Pakde Risfan dan Pakde Abiyoso

 

 

Minta ijin buat menimbrung, .

 

Saya rasa ada konvergensi pemahaman kalau yang dibenci bukan Pembangunan
Jakartanya,. tapi primacy-nya. Bukan begitu,Pak?

 

Mungkin maksudnya kita berorientasi ke daerah,. adalah ketika ingin
mewujudkan semua ide/konsep yang diusulkan pak Aby,. mungkin selain
berteriak meminta  "Dirjen PR, MenPU, Menko Ekon, Menperin 'bersekutu' ",
Juga mendorong para daerah di KTI untuk "bersekutu" untuk mungkin teriak ke
pusat untuk minta backing sebuah program nasional untuk sebuah investasi
pengembangan daerah melalui pusat2 industri manifaktur yang baru di KTI,. 

Atau daerah bersekutu untuk mempersuasi si raam punjabi atau pemilik
industry manufaktur ,.. sambil mengiming2i dan menunjukkan denganbukti ada
lahannya,. listriknya,.. airnya . dan berbagai macam supportive environment
lainnya.

Jadi maksudnya focus pada daerah itu mungkin, bagaimana kalau kita mendorong
pengembangan kota-kota di KTI  untuk mebuat  dirinya seksi di mata para
pelaku investasi maufaktur itu

Tapi kalau udah merasa seksi (udah merasa seksi dengan kelengkapan
infrastruktur), yah tinggal minta backing dari pusat,. tapi bentuk backing
seperti apa?

 

Kalau pusat meminta BUMN-nya untuk menaruh pusat industry manifakturnya di
daerah tertentu, mungkin bisa kali ya,.seperti upaya JK ingin menaruh pusat
industry manifaktur terkait gas,di papua. 

 

Kalau industry manufacture motorcycles itu apa ada BUMNnya?

Apa bisa kita memaksa manifaktur swasta automotive itu ke luar jawa? 

Mungkin bisa,.. keluarkan SK,cabut fasilitas pasokan listriknya, dan
fasilitas lainnya dan suruh pindah ke makasar,.. 

Atau bisa cara lain , pendekatan oleh pemerintah daerah langsung ke Raam
Punjabi dan Tomi Winata, untuk memindahkan lokasi industrinya, dengan
menawarkan lahan yang sudah tersiapkan, listrik yang sudah tersedia,dan air
juga, bandara internasional... kota yang nyaman dihuni oleh para
pekerjanya,... atau raam Punjabi dan tomi winata punya criteria lain
mungkin,.. itu yang perlu dicari. 

 

Atau pak Aby ada cara lain bagaimana teknis pragmatisnya persekutuan PU,
MenkoEkon,Menperin, itu memindahkan pusat manufaktur automotaive pindah ke
Sulawesi?

Bikin PP untunk memaksa ijin lokasi industry manufaktur itu harus di luar
jawa?

Apa bikin BUMN khusus otomotif, macam mobil Timor untuk ditaruh di sulawesi?

Bagaimana meyakinkan para manifaktur swasta soal investment returnya kalau
dia taruh di luar jawa?  

Atau bagaimana nih, pak teknis pragmatisnya? 

Bisa dielaborasi, pak?

 

pak Aby,... Mungkin pak aby merasa banyak orang yang tuli,.. Tapi mungkin
mereka sekedar being skeptic. Saya rasa mungkin agak berbeda antara tuli dan
skeptic,.... kalau tuli jelas,.. tapi skeptis, bisa saja itu sebuah sikap
untuk menguji secara hati-hati saja, apakah sebuah ide/konsep bisa
diterapkan denganefektif itu seperti apa,.. 

Saya sih percaya kalau Ide dan konsep pak Aby didengar, because it sounds
great... tapi memang mungkin ada yang sedang skeptic dalam arti sedang
mengujinya berulang kali,untuk melihat bagaimana mewujudkannya...

Salam

 

 

Benedictus Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [email protected] 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of hengky abiyoso
Sent: 07 January 2009 10:27
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Anti dan Benci Jkt?

