Ha ha ha.........., Si anak tambah menjadi jadi nangisnya kalau denger ini.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

Date: Mon, 9 Mar 2009 17:06:01 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Sebuah Renungan



Ha..ha..Bung Iman pagi-pagi sudah buat renungan..bagus! Saya mau tambahin 
alinea terakhir :
"...Para perencanapun hanya berdebat hal hal normatif, teori hierarki kota, 
RTRWN, kawasan2 strategis Nasional dan lainnya..dan juga..RENUNGAN.

Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 3/9/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

> From: [email protected] <[email protected]>
> Subject: [referensi] Sebuah Renungan
> To: [email protected]
> Date: Monday, March 9, 2009, 10:54 PM
> Seorang anak menengadah menatap
> Monumen Nasional (Monas). Ia bertanya inikah simbol ibukota
> negara?, tinggi sekali,  apa yang kau bisa berikan
> kelak setelah aku besar nanti. Jawabnya: Tidak ada lagi
> nak  yang diharapkan dariku, saat ini diriku
> terdehidrasi berat, lemas badanku, terlalu banyak manusia
> rakus mengisap air dari tubuhku. Berkeringat akupun tak
> sempat,  dari  tahun ke tahun aku mengamati dari
> atas sini, banjir bukannya berkurang dan mereda, namun terus
> semakin meluas, bahkan yg biasa tdk banjir dan tidak mungkin
> banjir, sekarang banjir. Bangunan bersaing dengan tempat air
> nak. Upaya yang selama ini dilakukan  sepertinya hanya
> pelipur lara saja. Berbagai ahli telah dikerahkan dan
> seperti tahu yang perlu dikerjakan, tapi tdk bisa
> dikerjakan.  Saat inipun asmaku kumat, tidak ada lagi
> oksigen  yg bersih bernafas, ruang udara sudah terlalu
> jenuh terkontaminasi, tak ada sudutpun yg bersih, usaha
> usaha penghijauan itu hanya menyenang nyenangkan saja,
> sedikit artinya dibandingkan dengan penyebabnya, 1 pohon 1
> orang itu bohong nak, karena yg terjadi 1 motor 1 orang, itu
> yg dibutuhkan nak ketimbang pohon, karena tempat tinggal dgn
> tempat kerja jaraknya berpuluh puluh km. Itulah kenapa udara
> tidak bisa bersih. Angkutan umum tak sanggup aku 
> siapkan nak. Pemimpin kitapun yg punya ibukota ini, yang
> satu berkantor disisi Utara dan yang satu lagi berkantor di
> sisi Selatan, kini sedang berseteru ingin berebut kantor yg
> sebelah Utara. Terus apa yang bisa disiapkan?  Sejak
> dari awal saya katakan, tidak ada lagi bisa saya siapkan
> nak, sedih rasanya melihat masa depanmu nak. Sejak Bang Ali
> (alm), Bang Samiun, Bang Dul, Bang Yoso dan Bang Fauzi
> sepertinya semua membangun, tetapi semuanya tidak menunjukan
> perbaikan. Para perencanapun hanya berdebat hal hal
> normatif, teori hierarki kota, RTRWN, kawasan2 strategis
> Nasional dan lainnya. Si anak berbalik menunduk, berjalan
> lunglai, berderai air mata. Ini kah warisan orang
> tuaku?  Jakarta, 10 Maret 2009. Iman Soedradjat.
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> ------------------------------------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups
> Links
> 
> 
>     mailto:[email protected]
> 
> 
> 


      


Kirim email ke