Milisters dan Ibu Cut Safana yth, 
Trims atas tanggapannya… tapi mohon izinkan saya utk melanjutkan celotehan 
saya………
Benar  bhw aspek usaha dan finansial UKL memang menjadi concern DepKopUKM…. 
Namun aspek teknologi keruangannya (maupun aspek demografi/migrasi/ urbandesign 
nya)  tetaplah  tak akan mampu/ terpikir utk mereka sentuh dan tetap menjadi 
concern ilmiah dari masyarakat teknik perencana ruang………
Kalaupun pmrth blm tentu dpt menyelesaikan mslh PKL secara tuntas… namun tak 
perlulah  sungkan kalau hanya skdr bermain dgn  angka2 saja dahulu…… agar kita 
dpt lbh mudah dan leluasa sefrta terukur dlm membayangkan sbrp berat dan sbrp 
peliknya proyeksi tugas itu…….  
Sebuah modal awal boleh dijadikan  pertimbangan adlh bhw negri kita memiliki 
1.900.000  km2 daratan…. Dan kita msh sgt jawa sentrisme (6.7% NKRI)…  dan 
teknologi keruangan kitapun  dibidang urban design juga blm  digeber 
habis2an……..
Kita boleh ingat bhw seolah tanpa batas pmrth pernah jg  menelorkan kebijakan 
transmigrasi dgn membagi2kan secara cuma2  lahan (ruang) antara luas 2ha 
(20.000m2) bahkan smp 5ha (50.000m2) lahan per KK kepada transmigran……. Dimana  
total sejak kemerdekaan sampai masa orba telah terpindahkan sekitar 2.500.000 
jiwa atau tak kurang dari 500.000 KK transmigran…… atau setidaknya telah 
dibagikan sebanyak tak kurang 1.000.000 ha lahan diluar Jawa……..
Kalau kita perhatikan…..  UKL tentu tak lagi sekedar butuh ruang mini seperti 
PKL….  setidaknya membutuhkan/ perlu diberi kemudahan ruang usaha yg layak… 
katakanlah setidaknya ruang usaha dimana  didepan selebar 3/ 3.5m perlu 
menghadap jalan….. dan kebelakang  yg ideal setdknya butuh  jg panjang kapling 
utk ruang tinggal dsb.  yg dimasa depan bisa dibuat permanen berlantai 2 atau 
bahkan 3…..
Kapling UKL yg memanusiawikan PKLdan 5 jiwa dibelakangnya ….. model kapling  
legal permanen  lsg menghadap jalan … yg bila kita kaitkan dgn azas urban 
design (jalan, sidewalk, vegetasi,  bangunan, distribusi kota)….. dimana 
idealnya didepan ruang  usaha perlu trdpt ruang  sempadan jalan/bangunan  
katakanlah selebar 3m (1m utk vegetasi dan 2m utk sidewalk) …… lalu agar UKL 
menjadi strategis (menghadap jalan ekonomi)….  maka perlu didesain lebar jalan  
sampai 14m (masing2 kapling ruko UKL secara mirror menghadap separuh lebar 
jalan atau 7m… dgn rincian  6m utk 2 lajur jalan @ 3m dan jalur pemisah 1 m)….. 
Maka hitungannya kira2 adlh  setiap kapling UKL memerlukan luas lahan sebanyak  
3.5 m (lebar kapling) x (12m/pjg kapling + 3m/sidewalk plus vegetasi + 7m/ 2 
lajur jalan plus jalur pemisah 1 m) … atau total butuh urban space sebanyak 
3.5m x 22m atau = 77m2 (42m2 kapling + sidewalk 10.5m2 + jalan 24.5m2)… atau 
plus lain2 butuh katakanlah 85m2 space per unit UKL… yg dpt menampung 
katakanlah sebanyak @ 5 jiwa per KK/ UKL……… 
Angka 85m2 urban space utk per KK/ per unit UKL (urban transmigration)  yg tak 
harus gratis tentu menarik  bila dibandingkan dgn pemberian gratis sampai 
20.000m2 agrarian space per KK utk program transmigrasi pertanian dimasa lalu 
yg  mungkin masih ada sisanya hari ini dgn luasan yg lbh kecil/ 10.000m2 per KK 
……… 
Sementara itu dgn total luas negeri kita 1.900.000km2….. dan luar Jawa msh 
banyak dibiarkan menghutan seolah tak ada harganya (saya  prnh diminta dgn 
merengek utk membeli scr murah lahan 3 orang  transmigran sampai 3 ha di SumSel 
@ 200rb rp. dan sdh 24 thn lamanya tak pernah saya tengok)…….. kalau saja 
strategi kependudukan kita juga bukan sekedar membatasi angka kelahiran menjadi 
2 anak per keluarga tapi berani lbh maju lg dgn kebijakan  mendekati zero atau 
bahkan minus population growth…. (Jepang pd 2007 tlh mulai minus jumlah 
penduduknya dan diproyeksikan pada 2100 bahkan hanya tinggal separuhnya saja/ 
65juta dari hari ini 120 juta)…… dan kitapun mengintensipkan strategi migrasi…. 
Dibarengi pula dgn banyak mengembangan teknik urban design….. maka penyelesaian 
masalah PKL/ UKL/masalah Pendidikan/ perumahan/ birokrasi dan banyak  lagi 
bidang pembangunan kita tak akan termehek-mehek jalannya…… sekedar krn derasnya 
angka kelahiran
 bayi kita saja……ataupun akibat  orientasi jawa sentrisma yg kelewatan 
kuatnya…………
Dgn demikian  pertambahan anggaran kita benar2 dpt meningkatkan kwalitas 
pembangunan kita….. dan bukan sekedar krn. hrs menguber ‘penyesuaian’ ketak 
memadaian akibat laju angka kelahiran saja…… spt dgn setiap tahun hrs ditambah 
jumlah (dan bkn mutu) gedung dan perlengkapan  sekolah SD atau bahkan ruang 
bagi sektor informal kota misalnya krn angka kelahiran 3-4 juta jiwa per 
tahun……..
Walau UUPR 2007 tlh menyebutkan ttg pengelolaan ruang bagi sektor informal…… 
jgnlah berharap kita dpt menuntaskan masalahnya kalau akar masalahnya 
(kependudukan, migrasi, sistem distribusi kota secara nasional, urban design, 
dekonsentrasi pusat2 industri manufaktur, migrasi kelas menengah) tak disentuh 
pula……..
Salam,
 
