Pak Eka ysh, Saya sepakat dengan pendapat Pak Eka bahwa pengembangan "distributed agglomeration" tersebut tidak harus dilakukan dengan mengembangkan kawasan-kawasan industri. Pengembangan kawasan-kawasan industri hanyalah merupakan paradigma akhir tahun 80an hingga awal 90an ketika dunia, terutama di negara-negara industri maju, dihadapkan kepada meningkatnya standar-standar kualitas lingkungan (ekologis) sebagai dampak berkembangnya paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable development) pasca dikeluarkannya 1980 IUCN's Natural Conservation dan 1987 Brundtland's Commission WCED Repport.
Peningkatan standar kualitas lingkungan hidup (ekologis) di banyak negara-negara industri membuat mereka harus menghadapi pilihan melakukan investasi untuk meningkatkan teknologi pengolahan limbah dalam proses produksinya, atau merelokasi investasinya ke negara-negara yang standar kualitas lingkungan (ekologis)-nya masih rendah (yang kebetulan sebagian besar adalah merupakan negara-negara berkembang. Akhirnya, diperbesar manfaatnya oleh besarnya perbedaan upah buruh di negaranya dengan upah buruh di negara berkembang, banyak aktivitas industri di negara-negara maju memutuskan untuk melakukan relokasi indsutri ke negara berkembang, sehingga muncullah gelombang relokasi industri dunia. Di negara berkembang, termasuk Indonesia (walaupun agak terlambat dan tidak secepat China, Vietnam dan Malaysia untuk region Asia Timur) paradigma ini diterjemahkan menjadi paradigma pengembangan kawasan industri untuk meraih kesempatan masuknya FDI. Sekarang gelombang relokasi tersebut sudah tidak ada lagi, dan bahkan paradigma pengembangan ekonomi dunia diyakini sedang berada di awal era "knowledge economy" yang sejarahnya diyakini akan memiliki masa yang sangat panjang. Artinya, pengembangan kawasan industri sudah bukan lagi strategi yang jitu. Sejak tahun 1960an, Perancis, yang memiliki Toulouse sebagai pusat pengembangan dirgantara dan antariksa, sudah memulai pengembangan techo-pole dalam pengembangan (ekonomi) wilayahnya. Bahkan 'techno-pole'-nya itu lebih berupa 'techno-region' dengan medayagunakan kerjasama aktivitas ekonomi, penelitian dan pengajaran untuk suatu keunggulan / daya saing tertentu di wilayahnya. Amerika Serikat terkenal dengan Silicon Valley-nya yang mulai berkembang di era 70an, dimana perkembangannya tidak hanya disupport oleh aktivitas industri tetapi juga oleh kegiatan riset/penelitian pada beberapa universitas di wilayahnya. "Silicon valley" serupa seperti ini kemudian direplikasi oleh India di Bangalore. Dalam konteks ini, untuk kepentingan pengembangan agglomerasi-agglomerasi lain di Indonesia, saya cenderung sepakat dengan Pak Aunur Rofiq yang menyarankan kita untuk mencari keunggulan komparatif dari suatu wilayah berbasiskan pada SDA wilayahnya. Bukan hanya mengandalkan pada pembangunan kawasan-kawasan industri. Namun saya juga mengusulkan agar pembangunan wilayahnya tersebut kemudian dikelola dengan jeli agar mampu mengkolaborasikan SDA (alam) dengan SDM (manusia) dan SDL (lokasi), agar bisa tanggap dan sesuai dengan kebutuhan yang ada pada saat ini (ini merupakan salah satu peran penting elaborasi terhadap SDW/waktu). Seperti halnya Perancis yang memiliki Bordeoux yang terkenal sebagai techno-pole untuk bidang anggur, mungkin kita bisa juga memiliki Gorontalo sebagai techno-pole dalam bidang jagung, Sumatera Utara dalam bidang sawit, Sumatera Selatan dalam bidang energi,dll. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengikutsertakan pengembangan pendidikan dan penelitian tidak saja sebagai infrastruktur sosial tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi, selain pengembangan sarana dan prasarana wilayah sebagai salah satu infrastruktur penunjang ekonomi, di dalam rencana dan strategi pengembangan wilayah kita. Apabila kita mampu melakukannya, mungkin kita tidak akan lagi ketinggalan dalam era knowledge economy ini seperti halnya kita ketinggalan dari China, Thailand dan Vietnam dalam era pengembangan kawasan industri. Salam, Fadjar Undip --- On Sun, 1/4/09, ffekadj <[email protected]> wrote: > From: ffekadj <[email protected]> > Subject: [referensi] Batubara > To: [email protected] > Date: Sunday, January 4, 2009, 5:22 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Fadjar ysh. Pembangkit listrik tenaga > batubara di > China > telah mampu melambungkan produktivitas berkali-kali lipat > dan menggelisahkan perekonomian dunia saat ini. Namun saya > tidak menyarankan di sekitar The New Jakarta itu > dikembangkan kawasan industri, biar di Jawa saja. > Salam. > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, <efha_mardiansjah@ > ...