Diskusi Perumahan Rakyat :
 

+++: Halo Jehan, nggak usah sorry, saya cuma lagi nggak serious saja. Saya 
senang Anda telah melemparkan isu perumahan yang saya kira sangat penting. 
>>>: Kalau ada yg senang bhw Kantor Menpera melemparkan isu perumahan kemilis 
>>>kita ini…… kalau saya sih senang juga tapi  sambil agak terkejut…. Kata saya 
>>>kok tumben…. Isu perumahan yg biasanya lebih dilempar ke REI… ke 
>>>Simanungkalit dan industri properti… kok kini ada sedikit dilempar juga ke 
>>>milis ini yg biasanya lbh  membahas masalah perencanaan ruang (atau 
>>>planologi,  penataan ruang, atau PWK… yg benernya yg bgmana pak Risfan? 
>>>Takut salah nikh)……… 
 
+++: Milis ini terlalu penuh dengan diskusi soal pengembangan wilayah, masalah 
kesenjangan, yang hanya sekedar intelectual exercise yang tak punya solusi 
konkrit (solusinya debatable). 
>>>: Emangnya ada dosa apa dengan diskusi pengembangan wilayah dan kesenjangan 
>>>dimilis ini?…..kalau wacana PW  terkesan ‘mendominasi’… lha itu khan 
>>>ketahuan banget kalau wacana PKnya saja yg kurang dikeluarkan…… dari ribuan 
>>>planolog kita … mana yg jauh lebih ‘berdosa’…. Yg “‘menuh2-in milis” 
>>>ataukah  yg ‘diam seribu basa”?……..
Kalau dibilang hanya “sekedar intellectual exercise”….. lha ini khan justru 
tentu jauh lebih mulia dan terhormat dibanding sebaliknya ….. yg memiliki 
wewenang membelanjakan budget… tapi tak paham amat “masalah apa yg mau 
dibelanjainnya”…. tapi tak mau  terlampau “terbuka”… lalu main “membelanjakan” 
saja anggarannya itu….  Lalu terjadi  “salah belanja”…. Lalu hasilnya seperti 
NUDS segala dimasa lalu itu… dimana yg ironis justru didalamnya ada juga yg 
semula ‘belajar dulu’… lalu jadi  ‘pembela sejati’ ..kemudian berbalik lagi  
jadi ‘penentang’….. semua itu karena intellectual exercisenya nggak mateng…..
Lagipula namanya juga cuma ‘milis kerakyatan’…. Emangnya isinya harus ‘sesakti’ 
apa atau ‘seampuh’ apa?..... sehingga mempunyai kekuasaan/ kemampuan utk 
mengubah keadaaan dengan segera?.....
Kalau intelectual exercise khan jelas….. samasekali tidak merugikan anggaran 
negara sesenpun….. tapi banyak dari pihak otoritas yg bisa mengambil 
manfaatnya……. Agar tak banyak kesalahan dibuat…... termasuk anak2 mahasiswa dan 
mereka yg hobi belajar dan baca khan bisa ambil banyak manfaat…. Terbukti dari 
satu dua posting walau jarang tetapi menyatakan bisa mengambil manfaat dari 
‘intellectual exercise’ yg dikritik dimilis ini……..
Lagipula kalau milis ini mau  ngomongin tentang perumahan….emangnya lalu tidak 
‘debatable’ gitu apa gimana?..... lalu hasil konkritnya yg bisa segera mengubah 
keadaan  juga apa?.....
 