 


 

+++: Saya sefaham dengan Bapak dalam tujuan,
Tapi kalau kita bertolak dari anti JAKARTA, benci JAKARTA yang ada di kepala
kita JAKARTA, JAKARTA, JAKARTA. Tiap hari, tiap detik kita mikir, cari bahan
tentang JAKARTA. Seluruh energi kita tercurah ke JAKARTA walau untuk
melawan.
>>>: Saya sepenuhnya menolak isi paragraf diatas yg menggambarkan ttg
sikap/ pola pikir yg spt tidak ilmiah dan spt emosional.. Atau seperti
logika orang2 masa partai politik yg hanya mengerti  tentang 1 dari 2
pilihan antara  'dukung' atau 'tolak'... 

Jkt adalah our national economic engine. Jkt adlh our engine of growth......
mengapa hrs dibenci?..... 

Saya kira sikap ilmiah (maaf tdk berasumsi saya adlh ilmuwan) dan sikap
profesional tentang upaya mengurangi primacy Jkt  tidaklah dgn bentuk2 sikap
emosional, temperamental atau histeria spt sikap2 kebencian. antipati dan
semacamnya gitu.. 

L.k. sama seperti para dokter yg menghadapi pasien gula darah tinggi,
kolesterol tinggi atau tekanan darah tinggi... yg dilakukan adalah sekedar
"apa yg proportionally dan technically seharusnya dilakukan".. Spt bgmn
menurunkan kadar gula darah, menurunkan kadar kolesterol atau tekanan darah.
tanpa sidokter harus membenci,  uring2an atau memaki2 sipasien.. 

L.k. sama seperti operator alat berat yg sedang melakukan pekerjaan cut n
fill.. Ketika mengepras tanah yg membukit ia juga tak harus sambil marah dan
geregetan. dan sebaliknya ketika mengurug tanah yg cekung juga tidk perlu
sambil bersikap  'kasihan' dan 'menyayangi' sitanah cekung yg becek..
Pokoknya mikirnya development.. 

  

Menghadapi primacy Jkt bukanlah lalu berarti semua program pengembangan
kota2 didaerah dislrh Indonesia disetop, dikoreksi atau dihentikan total
lalu diganti dgn pemikiran saya itu.... amit2 nggaklah. samasekali tdk lah
begitu.. 

Model pengembangan kota didaerah (diseluruh Indonesia)  yg para 472 pemda
kota dan pak Risfan biasa / sdg/ akan lakukan ya silahkan dan silahkan saja
jalan terus dan jalan terus.. 

Demikian juga langkah keruangan bottom-up dan swadaya spt anjuran saya ttg
model pengembangan urban berupa  ruko dipusat desa (separuh saja dari 60.000
desa)  yg jelas2 sangat workable, swadaya dan pasti murah  juga seharusnya
perlu dikembangkan pd saat  yg bersamaan pula ..(hanya ironisnya adlh  bhw
dari program pemberdayaan desa dengan dana ratusan M cukup besar tapi  ide
planologik yg murah, efektip dan workable ini lagi2 dilewatkan begitu  saja
dgn innocently bahkan oleh para planner yg terlibat diproyek ini).... 

  

Apa yg saya maksud dengan 'melawan' atau 'berupaya mengurangi'  primacy Jkt
utk kondisi Indonesia ini  spt biasa.. tiada lain adalah sebuah langkah
konkrit "walau kecil".. upaya pengembangan sebuah 'single countermagnet
city' (pada bbrp posting lama dulu sering saya tulis sbg satu) ... dan itu
sekali lagi bukanlah sebuah pengertian ttg  "mengatur daerah2" spt yg
kemarin dituduhkan oleh pak Risfan ttg mindset saya...  samasekali bukanlah
dimaksudkan menjadi porsi pekerjaan dan pemikiran  para 472 kota2 diseluruh
Indonesia... dan malah samasekali nothing at all tidak mengerecoki
sedikitpun program kerja bahkan walikota Makassar atau Gubernur Sulsel
sekalipun.. 

