Ngobrol (2) Dengan Mas Dwi
 
+++: Mungkin maksudnya kita berorientasi ke daerah,… adalah ketika ingin 
mewujudkan semua ide/konsep yang diusulkan pak Aby,… 
>>>: Saya kira yg penting dan kuncinya disini…. Selain orientasi daerah yg ada 
>>>(spt yg tlh dijelaskan pak Risfan) … kita amat perlu juga  (atau malah lbh 
>>>perlu lagi) “berorientasi nasional”….. walau di’daerah’ manapun kita berada/ 
>>>berasal……  walau mau utk daerah pulalah  perjuangan kita itu…... dan walau 
>>>disekolah diajarnya nggak gitu.......
Orientasi nasional itu adalah berpikir ttg “apa2 yg bersifat strategik utk 
kepentingan nasional bersama (seluruh bangsa yg 235 juta ini) dari sabang smp 
merauke”…… l.k. spt bgmn (dimana) TNI-AU akan menempatkan skwadronnya…. Atau 
bgmn (dimana)  TNI-AL akan menempatkan LanAL-nya…. Atau bgmn (dimana) DepKes 
akan menempatkan rumah2 sakit besarnya yg strategis…. maka demikian pulalah 
national strategic planner  supposed berpikir ttg bgmn menyusun idealisme 
konstelasi/ hirarkhi kota2 beserta prinsip2 jaraknya diseluruh Indonesia …. 
Termasuk bgmn seyogyanya “meletakkan kostelasi big cities sebagai primary urban 
economic engines atau sbg national engines of growth….. justru demi utk 
mengenakkan  dan membuat nyaman kehidupan seluruh bangsa … didaerah manapun ia  
berada (ini menyangkut prinsip2 jarak dan kemudahan2 jarak dlm masyarakat 
mencapai kota2 pusat2 layan bagi bermacam keperluannya……...
 
+++: mungkin selain berteriak meminta  “Dirjen PR, MenPU, Menko Ekon, Menperin 
‘bersekutu’ “, ……..
>>>: Maaf jadi telanjur pake istilah “sekutu”….. ‘Persekutuan’ itu sebenarnya 
>>>nyaris mirip bentuk lembaga yg sudah ada yaitu BKTRN  yg ada itu dimana 
>>>ketuanya oleh pres Wahid diubah  manjadi MenkoEkon (masa suharto oleh Ka 
>>>Bappenas)…..ketua harian/ pelaksananya MenPU dan wklnya Dirjen PR…. hanya 
>>>saja ‘salahnya’ kok Menperin malah tak termasuk di BKTRN situ (ya namanya 
>>>pres Wahid khan bukan planner)…… ..
Dari :”berteriak meminta”…..  Nah inilah susahnya kalau dinegara demokrasi tapi 
kedudukan2 tidak saling setara……
Kalau saja sudah ada lembaga bentukan dari pihak legislatif  (sbg kepanjangan 
DPR.  maka bentuknyapun seharusnya spt KPK, KY, KomPol, KomnasHAM dsb) yg 
l.k.bernama KomNas PR….
yg setara dgn  BKTRN…. jadi mintanya khan gak usah pake ‘teriak’ segala……. 
Sebab setiap saat legislatif dan eksekutif bisa duduk semeja….. mendiskusikan 
dgn sgt terhormat masalah2 PR demi utk kepentingan bersama secara nasional 
itu……… sekarang ini susahnya spt kata anda khan rakyat harus “teriak” (itu 
karena posisinya diluar pagar)….. jadi nyaris spt pengemis yg  hina….. atau 
diposisikan sbg rahayat yg warok (beringas)…… karena diletakkannya diluar pager 
terus…… atau ada perwakilan (parlemen) …. Tapi keterwakilan ttg urusan 
enjinering keruangan ini di parlemen tidak memadai……..
 
