Pak Ekadj, Pak Rofiq, Pak Risfan ysh,

Sebetulnya masalah utama pembangunan Batam telah sedikit terungkap dalam
diskusi kecil sebelumnya, yaitu masalah manusianya pada berbagai tingkatan.

Memang adanya penentu keputusan tunggal untuk pengembangan Batam pada
awalnya memudahkan kita untuk mencari kebijakan apa yang diputuskan dalam
proses pengembangannya, bahkan tanpa diganggu oleh masa pemilu. Sesungguhnya
OB memiliki akses utama ke penentu kebijakan tersebut. Namun disisi lain
tanpa keputusan tersebut justru OB memiliki keterbatasan untuk melangkah
lebih lanjut. Hal ini tampak pada masa awal pembangunannya (1978 - 1985)
yang hanya berorientasi kepentingan pertamina dan perusahaan pendukungnya.

Penduduk asal yang merupakan nelayan memang sedikit, sehingga mudah
"teralokasi" ke kawasan yang belum prioritas dibangun, atau justru pindah
sendiri kesepanjang pesisir pulau-pulau mikro di sekitar pulau ini. Namun
yang dilupakan adalah bahwa kegiatan pabrik, pelabuhan Sekupang, Batu Ampar
dan juga di Kabil yang berkembang semasa Mc Dermott ataupun awal Batam
Center, walau masih terbatas, telah mengundang banyak pendatang dari kawasan
sekitar pulau Batam. Yang dilupakan adalah adalah pembangunan jangka pendek
yang sangat intensif mengakibatkan jumlah penduduk "blue collar" pekerja
konstruksi dengan berbagai kebutuhannya serta penduduk pemberi jasa
pelayanan kepada mereka berkembang pesat bersama pembangunan fisik setempat.
Mereka kemudian masuk menjadi penduduk setempat setelah "tidak diangkut
kembali" ke daerah asalnya oleh para kontraktor yang selesai berkegiatan di
pulau ini. Selanjutnya pekerja "white collar" juga bertambah bersama
bertambahnya bangunan, industri dan berfungsinya fasilitas pelayanan bagi
pembawa dollar Singapura maupun penggiat industri setempat, ditambah
berbagai "kegiatan sampingan" yang datang bersama maraknya Batam dikenal
sebagai tempat berekreasi masyarakat Singapura; tentu juga lengkap dengan
sisi hitam dari jenis pekerjaan yang berpeluang tumbuh setempat. Artinya,
Batam berkembang menjadi tempat bermukim berbagai golongan masyarakat,
walaupun seperti strategi pengembang di Indonesia lainnya, pembangunan fisik
tidak semua berjalan mulus, menunggu harga pasar yang lebih menguntungkan.

Lahan guntai semakin banyak, bersama penggundulan muka tanah yang kurang
subur, semakin menjadikan pulau kota baru Batam menjadi kurang menarik.
Calon kawasan permukiman terbengkelai (karena menunggu ijin pemerintah untuk
boleh dibeli non-"WNI" ?), padahal banyak penduduk lama dan baru kelas
menengah-bawah yang belum memiliki tempat tinggal.

Pengelola OB tidak disiapkan untuk mengelola perkembangan suatu kota atau
wilayah pulau yang akan berkembang dinamis pada sekitar tahun 1986-1996-an
setelah master plan Batam semakin matang. Sebaliknya Pemda setempat yang
tidak memiliki akses sebaik OB kepenentu pembangunan tunggal justru mendapat
tugas untuk menangani masalah manusia pendatang baru yang turut berkegiatan
dipulau ini. Dengan demikian pengelola Batam bukan mereka yang siap
menangani kota baru yang tumbuh dinamis dengan berbagai dimensinya. Berbeda
dengan Singapura yang merupakan negara pulau yang jelas batas dan kekuasaan
untuk menentu kebijakannya, Batam tidak dapat lepas dari keterkaitan fisik
dan lokasinya dari wilayah lain Indonesia di sekitarnya. Pakar-pakar yang
terlibat setempat lebih bersifat sektoral, terikat perusahaan yang sedang
berproyek di Batam, atau konsultan pengelola setempat (termasuk yang "hit
and run"). Sebagian besar kualitas rancangan bangunan dan arsitektur kota
setempat juga jauh dibawah kualitas  yang dapat menjual lingkungan Batam,
apalagi mendekati Singapura.

Hingga tahun 2008 kemarin, perguruan tinggi maupun LSM bidang pengelolaan
perkembangan wilayah setempat masih belum berpotensi dan berperan dalam
pembangunan setempat. Pembangunan selama ini hanya melibatkan
manusia-manusia dari luar Batam tanpa meningkatkan kemampuan mereka untuk
menjadi pengelola unggul di pulau yang semula diunggulkan.

