Rekan-rekan yth.,
Perang saudara (baik fisik maupun psywar) di Indonesia merupakan sebuah konsekuensi yang mungkin saja terjadi, selama yang daerah yang maju hanya Jakarta dan sekitarnya (yang salah satunya indikatornya adalah masih banyaknya alumni muda ITB dan PTN terkemuka Indonesia lainnya yang mencari kerja di Jakarta sebagai daerah utama aglomerasi). Selain perang saudara, aglomerasi mempunyai akibat yang cukup fatal, sebagaimana dapat dibayangkan melalui jurnal saya yang lalu: ---journal begins--- Berbagai perang dengan teknologi yang modern yang terjadi belakangan ini membuat saya "merinding" saat membayangkan, bila Jakarta -- that's right, our Ibukota -- karena sesuatu dan lain hal, tiba-tiba diserang oleh Israel (yang tentunya dibonceng oleh pihak Sekutu) dengan reaksi fusi yang uncontrollable (http://en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_fusion) -- yang tentunya sangat-sangat tidak kita harapkan -- maka kita, rakyat Indonesia, in worst case scenario, bisa kehilangan: -01. 80% penjabat tingkat nasional yang sering muncul di TV. Berikut juga stasiun TV-nya. -02. 100% artis DKI, yang tentu saja sekaligus merangkap artis nasional. -03. 80% uang yang beredar di Indonesia. Baik asli maupun palsu. -04. 50% investasi swasta berbentuk infrastruktur yang ada di Indonesia. Belum termasuk rusunawa. -05. 90% pusat-pusat perusahaan (berikut pimpinan puncaknya) di Indonesia baik milik pemerintah, swasta, asing, maupun compound alias status tak jelas. -06. 100% jalan tol dalam kota di Indonesia. Jenis jalan yang cuma ada di Jakarta. -07. 80% orang-orang terdidik dan berbakat se-Indonesia yang memang sangat suka berpusat di tempat basah -- baik banjir tahunan maupun banjir kemudahan. Berikut anak dan menantunya, para gen-gen unggul. -08. Gedung-gedung strategis tingkat nasional seperti DPR, Kementerian, Kantor Wapres, ... ini cukup panjang, cukup tiga saja, saya takut dikira berlebihan. -09. 10 besar orang terkaya di Indonesia berikut keluarga besarnya (tidak termasuk yang sedang "indehoi" di S'pore dan belum diekstradisi). -10. Ini yang paling ironis dan menakutkan, saya kira: sebagian besar anggota milis tercinta ini -- yang sedang hangat-hangatnya "bersaing" soal politis, filosofis, tennis, artis, kismis, dlsb. Saya kira sepuluh poin sporadis ini cukuplah bagi kita untuk merenungkan sejenak, betapa menakutkan akibatnya apabila semua telur dimasukkan dalam satu keranjang -- yang analog dengan aglomerasi ("Pengumpulan atau pemusatan di lokasi atau kawasan tertentu" - KBBI Edisi Ke-2, 1990) yang terjadi di Ibukota. ---journal ends--- Sangat menarik bila kita ikuti beberapa kutipan pidato SBY di buku "Indonesia Unggul" (terbit akhir 2008): -01. "Desentralisasi dan otonomi daerah pilihan, ketika di masa lalu terasa pembangunan ini kurang merata, kurang adil, sentralistik dan konsentrik, kita bedah, kita lakukan pemberdayaan, dan kita perbaiki..." -02.* "Kuncinya sekali lagi adalah kesejahteraan bersama dan keadilan sosial."* -03. "Rakyat Aceh mengorbankan harta dan darah mereka untuk membantu Republik ini agar tetap hidup dan bertahan." -04. "'Organisasi Papua Merdeka' atau OPM merupakan gerakan separatisme yang memiliki tingkat ancaman militer yang rendah, namun rasa kesukuan sangat kuat di Papua, dan, dicampur dengan ketidakadilan sosial maupun ekonomi." -05. "Selama berpuluh-puluh tahun, provinsi Aceh di Indonesia memiliki kebencian terhadap apa yang dirasakan sebagai pembagian yang tidak adil atas hasil-hasil kekayaan alam mereka." -06. *"Di mana ada kecemburuan, kami akan membawa keadilan dan rekonsiliasi."* -07. *"Saya mengatakan bahwa pembangunan adalah menyediakan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat"* Thus, boleh jadi timbul pertanyaan, "Dengan masih adanya aglomerasi di Jakarta, apakah masyarakat daerah sudah mendapatkan kesempatan yang samadengan masyarakat Jakarta?" Bila belum, kapankah? Salam, Andri

