Pak Nuzul dan Pak Risfan ysh, Seminggu ini saya berada di Riau dan Kepri, walau belum berkesempatan ke tempat Pak Nuzul. Di PekanBaru saya bertemu dengan banyak rekan perencana, yang sebagiannya sudah bergabung di milis ini. Sempat diskusi masalah arsitektur tradisional yang sekarang marak mewarnai wajah kota. Sekitar 20-30 tahun yang lalu saya ke PekanBaru, ragam atap selembayung Melayu ini belum kelihatan. Dari diskusi mulai terkuak bila arsitektur tradisional ini adalah 'temuan baru' dalam penyemaian budaya lokal. Sesuatu yang paradoksal dari fenomena kota kita: bila pencapaian budaya modern meninggalkan banyak jatidiri, namun di PekanBaru kita melihat budaya lokal dibangun untuk mengiringi dan memacu pertumbuhan kota.
Sedikit pemandangan terusik dengan tumbuhnya dua bangunan baru di lingkungan kantor Pemda Provinsi, yang mengetengahkan arsitektur post-modern : baru kali itu saya melihat ada bangunan tinggi yang memiliki atap. Kelihatannya ingin membangun landmark baru, namun bagi saya terasa mubazir. Riau sedang menggeliat. Mungkin begini : sudah saatnya setiap daerah 'membangun' dan 'mengembangkan' karakter lokalnya. Membangun dalam hal ini membuat dari baru bila belum ada. Mengenai 'kawasan khusus', saya kira belum ada suatu kompromi yang menyederhanakan hal tersebut dari berbagai varia[n]si bentukan selama ini. Beberapa minggu yang lalu saya pernah menawarkan untuk sementara waktu : agar Kapet bermain di hulu (simpul), dan KEK bermain di muara (outlet). Masalah manajemen dan capacity, agar dicurahkan segenap perhatian kita mulai hari ini kepada hal tersebut. Butuh perhatian sangat serius, terutama dari institusi perguruan tinggi (baca: ASPI), dan tidak lagi sekedar jagoan dalam merencana. Saya tertarik dalam hal pengembangan maritim. Bila 'budaya marine' sudah merebak di pantai timur Sumatera, maka tinggal reinventing budaya maritim kita yang telah lama hilang. Membangun budaya maritim, seperti kata Pak Nuzul, butuh strategi bermain bola ala MU. Ada pemain di lini belakang (Riau), ada pemain di lini depan (Kepri). Pemain belakang harus pandai oper bola kiri-kanan muka-belakang, namun sekali-dua boleh maju menyerang, namun jangan terlalu banyak berharap. Pemain depan tentunya harus pandai bertarung secara lincah, cepat, dan gesit serta straight-forward thinking untuk menyarangkan bola ke gawang lawan. Saya kira tidak perlu terlalu banyak pemain penyerang <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/460> . Striker utama bisa dipegang oleh Batam, yang pernah diasuh pelatih ATA. Penyerang kanan bisa dipegang oleh Bintan, yang sekarang dalam asuhan Pak Nuzul. Untuk penyerang kiri boleh dipegang oleh Dumai. Sasaran utama adalah 'bisnis transshipment', sesuatu yang membangkitkan Malaka beberapa abad silam dan Singapura sejak beberapa dekade yang lampau, dan hari ini dijiplak oleh Port Klang <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4134> dan Tanjung Pelepas. Perlu orang ber'jagad maritim' untuk mengelola hal ini; bukan perencana, bukan teknokrat, dan bukan teknolog. Bila lapangan bolanya mulai melebar, kita mulai memikirkan pemain sayap kiri, bisa Tanjung Balai dan Serdang Bedagai yang saat ini diasuh Bang Safri; serta pemain sayap kanan, seperti Babel dll. Untuk transshipment, saya kira Singapura sudah mulai jenuh dan 'melepas' peluang bisnis ini. Mereka mulai suka menata-nata halaman HQs mereka untuk menuju 'global city', dalam artian: melepas pekerjaan-pekerjaan kotor di pelabuhan dan juga industri. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jepang, yang melepas 'era swasembada pangan', bilamana membeli makanan dari negara lain toh bisa lebih murah dan efisien. Sebenarnya pertarungan kita di Selat Malaka di masa depan hanya di dua titik : Port Klang dan Tanjung Pelepas. Mau? Dan ternyata MU hanya mau main di KL. Salam. -ekadj --- In [email protected], Nuzul Achjar <ach...@...> wrote: > > Pak Risfan dan sahabat Referensiers, > > Mungkin perlu penelitian lebih dalam lagi barangkali ya tentang > klaster industri maritim sehingga kebijakannya tepat, realistik dan > bisa menekan resiko gagal lebih kecil lagi. > > Yang saya bayangkan adalah semacam klaster industri kecil menengah > untuk pembuatan kapal ukuran kecil dan sedang beserta supply chainnya. > Yang pasti, bahannya bukan dari kayu. Pasarnya misalnya ekspor dan > domestik, untuk nelayan, ataupun kelas menengah ke atas untuk > yachting, perahu untuk rekreasi di pantai, danau, dan sungai. > > Saya yakin, teman-teman perkapalan dan kelautan pasti punya konsep, > minimal belum ditulis secara terintegrasi untuk meyakinkan pengambil > kebijakan. Isinya tentang masing-masing "diamond" nya Michael Porter > (1990 dan 1998) tentang klaster industri. Banyak studi kasus ungkapkan > pentingnya tata kelola, karena dari sinilah innovasi muncul, dan > timbullah "keunggulan kompetitif" nya Porter. > > Jangan-jangan gagalnya konsep "Kawasan Khusus" itu karena tata kelola > yang lemah kali ya ditambah lagi infrastruktur.. nggak ada innovasi, > dll. Solusinya? mungkin perlu manager professional kali ya...yang > bantu itu birokrat penguasa kawasan khusus...ampun.. .takut banyak > yang tersinggung he he he... > > Yang saya perhatikan selama ini, konsep klaster industri sudah ada, > Departemen Perindustrian punya prioritas pengembangan 10 klaster > menurut industri (RPJM Industri 2005-2009), termasuk di antaranya > klaster industri hasil perikanan, furniture, dll. tapi belum ada yang > spesifik industri maritim, khususnya untuk UKM. > > Di Riau Kepulauan, tradisi membuat perahu dan kapal tampaknya tidak > terlalu menonjol dibandingkan Riau Daratan; sepanjang hulu dan muara > sungai dulu banyak industri kapal rakyat. Masuk akal karena kayu ada > di daratan. Sekarang tampaknya semakin pudar. Mungkin ada sahabat > referensiers yang bisa beri pencerahan lebih lanjut? > > Untuk bidang jasa maritim, kontribusi Singapura saja sekitar 4,9% PDB, > mulai dari jasa pelabuhan, agen pelayaran, carter, hngga bunkering. > Wah kalau saja ada sedikit "spill over" untuk BBK, wah lumayanlah, > tapi hindarkanlah yang merusak lingkungan. > > Mau tau berapa kira-kira kontribusi perhubungan laut Kepri? Jangan > kaget, hanya 0,56% PDRB Kepri (2007). Jadi kesempatan masih sangat > besar. > > Sekian dulu pak. > > Salam hangat, > > Nuzul Achjar >