+++:Masalah perumahan adalah masalah yang lebih konkrit dan merupakan "entry 
point" dari permasalahan wilayah, khususnya wilayah perkotaan. Sayangnya 
milister di sini kurang begitu menaruh minat. 
Semoga saya salah dan lemparan Anda semoga ada yang segera tanggap (tidak cuma 
saya yang menanggapi)……”.
>>>: Tentang “perumahan adalah masalah lebih konkrit” (dibanding masalah 
>>>“ruang”/ “penataan ruang”)…….. saya teringat dialog bbrp thn lalu dengan mas 
>>>Marco Kusumawijaya waktu kami berdua sdg sama2 ngebantuin seminar di Komnas 
>>>HAM….
Kata saya…:  “Enak ya situ?….. jualannya tentang “rumah” memperoleh respons 
lebih kuat dimasyarakat dibanding dengan jualan saya tentang “ruang” yg sulit 
sekali memperoleh respons”….
Jawab mas Marco : “….Ya.. kalau ‘rumah’ itu ‘konkrit’… kalau ‘ruang itu khan 
‘abstrak’…. Jadi jelas lebih sulit dimengerti…..”.
Kalau perumahan dikatakan “entry point” dari permasalahan wilayah….. khususnya 
wilayah perkotaan….. menurut saya itu kok bukan satu2nya entri poin yg 
penting….. “pekerjaan” malah saya kira saat ini lebih merupakan permasalahan 
(wilayah) perkotaan yg lebih gawat….. dan utk konteks Indonesia… KB juga   
jangan dipandang enteng … karena itu menghasilkan masalah tambahan berupa “4 
juta jiwa kelahiran per tahun” yg dimana gedenya nanti sebagiannya lbh banyak 
menjadi “penonton Dewi Persik” saja…. Karena kurang gizi dan kurang 
pendidikan…. Jadi duduk saja didepan teve…. Dan pemerintah juga ujung2nya nanti 
dikecam kalau tidak bisa memberikan pekerjaan.. tak bisa memberikan harga BBM 
yg murah…. tak bisa memberikan perumahan yg layak.. tak bisa memberikan  sarana 
angkutan kota yang “memadai”………
Masalah “perumahan” dikota nyatanya saat ini dapat “diatasi” oleh masyarakat 
sendiri (perumahan kumuh, perumahan ilegal, perumahan ditempat yg menyalahi 
peraturan peruntukan …. Tidur didalam gerobak dorong, gerobak kios rokok…. 
Dipasar… dsb)…….
 
+++: semoga ada yang segera tanggap (tidak cuma saya yang menanggapi)……”.
>>>: Keterbatasan waktu, pikiran dan tenaga agak menghalangi keinginan 
>>>sumbangan tulisan kepada pak Jehan Siregar…. Walau apa yg saya sampaikan 
>>>juga hampir pasti tak berarti….tapi trims atas lemparan isunya kemilis ini…. 
 
Setidaknya sampai tahun 2004…. 
Setidaknya ada sebanyak 80 juta jiwa penduduk perkotaan yg tidak mampu membeli 
rumah tipe 21/60 diperkotaan (data REI)…… 
Bila tiap KK diasumsikan terdiri atas 5 jiwa… itu berarti terdapat kebutuhan 
sebanyak 16 juta unit perumahan tipe 21/60 diperkotaan.. dimana rakyat 
terlampau  miskin dan tak mampu membelinya (lha wong utk pekerjaan dan makan 
saja masih tanda tanya kok mau mikirin beli rumah segala?)…….
Kemampuan pemerintah utk menyediakan perumahan tipe tsb. melalui kredit lunak 
pembiayaan bank konon masih jauh (lupa datanya, 1 juta unit per tahun, atau 1,5 
juta unit.. entahlah..) ….Sementara  itu akibat dari angka kelahiran yg 4 juta 
jiwa per tahun….. tak urung muncul juga backlog kebutuhan perumahan rakyat 
sebanyak 800 ribu unit per tahun……….
 
Dari kebutuhan 16 juta unit perumahan (bagi 80 juta penduduk miskin perkotaan) 
… kita tahu…. Selain tak mampu beli … tak mampu mengangsur…. Banyak dari 
simiskin kota ini juga bahkan “tak memiliki pekerjaan/ penghasilan yg cukup 
sekedar utk makan, urus kesehatan dan pendidikan anak”…..
 
Menghadapi masalah perumahan … arsitek barangkali “cukup” hanya  memikirkan  
(1) model rumah murah….. (2) model pembiayaan…. (3) pengadaan lahan murah… Dst. 
Tanpa perlu menyinggung sedikitpun tentang  sumber penghasilan / pekerjaan 
rakyat miskin calon penghuni rumah…….  
 
Industrialis properti mungkin lebih  berpikir tentang ‘kredit bank’.. kredit 
dan kredit…. Lalu ekonomisasi pembebasan lahan….. lalu ekonomisasi bahan 
bangunan….. dan nyaris tidak peduli dengan redistribusi sistem kota atau 
redistribusi penduduk kota  atau redistribusi lokasi perumahan kota yang  dpt 
mengurangi kesenjangan wilayah….. dan tentu menjadi lebih adil bagi seluruh  
rakyat Indonesia….. 
Tapi bagi planner?…….
 
Planner mungkin tak terlampau peduli dengan model desain rumah murah….  Tapi 
planner saya kira bahkan bisa berpikir tentang cara pembiayaan rumah “tumbuh”… 
dan cara pembiayaan rumah “swadaya/swadana”….seperti misalnya berupa “pengadaan 
kapling tanpa komersialisasi nilai tambah harga tanahnya” (misalnya bersama 
LSM/ koperasi karyawan perusahaan dll)…. Bangunan inti yg lebih ‘minimalis/ lbh 
ekonomis’ lagi…. Memproyeksikan mutu konstruksi rumah yg layak bila perlu    
dirampungkan  ‘pelan2’ oleh 2 generasi penghuninya….
 
