Milisters semuanya ysh,
Jg selamat datang dimilis kerakyatan ttg tata ruang ya Ibu Prof. Budhy
Tjahjati yth……
Debat ttg gender dan tata ruang ini saya kira dpt segera dibuat kompilasinya
juga… mengingat demikian banyaknya tgp yg masuk…… Walau judul posting ini
adalah .moderasi' tetapi belum tentu juga ini adalah moderasi yg baik dari
saya......
Sekedar utk kembali mengingatkan……. Topik ini tak ada yg sengaja merancang
awalannya…. dimulai dari bu Nita minta informasi ttg waterfront Jkt…… kemudian
brkali krn yg minta adlh sesama planner dan dari almamater yg sama pula… maka
sambutan pun cepat mengalir..….
Tak kurang komentar utk perkara yg kecilpun muncul… seperti ketika bu Nita
menyapa milisters dengan “…bpk2 sekalian” krn alasan yg masuk akal…. maka mas
Fajar yg rupanya extra peduli genderpun nyeletuk….. “kok yg disapa hanya bpk2…
lha yg ibu2 kok tidak?”… dan dari sinilah kemudian diskusi/ debat berkembang
menjadi masalah “gender dan pembangunan keruangan”…… utamanya setelah muncul
posting dari bu Mila…. Yg nampaknya adalah ‘pejuang gender’ aktif dimilis ini……
Sementara itu bu Nita yg adlh sesama wanita nampaknya tidak terlampau melihat
gnder dan kemajuan dari perjuangan yg dicapai di Indonesia tidaklah buruk2
amat……. Mungkin ini didasari oleh banyak fakta bahwa peran terhormat telah
banyak diberikan kepada para wanita di Indonesia… spt ttg adanya presiden
wanita, gubernur, professor, bupati. hakim, jaksa, jendral polisi bahkan juga
pilot pesawat tempur wanita… walau tak kalah memprihatinkan maslh terdapat juga
pekerjaan2 berat dan kasar dilakukan oleh wanita spt pekerja penyapu jalan,
pengaspal jalan, pemecah batu dsb…..
SIkap ‘oke’ dari bu Nita ini tentu menjadi angin buritan pendorong layar yg
bagi bapak2 yg merasa kok ‘masih dipersalahkan’ pdhal masalah gender dianggap
tlh ditangani dgn cukup baik…… dan mengalirlah diskusi yg semakin seru dimana
pesertanya tak hanya dekat2 didalam negeri saja… namun bahkan juga dari
kandidat doctor perencanaan sekaligus merangkap master home cooking chef kita
dari Paris, jg dari negeri eropa lain dan benua lainnya juga…….
Kalau kita perhatikan….. sebenarnyapun ibu Mila yg pejuang gender dimilis
inipun awalnya hanya berkomentar ttg “gender in planning” ( : “…..Selama ini
saya berharap ada temen-temen yang mendiskusikan Gender in Planning dan baru
sekarang ada yang membicarakannya….”; May 19, 2009 10:04 PM)…… tanpa pretensi
harapan bu Mila yg mencolok ttg aspek spasial didalamnya….. karena kita tahu
….. dari sisi pandang keruangan… pembangunan setidaknya bisa digolongkan dalam
2 segi … ialah “spatial planning and or development”(planologik, arsitektural,
sipil) … maupun juga “non-spatial planning and/or development”(politik, hukum,
sosial, agama, ekonomi, sosial, dsb)……… tetapi mas Fajar rupanya sebelum itu
tlh lbh dulu kelewat rajin dan maju berasumsi ttg “Gender in urban and
regional (spatial) development planning”…… yg ibu Nita yg notabene juga wanita
asli beneran dan spt merasa gender had likely been managed pretty
well in indonesiapun sampai mempertanyakan juga … bgmn ya hubungan antara
“gender dan perenc wilayah dan kota” itu?...........
