Pak Aby dan rekan2 ysh, Sebaiknya kalau diskusi jangan gampang dibelokkan ke debat pribadi begini. Semua tujuannya sama, yang soal membahas caranya. Syukur- syukur kalau bisa terakumulasi menjadi segepok usulan bagi yang fihak yang berkepentingan.
Kalau saya perhatikan ada simpang siur soal persepsi. Kalau Pak Aby dan Andri, selalu menyampaikan harapan. Kalau beberapa teman planologi, yang dipikir adalah caranya, dalam konteks Indonesia yang begini ini. Jadi tidak ada beda tujuan. Ungkapan beberapa teman planologi selalu "mempertanyakan". Karena ilmu, pengetahuan dan pengalamannya yang membuat mereka selalu berfikir menguji "kemungkinan diterapkannya" suatu ide. Soal primacy (satu kota tumbuh jauh dari lainnya) dan regional inequality adalah misi regional planning yang basic, sehingga para planolog selalu mengarah ke sana. Tapi kita tahu, "kekuatan" yang mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan ekonomi, yang pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan ekonomi (pasar) dan "kebijakan makro ekonomi" (nasional). Dan, celakanya keterlibatan para regional planner adalah terbatas sekali disitu. Rezim pemerintah manapun, apalagi dengan masa pemerintahan lima tahun, akan berfokus pada "pertumbuhan" ekonomi, kalau tidak maka habislah dia. Maka tak terhindarkan, soal pemerataan antar daerah, pemerataan antar lapisan, sering terabaikan, alias tidak diprioritaskan, basa-basi saja. Jadi kalau mau berjuang, ya rame- rame ke pengambil kebijakan ekonomi (makro) itu, bukan berdebat dengan planolog yang juga bukan pengambil kebijakan ekonomi. Namun, dengan desentralisasi/otonomi, buah reformasi itu, harapan akan pemerataan ke daerah itu ada. Karena ada kewenangan dan alokasi dana bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan Prof Mardiasmo, mulai tahun 2009 ini alokasi dana ke daerah sudah melampaui alokasi untuk departemen/lembaga di tingkat pusat. Yang masih menjadi masalah adalah dari segi ekonomi, peran sektor sektor manufaktur dan jasa itu masih kurang. Jasa masih lebih banyak perdagangan eceran yang pasarnya lokal, atau sektor informal. Dan sebarannya belum merata. Ini kurang mampu menyerap kelebihan pencari kerja dari wilayah perdesaan, ataupun yang terpelajar dari daerah, sehingga mereka bermigrasi ke kota besar. Ini yang membebani kota besar. Akhirnya, dari apa yang menjadi ilmunya regional planner, ya sebaiknya menguatkan daerah, mempromosikan inovasi-inovasi daerah, supaya capacity building daerah makin gencar, sehingga meningkat kepercayaan ke daerah. Ilmu planologi itu intinya site plan, urban plan, regional plan. Ada sekitar 472 kabupaten/kota di Indonesia yang perlu ditingkatkan kapasitasnya. Terakhir, sorry kalau ini pribadi, walau di depan pesannya jangan pribadi. Kalau mau perubahan mindset sebetulnya mindset Pak Aby yang selalu mendambakan "national development planning" yang mengatur daerah, dan mindset Cak Andri yang sangat menghina inovasi-inovasi daerah (Parodi 10 Tokoh Tempo) itulah yang perlu dirubah. Jelas- jelas itu mengunggulkan pusat (Jakarta), dan meremehkan kemampuan daerah. Pola pikir macam itulah yang membuat orientasi terus ke Jakarta. Kata psikolog, kalau kita bilang "anti Jakarta" itu membuat pikiran bawah sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah sadar tidak mengenal negasi (tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran bawah sadar akan mengarahkan kita untuk berfikir "pembangunan daerah." Salam, Risfan Munir --- In [email protected], Bambang Tata Samiadji <btsamia...@...> wrote: > > He...he....mau tampil beda sendirian? Apa untungnya? > > Gini lho, saya punya pendapat bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menahan aglomerasi Jakarta, termasuk Pemerintah. Bagi yang tidak sependapat dengan saya, berarti memahami bahwa Pemerintah bisa menahan proses aglomerasi Jakarta. Nah,..tolong tunjukkan dengan cara apa Pemerintah mampu menahan aglomerasi Jakarta? Dengan ini maka ada diskusi yang sehat dan dewasa. > > Thanks. CU. BTS. > > --- On Fri, 1/2/09, hengky abiyoso <watashi...@...> wrote: > > From: hengky abiyoso <watashi...@...