Sdr Nuzul dan Risfan, rupanya surat pertama saya tidak terkirim dan sekarang akan saya ulangi secara singkat. Pada waktu ini wilayah BIMP_EAGA, Brunei, Indonesia, Malaysia Pilipina - East Asian Growth Area, dimana kebetulan Manado merupakan salah satu kota yang cukup strategis , kini perhatian utama justru terarah pada pelabuhan-pelabuhan yang lebih kecil (daripada pelabuhan container samudra seperti Bitung) disamping fungsi transportasi antar pulau dan pelayaran pantai maka pelabuhan Manado juga pemakai kapal-kapal penumpang, cargo maupun kapalnelayan yang memang lebih kecil, juga kini8 sudah ada kebutuhan kapal penumpang yang lebih cepat yang dapat pulang pergi seperti ferry, saya jelas sangat tertarik pada klaster industri maritim yang punya fungsi dan orientasi khusus ini, termasuk juga aspek pendidikan pelaut nelayan maupun manajemen sistim maritim itu. Memang sekarang ada perhatian khusus dari ABD, tapi apakah sudah ada kebijakan khusus dari pemerintah atau lembaga di Indonesia. Maafkan baru sekarang mulaiu ikut diskussi. Salam dari Pak Wawo.
________________________________ From: Nuzul Achjar <[email protected]> To: [email protected] Sent: Saturday, July 18, 2009 6:07:18 AM Subject: Re: [referensi] Re: Coretan Ringan Tentang Maritim Pak Risfan dan sahabat Referensiers, Mungkin perlu penelitian lebih dalam lagi barangkali ya tentang klaster industri maritim sehingga kebijakannya tepat, realistik dan bisa menekan resiko gagal lebih kecil lagi. Yang saya bayangkan adalah semacam klaster industri kecil menengah untuk pembuatan kapal ukuran kecil dan sedang beserta supply chainnya. Yang pasti, bahannya bukan dari kayu. Pasarnya misalnya ekspor dan domestik, untuk nelayan, ataupun kelas menengah ke atas untuk yachting, perahu untuk rekreasi di pantai, danau, dan sungai. Saya yakin, teman-teman perkapalan dan kelautan pasti punya konsep, minimal belum ditulis secara terintegrasi untuk meyakinkan pengambil kebijakan. Isinya tentang masing-masing "diamond" nya Michael Porter (1990 dan 1998) tentang klaster industri. Banyak studi kasus ungkapkan pentingnya tata kelola, karena dari sinilah innovasi muncul, dan timbullah "keunggulan kompetitif" nya Porter. Jangan-jangan gagalnya konsep "Kawasan Khusus" itu karena tata kelola yang lemah kali ya ditambah lagi infrastruktur. . nggak ada innovasi, dll. Solusinya? mungkin perlu manager professional kali ya...yang bantu itu birokrat penguasa kawasan khusus...ampun. . .takut banyak yang tersinggung he he he... Yang saya perhatikan selama ini, konsep klaster industri sudah ada, Departemen Perindustrian punya prioritas pengembangan 10 klaster menurut industri (RPJM Industri 2005-2009), termasuk di antaranya klaster industri hasil perikanan, furniture, dll. tapi belum ada yang spesifik industri maritim, khususnya untuk UKM. Di Riau Kepulauan, tradisi membuat perahu dan kapal tampaknya tidak terlalu menonjol dibandingkan Riau Daratan; sepanjang hulu dan muara sungai dulu banyak industri kapal rakyat. Masuk akal karena kayu ada di daratan. Sekarang tampaknya semakin pudar. Mungkin ada sahabat referensiers yang bisa beri pencerahan lebih lanjut? Untuk bidang jasa maritim, kontribusi Singapura saja sekitar 4,9% PDB, mulai dari jasa pelabuhan, agen pelayaran, carter, hngga bunkering. Wah kalau saja ada sedikit "spill over" untuk BBK, wah lumayanlah, tapi hindarkanlah yang merusak lingkungan. Mau tau berapa kira-kira kontribusi perhubungan laut Kepri? Jangan kaget, hanya 0,56% PDRB Kepri (2007). Jadi kesempatan masih sangat besar. Sekian dulu pak. Salam hangat, Nuzul Achjar

