Halo Bu Renyansih, kita ketemu waktu fgd di gedung YTKI kan ya, 
acara dengan bu Mirna. 
Ya, memang diskusi ini perlu diketahui kawan-kawan di Kemenpera. 
Lontaran ini inisiatif saya saja secara informal untuk masukan bagi 
tim kecil persiapan kongres nasional perumahan rakyat. Yang saya 
tahu tim kecil ini dikoordinir para SAMenpera, spt pak Yusuf, pak 
Sri, pak Agus dll. 
Rencananya yang saya tahu kongres ini akan dibuat terbuka, ada 
undangannya. Kayaknya mba Aryninta (salam kenal mba) tahu juga 
informasi ini.
Sekalian thanks buat mas Koko, Pak Risfan, Pak BTS atas penjelasan 
pembiayaan, mas Aby, dll atas tanggapannya.

Salam,
Jehan 





--- In [email protected], Reny ansih <renyan...@...> wrote:
>
> 
> Pak Modi...
> Ada nggak ya, pemuka-pemuka Kemenpera di milis ini?
> Ini khan harus diketahui dan dibahas dengan Kemenpera cq Deputi 
Formal ya kayaknya....atau mungkin harus terlibat semua deputi ya..? 
Wallahu alam....
> Salam - 2ny
>  
> 
> --- On Sun, 12/28/08, hengky abiyoso <watashi...@...> wrote:
> From: hengky abiyoso <watashi...@...>
> Subject: Tgp:[referensi] Kompleksitas Mslh Perumahan Rakyat
> To: [email protected]
> Date: Sunday, December 28, 2008, 5:56 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>              
> Diskusi Perumahan Rakyat :
>  
>  
> +++: Halo Jehan, nggak usah sorry, saya cuma lagi nggak serious 
saja. Saya senang Anda telah melemparkan isu perumahan yang saya 
kira sangat penting.  
> >>>: Kalau ada yg senang bhw Kantor Menpera melemparkan isu 
perumahan kemilis kita iniE kalau saya sih senang juga tapi  
sambil agak terkejutE Kata saya kok tumbenE Isu perumahan yg 
biasanya lebih dilempar ke REIEke Simanungkalit dan industri 
propertiEkok kini ada sedikit dilempar juga ke milis ini yg 
biasanya lbh  membahas masalah perencanaan ruang (atau planologi,  
penataan ruang, atau PWKEyg benernya yg bgmana pak Risfan? Takut 
salah nikh)EE>   
>   
> +++: Milis ini terlalu penuh dengan diskusi soal pengembangan 
wilayah, masalah kesenjangan, yang hanya sekedar intelectual 
exercise yang tak punya solusi konkrit (solusinya debatable).  
> >>>: Emangnya ada dosa apa dengan diskusi pengembangan wilayah dan 
kesenjangan dimilis ini?E.kalau wacana PW  terkesan `mendominasi'… 
lha itu khan ketahuan banget kalau wacana PKnya saja yg kurang 
dikeluarkanE dari ribuan planolog kita Emana yg jauh lebih `berdosa
'…. Yg "`menuh2-in milisEataukah  yg `diam seribu basaEE.. 
> Kalau dibilang hanya "sekedar intellectual exercise"….. lha ini 
khan justru tentu jauh lebih mulia dan terhormat dibanding 
sebaliknya E. yg memiliki wewenang membelanjakan budgetEtapi tak 
paham amat "masalah apa yg mau dibelanjainnya"…. tapi tak mau  
terlampau "terbuka"… lalu main "membelanjakanEsaja anggarannya 
ituE  Lalu terjadi  "salah belanja"…. Lalu hasilnya seperti NUDS 
segala dimasa lalu ituEdimana yg ironis justru didalamnya ada juga 
yg semula `belajar dulu'… lalu jadi  `pembela sejatiE..kemudian
>  berbalik lagi  jadi `penentang'….. semua itu karena intellectual 
exercisenya nggak matengE. 
> Lagipula namanya juga cuma `milis kerakyatan'…. Emangnya isinya 
harus `sesaktiEapa atau `seampuhEapa?..... sehingga mempunyai 
kekuasaan/ kemampuan utk mengubah keadaaan dengan segera?..... 
> Kalau intelectual exercise khan jelasE. samasekali tidak 
merugikan anggaran negara sesenpunE. tapi banyak dari pihak 
otoritas yg bisa mengambil manfaatnyaE. Agar tak banyak kesalahan 
dibuatE.. termasuk anak2 mahasiswa dan mereka yg hobi belajar dan 
baca khan bisa ambil banyak manfaatE Terbukti dari satu dua posting 
walau jarang tetapi menyatakan bisa mengambil manfaat dari `i
ntellectual exerciseEyg dikritik dimilis iniE.. 
> Lagipula kalau milis ini mau  ngomongin tentang perumahanE
emangnya lalu tidak `debatableEgitu apa gimana?..... lalu hasil 
konkritnya yg bisa segera mengubah keadaan  juga apa?..... 
>   
> +++:Masalah perumahan adalah masalah yang lebih konkrit dan 
merupakan "entry point" dari permasalahan wilayah, khususnya wilayah 
perkotaan. Sayangnya milister di sini kurang begitu menaruh minat.  
