Rekans ysh, Hal yang selalu sulit dan memerlukan upaya ekstra dalam menjelaskan, apalagi memperjuangkannya, dari pengalaman adalah yang sifatnya: cross-cutting issues, dan inter-disiplin. Karena ada dimana-mana itu bisa juga berarti "tak bertuan". Kemiskinan, gender mungkin termasuk yang cross-cutting issues. Sementara penataan ruang, juga lingkungan hidup, mungkin termasuk yang inter-disiplin. Khusus penetaan ruang, saya setuju dengan Bung Fajar, mesti pinter-pinter dan responsif terhadap isyu yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, atau yang sedang "in". Kalau tidak maka sulit untuk menarik perhatian pengambil keputusan. Beda dengan sektor dasar, misalnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, tempat tinggal yang selamanya selalu menjadi tuntutan masyarakat dan tujuan pembangunan. Sehingga penataan ruang mungkin akan lebih menarik kalau responsif terhadap "masalah kebutuhan dasar" tersebut. Jadi mungkin ya mesti jeli mangambil peluang dan celah-celah untuk masuk menjadi perhatian penentu kebijakan. Salam, Risfan Munir
--- On Sun, 5/24/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Moderasi Diskusi Gender dan Perencanaan Ruang To: [email protected] Date: Sunday, May 24, 2009, 11:03 PM He... he... he... Pak Aby ini lucu juga ya Pak.. Katanya mau me-moderasi, tapi kok lebih mengedepankan pendapat sendiri, he... he... (piss ya Pak....). Sebetulnya, inti dari yg saya harapkan dalam "pemancingan" dengan nyinggung persoalan sosial (gender) dengan menggunakan posting-nya Mbak Nita terdahulu ya serupa dengan apa yg Pak Aby inginkan..., yaitu mengajak Bapak-bapak, Ibu-ibu dan rekan-rekan milister ysh semua untuk lebih berpikir kritis, bahwa pembangunan keruangan (spatial development? , atau baca: pendekatan spatial/keruangan dalam pembangunan) memiliki suatu nilai strategis yang kontribusinya dalam pembangunan bisa sama pentingnya dengan kontribusi pembangunan sektoral... Setuju dengan pendapat Mas Eko di posting terdahulu,permasala han-permasalahan yang bisa menjadi bagian dari perhatian-perhatian (concerns) pembangunan spasial bisa beragam dan mungkin berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah, seperti halnya juga bisa berbeda-beda dengan adanya perbedaan skala/level dari wilayah tersebut (lokal, kota, kabupaten, propinsi, dsb). Jadi permasalahan gender bisa juga menjadi bagian dari permasalahan dimana para perencana pembangunan ruang bisa ikut berkontribusi di dalamnya, sama haknya dengan permasalahan kemiskinan dan ketimpangan wilayah yang perencana juga bisa ikut berkontribusi di dalamnya bersama-sama dengan para ahli pembangunan/ developmentalis dari bidang-bidang lainnya. Namun sekali lagi, persoalan gender atau pun juga persoalan kemiskinan dan persoalan ketimpangan antar-wilayah, bukan merupakan satu-satunya permasalahan yang perlu menjadi perhatian dari para perencana dan/atau pemerhati pembangunan wilayah dan kota. Saya pikir, ini disebabkan oleh adanya sifat kompleks (complexity) dan saling keterkaitan (inter-connectivity) dalam pembangunan. Saya yakin bahwa, apabila para perencana pembangunan spasial juga bisa memberikan kontribusi positif terhadap permasalahan- permasalahan seperti itu, maka kehadiran mereka dan kontribusinya dari pendekatan ruang/kewilayahan dalam pencarian solusi dari permasalahan- permasalahan pembangunan juga akan semakin dibutuhkan. Sehingga peran perencana wilayah dan kota tidak hanya identik dengan penyusunan RTRW dan sejenisnya saja. Karena penyusunan RTRW seperti itu hanya merupakan sebagian dari peran yang bisa dilakukan oleh perencana pembangunan wilayah dan kota dalam pembangunan. NB: Ikut menyambut kehadiran Ibu Yati dalam mailing list ini, Bu... Semoga, terutama kami yang masih muda, bisa ikut menikmati curahan pendapat Ibu yang pasti akan bisa memperkaya pemahaman kami..... Salam, Fadjar PWK Undip --- On Mon, 5/25/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Moderasi Diskusi Gender dan Perencanaan Ruang To: refere...