Rekans ysh,

Kalau kembali ke basic, regional planning itu kan ilmu yang menganalisis 
kondisi obyektif, sebelum dibawa ke policy. Seperti ahli bangunan mempelajari 
mekanika, grafitasi, baru rancangan konstruksi untuk mensiasati kondisi tanah 
dan gravitasi tsb.
Regional planning tentu perlu didasari atas analisis gravitasi dan dinamika 
geografi, sebelum menyusun rencana dan menjadikannya policy.

Jadi tidak bisa cuma beradu keinginan, beradu kewenangan, beradu definisi, 
perundangan dst. 

Kalau pemerintah atau siapapun ingin mengelola / memanipulasi dinamika geografi 
mesti menyediakan investasi besar, atau buat insentif/disinsentif yang 
signifikan, didukung alokasi sumber daya memadai, didukung berbagai sektor. 
Kalau tidak, ya kalah dengan trend geografi ekonomi. 

Kanyataan yang dikatakan BTS, intervensi yang paling diperlukan ya terkait 
kebijakan fiskal, alokasi dana. Ini yang selalu diluar jangkauan regionalist. 
Tanpa itu ya adu gambar dan peraturan atau kewenangan di atas kertas saja. 

Jadi kesimpulannya: kalau mau intervensi (melawan gravitasi)ya sediakan 
resources dan 'sekutu antar institusi' yang memadai; kalau tidak ya follow the 
trend dengan mengantisipasi dampak negatifnya.
Mengikuti saran BSP, kalau ada resources ya pakai pengembangan ekonomi rakyat 
daripada untuk melawan gravitasi (trend geografi ekonomi).

Istilah silatnya, meminjam "kekuatan tenaga lawan", bukan melawan pukulannya.

Salam,
Risfan Munir

--- In [email protected], "bspr...@..." <bspr...@...> wrote:
>
> 
> Selamat malam mas Dwiagus...
> 
> Saya hanya bisa mengatakan merespon berita tersebut dengan membuat amsal.... 
> 
> Kita meributkan ayam itu hitam atau putih hanya untuk bisa bertelor ... 
> padahal kita tahu ayam bisa bertelor meskipun itu blirik-blirik sekalipun.
> 
> Bagi saya mau PKN maupun PKL selama itu bisa menciptakan pergerakan dan 
> pertumbuhan ekonomi dan itu diinisiasi oleh daerah .. dont care lah dengan 
> PKN dan PKL. Pesan saya dengan Bappeda NAD... lakukan perencanaan yang riil 
> jangan yang menapak bumi dan bukan yang menggantang asap.
> 
> Mohon maaf bagi teman-teman yang masih mencintai romantisme mercantilsm. Hal 
> ini yang menyebabkan kita sibuk membahas jakarta-bukan jakarta, bukan 
> bagaimana mensejahterakan rakyat secara cepat.
> 
> Salam 
> 
> bambang sp
>


Kirim email ke