  

Walau bicaranya saya adlh ttg kembangkan countermagnet city.. Tapi langkah
awalnya justru samasekali bukan menyangkut ttg elemen fisik kota atau
"penataan ruang"... zonasi dsb.... Tapi adalah ttg "menyemai" pengembangan
industri manufaktur dari industri (multi) nasional yg memimpin..... 

  

Jadi spt biasa . kata kunci utk mindset saya ttg mengurangi (arti luasnya
bisa melawan dsb) primacy Jabodetabek dan kota2 di Jawa  adalah ... (1)
proyeksi dan proyeksi pjp ttg "sebuah (one, une, uno, setunggal, hiji, satu,
sitok, setong) jabodetabek lain'. atau "sebuah gerbangkertosusila lain'
diluar Jawa... straight to the point itu adalah Makassar/ Mamminasata di
KTI... yg utk itu kita tak perlu lagi bicara  kampanye ttg "perlunya
mengembangan metropolis di KTI" (spt omongan saya masa 1983 atau  cenreds
masa 1994 dulu). karena  Mks memang hari ini sudah metropolitan..Dan tinggal
didinamisasikan saja perkembangannya.. 

  

Di Mamminasata sini omongan latah/ awam  tentang. "kembangkan dulu
infrastruktur!..." juga sdh tak perlu lagi dikeluarkan. krn Mamminasata sdh
punya 1 pelabuhan samudra, 2 bandara internasional, kawasan industri, jalan
tol, hotel, mall, program pasca sarjana, fasilitas rekreasi. dsb.. 

Apa yg belum dipunyai oleh Makassar (seperti pernah ditanyakan oleh pak
Risfan pd salah satu postingnya dulu) adalah tiada lain tinggal  'industri
manufaktur".. "industri manufaktur". dan  industri manufaktur".... (sekedar
sambil lalu dan tapi gak sbrp nyambung : 2 Sukhoi katanya akan dirakit di
Hasannudin).. 

  

Karena itu perlu kata kunci kedua... (2) lakukan filialisasi industri
nasional memimpin (of national leading manufacturer industries dan bukan
oleh kantor pusat BUMN atau apalagi BUMN sakit)..  berupa pemindahan 1/8
(seperdelapan) saja fasilitas produksi dan perakitan industri nasional
memimpin (kenyataan lapangan adalah kita punya  big three motorcycle
industries as one of world big three motorcycle industries)  ke
Mamminasata... 

Ini jelas2 akan mengandung dan mengundang aspek migrasi... walau dikit. tapi
jelas.. sangat monumental....krn ini akan berupa migrasi urban... migrasi
kerah putih.. Migrasi industri.. Inisiasi industri manufaktur di KTI.. dll..
dll.. lan sakpiturutipun.... 

 Ini jelas2 akan mengundang dampak ganda yg luas.. (industri otomotif di
India disebutkan mampu membangkitkan berdirinya 36 industri lain, di
Indonesia disebutkan sbg membangkitkan berdirinya 50 perusahaan lain . dan
tiap perusahaan kontraktor industri otomotip akan membangkitkan lagi
berdirinya 50 jenis usaha lain berikutnya.... 

  

Sama seperti hamas atau al fatah yg tak mungkin bisa kalahkan tentara
israel.. Tapi jelas bahwa langkah 'perlawanan' yg konkrit pada primacy Jkt
itu ada dibuat dan ada dilakukan.. Tidak ngoyoworo (melambung tinggi
diawan).. dan bukannya tidak workable... 

Urusannya sih kelewat adalah simple saja... Dirjen PR, MenPU, Menko Ekon,
Menperin 'bersekutu' . tapi kalo masih takut ya pergi juga minta backing  ke
Presiden RI..atau sekaligus ke DPR pasti didukung.... Lalu nanti RI-1 bicara
juga ke dubes Jepang/ PM Jepang.... meminta 3 merk besar industri sepeda
motor (Honda, Yamaha, Suzuki) yg pasar dan produksinya adalah world big
three bersama India dan China).. Utk membuat (memindahkan) masing2 1/8
(seperdelapan) dari kapasitas produksinya  di Jabodetabek itu ke
Makasar..... 