 
June 17, 2009 1:52 AM
From: "cut safana" <cutsaff...@..........>
To: [email protected]
Cc: [email protected]







Untuk Pak Abi terima kasih masukannya, khususnya untuk milis (1) Upaya Menata 
PKL.
Amanat UU Penataan Ruang, untuk muatan RTRW kota antara lain adalah 'penyediaan 
ruang untuk kegiatan sektor informal'. Masalah pemanfaatannya bisa juga untuk 
kegiatan lain diluar PKL (terima kasih Pak Benny, pasti akan detail, mis : 
tipologi penyediaan ruang, bisa jadi tipologi pemanfaatan, masalah kriteria, 
dsb). Namun dari beberapa masukan beberapa waktu yll, kalau tidak salah 
tangkap, maaf sudah hampir pensiun...., malah menganjurkan agar ruang ini 
memang untuk yang informal, ada yang datang untuk berjualan, bagi yang sudah 
maju dan  'naik kelas'  menjadi usaha formal dan legal kemudian pindah, 
kemudian datang lagi pedagang yang baru....., dst. 
DJPR hanya menyusun NSPK  penyediaan ruangnya (kegiatan sektor informal) saja. 
Untuk UKL, Pak Abi, sepertinya boleh juga menjadi masukan untuk Kementerian 
Koperasi ? (mudah-2an Pak Agus Muharram mengikuti referensi ini), memang bukan 
masalah nama,  mungkin masalah status.
Kita harus bangga dengan PKL yang bertahan untuk dapat survive dinegeri ini, 
sayangnya mereka kadang-kadang alpa, contoh setelah diberi ruang 10 % dari 
lebar jalan, eh.. maju s/d 30 %nya atau jumlah waktu berdagang yang 
diulur-ulur, yah namanya juga 'usaha', atau memang satpol PP yang kadang 
ngasih, kadang kumat disiplinnya.
 
Salam hormat. 







 
 
 


      

Kirim email ke