@yahoogrou ps.com Cc: pl...@yahoogroups. com Date: Monday, May 25, 2009, 9:51 AM Milisters semuanya ysh, Jg selamat datang dimilis kerakyatan ttg tata ruang ya Ibu Prof. Budhy Tjahjati yth…… Debat ttg gender dan tata ruang ini saya kira dpt segera dibuat kompilasinya juga… mengingat demikian banyaknya tgp yg masuk…… Walau judul posting ini adalah .moderasi' tetapi belum tentu juga ini adalah moderasi yg baik dari saya...... Sekedar utk kembali mengingatkan……. Topik ini tak ada yg sengaja merancang awalannya…. dimulai dari bu Nita minta informasi ttg waterfront Jkt…… kemudian brkali krn yg minta adlh sesama planner dan dari almamater yg sama pula… maka sambutan pun cepat mengalir..…. Tak kurang komentar utk perkara yg kecilpun muncul… seperti ketika bu Nita menyapa milisters dengan “…bpk2 sekalian” krn alasan yg masuk akal…. maka mas Fajar yg rupanya extra peduli genderpun nyeletuk….. “kok yg disapa hanya bpk2… lha yg ibu2 kok tidak?”… dan dari sinilah kemudian diskusi/ debat berkembang menjadi masalah “gender dan pembangunan keruangan”…… utamanya setelah muncul posting dari bu Mila…. Yg nampaknya adalah ‘pejuang gender’ aktif dimilis ini…… Sementara itu bu Nita yg adlh sesama wanita nampaknya tidak terlampau melihat gnder dan kemajuan dari perjuangan yg dicapai di Indonesia tidaklah buruk2 amat……. Mungkin ini didasari oleh banyak fakta bahwa peran terhormat telah banyak diberikan kepada para wanita di Indonesia… spt ttg adanya presiden wanita, gubernur, professor, bupati. hakim, jaksa, jendral polisi bahkan juga pilot pesawat tempur wanita… walau tak kalah memprihatinkan maslh terdapat juga pekerjaan2 berat dan kasar dilakukan oleh wanita spt pekerja penyapu jalan, pengaspal jalan, pemecah batu dsb….. SIkap ‘oke’ dari bu Nita ini tentu menjadi angin buritan pendorong layar yg bagi bapak2 yg merasa kok ‘masih dipersalahkan’ pdhal masalah gender dianggap tlh ditangani dgn cukup baik…… dan mengalirlah diskusi yg semakin seru dimana pesertanya tak hanya dekat2 didalam negeri saja… namun bahkan juga dari kandidat doctor perencanaan sekaligus merangkap master home cooking chef kita dari Paris, jg dari negeri eropa lain dan benua lainnya juga……. Kalau kita perhatikan….. sebenarnyapun ibu Mila yg pejuang gender dimilis inipun awalnya hanya berkomentar ttg “gender in planning” ( : “…..Selama ini saya berharap ada temen-temen yang mendiskusikan Gender in Planning dan baru sekarang ada yang membicarakannya….”; May 19, 2009 10:04 PM)…… tanpa pretensi harapan bu Mila yg mencolok ttg aspek spasial didalamnya….. karena kita tahu ….. dari sisi pandang keruangan… pembangunan setidaknya bisa digolongkan dalam 2 segi … ialah “spatial planning and or development”(planologik, arsitektural, sipil) … maupun juga “non-spatial planning and/or development”(politik, hukum, sosial, agama, ekonomi, sosial, dsb)……… tetapi mas Fajar rupanya sebelum itu tlh lbh dulu kelewat rajin dan maju berasumsi ttg “Gender in urban and regional (spatial) development planning”…… yg ibu Nita yg notabene juga wanita asli beneran dan spt merasa gender had likely been managed pretty well in indonesiapun sampai mempertanyakan juga … bgmn ya hubungan antara “gender dan perenc wilayah dan kota” itu?........ ... Kita tentu secara umum mengerti bahwa maka terdapat perjuangan gender… maka awalnya tentu (masih) terdapat praktek kehidupan dimasyarakat ttg penyia-nyiaan, pembedaan perlakuan dan banyak sikap2 serta pandangan yg kurang menghargai derajat dan hak2 wanita…… Dan kemudian kalau spt Ibu Nita yg adlh wanita intelektualpun dpt mengatakan ttg garis besar bahwa masalah gender l.k. telah ditangani cukup baik di Indonesia…… dan kita perlu menimbang pula bhw dari hubungan gender dan pembangunan itu kita sendiri melihat bahwa…. “pembangunan” itu sendiri pada dasarnya terdiri atas “pembangunan spasial” dan "pembangunan non-spasial”…… dan sementara itu kita sendiripun melihat bahwa konsen kita tentu lbh pada “pembangunan spasial” yg itupun sudah dapat dikatakan sebagai “belum menggembirakan”…… terlebih bahwa jangankan kok berpikir ttg “gender dlm pembangunan keruangan”…… lha wong dengan tak kunjung munculnya “hasil signifikan manfaat positip pembangunan keruangan dalam pembangunan nasional”… itu sajapun telah menjadi cukup alasan bagi para pejuang “pembangunan non-spasial” untuk mengesampingkan pentingnya “pembangunan keruangan” lbh dari “pembangunan non-keruangan” kok……… Maka kalau begitu…….. tidakkah kita seyogyanya berpikir kembali ttg sejauh mana planners seyogyanya perlu membatasi diri konsennya hanya sampai pada wilayah2 … dimana secara teknis ia (pemecahaan secara “teknik keruangan”) telah jelas amat sangat diperlukan pemecahannya… dan ttg apakah secara teknis pula "pemecahan secara keruangan” itu memang dimungkinkan…… krn pada dasarnya masyarakat teknik itu secara umum dengan senang hati tak memiliki resistensi apapun thd perjuangan gender…… seperti pada proyek luar angkasa misalnya…. Apa keberatannya kalau astronot wanita disertakan pula?.... bukankah malah suasana bisa jadi ‘hangat’ diluar angkasa sana?.....menghadap i jalan2 raya yg macet maka dibuat mobil dengan transmisi otomatik.... .dijepang disediakan bus khusus wanita.... ditempat umum dipisahkan antara toilet wanita dan pria.... sekolah juga ada 2 rupa... wanita mau nyampur dgn pria juga boleh.... mau khusus eksklusif juga boleh... di bank dan dinotaris para suami diharuskan menyertakan persetujuan istrinya dlm perjanjian2. .... dsb. Perkara ‘membatasi diri’ pada masalah ‘gender in spatial planning’ …..Itu saya kira perlu dikemukakan… mengingat bahwa jangankan kok anda mau mengurusi “gender in spatial planning”…… Lha wong kepada para otoritas dan aktivis “pembangunan non-spasial” itu saja… saat ini “pembangunan spasial” harus berjuang kelewat keras dan berat utk meyakinkan mrk bhw “pembangunan spasial” itu amat strategis dan perlu kok…… justru ini mengingat krn dimata mereka “pembangunan keruangan (spasial) yg strategis dan perlu” itu sendiri ternyata belum menunjukkan bukti2 nyatanya……… Sementara itu seperti apa yg disinggung oleh Ibu Prof. Budhy Tjahjati menyangkut penggeledahan fisik yg dilakukan kepada buruh2 pabrik sekeluarnya mereka dari tempat kerja yg dikatakan oleh beliau sebagai merendahkan martabat wanita…..… sebenarnya itu juga sikap kritis yang didengung2kan oleh para pejuang gender yg kelewat bersemangat saja dan mempengaruhi pendengaran ibu Yati….yang itu kiranya tidak terlampau tepat juga…….. sebab menyangkut keamanan properti perusahaan2 manufaktur itu…. Memangnya itu tidak perlukah… ataukah prosedur keamanan yg bgmn lagi yg tepat dan efektif dilakukan?.. ......... Kalau anda berkenan berkunjung kekawasan2 industri….. anda akan mendapatkan bahwa prosedur demikian diterapkan utamanya lbh pada industri2 yg memproduksi barang2 komponen yg berukuran kecil dan sangat mudah masuk kedalam saku spt industri elektronika atau farmasi misalnya……. Dan kiranya prosedur demikian tidak akan diterapkan pada perusahaan pembuat es krim, tekstil, pabrik panci, pabrik pembuat tiang listrik atau pabrik mebel misalnya…….. Prosedur pemeriksaan fisik itupun utk pekerja wanita dilakukan oleh satpam wanita.. dan utk pekerja pria dilakukan oleh satpam pria….. dan baik para buruh maupun para satpam pemeriksa juga pada umumnya melakukan ritual harian itu dengan sikap dan wajah expressionless dan tak pernah mempermasalahkan….. karena masing2 pihak saling memahami apa tujuan baik dari prosedur demikian itu…… para satpam melakukannya