Pak Risfan ysh, Mencari yang `asli' tentunya sulit, karena disebutkan telah ada akulturasi dan asimilasi dengan berbagai peradaban dsb. Sehingga sebenarnya pencarian dilakukan pada titik di saat perubahan itu mulai terjadi. Yaitu suatu titik puncak kejayaan pada masa itu dan telah mulai terjadi pergeseran karena akulturasi dan asimilasi. Saya melihat proses ini tidak seragam berlangsung di seluruh Indonesia. Catatan saya titik ini untuk Aceh 1917, Batak 1886, Minang 1821, Jawa 1602, Bugis dan NTB 1904, Maluku 1512, Papua 1953. Sehingga perlu dinilai pembiasan dari titik itu sampai 1945 misalnya. Termasuk juga kemampuan resilience masing-masing adat budaya.
Pilihan mengangkat arsitektur tradisional sebagai jatidiri setempat perlu menimbang kondisi pada titik tersebut. Saya kurang tahu pilihan Gubernur Ismail mengangkat tema atap Joglo, atau Joglosemar kalau mau mengakomodasi juga Pajang. Atau Jatim dengan gapuranya. Kalau di Pekanbaru Riau kelihatannya sudah ketemu, hampir mirip dengan Bugis, namun anehnya berbeda dengan Melayu Deli. Yang kontradiksi misalnya Maluku, apakah mau mengangkat tema ulisiwa atau ulilima, walau ada siwalima yang belum kelihatan formatnya. Kalau masalah warna, di Papua saya selalu terbayang warna biru muda dan coklat muda; warna-warna orient. Di Minang hitam dan merah. Di Riau hijau dan kuning. Di Jawa sepertinya coklat dan Kurang tahu untuk Kepri, sudah lama juga tak singgah ke sana, Pak Nuzul, tapi sepertinya warna-warna orient. Sementara demikian dulu. Salam. -ekadj --- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote: > > > Pak Aby, Pak Djarot & Rekan referensiers ysh, > > Sambil mengingat tulisan Koentjaraningrat yang menggambarkan diagram faktor-faktor yang saling pengaruh antara: MANUSIA, ALAM, TEKNOLOGI, KELEMBAGAAN, NORMA kesemuanya saling mempengaruhi terciptanya BENTUK FISIK (arsitektur, lingkungan binaan, seni, tradisi). > > Interaksi manusia dengan alam pesisir, beda dengan alam pegunungan, karena naluri mereka kan berteduh dari angin, longsong, jarak ke sumber air, dst. Tentu teknologi yang mereka kuasasi juga mem/dipengaruhi oleh dirinya dan alam. Ada ungkapan "North sea forms Vikings". > > Interaksi yang berlangsung lama membentuk kelembagaan yang disebut tradisi, aturan, norma. Yang terakhir ini di/mempengaruhi religi. Sebelum datang monotheisme, mereka menyembah gunung, batu, binatang, dan "makhluk" yang dianggap menentukan musim dan nasib hidup/matinya. Singkatnya institusi/ kelembagaan dan religi mempengaruhi bentuk (arsitektur, tata ruang, seni, dst). > > Lha kalau BENTUK yang punya latar belakang interaksi "man - alam - bentuk pertanian - institusi - religi" Sabu misalnya, kita hadapkan pada kita yang hidup masa kini di kota ini - Bagaimana hasilnya? Apa unsur asli tradisi yang bisa diambil? Atau mereka ambil. Sedang kita jarang dapat informasi tentang mereka, sementara mereka tiap saat bisa nonton TV melihat arsitektur rumah di perkotaan. Ini realita interaksi yang jadi pertanyaan pada diri saya sendiri. > > Sementara bangsa kita pernah mengalami interaksi (akulturasi, asimilasi) antar suku, antar pulau, dengan Belanda tiga abad, masuknya agama-agama (Hindu, Budha, Islam, Kristen, Protestan). Maka hasilnya adalah berbagai corak bentuk. Lalu yang mana pula yang kita anggap "asli" tanpa membuang kearifan perjalanan bangsa yang telah berupaya mencari solusi atas relasi antar faktor di atas pada masanya masing-masing. Identitas, mungkin soal hari ini yang coba diatasi dengan bekal dari perjalanan panjang, bukan seperti pakai "time machine" kembali ke empat abad yang lalu. > > Salam, > Risfan Munir > > > ----- Original Message ----- > Subject: [referensi] Re: Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) > Date: Sat, 30 May 2009 11:12:21 > From: hengky abiyoso watashi...