+++: Saya sefaham dengan Bapak dalam tujuan, Tapi kalau kita bertolak dari anti JAKARTA, benci JAKARTA yang ada di kepala kita JAKARTA, JAKARTA, JAKARTA. Tiap hari, tiap detik kita mikir, cari bahan tentang JAKARTA. Seluruh energi kita tercurah ke JAKARTA walau untuk melawan. >>>: Saya sepenuhnya menolak isi paragraf diatas yg menggambarkan ttg sikap/ >>>pola pikir yg spt tidak ilmiah dan spt emosional…. Atau seperti logika >>>orang2 masa partai politik yg hanya mengerti tentang 1 dari 2 pilihan >>>antara ‘dukung’ atau ‘tolak’….. Jkt adalah our national economic engine… Jkt adlh our engine of growth...... mengapa hrs dibenci?..... Saya kira sikap ilmiah (maaf tdk berasumsi saya adlh ilmuwan) dan sikap profesional tentang upaya mengurangi primacy Jkt tidaklah dgn bentuk2 sikap emosional, temperamental atau histeria spt sikap2 kebencian… antipati dan semacamnya gitu.… L.k. sama seperti para dokter yg menghadapi pasien gula darah tinggi, kolesterol tinggi atau tekanan darah tinggi….. yg dilakukan adalah sekedar “apa yg proportionally dan technically seharusnya dilakukan”…. Spt bgmn menurunkan kadar gula darah, menurunkan kadar kolesterol atau tekanan darah… tanpa sidokter harus membenci, uring2an atau memaki2 sipasien…… L.k. sama seperti operator alat berat yg sedang melakukan pekerjaan cut n fill…. Ketika mengepras tanah yg membukit ia juga tak harus sambil marah dan geregetan… dan sebaliknya ketika mengurug tanah yg cekung juga tidk perlu sambil bersikap ‘kasihan’ dan ‘menyayangi’ sitanah cekung yg becek…. Pokoknya mikirnya development…. Menghadapi primacy Jkt bukanlah lalu berarti semua program pengembangan kota2 didaerah dislrh Indonesia disetop, dikoreksi atau dihentikan total lalu diganti dgn pemikiran saya itu….…. amit2 nggaklah… samasekali tdk lah begitu…. Model pengembangan kota didaerah (diseluruh Indonesia) yg para 472 pemda kota dan pak Risfan biasa / sdg/ akan lakukan ya silahkan dan silahkan saja jalan terus dan jalan terus…… Demikian juga langkah keruangan bottom-up dan swadaya spt anjuran saya ttg model pengembangan urban berupa ruko dipusat desa (separuh saja dari 60.000 desa) yg jelas2 sangat workable, swadaya dan pasti murah juga seharusnya perlu dikembangkan pd saat yg bersamaan pula ….(hanya ironisnya adlh bhw dari program pemberdayaan desa dengan dana ratusan M cukup besar tapi ide planologik yg murah, efektip dan workable ini lagi2 dilewatkan begitu saja dgn innocently bahkan oleh para planner yg terlibat diproyek ini)…….. Apa yg saya maksud dengan ‘melawan’ atau ‘berupaya mengurangi’ primacy Jkt utk kondisi Indonesia ini spt biasa…. tiada lain adalah sebuah langkah konkrit “walau kecil”…. upaya pengembangan sebuah ‘single countermagnet city’ (pada bbrp posting lama dulu sering saya tulis sbg satu) ….. dan itu sekali lagi bukanlah sebuah pengertian ttg “mengatur daerah2” spt yg kemarin dituduhkan oleh pak Risfan ttg mindset saya……. samasekali bukanlah dimaksudkan menjadi porsi pekerjaan dan pemikiran para 472 kota2 diseluruh Indonesia….. dan malah samasekali nothing at all tidak mengerecoki sedikitpun program kerja bahkan walikota Makassar atau Gubernur Sulsel sekalipun…… Walau bicaranya saya adlh ttg kembangkan countermagnet city…. Tapi langkah awalnya justru samasekali bukan menyangkut ttg elemen fisik kota atau “penataan ruang”….. zonasi dsb..