sekedar malah tak lebih seperti pendeta sedang memberkati para jamahnya saja…. Hnya dlm bbrp detik menyentuhkan jari2nya pada bagian saku kiri lalu saku kanan didada lalu pindah kekantong celana kiri dan kanan semuanya hanya dlm bilangan bbrp detik saja pada tiap orangnya …… krn pekerja dlm shift biasanya masuk dan keluar ruang kerja secara bersama dan dalam jumlah cukup besar… dan hrs keluar satu-persatu dipintu… Bisa saja pada prosedur demikian ada saja satpam wanita yg mengalami kelainan spt lesbis atau satpam pria gay misalnya dan memanfaatkan kesempatan menggrayang2 tubuh yg dipriksanya….. tapi itu juga tak hampir mungkin dpt terjadi…… kecuali hal demikian malah lbh banyak terdengar dikamar tahanan polisi…..dan urusannya juga pidana dan dgn KUHP pula......dan sangsi pidana ini jelas pasti adalah pasti dlm kerangka penghargaan pada gender..... Dgn adanya prosedur2 demikian, niatan mencuri barang2 kecil dengan menyelipkannya dibadan atau didalam tas kiranya dapat diredam dipabrik2…. Dan kita harus tidak naif utk menyikapi masalah tsb…… krn kita juga melihat kenyataan spt para pekerja wanita pada tingkat intelektual tinggi seperti bgmn ada jaksa wanita menjual barang bukti, officer bank wanita membobol rekening nasabah besar, pensiunan hakim agung wanita di MA dihukum penjara krn perdagangan perkara, wanita didepartemen yg dicokok KPK dsb. .. memperlihatkan bhw dgn inteletualitas tinggi serta penghasilan relatif tinggi dan mapanpun manusia (pria dan wanita ) msh saja tergoda utk melakuan perbuatan kriminal tercela…… apalagi pada tingkat rendahan.... .. Jadi saya kira… setelah kita bbrp hari ini sejenak diajak berekreasi cukup jauh untuk masuk didunia ‘gender in planning’ seolah urusan utama planners sudah beres (sing pertama ngajak2 mas Fajar lho yo?..:-))……biarlah perjuangan gender yg malah msh lbh banyak terjadi diranah "non spasial" seperti dibidang politik dan hukum biarlah itu terus berjalan.... . Kalau ada yg katakan dgn bersemangat gender dan kemiskinan adalah tul betull berhimpit... .. janganlah anda lalu merasa punya alasan kuat bergenit2 memilih mendahulukan mengurus gender and spatial planningnya seolah masalah gender hanya lbh banyak diranah spasialnya saja..... dan malah mengemudiankan "planning dan penanggulangan kemiskinan". ....atau lebih eksplisitnya lagi adalah "spatial planning dan perluasan kesempatan kerja"...... atau giliran mengapresiasi "planning dan perluasan kesempatan kerja" janganlah lalu pula mendahulukan imaji ttg TKW dan TKI ke LN... krn lalu dimana aspek spasial domestiknya. ....... Maka marilah kita segera kembali tersadar kedunia nyata kita yg lebih mendesak di spatial planning…..… termasuk bgmn kita hrs menyikapi paradigma yg terus berkembang dalam tantangan perencanaan ruang nasional kita…… termasuk bgmn hrs meyakinkan dan secepatnya menunjukkan bukti nyata pada pihak yg luas bhw "pembangunan keruangan" tak kalah strategis dengan "pembangunan non-keruangan"…… dan mengingatkan diri kita sendiri utk jangan lupa bahwa "pembangunan keruangan" juga tak bisa berdiri sendiri… dan amat perlu menyertakan aspek ‘non-keruangan’ didalamnya….. seperti bhw perlu juga updating bhw paradigma keruangan tak lagi hanya bergeser dari fisik dan ekologi keekonomi dan sosial saja.... yg terakhir adalah diantara menyangkut migrasi sebagai bagian dari anak persoalan demografi……dimana utk itu kita perlu berpikir ttg kata kunci relokasi industri manufaktur.... tetapi kalau itu hampir tak mungkin..... maka kita perlu kotak-katik teknologi/ teknik keruangan seperti ttg perlunya menyemai filialisasi industri manufaktur dan kita tak boleh terlambat mengantisipasinya dgn spt. malah bergenit2 utk hal yang bukanlah menjadi puncak urgensi masyarakat perencanaan ruang yg juga sebenarnya sedang ditunggu2 oleh seluruh bangsa ini...…... Salam,