@... > To: [email protected] > CC: [email protected] > > Milisters ysh, > Ini hanyalah pendapat saya yg awam saja â¦.. > Kegelisahan ttg redupnya arsitektur2  lokal tradisional historik sangatlah bisa dimengertiâ¦â¦  tapi sementara itu kalau kita perhatikan seperti di Jepang atau dibeberapa negara Eropa misalnyaâ¦â¦. Arsitektur lokal  disana masih banyak dapat kita jumpai sebagai heritageâ¦. Spt kalau di jepang misalnya  adalah kuil2 dan kastil para shogunatâ¦.. dan di Eropa adalah gereja2, universitas dan kastil para raja dan pangeranâ¦â¦ Semua dpt terjadi selain krn kesadaran  pelestarian budaya yg tinggiâ¦.  bahan2 > bangunanpun  banyak yg bermutu permanenâ¦... > Tetapi ttg bangunan2 baru  dinegara2 tsbâ¦â¦ spt menyangkut gedung2 perkantoran,   pusat perbelanjaan serta bangunan2 fasilitas  umumâ¦â¦ nampaknya rata2 tetap saja terbanyak memakai arsitektur modern  futuristik seperti umumnya bentuk2  kubus itu serta material2 modern seperti kaca, aluminium dsbâ¦..â¦. > Bangunan dgn arsitektur kuno yg kita miliki (dan masih utuh)  dapat dikata  tak banyak lagi  jumlahnyaâ¦. Dan kalau kita perhatikanâ¦. yg masih utuh utamanya krn bahan2nya  yg bersifat permanen seperti candi2 yg terbuat dari batu (borobudur, Prambanan, abad VIII;  pura,  dsb) â¦. Istana2 (Yogya, Solo, Cirebon, Ternate⦠tempat2 ibadah (gereja, masjid, pura, kelenteng)â¦. Selain bahan yg permanen.. ada jg karena  perawatannya  yg intensipâ¦â¦ bangunan2 yg kini musnah dan atau terpendam boleh jadi krn sebab2 spt. bencana alam, peperangan atau pelapukan (Trowulan, Banten. Muarojambi dsb)â¦... > Kalau kita perhatikanâ¦â¦. Bangunan2 arsitektur tradisional  kita yg bernilai eksotik banyak memakai atap alang2 atau ijuk (Bali, NTT, Papua dsb.) â¦.. dan beserta bagian2 atap lainnya spt  blandar, kaso dan rengâ¦â¦  jenis material2  tsb sangatlah  mudah terbakarâ¦â¦ atau atap  dari ilalang setiap setengah tahun atau setahun sudah mulai lapuk dan perlu digantiâ¦â¦ ini tentu merepotkan management perawatan bangunanâ¦.⦠ > Upaya melestarikan arsitektur lokal saya kira  perlu disertai visi ttg modernisasi  bahan bangunan⦠katakan misalnya ttg perlunya dibuat desain  atap  genteng bertekstur serta berwarna mirip seperti alang2 misalnyaâ¦â¦ tetapi mutu keawetannya agar  dibuat permanenâ¦â¦  jadi arsitek masih dpt  memunculkan aspek tradisional pada gaya bangunan spt dengan memunculkan  gaya atap alang2 misalnyaâ¦â¦.dgn begitu keinginan utk > melestarikan arsitektur etnik lokal dapat  sangat terbantuâ¦â¦ setidaknya itu dapat dipergunakan pada arsitektur tempat2 ibadah, museum, universitas, kantor pemda atau tempat 2 umum seperti terminal, bandara dsbâ¦.â¦..  selain juga arsitektur kontemporerpun dapat memanfaatkannya juga (Pizza Hut dsb.)â¦â¦... perkara bangunan2 kantor dan bisnis lainnya memakai arsitektur modern. universal.. biarlah saja... toh diseluruh dunia kecenderungannya juga demikian.... ... yg penting janganlah otoritas perizinan kota hari gene meluluskan arsitektur2 barat kuno seperti gaya romawi utk didirikan disini...... ... ini bisa membikin perut mual....... > > Kita mungkin  tak banyak dapat  âmelestarikanâ  heritage kitaâ¦.. tapi  akan sgt baik  kalau kita dpt banyak melakukan ârekonstruksiâ arsitektur lokal yg gawat keberadaannya utk selanjutnya melestarikan katakanlah melalui arsitektur neo tradisional misalnyaâ¦â¦â¦. > Biarlah kita tidak harus  sama dgn negara2 lain yg kaya dgn heritage  itu dimana mereka dpt  terus melestarikannyaâ¦â¦ yg penting biarpun terlambat pokoknya kita asalkan msh mampu memunculkan juga gaya arsitektur tradisional kitaâ¦â¦ dgn strategi memodernisasikan bahan2 bangunan yg mudah lapuk/ mudah  terbakar  misalnyaâ¦â¦â¦. > Sebuah kelenteng kuno dipojok pasar Tn. Abang Jkt pernah terbakar... lalu direkonstruksi, rangka atapnya memakai bahan besi dan gentengnya permanen pula..... bentuk visualnya yg kuno bisa nampak persis seperti keadaan sebelumnya.. ...... >  > Salam,

