pak Aby, wah kayaknya yg disampaikan itu lucu-lucu semua lhooo..... rupanya anda berbakat juga untuk bikin jokes. Saya juga sedang 'silent is golden' hehe.... merenungkan arti penataan ruang dari segi 'sufi' ..... Tapi kenyataannya boro-boro sufi,...syare'at juga sudah ga tau kemana ya? kalau diingatkan malah kita dianggap gila barangkali ya? Mudah2an ada ide joke soal ini dari pak Aby. Salam - 2ny
--- On Tue, 12/23/08, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: Bls: [referensi] Re: Cara Migran dan Investor Memandang Jkt To: [email protected] Date: Tuesday, December 23, 2008, 8:18 AM Halo mas BTS ysh, Sebenarnya sejak minggu lalu jadwal maupun kesehatan saya sedang agak kurang memungkinkan utk saya membuat corat-coret di milis….. maka sebelumnya saya sudah mohon izin dulu ke moderator utk sementara waktu hanya akan nulis tentang jokes saja dulu….. sambil berharap tentunya di milis tercinta ini akan silih berganti terus muncul posting lain yang berbau ilmiah dan khususnya banyak menyangkut planning lebih dari sekedar jokes saja….. Karena saya pandang yg saya harapkan itu kok agak kurang muncul….. maka saya merasa terpanggil utk setidaknya sekedar ngisi2 dikit…..walau selain ada yg suka tapi yg sebel juga tentu ada…. tapi ini bukan excuse utk saya tidak menanggapi kembali……. Hanya saja sampai seminggu kedepan ini saya juga rasanya masih blm bisa terlalu aktip….. walau yg nyuruh juga jelas nggak ada…… tapi seperti kata pak Wawo …. Milis ini tentunya paling senang menikmati debat….. jadi trims mas BTS berkenan melakukannya… .. dan karena ini ‘menyenangkan hati banyak milisters’…. Maka pastilah ada pahala besar utk mas BTS … dan mudah2an ada juga sedikit utk saya…… dan yg nggak mau debat pahalanya pasti kecil sekali atau habis…... +++: Diskusi tentang aglomerasi "Jakarta" haruslah jelas batasannya (definisinya) . Jakarta yang mana? Kalau Jakarta yang dimaksud adalah DKI Jakarta yang berbatas administrasi, maka urbanisasi sudah sangat rendah dan bahkan antara in-migrasi dan out-migrasi diduga sudah negatif. >>>: Anda betul mas…. Tapi saya sih rasanya bukan sedang membahas masalah >>>aglomerasi Jkt… tapi sedang nulis tentang ‘pandangan migran dan investor ttg >>>Jkt’….. dimana migran baik kelas bawah maupun orang asing sekalipun dan >>>walau mereka tinggal di Depok misalnya… tentu tidak terlampau berpikir >>>tentang istilah2 geografik yang kelewat perfek spt Jabodetabekjur >>>….Bopunjur dsb… Orang di Jawa atau Sumbawa misalnya tetap mengatakan kita >>>‘orang Jkt’ .. walau secara administratip mas BTS tinggalnya diwilayah >>>Tangerang atau saya di Bekasi misalnya…… +++: Jakarta administratif juga sudah sangat sedikit dan sudah tak menarik bagi industri manufaktur. >>>: benar bahwa amat banyak fasilitas produksi industri manufaktur ‘keluar >>>dari Jkt’ karena berbagai faktor peraturan dsb….. tetapi tak banyak juga >>>kantor pusat dari para industrialis manufaktur itu serta ‘gudang penyimpan >>>produk jadinya’ yang ngikut pindah keluar Jkt…… fisiknya industri memang >>>banyak di outer Jkt…. Tapi ‘otak’nya (head office, pusat komando, pusat >>>marketing)nya toh tetap banyak di Jkt juga….. jadi tentu tak terlampau >>>nyasar bukan kalau tetap mengatakan industri manufaktur tetap berlokasi >>>diseputar Jkt.. yg utk singkatnya ditulis menjadi ‘di jkt’?..... +++: "....Jkt adalah pusat investasi, pusat perdagangan, jasa dan industri’……. Betulkah? Kalau investasi jangka pendek yang di BEJ itu betul, tapi real investment itu adanya di Bobotatabekbek. Pusat Perdagangan? Nanti dulu, berapa nilai transaksi di Jakarta dan Bobotatabekbek? Bisa jadi transaksi di Jakarta itself itu lebih kecil lho. Saya belum punya data. Pusat jasa? Itu betul. Tapi kalau Pusat Industri...rasanya salah ya. Pusatnya ada di Bobotatabekbek. >>>: Jawabnya nyaris sama dengan diatas……dan sama dgn paragraf lebih atasnya >>>lagi….. +++: Polemik pemindahan Ibukota untuk mengurangi