Cak Andri dan rekans ysh,

Bukan saya yang terhina, saya kan bukan bupati/walikota. Tapi 
intinya kita perlu mencari kiat-kiat untuk membantu daerah. Daripada 
fokus pikiran pada (anti) Jakarta. 

Yusuf SK, walikota Tarakan itu contohnya. Kota Tarakan bebas dari 
byar-pet, karena dia swasembada listrik, Tarakan membangun sendiri 
pembangkit listriknya, dengan biaya Pemda dan warga. Kampanye yang 
dia lakukan cukup menarik. Dia selalu bertanya kepada warga Tarakan 
yang merokok, berapa mereka belanja harian, bulanannya. Bagaimana 
kalau setengah dari itu saja untuk iuran pembangunan pembangkit 
listrik. Masyarakat setuju. Walikota minta pendapat PLN, mereka 
tidak keberatan. Yang terjadi, saat ini justru PLN membeli kelebihan 
daya dari Tarakan.

Saat ini warga Tarakan bisa bangga, sedangkan Balikpapan yang punya 
kilang minyak saja mengalami byar-pet. Kalau Tarakan saja bisa, 
mestinya Medan dan sekitarnya juga bisa.

Inovasi-inovasi yang seperti itu yang perlu ditulis, disebarkan ke 
daerah lain sebagai good-practice untuk dapat direplikasi. 
Itu yang perlu dilakukan bersama. 

Salam,
Risfan Munir





--- In [email protected], "Mohammad Andri Budiman" 
<mand...@...> wrote:
>
> Pak Risfan dan Rekan-rekan ysh.,
> 
> Pak Rodi, eh, Parodi menurut saya justru tidak tepat dikatakan 
menghina.
> Satire-satire Mark Twain bahkan lebih layak bila ingin disebut 
menghina,
> seperti, *"Let us be thankful for the fools. But for them the rest 
of us
> could not succeed." *dan * "Suppose you were an idiot. Suppose you 
were a
> member of Congress. But I repeat myself." *Tapi ya saya maklumlah, 
ini
> negara Pancasila, bukan Amerika Serikat.
> 
> Jadi, kalau Pak Risfan dan rekan-rekan merasa terhina, saya yang 
paling dulu
> harus meminta maaf kepada Anda sekalian. Mungkin ini kebodohan dan
> ketidaksopanan saya, sebagai anak daerah, yang tentunya 
pendidikannya tidak
> tinggi sehingga tidak seberadab anak-menantu Bapak-Ibu yang 
berdomisili di
> Jakarta dan sekitarnya.
> 
> Nah, sekarang permasalahannya adalah bagaimana mengentaskan 
kebodohan di
> daerah, misalnya di Medan, sedangkan listrik saja byar pet waktu 
kami mau
> belajar?
> 
> Salam,
> 
> Andri
> 
> On Sat, Jan 3, 2009 at 10:38 AM, risfano <risf...@...> wrote:
> 
> >   Pak Aby dan rekan2 ysh,
> >
> > Sebaiknya kalau diskusi jangan gampang dibelokkan ke debat 
pribadi
> > begini. Semua tujuannya sama, yang soal membahas caranya. Syukur-
> > syukur kalau bisa terakumulasi menjadi segepok usulan bagi yang
> > fihak yang berkepentingan.
> >
> > Kalau saya perhatikan ada simpang siur soal persepsi. Kalau Pak 
Aby
> > dan Andri, selalu menyampaikan harapan. Kalau beberapa teman
> > planologi, yang dipikir adalah caranya, dalam konteks Indonesia 
yang
> > begini ini. Jadi tidak ada beda tujuan.
> >
> > Ungkapan beberapa teman planologi selalu "mempertanyakan". Karena
> > ilmu, pengetahuan dan pengalamannya yang membuat mereka selalu
> > berfikir menguji "kemungkinan diterapkannya" suatu ide.
> >
> > Soal primacy (satu kota tumbuh jauh dari lainnya) dan regional
> > inequality adalah misi regional planning yang basic, sehingga 
para
> > planolog selalu mengarah ke sana. Tapi kita tahu, "kekuatan" yang
> > mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan ekonomi, 
yang
> > pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan ekonomi 
(pasar)
> > dan "kebijakan makro ekonomi" (nasional). Dan, celakanya
> > keterlibatan para regional planner adalah terbatas sekali disitu.
> >
> > Rezim pemerintah manapun, apalagi dengan masa pemerintahan lima
> > tahun, akan berfokus pada "pertumbuhan" ekonomi, kalau tidak maka
> > habislah dia. Maka tak terhindarkan, soal pemerataan antar 
daerah,
> > pemerataan antar lapisan, sering terabaikan, alias tidak
> > diprioritaskan, basa-basi saja. Jadi kalau mau berjuang, ya rame-
> > rame ke pengambil kebijakan ekonomi (makro) itu, bukan berdebat
> > dengan planolog yang juga bukan pengambil kebijakan ekonomi.
> >
> > Namun, dengan desentralisasi/otonomi, buah reformasi itu, harapan
> > akan pemerataan ke daerah itu ada. Karena ada kewenangan dan 
alokasi
> > dana bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing 
daerahnya
> > masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan Prof Mardiasmo, mulai
> > tahun 2009 ini alokasi dana ke daerah sudah melampaui alokasi 
untuk
> > departemen/lembaga di tingkat pusat.
> >
> > Yang masih menjadi masalah adalah dari segi ekonomi, peran sektor
> > sektor manufaktur dan jasa itu masih kurang. Jasa masih lebih 
banyak
> > perdagangan eceran yang pasarnya lokal, atau sektor informal. Dan
> > sebarannya belum merata. Ini kurang mampu menyerap kelebihan 
pencari
> > kerja dari wilayah perdesaan, ataupun yang terpelajar dari 
daerah,
> > sehingga mereka bermigrasi ke kota besar. Ini yang membebani kota
> > besar.
> >
> > Akhirnya, dari apa yang menjadi ilmunya regional planner, ya
> > sebaiknya menguatkan daerah, mempromosikan inovasi-inovasi 
daerah,
> > supaya capacity building daerah makin gencar, sehingga meningkat
> > kepercayaan ke daerah. Ilmu planologi itu intinya site plan, 
urban
> > plan, regional plan. Ada sekitar 472 kabupaten/kota di Indonesia
> > yang perlu ditingkatkan kapasitasnya.
> >
> > Terakhir, sorry kalau ini pribadi, walau di depan pesannya jangan
> > pribadi. Kalau mau perubahan mindset sebetulnya mindset Pak Aby 
yang
> > selalu mendambakan "national development planning" yang mengatur
> > daerah, dan mindset Cak Andri yang sangat menghina inovasi-
inovasi
> > daerah (Parodi 10 Tokoh Tempo) itulah yang perlu dirubah. Jelas-
> > jelas itu mengunggulkan pusat (Jakarta), dan meremehkan kemampuan
> > daerah. Pola pikir macam itulah yang membuat orientasi terus ke
> > Jakarta.
> >
> > Kata psikolog, kalau kita bilang "anti Jakarta" itu membuat 
pikiran
> > bawah sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah sadar tidak
> > mengenal negasi (tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita
> > bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran bawah sadar akan 
mengarahkan
> > kita untuk berfikir "pembangunan daerah."
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
> 
> 
> >
> >
> >   .
> >
> > 
> >
>


Kirim email ke