Rekan Didit Setiawan ysh,
 
Pertama terimakasih banyak atas perhatiannya  (juga trims utk Prof.  Abimanyu 
atas tanggapannya)……..
 
d setiawan <d_setiawan_99@ yahoo.com> wrote:
“….pada pengembangan superblok di situ tertera "di tengahnya bisa untuk the 
poor", --- bagaimana biasanya pola yang terjadi jika si kaya dan si miskin 
berada dalam 1 blok? dalam satu artikel yang terjadi di India, pada awalnya 
tidak masalah, namun selanjtnya terjadi penggusuran – penggusuran…..”.
 
Sinyalemen anda ttg penggusuran ruang dan fasilitas bagi simiskin kota atau the 
low income oleh sikaya memang benar…. dan  banyak menjadi kisah nyata dibanyak 
kota2 besar didunia…….. namun untuk penggunaan ‘teknik keruangan’ spt itu……. 
Kita mutlak sgt perlu utk memilah2 konteks2 tujuannya……. 
Dikawasan sgt maju fenomena itu sgt besar kemungkinannya akan terjadi….. tetapi 
untuk konteks “pengembangan kawasan tertinggal”… spt bgmn kita ingin 
mengembangkan KTI…..ceritanya  akan bisa sangat lain lagi…….
Gbr yg menjadi acuan diskusi kita adalah “peta simulasi kota Makassar” pada 
mana kita sepakat Makassar adlh terletak dikawasan tertinggal KTI…. Dimana dgn 
peta simulasi itu kita maksudkan agar Makassar (dan para otoritas keruangannya, 
utamanya yg dipusat) tergerak utk mengembangkan pradigma baru …. Ialah 
“Makassar as the real and dynamic and modern urban service center of the 
widepread KTI”…….
Itu dimaksudkan agar perencanaan pembangunan Makassar agar mau memakai 
paradigma baru…… “mengembangkan city size;  mengembangkan arus migrasi/ 
urbanisasi; mengembangkan jumlah SDM pendapatan kelas menengah (dan atas); dan 
mengembangkan industri manufaktur perkotaannya”…… sehingga dgn berbagai dampak 
ganda yg muncul diberbagai multisektoralitas…. Makassar dpt benar2 menjadi kota 
pusat layan KTI yang lebih mandiri, lebih modern dan pastilah agar menjadi 
lebih dinamis……… 
Spt kita tahu…… selain sejauh ini masyarakat teknik keruangan kita masih ogah 
(EGP) utk memikirkan/ atau kasarnya masih kurang terpikir utk menggalakkan 
proses migrasi/ urbanisasi di kota2 besar di KTI (bingung 1, biasa enak2 hanya 
ngurusin fisik saja.. kok kini ditambahin tugas lain gak enak… ngurus ekonomi 
kota lah, ngurus sosiologi kota lah….. bingung 2, kota yg ada di KTI saja sdh 
bermasalah dgn kakilima dan pengangguran… kok ini tambah gila… masih mau 
ditambah lagi jumlah populasinya)…..
Disisi lain Depnakertrans (dulu Deptrans dan Depnaker)  juga sama saja…. Utk 
proses2 migrasi …mereka bermainnya juga masih diseputar “migrasi agraris” saja 
… walau kini mulai digemborkan ttg kampanye “Transmigrasi Kota Mandiri” (KTM) 
yg cirinya adalah (katanya sih) “dikembangkan pola kota kecil” dilokasi 
transmigrasi…. yg kita tahu…. umumnya berada didaerah2 pedalaman yg masih 
jarang penduduknya (hingga krnnya mudah dilakukan  pembebasan lahannya)…. 
Tetapi juga (akibatnya) amat jauh lokasi dan jaraknya dari kota2 besar……..
Dengan kata lain … yg namanya “migrasi urban” (urban ‘trans’ migration)  ini 
(utamanya utk migrasi kekota besar di KTI)  saat ini masih sekedar merupakan 
“konsep tak bertuan” atau ‘konsep kelas jalanan’ saja……
Kembali lagi kepokok diskusi……. Jadi dgn simulasi “Kota Greater Makassar” itu 
