mengutip
*"kemudian brkali krn yg minta adlh sesama planner dan dari almamater yg
sama pula… maka sambutan pun cepat mengalir..….**"*
memang selama ini ada kecenreungan terhadap planner dan almamater ya???
saya saja tidak tau orang2 di sini lulusan mana dan apakah mereka planner
atau bukan, kecuali yang memang saya kenal secara pribadi..
saya pikir kutipan ini telah mengkerdilkan pendapat2 yang baik dari orang
yang berkecimpung di milis ini..
saya selalu berpikir milis ini ada forum yang baik dan di isi oleh orang2
yang punya niat baik..
tidak ada isitilah kerakyatan atau kebangsaan (itu istilah di politik saja
lah....)
saya mengganggap diskusi gender ini seperti orang bule makan nasi uduk plus
pecel lele di pinggir jalan...
orang bule itu kan biasanya makanan nya Hotdog, beef steak , sedikit nasi
dan setreotipe makanan asing lainnya...
tapi gak papa juga kan sekali waktu nyobain nasi uduk pecel lele di jalan
lamandau, jakarta selatan...gak bakal sakit tipus lalu masuk rumah sakit..
toh nanti pada saat pulang ke rumah, dia akan kembali makan makanan "normal"
mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, saya harus sampaikan ini karena
saya kurang berkenan dengan kutipan pa aby,..

sekali lagi saya mohon maaf...

2009/5/25 hengky abiyoso <[email protected]>

>
>
>  Milisters semuanya ysh,
>
> Jg selamat datang dimilis kerakyatan ttg  tata ruang ya Ibu Prof. Budhy
> Tjahjati yth……
>
> Debat ttg gender dan tata ruang ini saya kira dpt segera dibuat
> kompilasinya juga… mengingat demikian banyaknya tgp yg masuk…… Walau judul
> posting ini adalah .moderasi' tetapi belum tentu juga ini adalah moderasi yg
> baik dari saya......
>
> Sekedar utk kembali mengingatkan……. Topik ini tak ada yg sengaja merancang
> awalannya…. dimulai dari bu Nita minta informasi ttg waterfront Jkt……
> kemudian brkali krn yg minta adlh sesama planner dan dari almamater yg sama
> pula… maka sambutan pun cepat mengalir..….
>
> Tak kurang komentar utk  perkara yg kecilpun muncul… seperti ketika bu
> Nita menyapa milisters dengan “…bpk2 sekalian” krn alasan yg masuk akal….
> maka mas Fajar yg rupanya extra peduli genderpun nyeletuk….. “kok yg disapa
> hanya bpk2… lha yg ibu2 kok tidak?”… dan dari sinilah kemudian diskusi/
> debat berkembang menjadi masalah “gender dan pembangunan keruangan”……
> utamanya setelah muncul posting dari bu Mila…. Yg nampaknya adalah ‘pejuang
> gender’ aktif dimilis ini……
>
> Sementara itu bu Nita yg adlh sesama wanita nampaknya tidak terlampau
> melihat gnder dan kemajuan dari perjuangan yg dicapai  di Indonesia
> tidaklah buruk2 amat……. Mungkin ini didasari oleh banyak fakta bahwa peran
> terhormat telah banyak diberikan kepada para wanita di Indonesia… spt ttg
> adanya presiden wanita,  gubernur, professor, bupati. hakim, jaksa,
> jendral polisi bahkan juga pilot pesawat tempur wanita… walau tak kalah
> memprihatinkan maslh terdapat juga pekerjaan2 berat dan kasar dilakukan oleh
> wanita spt pekerja penyapu jalan, pengaspal jalan, pemecah batu dsb…..
>
> SIkap ‘oke’ dari bu Nita  ini tentu menjadi angin buritan pendorong layar
> yg bagi bapak2 yg merasa kok ‘masih dipersalahkan’ pdhal masalah gender
> dianggap tlh ditangani dgn cukup baik……  dan mengalirlah diskusi yg
> semakin seru dimana pesertanya tak hanya dekat2 didalam negeri  saja…  namun
> bahkan juga dari kandidat doctor perencanaan  sekaligus merangkap master
> home cooking chef kita dari Paris, jg dari negeri eropa lain dan benua
> lainnya juga…….
