Laporan Bank Dunia Menyerukan Integrasi Ekonomi sebagai Kunci Pertumbuhan 
Inklusif (Siaran Pers)
World Bank Office Jakarta
Jakarta Stock Exchange Building
 
“World Development Report”terbaru merekomendasikan Indonesia untuk mendukung 
integrasi ekonomi, baik secara internal maupun eksternal 
 
JAKARTA, January 8, 2009 – Para penulis sebuah laporan tahunan Bank Dunia yang 
tengah berkunjung merekomendasikan agar pemerintah-pemerintah Asia Timur untuk 
membangun kepadatan, mengurangi jarak dan menghilangkan batasan dalam 
upaya-upayanya untuk membuat pertumbuhan menjadi lebih pesat dan inklusif. 
Tujuannya, menurut para penulis laporan World Development Report 2009: 
Reshaping Economic Geography adalah untuk mendukung integrasi ekonomi – baik 
secara interal maupun eksternal.
“Masyarakat dunia yang memiliki kekurangan geografis paling besar mengetahui 
dengan baik bahwa pertumbuhan tidak terjadi di setiap tempat sekaligus,” ujar 
Indermit S. Gill, Direktur World Development Report (WDR) dan Ekonom Kepala 
untuk Eropa dan Asia Tengah.“Pasar menyukai sebagian tempat lebih daripada 
tempat lain. Untuk memerangi konsentrasi ini, sama dengan memerangi kemakmuran. 
Pemerintah harus memfasilitasi konsentrasi produksi geografis. Namun, 
pemerintah pun harus menetapkan kebijakan yang membuat penyediaan kebutuhan 
dasar - sekolah, keamanan, jalan, dan sanitas - menjadi lebih universal.”
Laporan WDR 2009 menyatakan bahwa pemerintah-pemerintah harus mengedepankan 
integrasi ekonomi – yang pada hakikatnya adalah mobilitas tenaga kerja, produk 
dan ide – jika mengingkan pertumbuhan yang bersifat inklusif. Integrasi harus 
menjadi konsep penting dalam diskusi kebijakan yang melibatkan lokasi produksi, 
manusia dan kemiskinan - terutama, debat mengenai urbanisasi, perkembangan 
regional, dan globalisasi. Ketiga hal ini menekankan pada intervensi berbasis 
tempat.
“Pemerintah-pemerintah tidak perlu khawatir dengan urbanisasi pesat yang 
terlihat dikota-kota besar seperti Jakarta, karena hal tersebut merupakan 
pertanda terjadinya kemajuan dalam pembangunan,” kata Dr. Yukon Huang yang 
menulis laporan pendamping WDR 2009 edisi Asia Timur, berjudul Reshaping 
Economic Geography in East Asia. “Kuncinya adalah untuk mengelola urbanisasi 
tersebut dengan baik, yang berarti mengurangi aspek-aspek negatif urbanisasi 
seperti kemacetan, kejahatan dan polusi.”
WDR 2009 dan laporan pendampingnnya berfokus pada pilar kepadatan, jarak dan 
pembatasan – dan bagaimana transformasi ketiga pilar tersebut sangat vital bagi 
kemajuan ekonomi:
·         Kepadatan tinggi – Tidak ada negara yang meraih status pendapatan 
tinggi tanpa urbanisasi 
·         Jarak lebih dekat – Pertumbuhan jarang sekali terjadi tanpa ada 
pendekatan ke kawasan-kawasan padat penduduk 
·         Berkurangnya batasan – Pertumbuhan jarang sekali terjadi di 
wilayah-wilayah yang terisolir 
WDR 2009 menyatakan kembali debat kebijakan untuk menyertakan semua instrumen 
integrasi - lembaga umum, infrastruktur penghubung, dan intervensi bertarget. 
Lembaga umum yang dimaksud oleh laporan ini adalah peraturan yang mempengaruhi 
pertanahan, tenaga kerja dan perdagangan, serta layanan sosial seperti 
pendidikan dan kesehatan yang dibiayai melalui pajak dan transfer. 
Infrastruktur merujuk ke jalan, kereta, pelabuhan, bandara, dan sistem 
komunikasi. Intervensi mencakup program pembenahan kawasan kumuh, insentif 
pajak khusus untuk perusahaan, dan akses dagang khusus untuk negara-negara 
miskin.
Geografi merupakan faktor penting dalam menentukan hal yang dibutuhkan, hal 
yang penting, dan hal yang akan gagal, merupakan argumentasi laporan ini. 
Dengan mengalibrasi gabungan kebijakan-kebijakan ini, negara-negara berkembang 
dapat membentuk ulang geografi ekonomi mereka, seperti yang dilakukan 
perekonomian berpendapatan tinggi di masa lalu. Laporan ini menyimpulkan bahwa 
jika negara-negara berkembang dapat melakukan hal ini dengan baik, walaupun 
pertumbuhan mereka masih tidak akan seimbang, tapi pembangunan mereka akan 
inklusif.
Para penulis laporan WDR 2009 berada di Jakarta untuk memaparkan temuannya pada 
sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Center for Strategic and International 
Studies. 
Laporan dan bahan terkait akan tersedia untuk publik di: 
http://www.worldbank.org/wdr2009
 
