Milisters ysh,
Ini hanyalah pendapat saya yg awam saja …..
Kegelisahan ttg redupnya arsitektur2 lokal tradisional historik sangatlah bisa
dimengerti…… tapi sementara itu kalau kita perhatikan seperti di Jepang atau
dibeberapa negara Eropa misalnya……. Arsitektur lokal disana masih banyak dapat
kita jumpai sebagai heritage…. Spt kalau di jepang misalnya adalah kuil2 dan
kastil para shogunat….. dan di Eropa adalah gereja2, universitas dan kastil
para raja dan pangeran…… Semua dpt terjadi selain krn kesadaran pelestarian
budaya yg tinggi…. bahan2 bangunanpun banyak yg bermutu permanen…...
Tetapi ttg bangunan2 baru dinegara2 tsb…… spt menyangkut gedung2 perkantoran,
pusat perbelanjaan serta bangunan2 fasilitas umum…… nampaknya rata2 tetap
saja terbanyak memakai arsitektur modern futuristik seperti umumnya bentuk2
kubus itu serta material2 modern seperti kaca, aluminium dsb…..….
Bangunan dgn arsitektur kuno yg kita miliki (dan masih utuh) dapat dikata tak
banyak lagi jumlahnya…. Dan kalau kita perhatikan…. yg masih utuh utamanya krn
bahan2nya yg bersifat permanen seperti candi2 yg terbuat dari batu (borobudur,
Prambanan, abad VIII; pura, dsb) …. Istana2 (Yogya, Solo, Cirebon, Ternate…
tempat2 ibadah (gereja, masjid, pura, kelenteng)…. Selain bahan yg permanen..
ada jg karena perawatannya yg intensip…… bangunan2 yg kini musnah dan atau
terpendam boleh jadi krn sebab2 spt. bencana alam, peperangan atau pelapukan
(Trowulan, Banten. Muarojambi dsb)…...
Kalau kita perhatikan……. Bangunan2 arsitektur tradisional kita yg bernilai
eksotik banyak memakai atap alang2 atau ijuk (Bali, NTT, Papua dsb.) ….. dan
beserta bagian2 atap lainnya spt blandar, kaso dan reng…… jenis material2
tsb sangatlah mudah terbakar…… atau atap dari ilalang setiap setengah tahun
atau setahun sudah mulai lapuk dan perlu diganti…… ini tentu merepotkan
management perawatan bangunan….…
Upaya melestarikan arsitektur lokal saya kira perlu disertai visi ttg
modernisasi bahan bangunan… katakan misalnya ttg perlunya dibuat desain atap
genteng bertekstur serta berwarna mirip seperti alang2 misalnya…… tetapi mutu
keawetannya agar dibuat permanen…… jadi arsitek masih dpt memunculkan aspek
tradisional pada gaya bangunan spt dengan memunculkan gaya atap alang2
misalnya…….dgn begitu keinginan utk melestarikan arsitektur etnik lokal dapat
sangat terbantu…… setidaknya itu dapat dipergunakan pada arsitektur tempat2
ibadah, museum, universitas, kantor pemda atau tempat 2 umum seperti terminal,
bandara dsb….….. selain juga arsitektur kontemporerpun dapat memanfaatkannya
juga (Pizza Hut dsb.)……... perkara bangunan2 kantor dan bisnis lainnya memakai
arsitektur modern. universal.. biarlah saja... toh diseluruh dunia
kecenderungannya juga demikian....... yg penting janganlah otoritas perizinan
kota hari gene
meluluskan arsitektur2 barat kuno seperti gaya romawi utk didirikan
disini......... ini bisa membikin perut mual.......
Kita mungkin tak banyak dapat ‘melestarikan’ heritage kita….. tapi akan sgt
baik kalau kita dpt banyak melakukan ‘rekonstruksi’ arsitektur lokal yg gawat
keberadaannya utk selanjutnya melestarikan katakanlah melalui arsitektur neo
tradisional misalnya……….
Biarlah kita tidak harus sama dgn negara2 lain yg kaya dgn heritage itu
dimana mereka dpt terus melestarikannya…… yg penting biarpun terlambat
pokoknya kita asalkan msh mampu memunculkan juga gaya arsitektur tradisional
kita…… dgn strategi memodernisasikan bahan2 bangunan yg mudah lapuk/ mudah
terbakar misalnya……….
Sebuah kelenteng kuno dipojok pasar Tn. Abang Jkt pernah terbakar... lalu
direkonstruksi, rangka atapnya memakai bahan besi dan gentengnya permanen
pula..... bentuk visualnya yg kuno bisa nampak persis seperti keadaan
sebelumnya........
Salam,