Sahabat H. Ekadj ysh,
Anda menulis :
“….kenapa kita meletakkan Pemerintah sebagai pemeran utama dalam pembangunan
wilayah dan kota padahal liability dan resiko berada di tangan
masyarakat?.......”.
Pertama……ttg kenapa pemerintah (perlu) diletakkan sbg pemeran utama dlm
pembangunan wilayah…… saya pikir mungkin bukan “pemeran utama”… tetapi adalah
“pembuat strategi utama”……. itu krn “pembangunan wilayah” dgn “arah yg benar”
memerlukan tak sekedar visi “propinsial”….. tapi bahkan visi “kenegarawanan”/
“visi nasional”… sering perlu banyak memerlukan langkah “pioneering”…..dan
tak kurang bukankah ia hrs sebanyak2 sesuai dgn RTRWN?......yg semua itu tak
kan banyak dipikirkan oleh swasta sbg pelaku utama ekonomi…….. dan bukan tak
mungkin itu juga sesekali kurang trdpt pd sementara kalangan akademisi juga?………
Kedua….. kalau ttg “…. kenapa pmrnth diletakkan sbg ‘pemeran utama’ dlm
pembangunan wilayah… pdhal liability dan resiko berada di tangan
masyarakat?.......”, saya jg tak sepenuhnya sependapat dgn bagian terakhir
pertanyaan itu……
Sebelumnya tentu kita sepakat bhw kita bicara ttg konteks ‘kawasan tertinggal/
terpencil’……..
Saya tak sependapat bhw utk sebuah pembangunan daerah masyarakat/ swasta selalu
harus menanggung resiko yg berat…… saya kira selalu akan masih terdpt banyak
peluang2 pembangunan daerah yg tak hrs menimbulkan resiko2 kegagalan yg berat………
Spt kalau anda masih ingat ttg hipotesa “menyemai industri manufaktur di KTI”
misalnya…….. dimana saya usulkan ttg “filialisasi 1/8 saja kapasitas produksi
dari national leading industries yg 6 juta unit spd motor per thn yg adlh
industri 3 besar merk spd motor yg adalah juga pasar ke-3 terbesar dunia stlh
China dn India? ……. Resiko besar apa yg mereka hrs tanggung?...........
pertama, setidaknya jelas bhw 1/8 atau asumsi dari total produksi industri tsb
pasarnya memang jelas ke/ ada di KTI…… jadi kita hanya mengubah pola distribusi
di KTI itu dari semula “dikirim sejumlah barang jadi dari Jawa ke KTI”… diubah
menjadi “dikirim brg ½ jadi ke Mks , lalu dirakit di KTI….. lalu
didistribusikan di KTI”….. kantor2 pusatnya di Jkt samasekali tdk diganggu
gugat….. jadi resiko tinggi apa yg sedang ditanggung oleh perusahaan2 amat
besar yg pasarnya memang sudah jelas berada didaerah KTI itu juga?...........
Kedua…… kalau berkali2 saya usulkan tg lokasi “filialisasi industri” itu di
Makassar…… kita lihat Mks sdh menjadi kota metropolitan….. fasilitas2 kota dan
wilayahnya cukup memadai….. jadi nyaris nggak usah bangun apa2 lagi disana..…..
lalu resiko apa lagi yg hrs ditanggung oleh leading industries itu utk
berpioneering membangun ‘filialisasi’ industri manufaktur di KTI?.........
Namanya ‘resiko’ walau sekecil apapun ya tentu saja ada (tak mungkin kalau
nggak ada samasekali)…. tapi khan memang pelaku utama kegiatan ekonomi dan
pengambil keuntungan itu adlh masyarakat (swasta)…. Dan bukankah kita inginkan
munculnya ‘dampak ganda’ dimasyarakat?…….. ya wajar khan kalau pelaku
ekonomi pembangunan daerah itu ya hrs masyarakat… hanya saja arahan utamanya
oleh pemerintah…… dan sepanjang dgn “pembangunan wilayah” itu pemerintah tak
‘menyusahkan’ atau ‘tak membuat blangsak’ masyarakat (swasta)….… lalu apa
salahnya?..........
Salam,