> wrote: > > > > Pak Aby ysh, > > > > Saya rasa trend kita di Indonesia untuk kembali > 'melirik' potensi batubara sebagai sumber pemenuhan > energi bukan dilandasi oleh 'romantisme sejarah', > seperti yang pak Aby sampaikan kepada Bung Eka. Bisa jadi > hal itu karna kita sekarang ini sudah menjadi "korban > kontrak" dari pemerintah kita di tahun-tahun lalu. > Maksudnya, kita jadi korban karena pemerintah kita sudah > melakukan kontrak-kontrak jangka penjang untuk penyediaan > minyak bumi dan gas ke negara-negara sahabat untuk jangka > panjang, di satu sisi. Padahal, produksi minyak kita semakin > menurun, di sisi yang lain. Akibatnya, semakin sedikit > 'jatah' minyak produksi domestik yang bisa digunakan > sebagai pemenuhan kebutuhan kita sendiri. Maka, untuk > mencukupi kebutuhan energi domestik yang juga tumbuh semakin > besar, (mungkin) kita harus kembali 'melirik' > sumber-sumber energi 'tradisional' seperti batubara > (yang kalo berdasarkan cerita Pak Aby merupakan energi-nya > jaman mesin uap James Watt maka berarti > > itu adalah energi abad 19) dan minyak jarak (konon > minyak ini adalah minyak yang kita pakai di jaman > kolonialisasi jepang di Indonesia: energi jaman revolusi). > > > > Sekali lagi ini adalah dugaan saya. Bila ada rekan > milist yang memiliki informasi yang lebih akurat, mohon > pencerahannya ya.... > > > > Salam, > > > > Fadjar Undip > > > > > > --- On Sun, 1/4/09, hengky abiyoso watashi...@. .. > wrote: > > > > > From: hengky abiyoso watashi...@. .. > > > Subject: [referensi] Re: Batubara Re: Kontemplasi > Tahun Baru > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Cc: pl...@yahoogroups. com > > > Date: Sunday, January 4, 2009, 11:26 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >  > > > > > > Pak haji Eka boleh jadi > > > terkesan pidatonya bung Karno bangsa thn > 1963-64-an…. > > > “Jangan Sekali-Sekali Melupakan > Sejarah� > > > (Jasmerah)….atau boleh jadi beliau memang > hobi berat dgn > > >  mata pelajaran sejarah…. Maka > nampaknya > > > beliau seneng  “ingin > > > mengulang sejarah� dengan “kedekatan > pada batubara > > > sebagai sumber energi� di > Kalimantan…….. > > > > > > > > > Dulu tatkala sistem mesin uap oleh James Watt > > > baru saja belum lama diketemukan… dan > sistem kereta api > > > dengan rel belum lahir……. Banyak > industri tekstil di > > > Inggris didirikan didekat tambang2 > batubara…… utamanya > > > diselatan barat daya….…dengan itu > lalu penduduk dari > > > daerah pertanian diutara berbondong2 > > >   bermigrasi menuju > > > pabrik2 tekstil yg ada didekat tambang batubara > > > itu……. > > > Tatkala sistem keretaapi kemudian lahir … > dan > > > ternyata batubara dapat diangkut dari mulut > pertambangannya > > >  dengan kereta diatas rel menuju > > > London…… dimana kantor2 pusat > perusahaan lebih memilih > > > lokasinya yg dekat dengan fasilitas/ > infrastruktur ekspor > > > dan impor seperti pelabuhan, keperluan show room > utk > > > pajangan produknya dsb.  Dan pabrik2 dpt > > > didirikan didekat sana…. selain juga dikota > besar > > > perusahaan2 maupun karyawan dari berbagai > keahlian lebih > > > mudah utk saling berinteraksi dlm employment > dibanding > > > dikota2 kecil…… > > > maka sekali lagi pabrik2 berbondong2 dipindahkan > dari > > > dekat lokasi tambang batubara dipedalaman menuju > ke seputar > > > London….. dan sekali lagi gelombang migrasi > penduduk > > > bergerak dari dekat lokasi tambang batubara > menuju keseputar > > > kota London……. > > > “Manisnya� peristiwa sejarah > industri > > > berbasis energi batubara inilah yg barangkali > ingin dikenang > > > dan diulang oleh haji Ekadj di > > > Kalimantan……..wallahualam… > > >  > > >  > > > Salam, > > > aby > > > > > > --- On Fri, 1/2/09, ffekadj 4ek...