Pak Aby ysh,

Saya rasa trend kita di Indonesia untuk kembali 'melirik' potensi batubara 
sebagai sumber pemenuhan energi bukan dilandasi oleh 'romantisme sejarah', 
seperti yang pak Aby sampaikan kepada Bung Eka. Bisa jadi hal itu karna kita 
sekarang ini sudah menjadi "korban kontrak" dari pemerintah kita di tahun-tahun 
lalu. Maksudnya, kita jadi korban karena pemerintah kita sudah melakukan 
kontrak-kontrak jangka penjang untuk penyediaan minyak bumi dan gas ke 
negara-negara sahabat untuk jangka panjang, di satu sisi. Padahal, produksi 
minyak kita semakin menurun, di sisi yang lain. Akibatnya, semakin sedikit 
'jatah' minyak produksi domestik yang bisa digunakan sebagai pemenuhan 
kebutuhan kita sendiri. Maka, untuk mencukupi kebutuhan energi domestik yang 
juga tumbuh semakin besar, (mungkin) kita harus kembali 'melirik' sumber-sumber 
energi 'tradisional' seperti batubara (yang kalo berdasarkan cerita Pak Aby 
merupakan energi-nya jaman mesin uap James Watt maka berarti
 itu adalah energi abad 19) dan minyak jarak (konon minyak ini adalah minyak 
yang kita pakai di jaman kolonialisasi jepang di Indonesia: energi jaman 
revolusi).

Sekali lagi ini adalah dugaan saya. Bila ada rekan milist yang memiliki 
informasi yang lebih akurat, mohon pencerahannya ya....

Salam,

Fadjar Undip


--- On Sun, 1/4/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

> From: hengky abiyoso <[email protected]>
> Subject: [referensi] Re: Batubara Re: Kontemplasi Tahun Baru
> To: [email protected]
> Cc: [email protected]
> Date: Sunday, January 4, 2009, 11:26 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>               
> 
> Pak haji Eka boleh jadi
> terkesan pidatonya bung Karno bangsa thn 1963-64-an….
> “Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah”
> (Jasmerah)….atau boleh jadi beliau memang hobi berat dgn
>  mata pelajaran sejarah…. Maka nampaknya
> beliau seneng  “ingin
>  mengulang sejarah” dengan “kedekatan pada batubara
> sebagai sumber energi” di Kalimantan……..
> 
> 
> Dulu tatkala sistem mesin uap oleh James Watt
> baru saja belum lama diketemukan… dan sistem kereta api
> dengan rel belum lahir……. Banyak industri tekstil di
> Inggris didirikan didekat tambang2 batubara…… utamanya
> diselatan barat daya….…dengan itu lalu penduduk dari
> daerah pertanian diutara berbondong2
>   bermigrasi menuju
> pabrik2 tekstil yg ada didekat tambang batubara
> itu……. 
> Tatkala sistem keretaapi kemudian lahir … dan
> ternyata batubara dapat diangkut dari mulut pertambangannya
>  dengan kereta diatas rel menuju
> London…… dimana kantor2 pusat perusahaan lebih memilih
> lokasinya yg dekat dengan fasilitas/ infrastruktur ekspor
> dan impor seperti pelabuhan, keperluan show room utk
> pajangan produknya dsb.  Dan pabrik2 dpt
> didirikan didekat sana…. selain juga dikota besar
> perusahaan2 maupun karyawan dari berbagai keahlian lebih
> mudah utk saling berinteraksi dlm employment dibanding
> dikota2 kecil……
>  maka sekali lagi pabrik2 berbondong2 dipindahkan dari
> dekat lokasi tambang batubara dipedalaman menuju ke seputar
> London….. dan sekali lagi gelombang migrasi penduduk
> bergerak dari dekat lokasi tambang batubara menuju keseputar
> kota London……. 
> “Manisnya” peristiwa sejarah industri
> berbasis energi batubara inilah yg barangkali ingin dikenang
> dan diulang oleh haji Ekadj di
> Kalimantan……..wallahualam… 
>   
>   
> Salam, 
> aby
> 
> --- On Fri, 1/2/09, ffekadj <4ek...@gmail.
> com> wrote:
> 
> From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
> Subject: [referensi] Re: Kontemplasi Tahun Baru (was:
> Beranikah Pemerintah?)
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Friday, January 2, 2009, 11:35 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak BTS ysh, selamat kembali ke tengah-tengah
> keluarga.
> Lokasi 
> di Kalimantan masih tentatif 
> pak, namun yang pasti harus dekat dengan sumber energi.
> Pilihannya adalah batubara  dan
> gas, bukan bbm seperti di Tarakan dan Balikpapan. Saat ini
> telah banyak dikembangkan model pembangkit mikro, konon pula
> kalau dibangun pembangkit besar. Salam.
> -ekadj
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Bambang Tata Samiadji
> <btsamia...@. ..> wrote:
> >
> > Bung Eka gimana sih,... mau pindah ke Kalimantan
> supaya nggak byar pet? Kalimantan yang mana? Kalau di
> Tarakan (seperti ceritanya Pak Risfan) mungkin oke, tapi
> kalau di Banjarmasin? Atau di Palangkaraya?
> >  
> > Saya khan baru saja 5 bulan indekos di Palangkaraya
> (Kalteng). Dua hari byar, terus pet. Kalau lagi pet, kasihan
> anak ibu kos, kalau belajar melototi buku di bawah sinar
> lilin; saya sebagai anak kos juga bingung mau ngapain. Kalau
> lagi gitu akhirnya cari-cari hiburan malam (kafe/dugem) .
> Yang jauh dari keluarga gini repot kalau sering cari
> dugem... bisa-bisa temptation and persuaded... Alhamdulilah
> sekarang ada di Tangerang lagi.
> > 
> > Thanks. CU. BTS. 
> > 
> > --- On Sat, 1/3/09, - ekadj 4ek...@... wrote:
> > 
> > From: - ekadj 4ek...@...
> > Subject: [referensi] Re: Kontemplasi Tahun
>  Baru (was: Beranikah Pemerintah?)
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Cc: futurol...@yahoogro ups.com
> > Date: Saturday, January 3, 2009, 5:14 AM
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Cak H. Andri ysh,
> > Kalau di Medan listriknya masih byar pet, memang tidak
> cocok untuk jadi ibukota negara. Jakarta dan Jawa memang
> telah mencapai 'stalled development' karena masalah
> energi ini, atau dengan kata lain: telah ter-'growth
> management' sendiri oleh kita sendiri (... naif).
> Alternatif yang layak memang Kalimantan ... mudah-mudahan
> kalau Cak Andri nanti pindah kesana bisa menggunakan
> setrikaan 1200 Watt dan home theater 10.000 Watt semurahnya
> dan sepuasnya. Atau ada peningkatan kecerdasan anak-menantu
> 3-4 kali lipat. Salam.
> >  
> > -ekadj
> > 
> > 
> > 2009/1/3 Mohammad Andri Budiman mand...@gmail. com
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pak
>  Risfan dan Rekan-rekan ysh.,
> > Pak Rodi, eh, Parodi menurut saya justru tidak tepat
> dikatakan menghina. Satire-satire Mark Twain bahkan lebih
> layak bila ingin disebut menghina, seperti, "Let us be
> thankful for the fools. But for them the rest of us could
> not succeed." dan  "Suppose you were an
> idiot. Suppose you were a member of Congress. But I repeat
> myself." Tapi ya saya maklumlah, ini negara
> Pancasila, bukan Amerika Serikat.
> > Jadi, kalau Pak Risfan dan rekan-rekan merasa terhina,
> saya yang paling dulu harus meminta maaf kepada Anda
> sekalian. Mungkin ini kebodohan dan ketidaksopanan saya,
> sebagai anak daerah, yang tentunya pendidikannya tidak
> tinggi sehingga tidak seberadab anak-menantu Bapak-Ibu yang
> berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. 
> > 
> > Nah, sekarang permasalahannya adalah bagaimana
> mengentaskan kebodohan di daerah, misalnya di Medan,
> sedangkan listrik saja byar pet waktu kami mau belajar?
> >
>  Salam,
> > Andri
> > 
> > 
> > 
> > 
> > On Sat, Jan 3, 2009 at 10:38 AM, risfano
> risf...@yahoo. com> wrote:
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pak Aby dan rekan2 ysh,
> > 
> > Sebaiknya kalau diskusi jangan gampang dibelokkan ke
> debat pribadi 
> > begini. Semua tujuannya sama, yang soal membahas
> caranya. Syukur-
> > syukur kalau bisa terakumulasi menjadi segepok usulan
> bagi yang 
> > fihak yang berkepentingan. 
> > 
> > Kalau saya perhatikan ada simpang siur soal persepsi.
> Kalau Pak Aby 
> > dan Andri, selalu menyampaikan harapan. Kalau beberapa
> teman 
> > planologi, yang dipikir adalah caranya, dalam konteks
> Indonesia yang 
> > begini ini. Jadi tidak ada beda tujuan.
> > 
> > Ungkapan beberapa teman planologi selalu
> "mempertanyakan" . Karena 
> > ilmu, pengetahuan dan pengalamannya yang membuat
> mereka selalu 
> > berfikir menguji "kemungkinan
>  diterapkannya" suatu ide.
> > 
> > Soal primacy (satu kota tumbuh jauh dari lainnya) dan
> regional 
> > inequality adalah misi regional planning yang basic,
> sehingga para 
> > planolog selalu mengarah ke sana. Tapi kita tahu,
> "kekuatan" yang 
> > mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan
> ekonomi, yang 
> > pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan
> ekonomi (pasar) 
> > dan "kebijakan makro ekonomi" (nasional).
> Dan, celakanya 
> > keterlibatan para regional planner adalah terbatas
> sekali disitu. 
> > 
> > Rezim pemerintah manapun, apalagi dengan masa
> pemerintahan lima 
> > tahun, akan berfokus pada "pertumbuhan"
> ekonomi, kalau tidak maka 
> > habislah dia. Maka tak terhindarkan, soal pemerataan
> antar daerah, 
> > pemerataan antar lapisan, sering terabaikan, alias
> tidak 
> > diprioritaskan, basa-basi saja. Jadi kalau mau
> berjuang, ya rame-
> > rame ke pengambil kebijakan
>  ekonomi (makro) itu, bukan berdebat 
> > dengan planolog yang juga bukan pengambil kebijakan
> ekonomi.
> > 
> > Namun, dengan desentralisasi/ otonomi, buah reformasi
> itu, harapan 
> > akan pemerataan ke daerah itu ada. Karena ada
> kewenangan dan alokasi 
> > dana bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya
> saing daerahnya 
> > masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan Prof
> Mardiasmo, mulai 
> > tahun 2009 ini alokasi dana ke daerah sudah melampaui
> alokasi untuk 
> > departemen/lembaga di tingkat pusat.
> > 
> > Yang masih menjadi masalah adalah dari segi ekonomi,
> peran sektor 
> > sektor manufaktur dan jasa itu masih kurang. Jasa
> masih lebih banyak 
> > perdagangan eceran yang pasarnya lokal, atau sektor
> informal. Dan 
> > sebarannya belum merata. Ini kurang mampu menyerap
> kelebihan pencari 
> > kerja dari wilayah perdesaan, ataupun yang terpelajar
> dari daerah, 
> > sehingga mereka bermigrasi
>  ke kota besar. Ini yang membebani kota 
> > besar.
> > 
> > Akhirnya, dari apa yang menjadi ilmunya regional
> planner, ya 
> > sebaiknya menguatkan daerah, mempromosikan
> inovasi-inovasi daerah, 
> > supaya capacity building daerah makin gencar, sehingga
> meningkat 
> > kepercayaan ke daerah. Ilmu planologi itu intinya site
> plan, urban 
> > plan, regional plan. Ada sekitar 472 kabupaten/kota di
> Indonesia 
> > yang perlu ditingkatkan kapasitasnya.
> > 
> > Terakhir, sorry kalau ini pribadi, walau di depan
> pesannya jangan 
> > pribadi. Kalau mau perubahan mindset sebetulnya
> mindset Pak Aby yang 
> > selalu mendambakan "national development
> planning" yang mengatur 
> > daerah, dan mindset Cak Andri yang sangat menghina
> inovasi-inovasi 
> > daerah (Parodi 10 Tokoh Tempo) itulah yang perlu
> dirubah. Jelas-
> > jelas itu mengunggulkan pusat (Jakarta), dan
> meremehkan kemampuan 
> > daerah. Pola pikir
>  macam itulah yang membuat orientasi terus ke 
> > Jakarta.
> > 
> > Kata psikolog, kalau kita bilang "anti
> Jakarta" itu membuat pikiran 
> > bawah sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah
> sadar tidak 
> > mengenal negasi (tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita
> 
> > bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran
> bawah sadar akan mengarahkan 
> > kita untuk berfikir "pembangunan daerah." 
> > 
> > Salam,
> > Risfan Munir 
> > 
> >  
> > ..
> >
> 
> 
> 
>       
>       
> 
>     
>     
>       
>        
>       
>       
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> 
> 
> 
>       
>       
> 
> 
>       
>       
>       
> 
> 


      

Kirim email ke