> > Subject: [referensi] Re: [futurologi] Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?) > To: [email protected] > Cc: [email protected], [email protected] > Date: Friday, January 2, 2009, 11:37 PM > > > > > > > > > > > > > Akh.... cak Andri ini rupanya masih belum paham juga ya?..... > > Bagi yg namanya mas Bambang Tata Samiadji dari MIT (Mbandung Institute of Technology) itu . Walau hasil dari national development planning kita masih memble gini bagi beliau itu samasekali tak soal . Bagi beliau yg penting adalah pokoknya beliau itu maunya tampil beda sendirian gitu lho > Gitu aja kok anda masih nggak kunjung paham juga sih?........ > > Salam, > > > > --- On Fri, 1/2/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote: > > From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> > Subject: Re: [futurologi] Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?) > To: futurol...@yahoogro ups.com > Date: Friday, January 2, 2009, 2:55 AM > > > > > > > > > > Mas Andri wrote : > .....despite of aglomerasi Jakarta yang menurut sementara planolog tidak akan ada kekuatan yang bisa menahannya." > > Yang mengatakan itu adalah saya, Bambang Tata Samiadji, yang kebetulan lulusan Planologi ITB. Kalau dikatakan "... sementara planolog"... seolah para planolog berpendapat seperti saya. Justru banyak sementara planolog yang tidak sependapat dengan saya. > > Thanks. CU. BTS. > > > --- On Fri, 1/2/09, Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> wrote: > > From: Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> > Subject: [futurologi] Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?) > To: > Date: Friday, January 2, 2009, 8:56 AM > > > > > Para anggota milis ysm., > > Selamat tahun baru 2009, semoga tahun ini lebih baik dan lebih adil bagi seluruh anak bangsa.Saya kira akan baik sekali bahwa kita selalu memulai kalender baru 2009 ini dengan optimisme dan semangat bahwa "di mana ada kemauan, di situ ada jalan." Pemerintahan SBY sendiri terlihat beritikad baik untuk untuk memeratakan pembangunan dan hasil-hasilnya ke daerah-daerah -- despite of aglomerasi Jakarta yang menurut sementara planolog tidak akan ada kekuatan yang bisa menahannya. Secara akademis, ini masuk akal, namun pendapat Albert Einstein, "No problem can be solved from the same level of consciousness that created it," pun layak untuk kita kontemplasi -- kecuali kita memang sejalan dengan headline surat kabar sesaat sebelum Titanic melaut untuk pertama kalinya, ""This ship in unsinkable, even God Himself can't sink it!" > > > Dari beberapa poin yang saya baca di buku baru Pak SBY, "Indonesia Unggul", saya rasa ada baiknya saya list beberapa poin yang relevan untuk introspeksi regional inequalities dan aglomerasi di awal tahun baru ini, sesuai dengan urutan halaman sbb.: > -1. "Cara bertindak yang lama, cara berpikir yang lama, mentalitas lama masih berlangsung dalam kehidupan berbangsa kita." > > -2. "Banyak orang yang menginginkan perubahan, namun ternyata menolaknya ketika perubahan benar-benar terwujud." > -3. "... suatu hasrat untuk menjadi yang terbaik, suatu sikap percaya diri bahwa sebaik apapun yang dilakukan orang lain, kita dapat melakukan hal tersebut dengan sama baiknya, atau bahkan jauh lebih baik lagi." > -4. "Desentralisasi dan otonomi daerah pilihan, ketika di masa lalu terasa pembangunan ini kurang merata, kurang adil, sentralistik dan konsentrik, kita bedah, kita lakukan pemberdayaan, dan kita perbaiki..." > -5. "Kuncinya sekali lagi adalah kesejahteraan bersama dan keadilan sosial." > -6. "Rakyat Aceh mengorbankan harta dan darah mereka untuk membantu Republik ini agar tetap hidup dan bertahan." > -7. "'Organisasi Papua Merdeka' atau OPM merupakan gerakan separatisme yang memiliki tingkat ancaman militer yang rendah, namun rasa kesukuan sangat kuat di Papua, dan, dicampur dengan ketidakadilan sosial maupun ekonomi." > -8. "Sebuah solusi "cookie-cutter" (generik) tidak akan pernah berhasil." > -9. "Selama berpuluh-puluh tahun, provinsi Aceh di Indonesia memiliki kebencian terhadap apa yang dirasakan sebagai pembagian yang tidak adil atas hasil-hasil kekayaan alam mereka." > -10. "Di mana ada kecemburuan, kami akan membawa keadilan dan rekonsiliasi. " > -11. "Saya mengatakan bahwa pembangunan adalah menyediakan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat" > Saya cukupkan sampai di sini pandangan Presiden kita yang memang bijak ini, sambil mengajak Bapak dan Ibu ysm untuk berkontemplasi, khususnya untuk poin yang terakhir: Sudahkah kesempatan yang dimiliki masyarakat Jakarta sama dengan kesempatan masyarakat Indonesia di daerah lainnya? > Salam, > Andri > > Subject: FW: Beranikah Pemerintah? > > > > > > > > Artikel ini agaknya menunjukkan bahwa sudah banyak pihak yang > merasakan aglomerasi Jakarta -- yang memang sudah sangat keterlaluan. > > Salam, > Andri > > ----- Forwarded Message ---- > > > From: "bambangsoesatyo@ yahoo.com <mailto:bambangsoesatyo% 40yahoo.com> " <bambangsoesatyo@ yahoo.com <mailto:bambangsoesatyo% 40yahoo.com> > > To: Forum Hipmi <forumhi...