Bang Nuzul ysh,

Nampaknya ada kesan lebih "ketat" terkait dengan "berboedi"?

Salam,
R Munir

-----Original Message-----
From: Nuzul Achjar <[email protected]>
Sent: Saturday, May 16, 2009 10:05 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Inisiatif Daerah? Bgmana mengkolaborasikannya dg 
Inisiatif Pusat....



Pak Fadjar dan teman-teman Referensiers Ysh,
 
 Rasanya Bitung belum punya status formal sebagai salah satu KEK di Indonesia 
(CMIIW), sebagaimana berita di media yang diposting pak Fajar. UU KEK masih 
"nyangkut" di DPR. Menurut informasi sudah 18 provinsi yang melamar bahkan ada 
yang mengatakan sudah 21 propinsi. Menurut bocoran yang tentu tidak dijamin 
kebenarannya, kemungkinan hanya 3 yang akan disetujui pemerintah, termasuk DKI 
Jakarta di antaranya. Kalau "Berbudi" menang 2009, dan koordinasi penetapan ada 
ditangan "Budi", maka bisa diperkirakanlah seperti apa ketatnya seleksi..
 
Jadi kalau Bitung ingin status seperti Batam, Bintan dan Karimun, harus sabar 
dulu tunggu UU KEK.  Status Batam, Bintan dan Karimun ditetapkan melalui PP 
No 46, 47, dan 48 tahun 2007 dengan mengunakan payung induk UU No 1/2007 
(Perppu mekanisme penetatapan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas). 
Kenapa harus Perppu? Karena Batam, Bintan dan Karimun ingin cepat tangkap 
investasi dari Singapura dsk sebelum investor pada lari karena statusnya gak 
jelas.. katanya sih begitu alasannya..
 
Nah di luar dari segala perbincangan tentang  manfaat dan cost dari status KEK, 
sedikit berbagi berita setelah beberapa kali terlibat diskusi tentang rencana 
KEK  Jakarta. DKI akan siapkan Kawasan Ekonomi Khusus Marunda (yang nantinya 
kalau tak salah akan dinamakan Kawasan Ekonomi Khusus Ali Sadikin). Langkah 
pertama yang dilakukan adalah mapping, mau jualan apa? siapa pesaingnya dan apa 
implikasi terhadap kebutuhan infrastruktur, pelabuhan, listrik, air 
bersih. Diskusi dan perdebatan yang menarik adalah, apakah DKI perlu bangun 
pelabuhan baru Marunda atau cukup memanfaatkan pelabuhan Priok yang ada 
(revitalisasi) karena kapasitas Priok 4 juta TEU's kadang kadang belum 
terpakai. Jika mau bangun pelabuhan Marunda, duitnya dari mana, lantas gimana 
cost recoverynya.
 
Diskusi yang juga menarik adalah, mau nggak kapal kapal kartel 'seven sister" 
mampir ke Priok dan Marunda... soale, sekarang ini isi kapal penuh ke luar tapi 
kosong ke dalam...sudah diantisipasi belum..jangan-jangan nanti pelabuhannya  
mubazir. Opung Oloan Siregar sempat tanya apa memang nanti DKI hanya dapat duit 
dari sewa tanah dan bangunan saja plus mampu menyediakan lapangan kerja untuk 
penduduk Jakarta, sementara pajak masuk pusat. Pak Tommy Firman ingatkan, di 
tengah krisis global dewasa waspadai berkurangnya minat investor masuk.
 
Ada statemen kolega saya yang cukup menantang dalam sebuah diskusi.. "emangnya 
kalo gak ada KEK propinsi gak hidup apa.. KEK bukan segala-galanya lah Lha KEK 
di negara lain juga banyak yang mati koq ..gak semua KEK di Cina berhasil.. he 
he he..
 
Kayaknya yang lebih "genit" malah daerah, bukan pusat, padahal pajaknya akan 
masuk pusat.. mungkin lho..Segitu dulu pak Fajar pancingan dari saya.
 
Salam dari Negeri di atas Angin
 
 
Nuzul Achjar
 
 
 
 
 
 

Kirim email ke