intensitas Jakarta dengan meng-counter di lokasi lain, sampai kapanpun nggak akan ketemu. Soalnya ada perbedaan pandangan yang bertolak belakang sih. >>>: Ya.. saya sependapat dgn anda bahwa pemindahan ibukota (saja, tanpa syarat >>>lain) utk kurangi intensitas Jkt bukanlah jalan keluar yg manjur……… +++: Yang setuju pindah punya anggapan bahwa fungsi pemerintahan keibukotaan itu dianggap manjur untuk menarik aktivitas ekonomi (begitu menurut kronologis sejarah), sementara yang kontra itu menganggap sebaliknya dengan bukti-bukti empirik pemindahan ibukota di Indonesia maupun negara-negara lain. >>>: saya teringat perdebatan dizaman copernicus dll dulu tentang apakah bumi >>>itu bulat atau rata…… saya tak bisa membayangkan endingnya…. Bukan tak >>>mungkin endingnya adalah ‘yang waras ngalah’… atau sebaliknya….. +++: Kembali soal Jakarta...Jakarta yang mana? Apakah DKI Jakarta? Apakah "Greater Jakarta" (termasuk periphery DKI Jakarta)? Apakah Metropolitan Jakarta (Jabodetabek, kota-kotanya saja tidak termasuk kabupatennya) ? Ataukah Megapolitan Jakarta (The giant of Jakarta, yang mencakup Jabobotatadebekbek- jur). Jadi perlu jelas karena umplikasi analisisnya juga akan berbeda. >>>: Ya kalau diskusinya tentang data rinci migrasi saya kira anda betul….. >>>tapi kalau tentang persepsi pandangan migran yang mengalir ke >>>Jabobotatadebekbekj ur…. Saya hampir yakin migran seperti tukang bakso, >>>tukang roti keliling atau tukang sayur misalnya tak semua paham istilah itu…… demikian juga para investor asing juga saya rasa tidak terlampau pusing dgn istilah geographic perfectness spt itu…... sebagai ‘pelaku’ mereka sendiri malah samasekali tak peduli dengan fenomena migrasi ini…. bagi mereka yg penting adalah ada peluang pekerjaan (utk migran)… dan ada peluang pasar utk industri (bagi investor)……….. +++: Thanks. CU. BTS >>>: trims mas BTS… mudah2an debat seperti ini lebih diharapkan diterima oleh bu Reny dibanding jokes nggak lucu yg saya keluarkan…..hehe… Salam, aby --- On Tue, 12/23/08, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: Cara Migran dan Investor Memandang Jkt To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, December 23, 2008, 3:03 AM Ysh Pak Aby dan milister lainnya. Diskusi tentang aglomerasi "Jakarta" haruslah jelas batasannya (definisinya) . Jakarta yang mana? Kalau Jakarta yang dimaksud adalah DKI Jakarta yang berbatas administrasi, maka urbanisasi sudah sangat rendah dan bahkan antara in-migrasi dan out-migrasi diduga sudah negatif. Jakarta administratif juga sudah sangat sedikit dan sudah tak menarik bagi industri manufaktur. "....Jkt adalah pusat investasi, pusat perdagangan, jasa dan industri’……. Betulkah? Kalau investasi jangka pendek yang di BEJ itu betul, tapi real investment itu adanya di Bobotatabekbek. Pusat Perdagangan? Nanti dulu, berapa nilai transaksi di Jakarta dan Bobotatabekbek? Bisa jadi transaksi di Jakarta itself itu lebih kecil lho. Saya belum punya data. Pusat jasa? Itu betul. Tapi kalau Pusat Industri...rasanya salah ya. Pusatnya ada di Bobotatabekbek. Polemik pemindahan Ibukota untuk mengurangi intensitas Jakarta dengan meng-counter di lokasi lain, sampai kapanpun nggak akan ketemu. Soalnya ada perbedaan pandangan yang bertolak belakang sih. Yang setuju pindah punya anggapan bahwa fungsi pemerintahan keibukotaan itu dianggap manjur untuk menarik aktivitas ekonomi (begitu menurut kronologis sejarah), sementara yang kontra itu menganggap sebaliknya dengan bukti-bukti empirik pemindahan ibukota di Indonesia maupun negara-negara lain. Kembali soal Jakarta...Jakarta yang mana? Apakah DKI Jakarta? Apakah "Greater Jakarta" (termasuk periphery DKI Jakarta)? Apakah Metropolitan Jakarta (Jabodetabek, kota-kotanya saja tidak termasuk kabupatennya) ? Ataukah Megapolitan Jakarta (The giant of Jakarta, yang mencakup Jabobotatadebekbek- jur). Jadi perlu jelas karena umplikasi analisisnya juga akan berbeda. Thanks. CU. BTS. --- On Tue, 12/23/08, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: Cara Migran dan Investor Memandang Jkt To: refere...