@yahoogro ups.com <mailto:ForumHIPMI% 40yahoog roups.com> > > Sent: Thursday, January 1, 2009 5:38:04 PM > Subject: [ForumHIPMI] Beranikah SBY? > > BERANIKAH PEMERINTAH? > > memerintahkan manajemen pengelola BUMN untuk tinggal / pindah bersama > keluarganya dipusat kegiatan BUMN itu?!! > Banyak yang tidak pernah bisa mengerti atau mendapatkan penjelasan > yang rasional kenapa BUMN selalu mempunyai kantor operasi di Jakarta. > Kantor operasi yang sangat tidak efisien, kadang mewah tapi tidak > secara strategis mempunyai guna untuk perseroan. Pertanyaan bahkan > kegalauan kadang timbul melihat BUMN seperti Pupuk Kaltim misalnya > yang material dasarnya di Kalimantan, pabriknya di Kalimantan, > pasarnya Terutama di Kalimantan, harus mempunyai kantor di Jakarta. > RNI mempunyai pabrik gula di Jawa tengah/timur, dekat dengan > perkebunannya, pasar yang tersebar di Jawa tapi juga beroperasi dengan > gagah di Jakarta. . Aneh memang jika semua operasi tehnis perseroan > berlokasi diluar Jakarta, tetapi phisik para pengelolanya berada dan > dibiayai dengan mahal untuk menikmati harumnya kekuasaan di Jakarta > BUMN, seharusnya dapat menjadi lokomotif pembangunan daerah., > karena BUMN memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap disinsentif > Usaha dan efektif sebagai alat untuk mentransformasi kebijakan > pemerintah yang terkadang sulit diimplementasikan di lapangan . BUMN > juga bahkan mampu menciptakan stimulan yang dapat membangun > infrastruktur didaerah, termasuk sarana pendidikan dan sentra ekonomi > lainnya. > Dengan masuknya BUMN ke daerah diharapkan terjadi multiplier efek yang > mampu meningkatkan size Perekonomian daerah. Baik melalui accumulated > creating capital maupun efek ikutan dari pelaku usaha swasta yang > masuk setelah resiko usaha mulai menurun. Dengan adanya business > entity yang besar di daerah diharapkan juga mendorong desentraliasasi > sumber daya manusia yang unggul ke daerah. Sumber daya yang selama ini > lari ke Jakarta dapat ditahan oleh daerah karena terdapat tantangan > dan kesempatan kerja yang setara. Jika manajemen RNI misalnya > diwajibkan untuk berkantor dan bekerja di dekat pabrik Jawa tengah, > Pupuk Kaltim ke Kalimantan, Merpati ke Makasar, Bukit Asam ke Sumatera > selatan, Pertamina ke Riau, BNI ke Sumatera Utara. Maka dapat > dibayangkan bagaimana semua pegawai inti yang mempunyai pendidikan > bagus, pindah kedaerah membawa keluarga, membawa pindah kemakmuran > yang mereka miliki. Semua suplier utama akan pindah, sekolah sebagai > lembaga penunjang akan secara otomatis berdiri atau menyempurnakan > diri, sentra perekonomian akan bergerak dan yang menarik akan terjadi > interaksi antar komponen bangsa yang tadinya tidak saling mengenal. > Kluster industri secara strategis akan terbentuk. > Kemajuan tehnologi komunikasi dan peningkatan kemampuan industri > transportasi memfasilitasi perseroan untuk beroperasi dengan efisien. > Levis telah memindahkan kantor pusatnya jauh ke pinggiran kota, Lippo > secara taktis memindahkan kantor pusat serta dengan konsisten memaksa > semua jajaran SDM nya untuk pindah ke Karawaci. Mereka berhasil, > lingkungan daerah nya pun berkembang. Tidak ada alasan bagi BUMN untuk > juga kembali memfungsikan dirinya sebagai 'agent of development' , > didaerah mrk beroperasi. > Diperlukan keberanian bertindak bahkan memerintah agar BUMN yang > selama ini merajalela di Ibukota , bergaul, bersentuhan langsung > dengan pusat kekuasaan dipindahkan secara phisik ke daerah yang memang > tidak mempunyai dan membutuhkan big Bussiness entity untuk mampu > menggali keunggulan komparatif nya. Perpindahan yang bisa diartikan > berupa 'hijrah'. Perpindahan yang jangan diartikan sebagai kemunduran > bahkan pengorbanan, tetapi perpindahan yang harus dirasakan sebagai > perjalanan pulang kampung untuk membangun daerah. > Beranikah Presiden Perintah Ini?!! > tito sulistio > > Sent from my BlackBerry(R) wireless device > Sent from my BlackBerry(R) smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss... ! > ------------ --------- --------- ------ > > Yahoo! Groups Links >

