Pak Roos akbar, bagaimana mungkin hal itu terjadi?, pemilih di jawa jumlahnya sangat banyak, nggak ada yang berani pak.... terutama yang akan mencalonkan jadi presiden
Salam Aunur Rofiq --- On Wed, 2/4/09, Roos Akbar <[email protected]> wrote: > From: Roos Akbar <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] Re: Soal Harga Strowberry > To: "refere...@yahoogroups. Com" <[email protected]> > Date: Wednesday, February 4, 2009, 12:58 PM > Sekedar celetukan ringan: > > Bagaimana jika skema subsidi diperbaiki? Jawa tidak > disubsidi dan daerah yang akan dikembangkanlah yang BBMnya > disubsidi. > > Dulu saya pernah ajukaan konsep ini ke Badan Pengatur Hulu > (hilir?) Migas dan sempat sampai jadi proposal, tapi > "hilang" ditengah jalan. > > Salam, > Roos Akbar > Send on Wed, Feb 4, 2009 at 12:56:47 > Bold Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Wisnu Wijaya <[email protected]> > > Date: Tue, 3 Feb 2009 21:37:02 > To: <[email protected]> > Subject: [referensi] Re: Soal Harga Strowberry > > > > > Rekan Milister, Uda Eka, Bang Nuzul, Pak Risfan yth.. > > Harga BBM yang melangit di Wamena, yang sukar untuk > dipatok sama dengan di Jawa misalnya, apakah kita dapat > mengoptimalkan sumber daya > lokal. Dengan mengganti BBM dengan energy lainnya seperti > dengan gas, air , > panas bumi, atau batubara yang melimpah disana. Berikut > saya kutip postingan dari Prof Widjojono ke saya (beliau > adalah Guru Besar Ilmu Ekonomi dan > Pengelolaan Lapangan Migas pada Fakultas Teknik > Pertambangan dan Perminyakan, > Institut Teknologi Bandung (ITB) serta > anggota Tim P3 (Pengawasan Peningkatan Produksi) Migas): > > Biaya listrik > (bahan bakar dan pembangkit) dari batubara (US$ 70/ton) > adalah 6 sen dolar per > kWh, gas (US$ 6/MMBTU) serta panas bumi 8 sen dolar per kWh > dan dari BBM > (sewaktu harga BBM Rp. 6000/liter) sekitar 20 sen dolar per > kWh. Ibaratnya kalau saat ini kita > memakai BBM maka sama dengan naik mercy, sedangkan kalau > memakai yang lain sama > dengan naik busway. Mohon disadari bahwa Indonesia bukan > Negara kaya. Tidak > bijaksana apabila kita masih mengantungkan penggunaan > energi kepada minyak. > Bahkan Iran yang kaya dengan minyak (cadangan terbukti > 137,5 milyar barel dan > produksi 4,3 juta barel per hari pada 2006), berusaha untuk > mengunakan nuklir > untuk listrik, BBG untuk transportasi, LPG dan gas kota > untuk memasak. Iran > berusaha untuk mengekspor minyak sebanyak mungkin karena > hal tersebut adalah > yang paling menguntungkan. Demikian pula Norwegia, walaupun > Negara tersebut > memproduksikan minyak sebesar 2,8 juta barel per hari pada > tahun 2006 pemakaian > domestiknya hanya 200 ribu barel per hari, yaitu hanya > untuk transportasi. > Untuk listrik, Negara ini menggunakan tenaga air. > > Sehingga kalo di Papua masih tetap menggantungkan pasokan > BBM dari Jawa, dengan infrastruktur yang minim maka harga > BBM masih sulit disamakan dengan di Jawa. Kalo tidak salah > di Nabire telah dikembangkan LNG Tangguh, apakah dapat > dikembangkan lagi menjadi sumber energi di Papua sebagai > pengganti BBM. > Pak Eka, kita berani apa tidak, untuk memberi pilihan > dengan lebih baik > menggunakan energy selain BBM untuk dikembangkan di Papua > .. > > Salam Hangat > Wisnu > > ________________________________