Kemudian bagi planner  yg wise dan berpikir nasionalistik….. yang berpola pikir 
tentang trilogi “pekerjaan---rumah—kota (sebagai tapak rumah dan tapak lokasi 
pekerjaan)….. 
Planner  nasionalistik saya kira akan lbh berpikir holistik tentang … (1)… 
kebutuhan backlog 16 juta unit rumah murah  bagi simiskin kota… plus 800ribu 
unit pertahun  akibat angka kelahiran itu…. pastilah tak mungkin tak 
menyertakan cara berpikir tentang “sistem (distribusi) kota secara   
nasional”……. Sebab tak mungkin  distribusi dari backlog  16 juta unit rumah 
murah plus 800 ribu unit per tahun  itu samasekali tak akan dipadukan dengan 
strategi redistribusi fasilitas industri manufaktur memimpin.. yang 
pemusatannya di Jawa pasti menumbuhkan dampak pemusatan lokasi perumahan 
juga…serta dampak negatip lainnya (lalu apalagi kaitannya kalo bukan dengan 
pembangunan wilayah?) ….
Lalu ….. apakah 16 juta unit perumahan itu juga sebagian terbesarnya akan 
dibiarkan saja dibangun di Jawa yg hanya 6.7% luas wilayah nasional?......yg 
kini terhuyung2 dgn masalah beban ekologi…. Juga Jkt terhuyung2 dgn masalah 
kemacetan dsb……
 
(2).. Planner yg nasionalistik akan berpikir tentang “kebutuhan perumahan 
rakyat miskin kota” sekaligus “kesempatan kerja rakyat  miskin kota”…. Karena 
simiskin kota itu bukan sekedar “tak punya rumah dikota” namun juga sangat 
banyak diantaranya “tak punya pekerjaan/ penghasilan yg layak” utk 
melangsungkan hidup berbangsa dan bernegara yg layak….…. ini juga akan aneh 
kalau tidak dikaitkan dengan peran sakti dari national leading industries yg 
pembukaan cabang kecil filialnya diluar Jawa sangat dimungkinkan… yg akan 
berdampak ganda pertumbuhan wilayah, migrasi dan tentu saja redistribusi 
konsentrasi perumahan rakyat secara nasional…….
 
(3)… Planner yg jeli pasti akan melihat pula potensi dari katakanlah separuh 
saja dari  60.000 desa di seluruh Indonesia…. Dimana “pusat desa” sebagai rural 
service center (‘subkota pusat desa’) pada dasarnya dapat dikembangkan dengan 
penataan ulang secara swadaya dan swadana seperti berupa “kompleks rukodesa”…. 
Yg itu bahkan bisa dibuat cukup berlantai tanah… beratap ilalang dan berdinding 
bambu”….  Yg bila pada tiap pusat layan desa dapat dikembangan swadaya swadana  
kompleks ruko desa sampai 25 unit… lalu berikutnya akan ‘pindah mendekat’ juga 
kepusat desa…   rumah yg semula diladang katakan sampai sebanyak 25 unit….. 
maka ‘sumbangan awal’ perumahan rakyat  swadaya/swadana   di (sub kota) pusat2 
desa yg dapat dibuat tanpa harus banyak melalui lembaga keuangan adalah 
katakanlah 30.000 (separuh dari 60.000) x 50 unit = 1.500.000 unit rumah desa  
swadaya/ swadana dipusat desa sebagai sistem terendah dari
 hirarki perkotaan nasional kita …..
 
Singkat kata Kantor Menpera perlu sedikit mengubah paradigma perumahan rakyat 
…. Bukan “sektor perumahan rakyat yg berkembang sendiri”… tapi dengan 
mengaitkan “perumahan” dgn “sistem kota secara nasional”… berkait dgn strategi 
migrasi nasional….. berkait dgn strategi redistribusi industri manufaktur 
memimpin sbg pendoorong terciptanya dampak ganda kegiatan2 lain didaerah….  
Sehingga kebijakan distribusi “perumahan rakyat” juga berperan serta pula 
selain pada multisektor pembangunan yg luas… namun juga berdimensi “pemerataan 
nasional secara geografik” pula…. dsb. 
 
Sementara demikian dulu krn sudah kepanjangan…
 
Salam,
aby
 
 


      

Kirim email ke