Rekan ysh, Bicara daerah 'frontier' atau juga yang tertinggal soalnya bukan harga BBM kan, tapi availability, jarak (produsen jauh dari situ), tak adanya jalan (transpor mahal). Ini berlaku juga untuk harga semen dan produk kebutuhan dasar/pokok lainnya. Jadi bagaimana mengembangkan prasarana dan eksternalities lainnya. Karena diskriminasi atau stabilisasi harga kan tidak bisa untuk semua jenis barang. Persoalannya sekarang ini membangun prasarana juga bias ke pertimbangan B/C financial jangka pendek, bukan economic (+ sos-pol) jangka menengah/panjang, sehingga makin sulit menjustifikasi pembangunan prasarana baru di daerah yang keuntungannya tidak langsung. Mungkin juga ini disebabkan sumber dana investasi yang murah semakin terbatas. Di negara kita ini mungkin karena apa-apa sektoral, tidak integrated jadi semua menjadi berat. Mestinya ada sektor pengembangan SDA yang untung besar dikaitkan dengan pembangunan prasarana dst yang keuntungannya jangka panjang. Dana-dana DAK dst diintegrasikan peruntukannya, sehingga ada dukungan saling-silang. Dengan demikian tidak terasa berat. Ide energi alternatif setempat, dan ide self-subsistence secara lebih luas mesti dikembangkan juga. Ibaratnya kalau orang biasa makan sagu jangan diajari (apalagi dipaksa) makan nasi, supaya tidak tergantung dari luar. Kalau kayu banyak, kenapa mesti diintrodusir semen. Mungkin begitu? Hanya bagi yang tertarik tentang pengembangan ekonomi lokal, silahkan klik Ecoplan. Salam, Risfan Munir
--- On Wed, 2/4/09, Eko B K <[email protected]> wrote: From: Eko B K <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Soal Harga Strowberry To: [email protected] Date: Wednesday, February 4, 2009, 3:34 AM Pak Roos, Pak Aunur ysh, Selain bahwa harga BBM selalu terkait dengan voting seperti yg dikemukakan Pak Aunur (setahu saya di berbagai negara lain juga begitu), apakah skema tsb tidak akan memberatkan kaum miskin di Jawa? yg pastinya akan memicu inflasi di Jawa...jumlah orang miskin terbesar di Indonesia ada di Jawa lho pak... salam... --- On Wed, 2/4/09, Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com> wrote: From: Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] Re: Soal Harga Strowberry To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, February 4, 2009, 10:06 AM Pak Roos akbar, bagaimana mungkin hal itu terjadi?, pemilih di jawa jumlahnya sangat banyak, nggak ada yang berani pak.... terutama yang akan mencalonkan jadi presiden Salam Aunur Rofiq --- On Wed, 2/4/09, Roos Akbar <[email protected]. net.id> wrote: > From: Roos Akbar <[email protected]. net.id> > Subject: Re: [referensi] Re: Soal Harga Strowberry > To: "refere...@yahoogro ups. Com" <refere...@yahoogrou ps.com> > Date: Wednesday, February 4, 2009, 12:58 PM > Sekedar celetukan ringan: > > Bagaimana jika skema subsidi diperbaiki? Jawa tidak > disubsidi dan daerah yang akan dikembangkanlah yang BBMnya > disubsidi. > > Dulu saya pernah ajukaan konsep ini ke Badan Pengatur Hulu > (hilir?) Migas dan sempat sampai jadi proposal, tapi > "hilang" ditengah jalan. > > Salam, > Roos Akbar > Send on Wed, Feb 4, 2009 at 12:56:47 > Bold Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Wisnu Wijaya <vishnuwijaya@ yahoo.com> > > Date: Tue, 3 Feb 2009 21:37:02 > To: <refere...@yahoogrou ps.com> > Subject: [referensi] Re: Soal Harga Strowberry > > > > > Rekan Milister, Uda Eka, Bang Nuzul, Pak Risfan yth.. > > Harga BBM yang melangit di Wamena, yang sukar untuk > dipatok sama dengan di Jawa misalnya, apakah kita dapat > mengoptimalkan sumber daya > lokal. Dengan mengganti BBM dengan energy lainnya seperti > dengan gas, air , > panas bumi, atau batubara yang melimpah disana. Berikut > saya kutip postingan dari Prof Widjojono ke saya (beliau > adalah Guru Besar Ilmu Ekonomi dan > Pengelolaan Lapangan Migas pada Fakultas Teknik > Pertambangan dan Perminyakan, > Institut Teknologi Bandung (ITB) serta > anggota Tim P3 (Pengawasan Peningkatan Produksi) Migas): > > Biaya listrik > (bahan bakar dan pembangkit) dari batubara (US$ 70/ton) > adalah 6 sen dolar per > kWh, gas (US$ 6/MMBTU) serta panas bumi 8 sen dolar per kWh > dan dari BBM > (sewaktu harga BBM Rp. 6000/liter) sekitar 20 sen dolar per > kWh. Ibaratnya kalau saat ini kita > memakai BBM maka sama dengan naik mercy, sedangkan kalau > memakai yang lain sama > dengan naik busway. Mohon disadari bahwa Indonesia bukan > Negara kaya. Tidak > bijaksana apabila kita masih mengantungkan penggunaan > energi kepada minyak. > Bahkan Iran yang kaya dengan minyak (cadangan terbukti > 137,5 milyar barel dan > produksi 4,3 juta barel per hari pada 2006), berusaha untuk > mengunakan nuklir > untuk listrik, BBG untuk transportasi, LPG dan gas kota > untuk memasak. Iran > berusaha untuk mengekspor minyak sebanyak mungkin karena > hal tersebut adalah > yang paling menguntungkan. Demikian pula Norwegia, walaupun > Negara tersebut > memproduksikan minyak sebesar 2,8 juta barel per hari pada > tahun 2006 pemakaian > domestiknya hanya 200 ribu barel per hari, yaitu hanya > untuk transportasi. > Untuk listrik, Negara ini menggunakan tenaga air. > > Sehingga kalo di Papua masih tetap menggantungkan pasokan > BBM dari Jawa, dengan infrastruktur yang minim maka harga > BBM masih sulit disamakan dengan di Jawa. Kalo tidak salah > di Nabire telah dikembangkan LNG Tangguh, apakah dapat > dikembangkan lagi menjadi sumber energi di Papua sebagai > pengganti BBM. > Pak Eka, kita berani apa tidak, untuk memberi pilihan > dengan lebih baik > menggunakan energy selain BBM untuk dikembangkan di Papua > .. > > Salam Hangat > Wisnu > > ____________ _________ _________ __

