan membantu kelancaran urusan bisnis PMA…. pelabuhan laut dan pelabuhan udara sebagai infrastruktur angkutan impor ekspor dan mobilitas……… ‘konsumen perkotaan’ sbg sasaran pasaran produk manufaktur maupun jasa perkotaan tingkat tinggipun paling tersedia diJkt…….. Selanjutnya terjadi proses aglomerasi (kecenderungan memusat) yang semakin dahsyat dari berbagai investasi, juga kecenderungan memusat dari SDM karena keuntungan skala dan jarak…… yang semuanya itu sebenarnya semakin jauh dari pertimbangan bahwa ‘Jkt adalah ibukota RI’…. Tetapi lebih karena ‘Jkt adalah pusat investasi, pusat perdagangan, jasa dan industri’……. Disinilah sekitar asumsi pandangan awam bahkan banyak masyarakat planologi juga masih keder ….. bahwa mereka percaya…. mengurai masalah Jkt adalah dengan “memindahkan ibukota/ pusat pemerintahan” sbg sebuah jalan keluarnya….. dan bukan mengintervensi overkonsentrasi industri manufakturnya...... Maklumlah .... mitos bahwa planning adalah 'fisik' masih tumbuh subur..... Salam, aby