+++: Juga mendorong para daerah di KTI untuk “bersekutu” untuk mungkin teriak 
ke pusat untuk minta backing sebuah program nasional untuk sebuah investasi 
pengembangan daerah melalui pusat2 industri manifaktur yang baru di KTI,… 
>>>: Ini memang  ide bagus juga…. Tapi saya kira formatnya lagi2 bukannya “para 
>>>daerah di KTI itu ‘bersekutu” utk berteriak kepusat “minta backing” utk 
>>>sebuah program nasional………
Pertama kalo memang diakui (ide “semaian industri manufaktur di KTI)  itu 
sangat strategis sbg program nasional….. ya dari pagi2  pemerintah pusatlah yg 
mengolah dan mematangkannya sbg “strategi nasional” (dan bukannya terlalu Pede 
dgn membuat “Kawasan Strategis Nasional” terus tapi tak pernah menyinggung 
sedikitpun ttg semaian industri manufaktur ini  …… krn memangnya siapa yg 
mikirin semaian industri  manufaktur ini diKTI?  Menperin..? JK?...nggak ada 
lho… Menperin lebh mikirin aspek ekon dan ind-nya… nggak mikirin aspek 
spatialnya sedikitpun…. JKpun sampai hari ini blm terdengar ngomong industriI 
manufaktur dikotanya/ Mks  )………… 
dan malah brkli ‘sebaliknya’…. (bbrp) daerah terkaitlah  yg perlu mendukung 
strategi pusat/ nasional itu……
Sebenarnya apa yg saya maksudkan dgn countermagnet to national primate city dan 
pasangannya berupa  “semaian industri manufaktur”  ini nyaris mirip dengan 
kerangka  SNPPTR produk thn 1993-an itu….. Hanya saja kalau SNPPTR lalu 
berambisi mengembangkan sistem kota “merata secara nasional” dan “serentak 
dimana-mana” yg malah lalu akhirnya semuanya hanya mandeg diatas kertas saja 
krn tak jelas abcd langkah konkritnya dari awal yg workable (dan memang tak 
mungkin mengembangkan kota secara serentak dan dimana2, karena selain duitnya 
pasti nggak ada, teori dasarnya juga nggak pernah bilang gitu, terlebih prinsip 
‘hirarkhi kota’ juga nggak dipercayai amat disitu) ……… 
Sementara itu “Semaian industri manufaktur memimpin” itu (memindahkan 1/8 
kapasitas di Jabodetabek, agar tak membebani/ mengganggu kinerja industri 
memimpin itu) pada rencana/ proyeksi lokasi kota countermagnet itu jelas 
namanya menanam fondasi dasar  syarat  atmosphere perekonomian perkotaan yg 
masuk akal yg ingin dikembangkan dikota pusat layan KTI itu………
Ttg bgmn  “nasib perkembangan banyak kota2 lain di KTI” selanjutnya  kalau yg 
mau dikembangkan “lebih banyak hanya kota Mks saja”?……
Dengan “prinsip hirakhi kota”…… lalu melihat tingkah laku dari aglomerasi 
ekonomi…… dimana sebenarnya cukuplah dikembangkan “kota paling primat di KTI”… 
dimana selanjutnya kota2 hirarkhi dibawahnya akan dengan sendirinya berkembang 
pula dengan sendirinya….. 
Itu sama seperti ketika Jkt menjadi metropolitan…... maka kota2 Bodetabek 
menjadi kota madya (migrasi akibat limpahan/ pengaruh tak langsung dari 
perkembangan Jkt)…. Desa2 seperti Tambun, Parung, Cinere. Tigaraksa, Serpong  
dsb. menjadi kota kecamatan….. 
Dan ketika Jkt menjadi megapolitan… Bodetabek dari kotamadya naik pangkat 
menjadi metropolitan … dan lbh banyak  lagi desa2 diseputar Jabodetabek ‘naik 
pangkat’ dengan sendirinya menjadi kota2 kecamatan tanpa sedikitpun upaya dari 
para camatnya….. Krawang dan Cikampek walau tetap menjadi kota kabupaten dan 
kecamatan tapi benar2 sangat dinamis bahkan mungkin melebihi Ibukota propinsi 
Sultra Kendari (desa Cikarang malah menjadi metroplitan)…… Cirebon dan Smg sbg 
titik lintasan jalur Jkt-Sby juga dgn sendirinya berkembang pesat….. demikian 
juga2 kota2 kecil dan desa2 pd garis lurus lintasan tsb…..
 
Kalau ide awalnya dimulai dari ‘daerah(2)’….. lalu bgmn praktek urutannya….. 
bgmn mungkin kok  bisa sampai menggiring situasi  “para daerah (di KTI) itu 
bersekutu”…. Ini juga kurang masuk diakal…..
Daerah2 itu adanya justru terlalu mudah utk ‘saling bersaing’ dan “mikirin 
badannya sendiri2” terus…… dan masak iya sih sebuah ide orisinal dari daerah 
(tertinggal) bisa kemukakan ttg ide manufaktur di KTI yg workable…… nyatanya 
setidaknya sampai hari ini ide demikian  blm terdengar santer khan?…....
Kalau kini Jusuf Kalla yg dikenal ‘bertangan dingin’  bermaksud mengembangkan 
industri di Papua (KTI juga) berbasis gas…. Ya biar saja……. Itu tak perlu 
membuat rencana2 lain yg ada lalu dihentikan juga…. Saya kira berbagai ide 
keruangan itu bisa terus saling memperkaya…… bukan kontra produktip….dan pada 
saatnya bisa saling bersinergi………..
Ttg istilah mas Dwi ttg (cita2) “pusat2 industri manufaktur di KTI”….. ini juga 
nanti khawatir bisa bermakna ganda…… 
Yg namanya “industri manufaktur di KTI” itu khan boleh dibilang  belum ada…… 
dan baru mau dibuat  (sekedar) menjadi “ada”…... maka kita jangan lalu buru2 
“lompat” dgn istilah “pusat2 industri manufaktur di KTI”  begitu…… tapi 
“mengembangkan unit kecil fasilitas produksi” dari “jenis industri manufaktur 
nasional memimpin”… sebagai bentuk “filialisasi” (semaian cabang kecil) 
fasilitas manufaktur ditempat jauh…… 
Kalau “semaian” ini bisa ditumbuhkan…..… itu artinya anda (juga kantornya pak 
Rofiq) namanya telah meletakkan fondasi pembangunan yg benar dan sustainable 
serta ‘masuk akal’ di KTI……. Kalo nggak ya itu namanya absurd…… melingkar2 saja 
terus dengan ketertinggalan…… tapi budget dan ‘lapangan kerja’  utk ‘ngurus/ 
ngomongin wilayah tertinggal’ jalan terus…..
 
Salam,
aby
 


      

Kirim email ke