Kita tentu secara umum mengerti bahwa maka terdapat perjuangan gender… maka
awalnya tentu (masih) terdapat praktek kehidupan dimasyarakat ttg
penyia-nyiaan, pembedaan perlakuan dan banyak sikap2 serta pandangan yg kurang
menghargai derajat dan hak2 wanita……
Dan kemudian kalau spt Ibu Nita yg adlh wanita intelektualpun dpt mengatakan
ttg garis besar bahwa masalah gender l.k. telah ditangani cukup baik di
Indonesia…… dan kita perlu menimbang pula bhw dari hubungan gender dan
pembangunan itu kita sendiri melihat bahwa…. “pembangunan” itu sendiri pada
dasarnya terdiri atas “pembangunan spasial” dan "pembangunan non-spasial”……
dan sementara itu kita sendiripun melihat bahwa konsen kita tentu lbh pada
“pembangunan spasial” yg itupun sudah dapat dikatakan sebagai “belum
menggembirakan”…… terlebih bahwa jangankan kok berpikir ttg “gender dlm
pembangunan keruangan”…… lha wong dengan tak kunjung munculnya “hasil
signifikan manfaat positip pembangunan keruangan dalam pembangunan nasional”…
itu sajapun telah menjadi cukup alasan bagi para pejuang “pembangunan
non-spasial” untuk mengesampingkan pentingnya “pembangunan keruangan” lbh dari
“pembangunan non-keruangan” kok………
Maka kalau begitu…….. tidakkah kita seyogyanya berpikir kembali ttg sejauh
mana planners seyogyanya perlu membatasi diri konsennya hanya sampai pada
wilayah2 … dimana secara teknis ia (pemecahaan secara “teknik keruangan”)
telah jelas amat sangat diperlukan pemecahannya… dan ttg apakah secara teknis
pula "pemecahan secara keruangan” itu memang dimungkinkan…… krn pada dasarnya
masyarakat teknik itu secara umum dengan senang hati tak memiliki resistensi
apapun thd perjuangan gender…… seperti pada proyek luar angkasa misalnya….
Apa keberatannya kalau astronot wanita disertakan pula?.... bukankah malah
suasana bisa jadi ‘hangat’ diluar angkasa sana?.....menghadapi jalan2 raya yg
macet maka dibuat mobil dengan transmisi otomatik.....dijepang disediakan bus
khusus wanita.... ditempat umum dipisahkan antara toilet wanita dan pria....
sekolah juga ada 2 rupa... wanita mau nyampur dgn pria juga boleh.... mau
khusus
eksklusif juga boleh... di bank dan dinotaris para suami diharuskan
menyertakan persetujuan istrinya dlm perjanjian2..... dsb.
Perkara ‘membatasi diri’ pada masalah ‘gender in spatial planning’ …..Itu saya
kira perlu dikemukakan… mengingat bahwa jangankan kok anda mau mengurusi
“gender in spatial planning”…… Lha wong kepada para otoritas dan aktivis
“pembangunan non-spasial” itu saja… saat ini “pembangunan spasial” harus
berjuang kelewat keras dan berat utk meyakinkan mrk bhw “pembangunan spasial”
itu amat strategis dan perlu kok…… justru ini mengingat krn dimata mereka
“pembangunan keruangan (spasial) yg strategis dan perlu” itu sendiri ternyata
belum menunjukkan bukti2 nyatanya………
Sementara itu seperti apa yg disinggung oleh Ibu Prof. Budhy Tjahjati
menyangkut penggeledahan fisik yg dilakukan kepada buruh2 pabrik sekeluarnya
mereka dari tempat kerja yg dikatakan oleh beliau sebagai merendahkan martabat
wanita…..… sebenarnya itu juga sikap kritis yang didengung2kan oleh para
pejuang gender yg kelewat bersemangat saja dan mempengaruhi pendengaran ibu
Yati….yang itu kiranya tidak terlampau tepat juga…….. sebab menyangkut
keamanan properti perusahaan2 manufaktur itu…. Memangnya itu tidak perlukah…
ataukah prosedur keamanan yg bgmn lagi yg tepat dan efektif
dilakukan?...........
Kalau anda berkenan berkunjung kekawasan2 industri….. anda akan mendapatkan
bahwa prosedur demikian diterapkan utamanya lbh pada industri2 yg memproduksi
barang2 komponen yg berukuran kecil dan sangat mudah masuk kedalam saku spt
industri elektronika atau farmasi misalnya……. Dan kiranya prosedur demikian
tidak akan diterapkan pada perusahaan pembuat es krim, tekstil, pabrik panci,
pabrik pembuat tiang listrik atau pabrik mebel misalnya……..
