Pak Aby, Pak Djarot & Rekan referensiers ysh, Sambil mengingat tulisan Koentjaraningrat yang menggambarkan diagram faktor-faktor yang saling pengaruh antara: MANUSIA, ALAM, TEKNOLOGI, KELEMBAGAAN, NORMA kesemuanya saling mempengaruhi terciptanya BENTUK FISIK (arsitektur, lingkungan binaan, seni, tradisi).
Interaksi manusia dengan alam pesisir, beda dengan alam pegunungan, karena naluri mereka kan berteduh dari angin, longsong, jarak ke sumber air, dst. Tentu teknologi yang mereka kuasasi juga mem/dipengaruhi oleh dirinya dan alam. Ada ungkapan "North sea forms Vikings". Interaksi yang berlangsung lama membentuk kelembagaan yang disebut tradisi, aturan, norma. Yang terakhir ini di/mempengaruhi religi. Sebelum datang monotheisme, mereka menyembah gunung, batu, binatang, dan "makhluk" yang dianggap menentukan musim dan nasib hidup/matinya. Singkatnya institusi/ kelembagaan dan religi mempengaruhi bentuk (arsitektur, tata ruang, seni, dst). Lha kalau BENTUK yang punya latar belakang interaksi "man - alam - bentuk pertanian - institusi - religi" Sabu misalnya, kita hadapkan pada kita yang hidup masa kini di kota ini - Bagaimana hasilnya? Apa unsur asli tradisi yang bisa diambil? Atau mereka ambil. Sedang kita jarang dapat informasi tentang mereka, sementara mereka tiap saat bisa nonton TV melihat arsitektur rumah di perkotaan. Ini realita interaksi yang jadi pertanyaan pada diri saya sendiri. Sementara bangsa kita pernah mengalami interaksi (akulturasi, asimilasi) antar suku, antar pulau, dengan Belanda tiga abad, masuknya agama-agama (Hindu, Budha, Islam, Kristen, Protestan). Maka hasilnya adalah berbagai corak bentuk. Lalu yang mana pula yang kita anggap "asli" tanpa membuang kearifan perjalanan bangsa yang telah berupaya mencari solusi atas relasi antar faktor di atas pada masanya masing-masing. Identitas, mungkin soal hari ini yang coba diatasi dengan bekal dari perjalanan panjang, bukan seperti pakai "time machine" kembali ke empat abad yang lalu. Salam, Risfan Munir ----- Original Message ----- Subject: [referensi] Re: Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) Date: Sat, 30 May 2009 11:12:21 From: hengky abiyoso <[email protected]> To: <[email protected]> CC: <[email protected]> Milisters ysh, Ini hanyalah pendapat saya yg awam saja ….. Kegelisahan ttg redupnya arsitektur2 lokal tradisional historik sangatlah bisa dimengerti…… tapi sementara itu kalau kita perhatikan seperti di Jepang atau dibeberapa negara Eropa misalnya……. Arsitektur lokal disana masih banyak dapat kita jumpai sebagai heritage…. Spt kalau di jepang misalnya adalah kuil2 dan kastil para shogunat….. dan di Eropa adalah gereja2, universitas dan kastil para raja dan pangeran…… Semua dpt terjadi selain krn kesadaran pelestarian budaya yg tinggi…. bahan2 bangunanpun banyak yg bermutu permanen…... Tetapi ttg bangunan2 baru dinegara2 tsb…… spt menyangkut gedung2 perkantoran, pusat perbelanjaan serta bangunan2 fasilitas umum…… nampaknya rata2 tetap saja terbanyak memakai arsitektur modern futuristik seperti umumnya bentuk2 kubus itu serta material2 modern seperti kaca, aluminium dsb…..…. Bangunan dgn arsitektur kuno yg kita miliki (dan masih utuh) dapat dikata tak banyak lagi jumlahnya…. Dan kalau kita perhatikan…. yg masih utuh utamanya krn bahan2nya yg bersifat permanen seperti candi2 yg terbuat dari batu (borobudur, Prambanan, abad VIII; pura, dsb) …. Istana2 (Yogya, Solo, Cirebon, Ternate… tempat2 ibadah (gereja, masjid, pura, kelenteng)…. Selain bahan yg permanen.. ada jg karena perawatannya yg intensip…… bangunan2 yg kini musnah dan atau terpendam boleh jadi krn sebab2 spt. bencana alam, peperangan atau pelapukan (Trowulan, Banten. Muarojambi dsb)…... Kalau kita perhatikan……. Bangunan2 arsitektur tradisional kita yg bernilai eksotik banyak memakai atap alang2 atau ijuk (Bali, NTT, Papua dsb.) ….. dan beserta bagian2 atap lainnya spt blandar, kaso dan reng…… jenis material2 tsb sangatlah mudah terbakar…… atau atap dari ilalang setiap setengah tahun atau setahun sudah mulai lapuk dan perlu diganti…… ini tentu merepotkan management perawatan bangunan….… Upaya melestarikan arsitektur lokal saya kira perlu disertai visi ttg modernisasi bahan bangunan… katakan misalnya ttg perlunya dibuat desain atap genteng bertekstur serta berwarna mirip seperti alang2 misalnya…… tetapi mutu keawetannya agar dibuat permanen…… jadi arsitek masih dpt memunculkan aspek tradisional pada gaya bangunan spt dengan memunculkan gaya atap alang2 misalnya…….dgn begitu keinginan utk melestarikan arsitektur etnik lokal dapat sangat terbantu…… setidaknya itu dapat dipergunakan pada arsitektur tempat2 ibadah, museum, universitas, kantor pemda atau tempat 2 umum seperti terminal, bandara dsb….….. selain juga arsitektur kontemporerpun dapat memanfaatkannya juga (Pizza Hut dsb.)……... perkara bangunan2 kantor dan bisnis lainnya memakai arsitektur modern. universal.. biarlah saja... toh diseluruh dunia kecenderungannya juga demikian.... ... yg penting janganlah otoritas perizinan kota hari gene meluluskan arsitektur2 barat kuno seperti gaya romawi utk didirikan disini...... ... ini bisa membikin perut mual....... Kita mungkin tak banyak dapat ‘melestarikan’ heritage kita….. tapi akan sgt baik kalau kita dpt banyak melakukan ‘rekonstruksi’ arsitektur lokal yg gawat keberadaannya utk selanjutnya melestarikan katakanlah melalui arsitektur neo tradisional misalnya………. Biarlah kita tidak harus sama dgn negara2 lain yg kaya dgn heritage itu dimana mereka dpt terus melestarikannya…… yg penting biarpun terlambat pokoknya kita asalkan msh mampu memunculkan juga gaya arsitektur tradisional kita…… dgn strategi memodernisasikan bahan2 bangunan yg mudah lapuk/ mudah terbakar misalnya………. Sebuah kelenteng kuno dipojok pasar Tn. Abang Jkt pernah terbakar... lalu direkonstruksi, rangka atapnya memakai bahan besi dan gentengnya permanen pula..... bentuk visualnya yg kuno bisa nampak persis seperti keadaan sebelumnya.. ...... Salam,