Latar Belakang/FAKTA UTAMA
·         Kegiatan ekonomi berkonsentrasi di tempat-tempat yang sejahtera . 
Separuh produksi dunia bisa ditempatkan di kurang dari 5 persen lahannya, area 
yang lebih kecil daripada Aljazair. Tokyo, kota terbesar dunia, merupakan 
tempat tinggal 35 juta - seperempat populasi Jepang - yang hanya merupakan 4 
persen dari lahannya. Kairo memproduksi lebih dari separuh PDB Mesir, 
menggunakan hanya 0,5 persen areanya. Tiga daerah bagian selatan tengah Brasil 
hanya mencakup 15 persen dari lahannya, tapi menghasilkan lebih dari separuh 
produksinya. Amerika Utara, Uni Eropa dan Jepang - dengan populasi kurang dari 
satu miliar - menghasilkan dua pertiga produksi dunia. 
·         Standar hidup menyatu dengan pembangunan. Tingkat kemiskinan pedesaan 
lebih tinggi daripada di perkotaan di hampir semua tempat.Di Brasil, China, dan 
India,daerah-daerah tertinggal memiliki tingkat kemiskinan dua kali lebih 
tinggi daripada daerah-daerah terdepan. Negara-negara yang merupakan tempat 
tinggal “satu miliar populasi terbawah” - sebagian besar berada di Afrika 
Subsahara serta Asia Selatan dan Tengah - memiliki 12 persen populasi dunia 
dengan PDB kurang dari 1 persen. Namun lokasi menjadi semakin tidak penting 
sebagai standar hidup saat negara-negara memasuki kesejahteraan. Estimasi lebih 
dari 100 survei standar hidup menunjukkan bahwa rumah tangga di area 
negara-negara berkembang yang paling sejahtera seperti Ghana dan Indonesia 
memiliki konsumsi rata-rata hampir 75 persen lebih tinggi daripada area-area 
tertinggal di negara mereka. Di negara-negara kaya, perbedaan ini kurang dari 
25 persen. 
·         Pertumbuhan memerlukan transformasi geografis. Peningkatan kepadatan 
bersamaan dengan pertumbuhan kota, jarak yang semakin pendek bersamaan dengan 
terjadinya migrasi dan penurunan biaya transportasi, serta penurunan pemisahan 
bersamaan dengan negara ‘menurunkan’ batas-batas ekonomi mereka - semua ini 
merupakan bahan untuk pertumbuhan bersama yang cepat. Sementara kota-kota 
menjadi jauh lebih besar, irama urbanisasi di negara-negara berkembang pun 
semakin cepat. Sementara itu, daerah-daerah pantai memasuki kesejahteraan 
dibandingkan dengan area-area yang tidak mudah diakses karena bagian ekspor 
global terhadap PDB dunia telah naik dari 6 menjadi 26 persen di abad ke-20. 
Jumlah perbatasan internasional naik dari 100 menjadi lebih dari 600 sejak 
tahun 1900. Namun, hal yang penting untuk pertumbuhan ekonomi adalah 
‘ketebalan’ batas-batas ekonomi, yang tergantung pada pembatasan arus barang, 
modal, manusia, dan gagasan. Perbatasan
 antar negara di Eropa Barat sekarang hanya seperempat daripada perbatasan di 
Afrika Barat. 
Kesejahteraan menuntut manusia dan produk yang memiliki mobilitas. Korea 
bergeser dari negara yang memiliki 80 persen penduduk tinggal di pedesaan 
menjadi 80 persen penduduk tinggal di perkotaan antara tahun 1950 sampai 1990, 
saat pendapatan per kapitanya naik dari setara dengan pendapatan per kapita 
Benin saat ini menjadi lebih tinggi daripada pendapatan per kapita Portugal. 
Amerika Serikat, perekonomian terbesar dunia, juga termasuk negara dengan 
mobilitas tertinggi, dengan sekitar 35 juta penduduk berpindah tempat tinggal 
setiap tahunnya. Di China, lebih dari 150 juta orang berpindah ke daerah pantai 
di akhir tahun 1990-an. Penurunan biaya transportasi mendorong spesialisasi dan 
perdagangan antar perekonomian di tahap-tahap pembangunan yang sama. 
Perdagangan antar industri - pertukaran barang dan jasa yang serupa - sekarang 
merupakan separuh dari perdagangan global, naik sekitar seperempat dari tingkat 
di tahun 1960-an. Karena perdagangan ini sangat
 sensitif terhadap biaya transportasi, Asia Timur, Amerika Utara, dan Eropa 
Barat mencatatkan bagian terbanyak.
 


      

Kirim email ke