> Semoga saya salah dan lemparan Anda semoga ada yang segera tanggap 
(tidak cuma saya yang menanggapi)EE 
> >>>: Tentang "perumahan adalah masalah lebih konkritE(dibanding 
masalah "ruangE "penataan ruangEE.. saya teringat dialog bbrp thn 
lalu dengan mas Marco Kusumawijaya waktu kami berdua sdg sama2 
ngebantuin seminar di Komnas HAME 
> Kata sayaE  "Enak ya situ?E. jualannya tentang "rumahE
memperoleh respons lebih kuat dimasyarakat dibanding dengan jualan 
saya tentang "ruangEyg sulit sekali memperoleh respons"…. 
> Jawab mas Marco : "….Ya.. kalau `rumahEitu `konkrit'… kalau `r
uang itu khan `abstrak'…. Jadi jelas lebih sulit dimengertiE.E. 
> Kalau perumahan dikatakan "entry pointEdari permasalahan 
wilayahE. khususnya wilayah perkotaanE. menurut saya itu kok bukan 
satu2nya entri poin yg pentingE. "pekerjaanEmalah saya kira saat 
ini lebih merupakan permasalahan (wilayah) perkotaan yg lebih 
gawatE. dan utk konteks IndonesiaEKB juga   jangan dipandang 
enteng Ekarena itu menghasilkan masalah tambahan berupa E juta 
jiwa kelahiran per tahunEyg dimana gedenya nanti sebagiannya lbh 
banyak menjadi "penonton Dewi PersikEsajaE Karena kurang gizi dan 
kurang pendidikanE Jadi duduk saja didepan teveE Dan pemerintah 
juga ujung2nya nanti dikecam kalau tidak bisa memberikan pekerjaan.. 
tak
>  bisa memberikan harga BBM yg murahE tak bisa memberikan 
perumahan yg layak.. tak bisa memberikan  sarana angkutan kota yang 
"memadai"…E 
> Masalah "perumahanEdikota nyatanya saat ini dapat "diatasiEoleh 
masyarakat sendiri (perumahan kumuh, perumahan ilegal, perumahan 
ditempat yg menyalahi peraturan peruntukan E Tidur didalam gerobak 
dorong, gerobak kios rokokE DipasarEdsb)E. 
>   
> +++: semoga ada yang segera tanggap (tidak cuma saya yang 
menanggapi)EE 
> >>>: Keterbatasan waktu, pikiran dan tenaga agak menghalangi 
keinginan sumbangan tulisan kepada pak Jehan SiregarE Walau apa yg 
saya sampaikan juga hampir pasti tak berartiEtapi trims atas 
lemparan isunya kemilis iniE  
>   
> Setidaknya sampai tahun 2004E  
> Setidaknya ada sebanyak 80 juta jiwa penduduk perkotaan yg tidak 
mampu membeli rumah tipe 21/60 diperkotaan (data REI)E  
> Bila tiap KK diasumsikan terdiri atas 5 jiwaEitu berarti terdapat 
kebutuhan sebanyak 16 juta unit perumahan tipe 21/60 diperkotaan. . 
dimana rakyat terlampau  miskin dan tak mampu membelinya (lha wong 
utk pekerjaan dan makan saja masih tanda tanya kok mau mikirin beli 
rumah segala?)E. 
> Kemampuan pemerintah utk menyediakan perumahan tipe tsb. melalui 
kredit lunak pembiayaan bank konon masih jauh (lupa datanya, 1 juta 
unit per tahun, atau 1,5 juta unit.. entahlah..) ESementara  itu 
akibat dari angka kelahiran yg 4 juta jiwa per tahunE. tak urung 
muncul juga backlog kebutuhan perumahan rakyat sebanyak 800 ribu 
unit per tahunEE 
>   
> Dari kebutuhan 16 juta unit perumahan (bagi 80 juta penduduk 
miskin perkotaan) Ekita tahuE Selain tak mampu beli Etak mampu 
mengangsurE Banyak dari simiskin kota ini juga bahkan "tak memiliki 
pekerjaan/ penghasilan yg cukup sekedar utk makan, urus kesehatan 
dan pendidikan anak"….. 
>   
> Menghadapi masalah perumahan Earsitek barangkali "cukupEhanya  
memikirkan  (1) model rumah murahE. (2) model pembiayaanE (3) 
pengadaan lahan murahEDst. Tanpa perlu menyinggung sedikitpun 
tentang  sumber penghasilan / pekerjaan rakyat miskin calon 
penghuni rumahE.   
>   
> Industrialis properti mungkin lebih  berpikir tentang `kredit 
bankE. kredit dan kreditE Lalu ekonomisasi pembebasan lahanE. 
lalu ekonomisasi bahan bangunanE. dan nyaris tidak peduli dengan 
redistribusi sistem kota atau redistribusi penduduk kota  atau 
redistribusi lokasi perumahan kota yang  dpt mengurangi kesenjangan 
wilayahE. dan tentu menjadi lebih adil bagi seluruh  rakyat 
IndonesiaE.  
