>
> Pak Fadjar dan teman-teman Referensiers Ysh,
>

 Rasanya Bitung belum punya status formal sebagai salah satu KEK di
Indonesia (CMIIW), sebagaimana berita di media yang diposting pak Fajar. UU
KEK masih "nyangkut" di DPR. Menurut informasi sudah 18 provinsi yang
melamar bahkan ada yang mengatakan sudah 21 propinsi. Menurut bocoran yang
tentu tidak dijamin kebenarannya, kemungkinan hanya 3 yang akan
disetujui pemerintah, termasuk DKI Jakarta di antaranya. Kalau "Berbudi"
menang 2009, dan koordinasi penetapan ada ditangan "Budi", maka bisa
diperkirakanlah seperti apa ketatnya seleksi..

Jadi kalau Bitung ingin status seperti Batam, Bintan dan Karimun, harus
sabar dulu tunggu UU KEK.  Status Batam, Bintan dan Karimun ditetapkan
melalui PP No 46, 47, dan 48 tahun 2007 dengan mengunakan payung induk UU No
1/2007 (Perppu mekanisme penetatapan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan
Bebas). Kenapa harus Perppu? Karena Batam, Bintan dan Karimun ingin cepat
tangkap investasi dari Singapura dsk sebelum investor pada lari karena
statusnya gak jelas.. katanya sih begitu alasannya..

Nah di luar dari segala perbincangan tentang  manfaat dan cost dari status
KEK, sedikit berbagi berita setelah beberapa kali terlibat diskusi tentang
rencana KEK  Jakarta. DKI akan siapkan Kawasan Ekonomi Khusus Marunda (yang
nantinya kalau tak salah akan dinamakan Kawasan Ekonomi Khusus Ali Sadikin).
Langkah pertama yang dilakukan adalah mapping, mau jualan apa? siapa
pesaingnya dan apa implikasi terhadap kebutuhan infrastruktur, pelabuhan,
listrik, air bersih. Diskusi dan perdebatan yang menarik adalah, apakah DKI
perlu bangun pelabuhan baru Marunda atau cukup memanfaatkan pelabuhan Priok
yang ada (revitalisasi) karena kapasitas Priok 4 juta TEU's kadang kadang
belum terpakai. Jika mau bangun pelabuhan Marunda, duitnya dari mana, lantas
gimana cost recoverynya.

Diskusi yang juga menarik adalah, mau nggak kapal kapal kartel 'seven
sister" mampir ke Priok dan Marunda... soale, sekarang ini isi kapal penuh
ke luar tapi kosong ke dalam...sudah diantisipasi belum..jangan-jangan nanti
pelabuhannya  mubazir. Opung Oloan Siregar sempat tanya apa memang nanti DKI
hanya dapat duit dari sewa tanah dan bangunan saja plus mampu menyediakan
lapangan kerja untuk penduduk Jakarta, sementara pajak masuk pusat. Pak
Tommy Firman ingatkan, di tengah krisis global dewasa waspadai berkurangnya
minat investor masuk.

Ada statemen kolega saya yang cukup menantang dalam sebuah diskusi..
"emangnya kalo gak ada KEK propinsi gak hidup apa.. KEK bukan segala-galanya
lah Lha KEK di negara lain juga banyak yang mati koq ..gak semua KEK di Cina
berhasil.. he he he..

Kayaknya yang lebih "genit" malah daerah, bukan pusat, padahal pajaknya akan
masuk pusat.. mungkin lho..Segitu dulu pak Fajar pancingan dari saya.

Salam dari Negeri di atas Angin


Nuzul Achjar

Kirim email ke