Perlu pendekatan pemberdayaan manusia setempat, mungkin termasuk
pengembangan perguruan tinggi (bila perlu berkualitas internasional) yang
menjadi embrio pendukung pembangunan kota pulau (ter)strategis saat ini,
bila perlu juga untuk menjadi contoh tempat pembelajaran pembangunan wilayah
gugus pulau seperti Barelang dan kawasan lain di Indonesia (maupun negara
kepulauan lainnya?). Barelang masih menjanjikan untuk dikembangkan, terutama
setelah Kepri memiliki status propinsi terdepan negara ini. Batam masih laku
sebagai alternatif tempat pertemuan internasional disamping Bali.

Perlu mimpi strategis untuk mengubah nasib suatu masyarakat wilayah baru
secara menyeluruh, terutama  pembinaan manusia setempat dalam berbagai
tingkatannya yang akan tinggal dan bergelut setempat bersama resiko
perkembangan yang akan dihadapinya.

Sementara itu dulu.

Abimanyu








2009/1/4 ffekadj <[email protected]>

>
> Pak Rofiq ysh,
>
> Yang menarik dari penjelasan bapak adalah ihwal penguasaan lahan di
> Batam. Bila 'dulu' telah ada beberapa permukiman (nelayan) di Batam,
> tentunya mereka direlokasi ke suatu tempat di luar Batam. Sehingga 'OB'
> praktis menguasai 100% lahan di Pulau Batam. Dengan penguasaan seperti
> ini secara teori akan sangat mudah menata dan mengembangkan Batam.
> Apalagi bila ditambah dengan otoritas mengeluarkan izin dll serta
> beberapa 'fasilitas khusus', seperti tax holiday, akses dana APBN, dll.
>
> Perlu penjelasan saat ini mengenai 'sistem pertanahan', menyangkut
> hubungan OB, Pemda, dan BPN. Dengan adanya BPN misalnya, menunjukkan
> bila OB sudah bukan lembaga konsesi sehingga menjadi 'kerdil' (...
> karena saya tidak menemukan BPN bekerja di areal PTFI). Secuil informasi
> yang saya temukan, bila misalnya nilai lahan di suatu lokasi dipatok OB
> adalah Rp 500 ribu, maka setelah melalui proses via Pemda dan BPN akan
> menjadi Rp 1 juta. Permasalahan bagi investor bukan pada nilai akhir
> itu, tetapi lebih pada rentang proses yang harus dilalui. Mudah-mudahan
> ada rekan-rekan dari Batam yang bersedia menjelaskan.
>
> Saya baru tahu pak bila 'orang tercerdas di Indonesia' bisa ditipu oleh
> Singapura, bagaimana pula kita-kita ini yang 1/2 sd 1/10 cerdas?
> Sepertinya kita memang perlu pindah dan perlu pasokan listrik yang
> berlimpah supaya dapat meningkatkan kecerdasan kita beberapa kali lipat.
> Sementara demikian pak. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, Aunur
> rofiq <aunurrofiqh...@...>
> wrote:
>
> >
> > Pak Ekadj, Pak Risfan dan Pak Abi,
> > Melihat perkembangan Batam sekarang memang tidak seperti yang
> dibayangkan 30 tahun yang lalu, apa yang disebut oleh pak Risfan tentang
> kritik yang kemana-mana akhirnya pihak Otorita Batam yang harus menerima
> kutukan
> >
> > Mungkin yang perlu diperjelas adalah sejarah Batam. Tadinya pulau itu
> hanya dihuni oleh nelayan kecil, berupa kampung-kampung ditepi pantai,
> lainnya masih berupa hutan. Pak harto dan Pak ibnu Sutowo pada awal 1970
> khawatir akan perkembangan Singapore, karena semua kapal milik pertamina
> yang cukup banyak ternyata harus dibawa ke singapore untuk
> pemeliharaannya, demikian juga dengan seluruh kebutuhan operasi
> pertamina, seluruhnya berbasis di negara tetangga. Maka dimintalah Ibnu
> Sutowo dan Bob hasan memindahkan perusahaan pensuplai kebutuhan
> pertamina ke Batam....maka berdirilah Mc Dermott. Pada tahun 1978
> mulailah Batam dijadikan badan otorita dengan wewenangnya termasuk
> menguasai lahan dan menerbitkan ijin bagi perusahaan yang investasi
> disana (maklum waktu itu belum ada kelurahan apalagi kecamatan)
> >
> > Masalah berikutnya adalah masalah management dan persaingan dengan
> Singapore. Saya kebetulan sedikit tahu bagaimana Pak Habibie marah
> karena ditipu oleh Singapore, setelah negosiasi dengan salah satu
> operator peti kemas terbesar di dunia...Otorita Batam diminta untuk
> membangun pelabuhan Kabil...pada waktu yang sama Singapore menawarkan
> membantu melakukan investasi membangun pelabuhan tersebut. ternyata
> pelabuhan tersebut tidak pernah terwujud sesuai harapan dan sang
> operator memperoleh kontrak dengan pelabuhan singapore selama 30 tahun
