Dear referencies. Saya dapat cerita dari teman yg ketamuan kerabatnya dari kampung pinggir kota dan menginap dirumahnya. Kerabat ini membawa anak kecil kurus berumur delapan tahun. Hari pertama, waktu makannya malam, teman ini menawarkan makan kepada kerabatnya khususnya kepada anak kecilnya. Apa jawab si anak? Menolak makan dan dia bingung kho malam disuruh makan! Tukas anaknya, kan udah makan "tadi siang". Kenapa? Astagfirullah. Anak ini rupanya tdk biasa makan malam, terbiasa makan hanya 1 kali dlm sehari, siang saja! Teman ini terenyuh dan berlinang air mata. Ya Allah, beginikah kehidupan kerabatku, yg dulu sahabatku, aku tahu masa kecil sahabatku, dulu serba cukup. Keluarga kerabat ini hanya representatif dari jutaan orang miskin Indonesia, yg mungkin sdh terbiasa makan 1 kali sehari atau pola pola hidup miskin lainnya untuk bisa bertahan hidup dibumi Nusantara yg katanya kaya raya. Teman dr BKKBN cerita, bahwa puluhan juta Balita di Indonesia malnutrisi alias kekurangan gizi, yg berakibat pertumbuhan otak anak anak tdk dpt optimal, artinya perkembangan IQnya akan dibawah rata2, dan biasanya orang ini , kemampuan edukasinya lemahn tdk bisa sampai pada level manajerial, alias hanya bisa bekerja sebagai pegawai rendahan, buruh, pembantu, tukang sapu dan selevelnya. Inilah nanti modal bangsa Indonesia kelak sebagai penerus bangsa, mudah2an tdk sbg pensupply TKI terus.
Cerita lain. Dulu tahun awal 90an, saya sering belanja kebutuhan sehari hari di toko toko kecil di pasar Ciputat. Belanja bisa tawar menawar, sambil silaturakhmi bahkan bisa utang. Toko2 ini maju dan semakin banyak variasi barang dagangan yg dijual, iklim usaha waktu itu sehat. Kemudian......,,, tdk jauh dr pasar di bangun Ramayana Dept. Store, yg menyediakan barang sama percis yang ada di toko toko kecil itu, yg temtunya dgn barang jualan dgn kualitas lbh baik, tempat lebih nyaman dan harga yang lebih murah. Kini, masih ada toko toko yg bertahan, namun sebagian besar tutup gulung tikar beralih ke usaha usaha lain. Kejadian-kejadian sepertinya akan terus bergulir. Sekarang, di jalan kecil, gang dan sudut2 lain menjamur toko toko swalayan kecil seperti Alfa, Indomart, Cirkle K dan lainnya, yg tak lain adalah toko waralaba dr perusahaan2 besar/konglomerat dan jangan2 modal Neolib. Neolib masuk lorong-lorong kampung???!!! Entah kelak nasib toko2 kelontong Haji Ali, Bang Samiun, warung2 Mpok Minah, Mbok Sinem, Bariah, Ceu Kokom, Uni Ulis, Inang Butet, dan sejenisnya, bangkrut? Atau sekadar bertahan, ala kadarnya? Inget, waktu kita penanganan masyarakat miskin yg terkena krisis? Untuk, meningkatkan income, masyarakat diminta untuk memproduksi makanan-makanan ringan, snack dlnya ut dijual dan dikonsumsi masyarakat dgn harapan ada perputaran uang di masyarakat sendiri. Setelah produksi, snack tsb ngga laku, krn kalah bersaing dgn Chicky, Taro, Oreo, Biskuat dsb yg lebih enak dan lebih murah. Yah gimana tuh. Program kita sering terlalu asyik menaburi pakan dan "kail" pada teri-teri yg tak berdaya, tapi lupa mengurusi Kakap-Kakap yg akan melahap teri-teri yg kita openi. Kadang saya kepikir tugas pokok dan fungsi MenKo Kesra dan Menko Perekonomian perlu ditukar. MenkoKesra ngurus yg besar2, Menko Perekonomian ngurus yg kecil, lebih bagus kali yeee! Tabek Juragan. Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