> Tapi bagi planner?E. 
>   
> Planner mungkin tak terlampau peduli dengan model desain rumah 
murahE  Tapi planner saya kira bahkan bisa berpikir tentang cara 
pembiayaan rumah "tumbuh"… dan cara pembiayaan rumah "swadaya/swadana
"….seperti misalnya berupa "pengadaan kapling tanpa komersialisasi 
nilai tambah harga tanahnyaE(misalnya bersama LSM/ koperasi 
karyawan perusahaan dll)E Bangunan inti yg lebih `minimalis/ lbh 
ekonomisElagiE Memproyeksikan mutu konstruksi rumah yg layak bila 
perlu    dirampungkan  `pelan2Eoleh 2 generasi penghuninyaE 
>   
> Kemudian bagi planner  yg wise dan berpikir nasionalistikE.. 
yang berpola pikir tentang trilogi "pekerjaan--- rumah—kota (sebagai 
tapak rumah dan tapak lokasi pekerjaan)E.  
> Planner  nasionalistik saya kira akan lbh berpikir holistik 
tentang E(1)Ekebutuhan backlog 16 juta unit rumah murah  bagi 
simiskin kotaEplus 800ribu unit pertahun  akibat angka kelahiran 
ituE pastilah tak mungkin tak menyertakan cara berpikir tentang "s
istem (distribusi) kota secara   nasional"…E Sebab tak mungkin  
distribusi dari backlog  16 juta unit rumah murah plus 800 ribu 
unit per tahun  itu
>  samasekali tak akan dipadukan dengan strategi redistribusi 
fasilitas industri manufaktur memimpin.. yang pemusatannya di Jawa 
pasti menumbuhkan dampak pemusatan lokasi perumahan jugaEerta 
dampak negatip lainnya (lalu apalagi kaitannya kalo bukan dengan 
pembangunan wilayah?) E 
> Lalu E. apakah 16 juta unit perumahan itu juga sebagian 
terbesarnya akan dibiarkan saja dibangun di Jawa yg hanya 6.7% luas 
wilayah nasional?... ...yg kini terhuyung2 dgn masalah beban 
ekologiE Juga Jkt terhuyung2 dgn masalah kemacetan dsbE 
>   
> (2).. Planner yg nasionalistik akan berpikir tentang "kebutuhan 
perumahan rakyat miskin kotaEsekaligus "kesempatan kerja rakyat  
miskin kota"…. Karena simiskin kota itu bukan sekedar "tak punya 
rumah dikotaEnamun juga sangat banyak diantaranya "tak punya 
pekerjaan/ penghasilan yg layakEutk melangsungkan hidup berbangsa 
dan bernegara yg layakEE ini juga akan aneh kalau tidak dikaitkan 
dengan peran sakti dari national leading industries yg pembukaan 
cabang kecil filialnya diluar Jawa sangat dimungkinkanEyg akan 
berdampak ganda pertumbuhan wilayah, migrasi dan tentu saja 
redistribusi konsentrasi perumahan rakyat secara
>  nasionalE. 
>   
> (3)EPlanner yg jeli pasti akan melihat pula potensi dari 
katakanlah separuh saja dari  60.000 desa di seluruh IndonesiaE 
Dimana "pusat desaEsebagai rural service center (`subkota pusat 
desaE pada dasarnya dapat dikembangkan dengan penataan ulang secara 
swadaya dan swadana seperti berupa "kompleks rukodesa"…. Yg itu 
bahkan bisa dibuat cukup berlantai tanahEberatap ilalang dan 
berdinding bambu"….  Yg bila pada tiap pusat layan desa dapat 
dikembangan swadaya swadana  kompleks ruko desa sampai 25 unitE
lalu berikutnya akan `pindah mendekatEjuga kepusat desaE  rumah 
yg semula diladang katakan sampai sebanyak 25 unitE. maka `s
umbangan awalEperumahan rakyat  swadaya/swadana   di (sub kota) 
pusat2 desa yg dapat dibuat tanpa harus banyak melalui lembaga 
keuangan adalah katakanlah 30.000 (separuh dari 60.000) x 50 unit = 
1.500.000 unit rumah desa  swadaya/ swadana dipusat desa sebagai 
sistem terendah dari
>  hirarki perkotaan nasional kita E. 
>   
> Singkat kata Kantor Menpera perlu sedikit mengubah paradigma 
perumahan rakyat E Bukan "sektor perumahan rakyat yg berkembang 
sendiri"… tapi dengan mengaitkan "perumahanEdgn "sistem kota secara 
nasional"… berkait dgn strategi migrasi nasionalE. berkait dgn 
strategi redistribusi industri manufaktur memimpin sbg pendoorong 
terciptanya dampak ganda kegiatan2 lain didaerahE  Sehingga 
kebijakan distribusi "perumahan rakyatEjuga berperan serta pula 
selain pada multisektor pembangunan yg luasEnamun juga berdimensi "p
emerataan nasional secara geografikEpulaE dsb.  
>   
> Sementara demikian dulu krn sudah kepanjanganE
>   
> Salam, 
> aby 
>   
>  
>


Kirim email ke