>
> Kalau kita perhatikan….. sebenarnyapun ibu Mila yg pejuang gender dimilis
> inipun awalnya hanya berkomentar ttg “gender in planning” ( : “…..*Selama
> ini saya berharap ada temen-temen yang mendiskusikan Gender in Planningdan 
> baru sekarang ada yang membicarakannya
> **….”*; May 19, 2009 10:04 PM)…… tanpa pretensi harapan bu Mila yg
> mencolok ttg  *aspek spasial* didalamnya….. karena kita tahu ….. dari sisi
> pandang keruangan… pembangunan setidaknya bisa digolongkan dalam 2 segi …
> ialah “spatial planning and or development”(planologik, arsitektural, sipil)
> … maupun juga “non-spatial planning and/or development”(politik, hukum,
> sosial, agama, ekonomi, sosial, dsb)……… tetapi mas Fajar rupanya sebelum itu
> tlh lbh dulu  kelewat rajin dan maju berasumsi ttg “Gender in urban and
> regional (spatial) development planning”…… yg ibu Nita yg notabene juga
> wanita asli beneran dan spt merasa gender had likely been managed pretty
> well in indonesiapun sampai mempertanyakan juga … bgmn ya hubungan antara
> “gender dan  perenc wilayah dan kota” itu?...........
>
> Kita tentu secara umum mengerti bahwa maka terdapat perjuangan gender… maka
> awalnya tentu (masih) terdapat praktek kehidupan  dimasyarakat ttg
> penyia-nyiaan, pembedaan perlakuan dan banyak sikap2 serta pandangan yg
> kurang menghargai derajat  dan hak2 wanita……
>
> Dan kemudian kalau spt Ibu Nita yg adlh wanita intelektualpun dpt
> mengatakan ttg garis besar bahwa masalah gender l.k. telah ditangani cukup
> baik di Indonesia……  dan kita perlu menimbang pula bhw dari hubungan
> gender dan pembangunan itu  kita sendiri melihat bahwa…. “pembangunan” itu
> sendiri pada dasarnya terdiri atas “pembangunan spasial” dan "pembangunan
> non-spasial”…… dan sementara itu kita sendiripun melihat bahwa konsen kita
> tentu lbh pada “pembangunan spasial”  yg itupun sudah dapat dikatakan
> sebagai “belum menggembirakan”……   terlebih bahwa  jangankan kok berpikir
> ttg “gender dlm pembangunan keruangan”…… lha wong dengan tak kunjung
> munculnya “hasil signifikan manfaat positip pembangunan keruangan dalam
> pembangunan nasional”… itu sajapun telah menjadi cukup alasan bagi para
> pejuang “pembangunan non-spasial” untuk mengesampingkan pentingnya
> “pembangunan keruangan” lbh dari “pembangunan non-keruangan” kok………
>
> Maka kalau begitu…….. tidakkah kita seyogyanya berpikir kembali  ttg
> sejauh mana  planners seyogyanya perlu membatasi diri konsennya hanya
> sampai pada wilayah2 … dimana secara teknis ia  (pemecahaan secara “teknik
> keruangan”) telah jelas amat sangat diperlukan pemecahannya… dan ttg apakah
> secara teknis pula "pemecahan secara keruangan” itu memang dimungkinkan……
> krn pada dasarnya masyarakat teknik  itu secara umum dengan senang hati
> tak memiliki resistensi apapun  thd perjuangan gender…… seperti pada
> proyek luar  angkasa misalnya…. Apa keberatannya kalau astronot wanita
> disertakan pula?.... bukankah malah suasana bisa jadi ‘hangat’ diluar
> angkasa sana?.....menghadapi jalan2 raya yg macet maka dibuat mobil dengan
> transmisi otomatik.....dijepang disediakan bus khusus wanita.... ditempat
> umum dipisahkan antara toilet wanita dan pria.... sekolah juga ada 2 rupa...