Itu berarti dari 6,5 juta unit/ thn.. atau masing2 dari  'big three' merk
spd motor yg produksinya sekitar @ 2 jt unit/ thn. agar memindahkan
fasilitas produksinya masing2 sebanyak 0.25 jt/ atau 250.000 unit per thn ke
Makassar .... 

Hitungan ekonominya... kalo semula @ 250.000 unit produk spd motor dari
masing2 merk  itu hrs dikapalkan sbg barang jadi dari Jawa ke KTI... diubah
menjadi @ 250.000 unit produk 3 merk diproses di KTI...dan dipasarkan
langsung dari dan diKTI... jadi tidak ada beban yg bersifat horor bagi para
industrialis spd motor itu dgn filialisasi industrinya  tsb... 

Lokasi industrinya di Mks/ KTI nya juga tidak harus fanatik persis
diletakkan dikawasan  industri... diperkampungannya agak diluar kotapun
boleh (biar harga beli lahannya masih murah)... 

Yg penting pokoknya ada . ada .. dan ada inisiasi industri manufaktur
otomotif  di Makassar ... ada . ada. dan ada. inisiasasi industri manufaktur
(otomotif) di KTI.. ini semua akan menjadi dimensi baru dan dimensi baru
inisiasi industri manufaktur di KTI..semua industri  manufaktur lain dgn itu
tak akan ragu utk juga membuat unit kecilnya disana...... 

Jadi bicaranya sih 'melawan primacy Jkt'.. Tapi langkah konkritnya adlh
membuat inisiasi / filialisasi cabang  industri manufaktur (multi)nasional
memimpin di pusat layan KTI.... 

Krn primacy Jkt juga dibentuk a.l. oleh peran pemusatan industri
manufakturnya... wajar bahwa langkah melawan primacynya juga pake semaian
industri manufaktur juga..... dan bukan dengan kebencian ...... 

Lalu mengapa sekedar utk langkah sesederhana itu perlu  harus pake
nyetop-nyetop segala proyek pembangunannya 472  kota-kotanya pak
Risfan?........ mengapa harus ajak2 para walikota 472 kota itu ikutan
mikirin..... kenapa utk gitu aja  harus tiap hari bahkan tiap detik membenci
Jkt.. Atau tiap hari hrs anti Jkt?...... 

Yg brkali harus saya pikirin tiap detik. kalopun itu ada. malah justru ttg
apakah telinga-telinga  masih pada berfungsi dengan baik atau tidak... 

  

Melawan aglomerasi Jkt dgn langkah 'kecil' sekonyol itu?...... 

Mari tanyakanlah kepara pahlawan pengabdi lingkungan itu... bgmn mereka
mengawali memerangi  hutan yg tandus atau pantai yg dilanda abrasi... Mereka
semua memulainya dengan pohon yg pertama.. yg dihari pertama  dan minggu
pertama akan layu tak berarti.. dibulan depannya mungkin bersemi.. lalu
ditahun depannya  daunnya mulai melebat dan merimbun... 

Seperti para mengemudi taksi yg sehari2 terjebak macet  dan menyandang beban
berat setoran dan merekapun bisa bicara tentang "buatlah jakarta baru
ditempat lain"... para pahlawan lingkungan itu juga  tidak menyukai
aglomerasi yg terlampau memusat di Jkt... tetapi sambil menanam pohon sengon
atau anakan pohon bakau dipantai yg abrasi. saya kira mereka tidak tiap
detik berpikir tentang benci Jkt. benci Jkt... tapi berdoa . tumbuhkan
semaianku ya Allah.. 

Saya lebih yakin mereka setiap detik lebih membenci sikap2 telinga tuli dan
telinga tuli... atau membenci sikap-sikap  membatu spt kulit badak
ujungkulon.. ujung kulon dan ujungkulon... 

  

Salam, 

aby   

 

 

 

Kirim email ke