Pak Risfan dan Rekan-rekan ysh.,

Pak Rodi, eh, Parodi menurut saya justru tidak tepat dikatakan menghina.
Satire-satire Mark Twain bahkan lebih layak bila ingin disebut menghina,
seperti, *"Let us be thankful for the fools. But for them the rest of us
could not succeed." *dan * "Suppose you were an idiot. Suppose you were a
member of Congress. But I repeat myself." *Tapi ya saya maklumlah, ini
negara Pancasila, bukan Amerika Serikat.

Jadi, kalau Pak Risfan dan rekan-rekan merasa terhina, saya yang paling dulu
harus meminta maaf kepada Anda sekalian. Mungkin ini kebodohan dan
ketidaksopanan saya, sebagai anak daerah, yang tentunya pendidikannya tidak
tinggi sehingga tidak seberadab anak-menantu Bapak-Ibu yang berdomisili di
Jakarta dan sekitarnya.

Nah, sekarang permasalahannya adalah bagaimana mengentaskan kebodohan di
daerah, misalnya di Medan, sedangkan listrik saja byar pet waktu kami mau
belajar?

Salam,

Andri

On Sat, Jan 3, 2009 at 10:38 AM, risfano <[email protected]> wrote:

>   Pak Aby dan rekan2 ysh,
>
> Sebaiknya kalau diskusi jangan gampang dibelokkan ke debat pribadi
> begini. Semua tujuannya sama, yang soal membahas caranya. Syukur-
> syukur kalau bisa terakumulasi menjadi segepok usulan bagi yang
> fihak yang berkepentingan.
>
> Kalau saya perhatikan ada simpang siur soal persepsi. Kalau Pak Aby
> dan Andri, selalu menyampaikan harapan. Kalau beberapa teman
> planologi, yang dipikir adalah caranya, dalam konteks Indonesia yang
> begini ini. Jadi tidak ada beda tujuan.
>
> Ungkapan beberapa teman planologi selalu "mempertanyakan". Karena
> ilmu, pengetahuan dan pengalamannya yang membuat mereka selalu
> berfikir menguji "kemungkinan diterapkannya" suatu ide.
>
> Soal primacy (satu kota tumbuh jauh dari lainnya) dan regional
> inequality adalah misi regional planning yang basic, sehingga para
> planolog selalu mengarah ke sana. Tapi kita tahu, "kekuatan" yang
> mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan ekonomi, yang
> pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan ekonomi (pasar)
> dan "kebijakan makro ekonomi" (nasional). Dan, celakanya
> keterlibatan para regional planner adalah terbatas sekali disitu.
>
> Rezim pemerintah manapun, apalagi dengan masa pemerintahan lima
> tahun, akan berfokus pada "pertumbuhan" ekonomi, kalau tidak maka
> habislah dia. Maka tak terhindarkan, soal pemerataan antar daerah,
> pemerataan antar lapisan, sering terabaikan, alias tidak
> diprioritaskan, basa-basi saja. Jadi kalau mau berjuang, ya rame-
> rame ke pengambil kebijakan ekonomi (makro) itu, bukan berdebat
> dengan planolog yang juga bukan pengambil kebijakan ekonomi.
>
> Namun, dengan desentralisasi/otonomi, buah reformasi itu, harapan
> akan pemerataan ke daerah itu ada. Karena ada kewenangan dan alokasi
> dana bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya
> masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan Prof Mardiasmo, mulai
> tahun 2009 ini alokasi dana ke daerah sudah melampaui alokasi untuk
> departemen/lembaga di tingkat pusat.
>
> Yang masih menjadi masalah adalah dari segi ekonomi, peran sektor
> sektor manufaktur dan jasa itu masih kurang. Jasa masih lebih banyak
> perdagangan eceran yang pasarnya lokal, atau sektor informal. Dan
> sebarannya belum merata. Ini kurang mampu menyerap kelebihan pencari
> kerja dari wilayah perdesaan, ataupun yang terpelajar dari daerah,
> sehingga mereka bermigrasi ke kota besar. Ini yang membebani kota
> besar.
>
> Akhirnya, dari apa yang menjadi ilmunya regional planner, ya
> sebaiknya menguatkan daerah, mempromosikan inovasi-inovasi daerah,
> supaya capacity building daerah makin gencar, sehingga meningkat
> kepercayaan ke daerah. Ilmu planologi itu intinya site plan, urban
> plan, regional plan. Ada sekitar 472 kabupaten/kota di Indonesia
> yang perlu ditingkatkan kapasitasnya.
>
> Terakhir, sorry kalau ini pribadi, walau di depan pesannya jangan
> pribadi. Kalau mau perubahan mindset sebetulnya mindset Pak Aby yang
> selalu mendambakan "national development planning" yang mengatur
> daerah, dan mindset Cak Andri yang sangat menghina inovasi-inovasi
> daerah (Parodi 10 Tokoh Tempo) itulah yang perlu dirubah. Jelas-
> jelas itu mengunggulkan pusat (Jakarta), dan meremehkan kemampuan
> daerah. Pola pikir macam itulah yang membuat orientasi terus ke
> Jakarta.
>
> Kata psikolog, kalau kita bilang "anti Jakarta" itu membuat pikiran
> bawah sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah sadar tidak
> mengenal negasi (tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita
> bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran bawah sadar akan mengarahkan
> kita untuk berfikir "pembangunan daerah."
>
> Salam,
> Risfan Munir
>


>
>
>   .
>
> 
>

Kirim email ke