Dear referesiers ysh,

Bicara budaya jadi ingan rumah susun (rusun). Dua puluhan tahun lalu saat rusun 
dikenalkan, kampanye pola hidup di lingkungan baru itu banyak didiskusikan. 
Sampai ada film "Cintaku di Rumah Susun" (Eva Arnaz?). Sekarang saat 
banyak dibangun justru tak ada bahasan untuk itu.
Rusun apalagi dengan target 1000 tower, tentu kalau terbangun 1/3 nya saja jadi 
fenomena besar di perkotaan. Masalah prasarana, terutama air, masalah ruang 
terbuka, dan bangkitan lalu-lintas akibat konsentrasi penduduk tersebut.
Dari segi kehidupan komunitas warganya, tentu timbul persoalan dan romantikanya 
sendiri. 
Rusuna dengan ukuran 21 m2 pada satu tower yang memuat lebih dari seratus unit, 
merupakan perkampungan padat, yang membutuhkan pola hidup dan kedisiplinan 
tertentu, dalam menjaga kebersihan, menjaga diri tak mengganggu tetangga, 
saling tenggang rasa. Soal buangan sampah, jemuran, suara musik dan teriakan 
anak-anak - adalah hiruk pikuk yang sudah terbayangkan dari rusuna yang ada. 
Juga pengelolaan ruang bersama di lantai dasar.

Memang diskusi tata ruang biasanya terbatas konsepsi rencana, standar dari 
pemerintah dan peraturan perundangan, tapi fenomena kehidupan atau budaya 
konemporer perkotaan seperti ini mungkin perlu dilirik pula.

Salam,
Risfan Munir


      

Kirim email ke