@gmail. > > > com> wrote: > > > > > > From: ffekadj 4ek...@gmail. com> > > > Subject: [referensi] Re: Kontemplasi Tahun Baru > (was: > > > Beranikah Pemerintah?) > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Friday, January 2, 2009, 11:35 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak BTS ysh, selamat kembali ke tengah-tengah > > > keluarga. > > > Lokasi > > > di Kalimantan masih tentatif > > > pak, namun yang pasti harus dekat dengan sumber > energi. > > > Pilihannya adalah batubara  dan > > > gas, bukan bbm seperti di Tarakan dan Balikpapan. > Saat ini > > > telah banyak dikembangkan model pembangkit mikro, > konon pula > > > kalau dibangun pembangkit besar. Salam. > > > -ekadj > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Bambang Tata > Samiadji > > > btsamiadji@ ..> wrote: > > > > > > > > Bung Eka gimana sih,... mau pindah ke > Kalimantan > > > supaya nggak byar pet? Kalimantan yang mana? > Kalau di > > > Tarakan (seperti ceritanya Pak Risfan) mungkin > oke, tapi > > > kalau di Banjarmasin? Atau di Palangkaraya? > > > >  > > > > Saya khan baru saja 5 bulan indekos di > Palangkaraya > > > (Kalteng). Dua hari byar, terus pet. Kalau lagi > pet, kasihan > > > anak ibu kos, kalau belajar melototi buku di > bawah sinar > > > lilin; saya sebagai anak kos juga bingung mau > ngapain. Kalau > > > lagi gitu akhirnya cari-cari hiburan malam > (kafe/dugem) . > > > Yang jauh dari keluarga gini repot kalau sering > cari > > > dugem... bisa-bisa temptation and persuaded... > Alhamdulilah > > > sekarang ada di Tangerang lagi. > > > > > > > > Thanks. CU. BTS. > > > > > > > > --- On Sat, 1/3/09, - ekadj 4ekadj@ wrote: > > > > > > > > From: - ekadj 4ekadj@ > > > > Subject: [referensi] Re: Kontemplasi Tahun > > > Baru (was: Beranikah Pemerintah?) > > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > > Cc: futurol...@yahoogro ups.com > > > > Date: Saturday, January 3, 2009, 5:14 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Cak H. Andri ysh, > > > > Kalau di Medan listriknya masih byar pet, > memang tidak > > > cocok untuk jadi ibukota negara. Jakarta dan Jawa > memang > > > telah mencapai 'stalled development' > karena masalah > > > energi ini, atau dengan kata lain: telah > ter-'growth > > > management' sendiri oleh kita sendiri (... > naif). > > > Alternatif yang layak memang Kalimantan ... > mudah-mudahan > > > kalau Cak Andri nanti pindah kesana bisa > menggunakan > > > setrikaan 1200 Watt dan home theater 10.000 Watt > semurahnya > > > dan sepuasnya. Atau ada peningkatan kecerdasan > anak-menantu > > > 3-4 kali lipat. Salam. > > > >  > > > > -ekadj > > > > > > > > > > > > 2009/1/3 Mohammad Andri Budiman > mand...@gmail. com > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak > > > Risfan dan Rekan-rekan ysh., > > > > Pak Rodi, eh, Parodi menurut saya justru > tidak tepat > > > dikatakan menghina. Satire-satire Mark Twain > bahkan lebih > > > layak bila ingin disebut menghina, seperti, > "Let us be > > > thankful for the fools. But for them the rest of > us could > > > not succeed." dan  "Suppose you > were an > > > idiot. Suppose you were a member of Congress. But > I repeat > > > myself." Tapi ya saya maklumlah, ini > negara > > > Pancasila, bukan Amerika Serikat. > > > > Jadi, kalau Pak Risfan dan rekan-rekan > merasa terhina, > > > saya yang paling dulu harus meminta maaf kepada > Anda > > > sekalian. Mungkin ini kebodohan dan > ketidaksopanan saya, > > > sebagai anak daerah, yang tentunya pendidikannya > tidak > > > tinggi sehingga tidak seberadab anak-menantu > Bapak-Ibu yang > > > berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. > > > > > > > > Nah, sekarang permasalahannya adalah > bagaimana > > > mengentaskan kebodohan di daerah, misalnya di > Medan, > > > sedangkan listrik saja byar pet waktu kami mau > belajar? > > > > > > > Salam, > > > > Andri > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >

