Milisters ysh,
Dgn DJPR menaruh kepedulian pd upaya mengelola keberadaan PKL (krn PKL telah
dirasa sgt mengganggu city planing?... :-))…. bgmnpun ini boleh dipuji sbg
sebuah langkah maju dari PR di Indonesia… oleh krn PR tak lagi sekedar menata
aspek fisik dan ekologik drpd ruang saja … namun PR tlh terlihat mulai
berupaya menata aspek kegiatan ekonomi mikro riil dari berjuta2 manusia yg
berkait dgn ruang…… walau itu awalnya akan dimulai dari perekonomian tingkat
PKL dulu…….
Bahwa PKL bukan mrpkn usaha/ bisnis ‘cita2’…. tapi umumnya skdr sebuah batu
loncatan atau tempat bertahan sementara krn keterpaksaan…… maka pd situasi
angka pengangguran yg sangat tinggi spt saat ini…. Dpt dibayangkan brp banyak
mrk dari sektor formal yg dgn terpaksa kini juga banting setir ikutan terjun
disektor PKL sehingga semakin meramaikan saja jumlah PKL yg semula tlh ada…….
Sbenarnya upaya menata PKL akan baik kalau secara ideal PKL hasil penataan
ruang dpt disebut saja misalnya sbg UKL (Usaha Kecil Legal)…… krn PKL adalah
istilah ‘lama’ yg msh berkonotasi ‘pelanggaran aturan pemanfaatan ruang’…
sementara itu PKL hasil penataan ruang diasumsikan sdh bersifat legal, sesuai
aturan hukum dan sesuai kaidah penatan ruang pula……
Soal nama sih nampaknya bukan perkara prinsip…… tapi mungkin baik juga
dibedakan…… yg namanya PKL katakanlah misalnya saja utk yg masih banyak tak
sesuai… sdgkan UKL utk model yg penataannya sdh dianggap oke misalnya saja…….
Brkali dlm menuntaskan atau katakanlah mencapai hasil signifikan dlm penataan
masalah PKL pmrth ada baiknya tak terjebak dgn cara penyelesaian yg masih
bervisi PKL tetapi agar meningkat menjadi visi UKL……..
Salam,