Rekan Referensiers ysh.,
Tulisan Prof Iwan D itu tampaknya memang tidak menunjukkan keseluruhan cerita. 
GPRA yang dimaksud seingat saya tidak muncul sendirian. Sehingga timbul kesan 
seolah cuma menyusun Logframe - visi, misi, program lengkap dengan indikator 
input, output, outcome, impact.
Di negara ybs, seingat saya itu bagian dari upaya besar yang dipimpin oleh 
Wapres Al Gore dengan National Performance Review nya. Upaya besar itu 
sebetulnya banyak dilaksanakan di tataran MANAJEMEN pelayanan pulic, bukan di 
tataran PLANNING nya.
Konsep REINVENTING Governance, adalah bagian dari itu. Saya kira rekan Dwiagus 
sebagai penggiat Monev bisa menggali berbagai inovasi dan tools yang diterapkan 
departemen, Pemda yang selain Logframe juga diaplikasikan Balance Scorecard, 
berbagai jenis ISO dan tools TQM.
Kita tahu kapasitas Al Gore yang mirip Emil Salim, yang biasa membuat program 
pemerintah menjadi GERAKAN NASIONAL, bukan sekedar proyek-proyek sesaat, tapi 
didukung berbagai unsur masyarakat dan swasta.
Gerakan National Performance Review (NPR), juga tidak diberlakukan sebagai 
instruksi pemerintah, tapi kampanye dengan berbagai insentif, dorongan melalui 
bantuan teknis bagi yang melakukan, promosi best practices, dst. Ini menjadi 
trend dunia dekade 80an. Di negara commonwealth kebanyakan pakai istilah New 
Public Management.

Setuju dengan komentar rekan BTS, tulisan Prof Iwan itu menjadi seolah 
penulisnya kurang periksa apa yang terjadi, sehingga tidak mengevaluasi keadaan 
yang ada. Seperti kita ketahui, angin Reinventing Governance, ...berbasis 
Kinerja, dst juga sudah mulai diadopsi berbagai instansi dan Pemda di negara 
kita. Adanya di tataran MANAJEMEN, sehingga mungkin kurang disinggung di 
kalangan Planning. Akan lebih baik kalau Prof Iwan juga sedikit mengulas 
upaya-upaya itu. Di negara kita upaya itu dimulai sebelum reformasi, terputus, 
lalu diaktifkan lagi. Berbagai aplikasi tools pengukuran kinerja sudah banyak 
dicoba diterapkan. Anggaran berbasis Kinerja (Permendagri 59), reformasi 
birokrasi di beberapa instansi a.l. Di lingkungan Depkeu (Bea Cukai, Pajak, 
dll), ISO kuga sudah dicobakan di berbagai unit pelayanan (RS, Puskesmas, 
Sekolah, dst). Juga partisipasi swasta dalam mrating dan mempromosikan inivasi 
pemerintah (daerah) dalam pelayanan yang lebih akuntabel,
 responsif dan partisipatif juga telah terjadi seperti inisiatif KPPOD, Jawa 
Pos Pro Otonomi Daerah, dst. Saya kira akan menarik kalau bisa diulas dan 
di-Monev.

Kasimpulan saya, kalau diulas hanya aspek planning dan pencantuman indikator 
kinerja GPRA menjadi seperti aplkasi Logframe yang sudah banyak dilakukan. Tapi 
bagaimana itu menjadi gerakan (waktu itu NPR) di USA dan pengaruhnya ke seluruh 
dunia, itu justru yang menarik. Bagaimana spirit itu ditumbuhkan, bagaimana hal 
yang biasa di perusahaan swasta (manajemen mutu) kok sulit amat diterapkan di 
birokrasi pelayanan publik. Bagaimana beberapa instansi, Pemda kok bisa 
(Depkeu, Gorontalo, Kab Solok, Jembrana, Solo, dst), apa key success factors 
nya? Ini akan lebih bermanfaat.

Salam,
Risfan Munir


      

Kirim email ke