Prosedur pemeriksaan fisik itupun utk pekerja wanita dilakukan oleh satpam
wanita.. dan utk pekerja pria dilakukan oleh satpam pria….. dan baik para buruh
maupun para satpam pemeriksa juga pada umumnya melakukan ritual harian itu
dengan sikap dan wajah expressionless dan tak pernah mempermasalahkan…..
karena masing2 pihak saling memahami apa tujuan baik dari prosedur demikian
itu…… para satpam melakukannya sekedar malah tak lebih seperti pendeta sedang
memberkati para jamahnya saja…. Hnya dlm bbrp detik menyentuhkan jari2nya pada
bagian saku kiri lalu saku kanan didada lalu pindah kekantong celana kiri dan
kanan semuanya hanya dlm bilangan bbrp detik saja pada tiap orangnya …… krn
pekerja dlm shift biasanya masuk dan keluar ruang kerja secara bersama dan
dalam jumlah cukup besar… dan hrs keluar satu-persatu dipintu…
Bisa saja pada prosedur demikian ada saja satpam wanita yg mengalami kelainan
spt lesbis atau satpam pria gay misalnya dan memanfaatkan kesempatan
menggrayang2 tubuh yg dipriksanya….. tapi itu juga tak hampir mungkin dpt
terjadi…… kecuali hal demikian malah lbh banyak terdengar dikamar tahanan
polisi…..dan urusannya juga pidana dan dgn KUHP pula......dan sangsi pidana
ini jelas pasti adalah pasti dlm kerangka penghargaan pada gender.....
Dgn adanya prosedur2 demikian, niatan mencuri barang2 kecil dengan
menyelipkannya dibadan atau didalam tas kiranya dapat diredam dipabrik2…. Dan
kita harus tidak naif utk menyikapi masalah tsb…… krn kita juga melihat
kenyataan spt para pekerja wanita pada tingkat intelektual tinggi seperti bgmn
ada jaksa wanita menjual barang bukti, officer bank wanita membobol rekening
nasabah besar, pensiunan hakim agung wanita di MA dihukum penjara krn
perdagangan perkara, wanita didepartemen yg dicokok KPK dsb. .. memperlihatkan
bhw dgn inteletualitas tinggi serta penghasilan relatif tinggi dan mapanpun
manusia (pria dan wanita ) msh saja tergoda utk melakuan perbuatan kriminal
tercela…… apalagi pada tingkat rendahan......
Jadi saya kira… setelah kita bbrp hari ini sejenak diajak berekreasi cukup jauh
untuk masuk didunia ‘gender in planning’ seolah urusan utama planners sudah
beres (sing pertama ngajak2 mas Fajar lho yo?..:-))……biarlah perjuangan gender
yg malah msh lbh banyak terjadi diranah "non spasial" seperti dibidang politik
dan hukum biarlah itu terus berjalan.....
Kalau ada yg katakan dgn bersemangat gender dan kemiskinan adalah tul betull
berhimpit..... janganlah anda lalu merasa punya alasan kuat bergenit2 memilih
mendahulukan mengurus gender and spatial planningnya seolah masalah gender
hanya lbh banyak diranah spasialnya saja..... dan malah mengemudiankan
"planning dan penanggulangan kemiskinan".....atau lebih eksplisitnya lagi
adalah "spatial planning dan perluasan kesempatan kerja"...... atau giliran
mengapresiasi "planning dan perluasan kesempatan kerja" janganlah lalu pula
mendahulukan imaji ttg TKW dan TKI ke LN... krn lalu dimana aspek spasial
domestiknya........
Maka marilah kita segera kembali tersadar kedunia nyata kita yg lebih mendesak
di spatial planning…..… termasuk bgmn kita hrs menyikapi paradigma yg terus
berkembang dalam tantangan perencanaan ruang nasional kita…… termasuk bgmn
hrs meyakinkan dan secepatnya menunjukkan bukti nyata pada pihak yg luas bhw
"pembangunan keruangan" tak kalah strategis dengan "pembangunan
non-keruangan"…… dan mengingatkan diri kita sendiri utk jangan lupa bahwa
"pembangunan keruangan" juga tak bisa berdiri sendiri… dan amat perlu
menyertakan aspek ‘non-keruangan’ didalamnya….. seperti bhw perlu juga updating
bhw paradigma keruangan tak lagi hanya bergeser dari fisik dan ekologi
keekonomi dan sosial saja.... yg terakhir adalah diantara menyangkut migrasi
sebagai bagian dari anak persoalan demografi……dimana utk itu kita perlu
berpikir ttg kata kunci relokasi industri manufaktur.... tetapi kalau itu
hampir tak mungkin.....maka kita
perlu kotak-katik teknologi/ teknik keruangan seperti ttg perlunya
menyemai filialisasi industri manufaktur dan kita tak boleh terlambat
mengantisipasinya dgn spt. malah bergenit2 utk hal yang bukanlah menjadi puncak
urgensi masyarakat perencanaan ruang yg juga sebenarnya sedang ditunggu2 oleh
seluruh bangsa ini...…...
Salam,