…. Tapi adalah ttg “menyemai” pengembangan industri manufaktur dari industri (multi) nasional yg memimpin…………. Jadi spt biasa … kata kunci utk mindset saya ttg mengurangi (arti luasnya bisa melawan dsb) primacy Jabodetabek dan kota2 di Jawa adalah ….. (1) proyeksi dan proyeksi pjp ttg “sebuah (one, une, uno, setunggal, hiji, satu, sitok, setong) jabodetabek lain’… atau “sebuah gerbangkertosusila lain’ diluar Jawa….. straight to the point itu adalah Makassar/ Mamminasata di KTI….. yg utk itu kita tak perlu lagi bicara kampanye ttg “perlunya mengembangan metropolis di KTI” (spt omongan saya masa 1983 atau cenreds masa 1994 dulu)… karena Mks memang hari ini sudah metropolitan….Dan tinggal didinamisasikan saja perkembangannya…… Di Mamminasata sini omongan latah/ awam tentang… “kembangkan dulu infrastruktur!...” juga sdh tak perlu lagi dikeluarkan… krn Mamminasata sdh punya 1 pelabuhan samudra, 2 bandara internasional, kawasan industri, jalan tol, hotel, mall, program pasca sarjana, fasilitas rekreasi… dsb…… Apa yg belum dipunyai oleh Makassar (seperti pernah ditanyakan oleh pak Risfan pd salah satu postingnya dulu) adalah tiada lain tinggal ‘industri manufaktur”…. “industri manufaktur”… dan industri manufaktur”…….. (sekedar sambil lalu dan tapi gak sbrp nyambung : 2 Sukhoi katanya akan dirakit di Hasannudin)…. Karena itu perlu kata kunci kedua……. (2) lakukan filialisasi industri nasional memimpin (of national leading manufacturer industries dan bukan oleh kantor pusat BUMN atau apalagi BUMN sakit)…… berupa pemindahan 1/8 (seperdelapan) saja fasilitas produksi dan perakitan industri nasional memimpin (kenyataan lapangan adalah kita punya big three motorcycle industries as one of world big three motorcycle industries) ke Mamminasata……. Ini jelas2 akan mengandung dan mengundang aspek migrasi….. walau dikit… tapi jelas…. sangat monumental…...krn ini akan berupa migrasi urban….. migrasi kerah putih…. Migrasi industri…. Inisiasi industri manufaktur di KTI…. dll.. dll…. lan sakpiturutipun…….. Ini jelas2 akan mengundang dampak ganda yg luas…… (industri otomotif di India disebutkan mampu membangkitkan berdirinya 36 industri lain, di Indonesia disebutkan sbg membangkitkan berdirinya 50 perusahaan lain … dan tiap perusahaan kontraktor industri otomotip akan membangkitkan lagi berdirinya 50 jenis usaha lain berikutnya…….. Sama seperti hamas atau al fatah yg tak mungkin bisa kalahkan tentara israel…. Tapi jelas bahwa langkah ‘perlawanan’ yg konkrit pada primacy Jkt itu ada dibuat dan ada dilakukan…. Tidak ngoyoworo (melambung tinggi diawan)…… dan bukannya tidak workable….. Urusannya sih kelewat adalah simple saja….. Dirjen PR, MenPU, Menko Ekon, Menperin ‘bersekutu’ … tapi kalo masih takut ya pergi juga minta backing ke Presiden RI….atau sekaligus ke DPR pasti didukung.... Lalu nanti RI-1 bicara juga ke dubes Jepang/ PM Jepang…... meminta 3 merk besar industri sepeda motor (Honda, Yamaha, Suzuki) yg pasar dan produksinya adalah world big three bersama India dan China)…. Utk membuat (memindahkan) masing2 1/8 (seperdelapan) dari kapasitas produksinya di Jabodetabek itu ke Makasar……….. Itu berarti dari 6,5 juta unit/ thn…. atau masing2 dari ‘big three’ merk spd motor yg produksinya sekitar @ 2 jt unit/ thn… agar memindahkan fasilitas produksinya masing2 sebanyak 0.25 jt/ atau 250.000 unit per thn ke Makassar …..… Hitungan ekonominya….. kalo semula @ 250.000 unit produk spd motor dari masing2 merk itu hrs dikapalkan sbg barang jadi dari Jawa ke KTI….. diubah menjadi @ 250.000 unit produk 3 merk diproses di KTI…..dan dipasarkan langsung dari dan diKTI….. jadi tidak ada beban yg bersifat horor bagi para industrialis spd motor itu dgn filialisasi industrinya tsb….. Lokasi industrinya di Mks/ KTI nya juga tidak harus fanatik persis diletakkan dikawasan industri….. diperkampungannya agak diluar kotapun boleh (biar harga beli lahannya masih murah)….. Yg penting pokoknya ada … ada …. dan ada inisiasi industri manufaktur otomotif di Makassar ….. ada … ada… dan ada… inisiasasi industri manufaktur (otomotif) di KTI…… ini semua akan menjadi dimensi baru dan dimensi baru inisiasi industri manufaktur di KTI……semua industri manufaktur lain dgn itu tak akan ragu utk juga membuat unit kecilnya disana....…. Jadi bicaranya sih ‘melawan primacy Jkt’…. Tapi langkah konkritnya adlh membuat inisiasi / filialisasi cabang industri manufaktur (multi)nasional memimpin di pusat layan KTI…….. Krn primacy Jkt juga dibentuk a.l. oleh peran pemusatan industri manufakturnya... wajar bahwa langkah melawan primacynya juga pake semaian industri manufaktur juga..... dan bukan dengan kebencian ...... Lalu mengapa sekedar utk langkah sesederhana itu perlu harus pake nyetop-nyetop segala proyek pembangunannya 472 kota-kotanya pak Risfan?........ mengapa harus ajak2 para walikota 472 kota itu ikutan mikirin….... kenapa utk gitu aja harus tiap hari bahkan tiap detik membenci Jkt…. Atau tiap hari hrs anti Jkt?...... Yg brkali harus saya pikirin tiap detik… kalopun itu ada… malah justru ttg apakah telinga-telinga masih pada berfungsi dengan baik atau tidak……. Melawan aglomerasi Jkt dgn langkah ‘kecil’ sekonyol itu?...... Mari tanyakanlah kepara pahlawan pengabdi lingkungan itu….. bgmn mereka mengawali memerangi hutan yg tandus atau pantai yg dilanda abrasi……. Mereka semua memulainya dengan pohon yg pertama…… yg dihari pertama dan minggu pertama akan layu tak berarti…… dibulan depannya mungkin bersemi…. lalu ditahun depannya daunnya mulai melebat dan merimbun……. Seperti para mengemudi taksi yg sehari2 terjebak macet dan menyandang beban berat setoran dan merekapun bisa bicara tentang “buatlah jakarta baru ditempat lain”….. para pahlawan lingkungan itu juga tidak menyukai aglomerasi yg terlampau memusat di Jkt….. tetapi sambil menanam pohon sengon atau anakan pohon bakau dipantai yg abrasi… saya kira mereka tidak tiap detik berpikir tentang benci Jkt… benci Jkt….. tapi berdoa … tumbuhkan semaianku ya Allah…. Saya lebih yakin mereka setiap detik lebih membenci sikap2 telinga tuli dan telinga tuli….. atau membenci sikap-sikap membatu spt kulit badak ujungkulon.. ujung kulon dan ujungkulon….. Salam, aby