> wanita mau nyampur dgn pria juga boleh....  mau khusus eksklusif juga
> boleh... di bank dan dinotaris para suami diharuskan menyertakan persetujuan
> istrinya dlm perjanjian2..... dsb.
>
> Perkara ‘membatasi diri’ pada masalah ‘gender in spatial planning’ …..Itu
> saya kira perlu dikemukakan… mengingat bahwa jangankan kok anda mau
> mengurusi “gender in spatial planning”…… Lha wong kepada para otoritas dan
> aktivis “pembangunan non-spasial” itu saja… saat ini “pembangunan spasial”
> harus berjuang kelewat keras dan berat utk meyakinkan mrk  bhw
> “pembangunan spasial” itu amat strategis dan perlu kok…… justru ini
> mengingat krn dimata mereka “pembangunan keruangan (spasial) yg strategis
> dan perlu” itu sendiri ternyata belum menunjukkan bukti2 nyatanya………
>
> Sementara itu seperti apa yg disinggung oleh Ibu Prof. Budhy Tjahjati
> menyangkut  penggeledahan fisik yg dilakukan kepada buruh2 pabrik
> sekeluarnya mereka dari tempat kerja yg dikatakan oleh beliau sebagai
> merendahkan martabat wanita…..… sebenarnya itu juga sikap kritis yang
> didengung2kan oleh para pejuang gender yg kelewat bersemangat saja dan
> mempengaruhi pendengaran ibu Yati….yang  itu kiranya tidak terlampau tepat
> juga…….. sebab menyangkut keamanan properti perusahaan2 manufaktur itu….
> Memangnya itu tidak perlukah… ataukah prosedur keamanan yg bgmn lagi yg
> tepat dan efektif dilakukan?...........
>
> Kalau anda berkenan berkunjung kekawasan2 industri….. anda akan mendapatkan
> bahwa prosedur demikian diterapkan utamanya lbh pada  industri2 yg
> memproduksi barang2 komponen yg berukuran kecil dan sangat mudah masuk
> kedalam saku spt industri elektronika atau farmasi  misalnya……. Dan
> kiranya prosedur demikian tidak akan diterapkan pada perusahaan pembuat es
> krim, tekstil, pabrik panci, pabrik pembuat tiang listrik  atau pabrik
> mebel misalnya……..
>
> Prosedur pemeriksaan fisik itupun utk pekerja wanita dilakukan oleh satpam
> wanita.. dan utk pekerja pria dilakukan oleh satpam pria….. dan baik para
> buruh maupun para satpam pemeriksa juga pada umumnya melakukan ritual harian
> itu dengan sikap dan wajah  expressionless dan tak pernah
> mempermasalahkan…..  karena masing2 pihak saling memahami apa tujuan baik
> dari prosedur demikian itu…… para satpam melakukannya sekedar malah tak
> lebih seperti pendeta sedang memberkati para jamahnya saja….  Hnya dlm
> bbrp detik menyentuhkan jari2nya pada bagian saku kiri lalu saku kanan
> didada lalu pindah kekantong celana kiri dan kanan semuanya hanya dlm
> bilangan bbrp detik saja  pada tiap orangnya …… krn pekerja dlm shift
> biasanya masuk dan keluar ruang kerja secara bersama dan dalam jumlah cukup
> besar… dan hrs keluar satu-persatu dipintu…
>
> Bisa saja pada prosedur demikian ada  saja satpam wanita yg mengalami
> kelainan spt lesbis atau satpam pria gay misalnya dan memanfaatkan
> kesempatan menggrayang2 tubuh yg dipriksanya….. tapi itu juga tak hampir
> mungkin dpt terjadi…… kecuali hal demikian malah lbh banyak terdengar
> dikamar tahanan polisi…..dan urusannya juga pidana dan dgn KUHP
> pula......dan sangsi pidana ini jelas pasti adalah pasti dlm kerangka
> penghargaan pada gender.....
>
> Dgn adanya prosedur2 demikian, niatan mencuri barang2 kecil dengan
> menyelipkannya dibadan atau didalam tas kiranya dapat diredam dipabrik2….
>  Dan kita harus tidak naif utk menyikapi masalah tsb…… krn kita juga
> melihat kenyataan spt para pekerja wanita pada tingkat intelektual tinggi
> seperti bgmn ada  jaksa wanita menjual barang bukti,   officer bank wanita
> membobol rekening nasabah besar, pensiunan hakim agung wanita di MA
> dihukum penjara krn perdagangan perkara,  wanita didepartemen yg dicokok
> KPK dsb. .. memperlihatkan bhw dgn inteletualitas tinggi serta penghasilan
> relatif tinggi dan mapanpun manusia (pria dan wanita ) msh saja tergoda utk
> melakuan perbuatan kriminal tercela…… apalagi pada tingkat rendahan......
>
> Jadi saya kira… setelah kita bbrp hari ini sejenak diajak berekreasi cukup
> jauh untuk masuk didunia ‘gender in planning’ seolah urusan utama planners
> sudah beres (sing pertama ngajak2 mas Fajar lho yo?..:-))……biarlah
> perjuangan gender yg malah msh lbh banyak terjadi diranah "non spasial"
> seperti dibidang politik dan hukum biarlah itu terus berjalan.....
>
> Kalau ada yg katakan dgn bersemangat gender dan kemiskinan adalah  tul
> betull berhimpit..... janganlah anda lalu merasa punya alasan kuat bergenit2
> memilih mendahulukan mengurus gender and spatial planningnya  seolah masalah
> gender hanya lbh banyak diranah spasialnya saja..... dan malah
> mengemudiankan "planning dan penanggulangan kemiskinan".....atau lebih
> eksplisitnya lagi adalah "spatial planning dan perluasan kesempatan
> kerja"...... atau giliran mengapresiasi "planning dan perluasan kesempatan
> kerja" janganlah lalu pula mendahulukan imaji ttg TKW dan TKI ke LN... krn
> lalu dimana aspek spasial domestiknya........
>
> Maka marilah kita segera kembali tersadar kedunia nyata kita yg lebih
> mendesak di spatial planning…..… termasuk bgmn kita hrs menyikapi paradigma
> yg terus berkembang dalam tantangan  perencanaan  ruang nasional kita……
> termasuk bgmn hrs meyakinkan dan secepatnya menunjukkan bukti nyata  pada
> pihak yg luas bhw "pembangunan keruangan" tak kalah strategis dengan
> "pembangunan non-keruangan"…… dan  mengingatkan diri kita sendiri utk  jangan
> lupa bahwa "pembangunan keruangan" juga tak bisa berdiri sendiri… dan amat
> perlu menyertakan aspek ‘non-keruangan’ didalamnya….. seperti bhw perlu juga
> updating bhw paradigma  keruangan tak lagi hanya bergeser  dari fisik dan
> ekologi keekonomi dan sosial saja.... yg terakhir adalah diantara menyangkut
> *migrasi * sebagai bagian dari anak persoalan *demografi*……dimana utk  itu
> kita perlu berpikir ttg kata kunci *relokasi industri manufaktur*....
> tetapi kalau itu hampir tak mungkin.....maka kita perlu kotak-katik
> teknologi/ teknik keruangan seperti ttg perlunya
>
> *menyemai filialisasi industri manufaktur*  dan kita tak boleh terlambat
> mengantisipasinya dgn spt. malah bergenit2 utk hal yang bukanlah menjadi
> puncak urgensi masyarakat perencanaan ruang yg juga sebenarnya sedang
> ditunggu2 oleh seluruh bangsa ini...…...
>
>
>
> Salam,
>
>  
>



-- 
Elkana Catur Hardiansah
CPMU USDRP-Planning Officer
Directorate Programme Development
Directorate General Human Settlements
Ministry of Public Works
http://catuy.blogspot.com
http://perencanamuda.wordpress.com/

Kirim email ke