Dari kompas.com:
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/05/15/23071529/Bitung.akan.Disulap.Seperti.Batam.dan.Bintan

Bagaimana cara pengkolaborasiannya dg inisiatif pusat...

Dulu Bitung pernah menjadi salah satu tempat dimana KAPET (inisiatif pusat) 
dilakukan. Dalam pemerintahan SBY-JK 2004-2009, PemPus menghendaki 
dikembangkannya KEK oleh daerah... Kini Pemerinahan Gubernur Sinyo Harry 
Sarundjajang di Sulut berkeinginan untuk menjadikan Bitung sebagai kawasan 
FTZ....

Bisakah dilakukan pengkolaborasian insiatif daerah dengan inisiatif pusat 
tsb...?

He... he... he..., mohon maaf pertanyaan di atas seperti benuah soal ujian 
dalam MK Governing Regional Development... Mudah-mudahan ada rekan yg bersedia 
mendiskusikannya...


Salam,

Fadjar PWK Undip
Fadjar 

Bitung akan Disulap Seperti Batam dan Bintan
/
 Jumat, 15 Mei 2009 | 23:07 WIB
MANADO, KOMPAS.com - Gubernur Sulut, Sinyo Harry Sarundajang menyatakan siap 
mewujudkan Kota Bitung, Sulawesi Utara sebagai kawasan perdagangan bebas dan 
pelabuhan bebas atau free trade zone (FTZ) sebagaimana telah dijalankan di 
Batam, Bintan, dan Karimun, Provinsi Kepri. Itulah ambisisnya setelah sukses 
besar menggelar even internasional, World Ocean Conference (WOC) dan Coral 
Triangle Initiative (CTI).

"Kita berusaha ke sana untuk menjadikan Bitung sebagai pelabuhan internasional 
dan kawasan perdagangan bebas," ujar Sarundajang kepada Tribun Manado, Jumat 
(15/5). Untuk mewujudkannya, tinggal menunggu pemerintah pusat menerbitkan 
peraturan penetapan karena persiapan kawasan sudah dibuat.

Sambil menunggu penetapan tersebut, Kota Bitung akan mempercepat pembangunan 
infrastruktur, perangkat lunak, serta sarana pendukung lainnya sebagai pilot 
project. Infrasruktur pendukung pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) 
seperti sarana jalan dan perhubungan serta pos dan telekomunikasi sudah 
tersedia.

Bidang manufaktur seperti industri perikanan, minyak kelapa, dan galangan kapal 
pun tak kalah siapnya menjelang perubahan status daerahnya menjadi KEK/FTZ. 
Pelabuhan Bitung sebagai Cargo Consolidation Centre (CCC) akan menjadi modal 
utama pemerintah dalam mengembangkan KEK di Bitung yang juga terkenal sebagai 
Kota Cakalang.

Pemko Bitung dan Pemprov Sulut telah lama mengupayakan persiapan menuju FTZ. 
Bahkan pernah menggelar Workshop KEK di Bitung pada 26 April 2008 lalu. Ketika 
itu Kota Bitung telah diarahkan sebagai barometer perekonomian di Indonesia 
Timur karena kelayakan infrastuktur dan kegiatan bisnisnya. Ketika itu sudah 
diusulkan Rancangan Undang-undang (RUU) KEK guna dibahas bersama DPR RI.

Belajar dari Kepulauan Riau

Sebelumnya, Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah yang bersedia 
membantu Sulawesi Utara (Sulut) mengembangkan free trade zone (FTZ) di Kota 
Bitung. Dukungan Ismeth yang telah berpengalaman menjalankan FTZ di tiga 
kawasan akan sangat membantu, terutama untuk melobi pemerintah pusat dan 
bagaimana model FTZ atau kawasan ekonomi khusus (KEK) yang cocok untuk 
dikembangkan di Bitung.

Menurut Sarundajang, Gubernur Kepri sudah melihat dan tahu kondisi Bitung. 
"Pengalamannya dalam mengelola Batam bisa kita gunakan juga untuk membangun 
Bitung. Jadi dia (Gubernur Kepri) membantu,"ujar Sarundajang.

Mengenai rencana pembukaan jalur penerbangan langsung Manado-Batam dan 
Batam-Manado, menurut Sarundajang, merupakan hasil pembicaraan antara dirinya 
dengan Ismeth. "Kami tinggal mem-follow-up (tindaklanjuti) saja," ujarnya 
sambil tersenyum.

Menurut Ismeth, Bitung sangat layak menerapkan FTZ karena memiliki berbagai 
potensi yang diyakini bisa melebihi Batam. Sulut termasuk 10 daerah di 
Indonesia yang telah ditetapkan sebagai KEK. Dasar penerapan KEK diatur dalam 
UU No 1 Tahun 2007 tentang Free Trade Zone yang mengubah ketentuan UU No 36 
Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.(Reza 
Pahlevi/Nuraini)




      

Kirim email ke