memang dimaksudkan agar terjadi arus urbanisasi menuju kota tsb…. Yg pada saat  
yg sama juga mutlak (tak boleh tidak) perlu dilakukan persemaian “industri 
manufaktur memimpin” sbg calon mesin penggerak perekonomian lokal kota……. dgn 
harapan dgn itu berbagai multisektor pembangunan akan menggeliat bangkit dan 
berkembang…. maupun juga dgn itu diharapkan akan terjadi sebanyak2 pertambahan 
penduduk kota menuju Makassar… terserah… baik itu berasal dari Sulawesi/ KTI 
sendiri atau terlebih dari Jawa yg kini sdh kelewat padat penduduknya maupun 
kelewat memusat industri manufakturnya.……
Dgn itu diharapkan proses aglomerasi di kota Makassar akan semakin menguat… yg 
dampaknya dikemudian hari akan terjadi spill over effect dan spread effect 
berupa semakin berkembangnya  budaya urban dipedalaman2 KTI…… yg itu akan baik 
sekali utk berinteraksi  dan bersinergi dgn budaya agraris yg telah ada 
sebelumnya…….
Pd  peta simulasi….. kita lihat bahwa superblok yg dikembangkan adalah pada 
“wilayah pinggiran” dari kota “Makassar Lama” atau “Makassar today”…..
Kalau sinyalemen anda itu benar2 terjadi…… yg artinya superblok bohong2an dari 
saya itu ternyata benar menjadi kenyataan…. Berkembang…..  lalu kapling2 
besarnya sudah diokupasi oleh kaum “the haves”….. lalu malah  “kawasan 
dalamnya” mau sekalian diokupasi juga…… lhah itu khan berarti.. “the dreams 
have come true”…… artinya kota Makassar telah bertambah jumlah SDM kelas 
menengahnya …. Termasuk juga tlh bertambah jumlah “the low income”
nya”.. yg tentunya juga telah berkembang industri manufakturnya (terbukti dari 
khayalan bahwa suerblok saya itu mau diokupasi seluruhnya oleh the haves kota 
Mks)……… maka disini tidak  terjadi “ironi” yg anda khawatirkan itu….. tapi 
justru muncul “ perasaan syukur” bhw kota Makassar telah berkembang lebih 
dinamis……
Kalau fase itu benar telah terjadi….. kita masih bisa diskusikan dgn santai 
jalan keluarnya….. setidaknya ada 2 cara…..pertama  teknikk keruangan ttg bgmn 
“mempertahankan kehadiran/ kepemilikan oleh  “the low income” pada ruang 
ditengah superblok itu agar tak terlampau diminati oleh the haves…….
Cara kedua…..tak apa….. “lepaskan saja the whole superblock” itu kepada the 
haves yg ingin memborong mengokupasinya …. Itu khan artinya …. luas innercity  
kota Makassar (sesuai cita2) dgn itu jadi nambah luas…. Lalu kita buat saja  
rencana superblok berikutnya diruang lebih dipinggir kotanya lagi…..  begitu 
dst….. sampai Makassar benar2 menjadi “Greater Makassar”….. dan kalau nanti Mks 
sudah sarat bebannya  spt Jkt…… bukankah anda bisa kembangkan berikutnya lagi 
“Greater Timika Misalnya?”…..
 
Salam dari aby 
 
d setiawan <d_setiawan_99@ yahoo.com> wrote:
 
Terima kasih pak Aby atas attachment-nya, sangat menarik untuk dikembangkan,  
satu pertanyaan saja: pada pengembangan superblok di situ tertera "di tengahnya 
bisa untuk the poor", --- bagaimana biasanya pola yang terjadi jika si kaya dan 
si miskin berada dalam 1 blok? dalam satu artikel yang terjadi di India, pada 
awalnya tidak masalah, namun selanjtnya terjadi penggusuran - penggusuran, 
terima kasih atas sharingnya.. ..

Didit
 


      

Kirim email ke