@yahoogrou ps.com Cc: pl...@yahoogroups. com Date: Tuesday, December 23, 2008, 10:09 AM Belum lama muncul lagi dan muncul lagi diskusi pemindahan ibukota RI….. Cara memandang dominansi dan problema Jkt ada bermacam2…. banyak yg melihatnya krn Jkt adalah ibukota RI atau pusat pemerintahan… .. Itu tak sepenuhnya salah tapi juga tak sepenuhnya benar…… Pada awal2 kemerdekaan RI ketika Indonesia masih sangat agraris…..dan ketika Jkt masih berpenduduk krg dari 1 juta jiwa… yg itu artinya industrialisasi di Jkt dpt dikatakan sbg belum lahir dan trade di Jkt masih gitu2 aja…. Jelas bahwa motivasi migran utk mendekati Jkt adalah lebih karena pertimbangan “Jkt adalah ibukota/ pusat pemerintahan” ….. Walau tanpa bukti penelitian .. tapi diperkirakan status mayoritas migran kala itu lebih ‘terpelajar’… artinya belum muncul motivasi mayoritas migrasi ke Jkt utk tujuan sektor informal…… Tujuan bersekolah dan bercita2 sebagai pegawe kantoran departemen di Jkt spt lebih dominan….. pindah berdagang ke Jkt belum banyak menjadi tujuan… kerja dipabrik belum masuk kepikiran…… kerja bangunan belum terpatri diingatan……. Itu sebabnya angka migrasi masih sangat amat rendah (sampai 1980 proporsi penduduk urban masih sekitar 17.7%)...... .. Kini proporsi penduduk urban kita sudah 50%..... yg itu artinya dari sekitar 235 juta jiwa penduduk nasional kita….. sebanyak 115-an juta jiwa telah meninggalkan pekerjaan diladang, kolam atau perahu nelayan (spt kisah Rokhmin Dahuri) dan mengalir menuju perkotaan… baik kota kecamatan, kota kabupaten kota madya atau metropolitan…… Itu artinya…. Profesi/ sumber penghidupan masyarakat kita telah sebanyak 50% tidak lagi dikais diatas tanah ladang/ kolam ikan/ perahu nelayan tradisional…. . tetapi adalah bersumber dari perekonomian perkotaan… seperti industri, jasa, trade, konstruksi, sektor informal…dsb… dimana seiring ‘kemajuan zaman’ variasi kesempatan kerjapun semakin meluas pula…..… Ketika sampai 1960 nyaris tak ada motivasi migrasi menjadi artis penyanyi, pemain film atau sinetron, sales representatif atau pekerja bangunan ‘diproyek’ misalnya…. Semenjak diatas tahun 2000…. Bahkan profesi menjadi disc jokey, joki three in one maupun penjual pulsapun telah muncul pula………… Pertimbangan migrasi manusia menuju Jkt setelah tahun 2000 jelas amat berbeda dengan masa pra 1970 dan 1960….. Sementara itu pertimbangan pemilihan lokasi investasi utamanya PMA (sebagai leading industries) utk industri manufaktur…… utk bbrp aspek hampir sama seperti motivasi migran pra 1960….. ialah bahwa Jkt adalah ibukota RI… yg adalah juga kota primat…… Pertimbangan lain adalah bahwa Jkt adalah yg paling siap infrastrukturnya seperti infrastruktur kota sebagai tempat tinggal kaum ekspatriat…. Korps diplomatik yg jelas akan membantu kelancaran urusan bisnis PMA…. pelabuhan laut dan pelabuhan udara sebagai infrastruktur angkutan impor ekspor dan mobilitas……… ‘konsumen perkotaan’ sbg sasaran pasaran produk manufaktur maupun jasa perkotaan tingkat tinggipun paling tersedia diJkt…….. Selanjutnya terjadi proses aglomerasi (kecenderungan memusat) yang semakin dahsyat dari berbagai investasi, juga kecenderungan memusat dari SDM karena keuntungan skala dan jarak…… yang semuanya itu sebenarnya semakin jauh dari pertimbangan bahwa ‘Jkt adalah ibukota RI’…. Tetapi lebih karena ‘Jkt adalah pusat investasi, pusat perdagangan, jasa dan industri’……. Disinilah sekitar asumsi pandangan awam bahkan banyak masyarakat planologi juga masih keder ….. bahwa mereka percaya…. mengurai masalah Jkt adalah dengan “memindahkan ibukota/ pusat pemerintahan” sbg sebuah jalan keluarnya….. dan bukan mengintervensi overkonsentrasi industri manufakturnya. ..... Maklumlah .... mitos bahwa planning adalah 'fisik' masih tumbuh subur..... Salam, aby