> bebas pajak.
> >
> >
> > Singapore yang sekarang investasi di Bintan, adalah teman sekaligus
> kompetitor....jadi harus tetap waspada
> > kalau mereka mempunyai rencana membangun, yang harus memutuskan
> rencana tersebut harus pemerintah kita, bukan mereka
> > Salam
> > Aunur Rofiq
> >
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: risfano risf...@...
> > To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>
> > Sent: Thursday, January 1, 2009 7:38:58 PM
> > Subject: [referensi] Re: Batam
> >
> > Mengikuti diskusi Bang Ekadj ini, saya mencoba mencernanya dengan
> > melihat When dan Who-nya.
> >
> > Pada saat Batam pertama kali direncanakan, memang untuk memanfaatkan
> > posisi geografis bertetangga dengan Singapura. Ditangani Otorita
> > Batam, dan dipimpin oleh Pak Habibie sendiri. Dengan otorita itu
> > rencananya tampaknya begitu optimis, terbukti berhasil membangun
> > banyak presarana utama yang dibutuhkan dari pulau yang relatif
> > kosong menjadi kawasan industri dan (kemudian) pariwisata.
> >
> > Tapi tampaknya sejak awal, ke-otorita-annya terbatas pada
> > pembangunan fisik, dan mungkin fasilitas bebas bea. Sepertinya tidak
> > berhasil sepenuhnya mendapatkan otorias penuh, terutama soal hak-hak
> > atas tanah bagi investor dari luar. Banyak pihak di pusat dan daerah
> > yang tampaknya tak rela kalau ada di republik ini dikelola
> > secara "beda" dengan daerah lainnya. Berbagai diskusi waktu itu
> > mengeluhkan terbatasnya insentif bagi investor, calon peghuni dari
> > seberang, yang pada tujuannya memang "diundang" untuk ke situ.
> > Pembatasan bagi pendatang, pencari kerja informal (di luar yang
> > dibutuhkan sektor formal) juga tidak bisa dilakukan. Maka yang
> > terjadi adalah maju di fisik saja, sedang yang lain ya seperti
> > daerah lainnya saja.
> >
> > Pelajaran bagi pembangunan daerah yang lain, adalah bangsa kita ini
> > sulit membuat prioritas. Kalau sudah niat untuk tujuan ekonomi, lalu
> > dikeroyok dengan kritik lho kok ekonomi. Kalau untuk tujuan sosial,
> > dikritik kok gak menguntungkan, BCR-nya bagaimana.
> >
> > Yang ditempuh oleh negara seperti China, kayaknya memang
> > mengembangkan wilayah yang khusus untuk pusat ekonomi yang
> > berorientasi ekspor pada wilayah untuk cluster ekonomi tertentu.
> > Karena tak mungkin membangun sama rata sama rasa. Jadilah China
> > punya "pulau-pulau" ekonomi yang diandalkan untuk bersaing dengan
> > negara lain. Sementara wilayah-wilayah lain ya sesuai dengan potensi
> > dan tahapan pembangunan masing-masing.
> >
> > Jadilah mediocre terus dimana-mana, tanggung terus. Itu juga yang
> > dialami oleh KAPET-KAPET, yang tidak terpadu ya kebijakan masing-
> > masing sektor. Biasanya yang dipikirkan pertama adalah proyek
> > pembangunan fisik-prasarana, selanjutnya terkendala di pelimpahan
> > kewenangan (kepabeanan, keimigrasian, pertanahan, dst). Lalu visi
> > dan kapabilitas pengelola. Karena setelah prasarana terbangun tak
> > tahu lagi mesti berbuat apa. Tak ada upaya marketing, peningkatan
> > kualitas pelayanan kepada investor yang (berniat) masuk? Harapannya
> > memang otonomi daerah memberdayakan Daerah sebagai penerpadu.
> > Tapi ....
> >
> > Kalau kita coba bandingkan dengan pengembangan kawasan industri di
> > sekitar Bodetabek misalnya, yang saya amati, biasanya mereka justru
> > jualan dulu ke calon investor, ke Jepang, Korea, dst. Dari situ
> > standar dan pola desain dan pembiayaannya (financial engineering)
> > dirancang lagi. Sehingga saat membangun pun, uang muka dari calon
> > penghuni sudah bisa dipakai, memudahkan perbankan untuk segera ikut
> > membiayai.
> >
> > Pada skalanya, saya melihat Walikota Tarakan sudah bisa melakukan
> > yang seperti itu. Dia gigih mengundang investor dari luar, Korea
> > misalnya. Dia sendiri yang menyambut dan dengan tegas menyampaikan
> > kepada semua jajaran bahwa nasib daerahnya tergantung dari investasi
> > yang masuk, yang menciptakan lapangan kerja. Sehingga dia cerita
> > kalau ada polisi yang nyegat-nyegat untuk pungli, beliau akan
> > menegur atasannya.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
>
>  
>

Kirim email ke