Milisters ysh,
 
Tak salah kalau mslnya  sampai ada yg ktkan sejauh ini serial saya  ini hanya 
muter2 saja terus, nggak nyampe2 dn gak jelas mau kemana….. Setengahnya mmg 
saya sengaja begitu… biar tak cepat selesai……. Krn saya pikir juga apa salahnya 
sih?.......
Bahwa planologi  sbg ‘anak cabang arsitektur’ adalah bagian dari ‘sekolah 
tinggi teknik’ menyangkut ‘teknologi’ penataan ruang bagi kesejahteraan 
kehidupan manusia……. tak hanya itu… namun juga teknologi agar ruang2 dipojok2 
negeri yg tertinggal agar menjadi maju…. Teknologi  utk ruang yg semula kurang 
produktip dan tak menarik agar menjadi produktip dan menarik…… teknologi ruang 
agar manusia/ SDM unggulan  mau bermigrasi kekawasan yg kurang maju….. 
teknologi ruang agar dpt juga menciptakan rekayasa ruang agar menjadi  lapangan 
kerja bagi bangsa….. bisa menciptakan ‘sistem kota2 secara nasional’ yg pada 
dasarnya adalah juga “sistem ruang2” diseluruh negeri agar menjadi  integrated… 
dsb…….. 
Wajar bahwa “semangat tanpa kenal lelah utk terus mengutak-utik teknologi 
penataan ruang” adalah seharusnya menjadi bagian dari keseharian dunia  teknik  
planologi itu………  sebagaimana banyak teknologi dibidang lainnya tak pernah puas 
dan terusmenerus tanpa henti  berinovasi mensejahterakan manusia……… dan manusia 
menikmati hasilnya….. spt a.l. kini tukang sayur dan ibu rumahtangga 
berkomunikasi lewat hp….  dsb……  dan saya kira justru tak wajarlah (kurang enak 
kalau lsg sebut sebagai ‘sakit jiwa’)….. kalau sampai ada yg mengecam kpd  
mereka yg terus bicara ttg rekayasa2 teknik2 keruangan bagi urusan  perbaikan 
penataan ruang  yg msh tak kunjung beres dinegeri ini……..

Bgmnpun juga yg namanya “teknologi” adlh  jangan lupa… ia salah satunya adlh 
mrpkn pengembangan ‘terus menerus’ dan aplikasi dari ‘alat’, ‘mesin’, 
‘material’ dan ‘proses’ yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya........ 
Walau kata ‘teknologi’ sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan 
prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan… tapi ‘Penemuan’  
yang sudah lama terjadi spt sistem  ‘roda’ dapat disebut juga teknologi.
Definisi lainnya (digunakan dalam ekonomi) adalah teknologi dilihat dari status 
pengetahuan kita yang sekarang dalam bagaimana menggabungkan sumber daya untuk 
menciptakan suatu produk yang diinginkan (dan pengetahuan kita tentang apa yang 
bisa diproduksi)…….. 
Teknologi telah mempengaruhi kehidupan masyarakat dan lingkungannya melalui 
demikian banyak caranya…… termasuk diantaranya  bgmn mengembangkan perekonomian 
masyarakat agar menjadi maju (trmsk ekonomi global)……… dan khususnya tentang 
“teknologi penataan ruang”……. Wajar bhw perlu terus dikutak-katik kombinasi 
kerja dari brbagai elemen  penataan ruang dan elemen bebrbg faktor kehidupan 
utk menghasilkan yg optimal…… tak hanya yg ‘tradisional’ spt menyangkut ttg 
aspek fisik  dan ekologik idealisme penataan ruang spt teknik ‘zonasi’, teknik 
‘ruang terbuka hijau’, teknik ‘sewerage system’,  teknik ‘koefisien dasar 
bangunan’ dsb…… tetapi  justru yg sama levelnya dan tak kurang serta tak kalah 
strategis serta urgensinya adlh jstru tentang “aspek ekonomi dan sosial” dari 
“ruang’ serta berbagai aspek lainnya spt aspek ”ketahanan/ keamanan nasional”, 
aspek “demografik”……dsb………

Menyangkut “aspek demografik”…… itu tentu berkait dgn “keadaan lapangan yg tak 
beres” spt ttg timpangnya  persebaran kepadatan penduduk yg ekstrim……. spt bhw 
Jawa (6.7%) kelewatan padat (dihuni 60% penduduk)….. mengisyaratkan bhw  
planologi perlu lbh banyak ‘memainkan’ teknologinya bagi ‘pemerataan 
persebaran  konsentrasi penduduk yg lebih baik…. Yg itu tentu tak akan manjur 
sekedar dijawab dgn “teknik zonasi” misalnya….  Atau amit2 janganlah sampai 
terjadi itu sekedar ditangkis dgn  argumen ‘ketak sanggupan’….. spt dgn …. 
“menurut  eyangnya teknik planologi kita prof. Purnomosidhi” mengembangkan 
kawasan tertinggal itu “tidak efisien”…… 
“Ketimpangan kemajuan antar wilayah” dan “ketimpangan konsentrasi populasi 
antar wilayah yg ekstrim”  tentu perlu lbh dijawab dgn “teknologi ruang bagi 
mendorong migrasi penduduk/ SDM unggulan” misalnya (sampai krn-nya saya 
kemukakan ttg kecenderungan tingkah laku kehidupan  manusia diberbagai pelosok 
dunia yg maunya mengelompok dalam ‘kota2’ dan “berhirarkhi” sejak zamanromawi 
kuno bahkan sebelum munculnya budaya fiskal, regulasi dan moneter sekalipun )………
Dinegeri kita tak hanya terjadi  “konsentrasi kependudukan” dan konsentrasi 
“industri manufaktur” saja yg kelewatan di Jawa… bahkan tak kurang juga  
terjadi “konsentrasi industri jalan tol”  (1450 km rencana jalan tol di Jawa 
dan 50km tol diluar Jawa/ Makassar 11km, sisanya dibagi dua antara Medan lk. 
14km  dan Palembang 25km)……… 
Tak pernah merasa risihkah masyarakat teknologi penataan ruang negeri ini 
melihat kenyataan itu......... dan akan puas (/nyerah)kah dgn  sekedar akan 
berargumen dgn retorika saja?........ atau amit2 akan sekedar berdebat kusir/ 
berpokrul sajakah?...... tentu tidak bukan?........ 
Saya sangat menghargai pernyataan pak Risfan 25/04 yg katakan “….
membuktikan asumsi planner mesti dirubah total…..”.
 
Salam,


      

Kirim email ke