Pak Wawo, Bang Nuzul dan Rekans ysh,

Menanggapi posting Bang Nuzul kedua ttg pengembangan UMKM, dari pengalaman saya 
mendampingi klaster UMKM, mungkin titik tolaknya agak beda.
Kalau klaster yang dirioritaskan Deperin, Bappenas dasarnya adalah kriteria 
'strategis' secara nasional. Sedangkan klaster UMKM titik tolaknya dari "apa 
yang (bisa) dilakukan UMKM setempat". Apa yang bisa dilakukan segera, bukan 
yang konsepnya masih dibahas (IMT-GT sudah lebih dari dua dekade tak tampak  
jejaknya).
Industri maritim juga, kalau memang belum ada, akan terlalu lama bagi UMKM. 
Kita bisa menyusun rencananya, tapi belum tentu 2-3 lagi jalan.

Yang biasa saya lakukan untuk mengembangkan "klaster UMKM" ialah mulai dari apa 
yang bisa dilakukan UMKM saat ini. Lakukan identifikasi lapangan, kegiatan 
ekonomi apa yang sudah mereka lakukan dan berkembang. Pilih 5-10 kegiatan yang 
relatih tumbuh baik, populasi relatif banyak, tentu ada pasarnya. Pokoknya 
pengertian sederhana dari "Porter's Diamond" itu. Ini praktis karena kalau 
mengandalkan statistik, jenis kegiatan UMKM yang ada tak muncul di statistik 
industri kabupaten.
Lalu undang beberapa wakil pemain utama dari 5-10 jenis kegiatan tersebut untuk 
menggali info sebesar apa industri itu, perkiraan omzet, sejauh mana mereka 
berkembang,kemana menjual, berapa populasinya, sudah adakah organisasi UMKM 
nya. 
Melalui proses yang partisipatif bisa dipilih (misal) 3 jenis kegiatan yang 
paling prospektif untuk dikembangkan segera, populasi cukup besar, telah 
berkembang. Inilah yang diprioritaskan sebagai penggerak ekonomi level UMKM.
Selanjutnya per jenis kegiatan kembangkan "kemitraan" antar sesama dan relasi 
hulu-hilir (supply-chain). Lalu bina juga kemitraan dengan institusi pendukung 
seperti perbankan, lembaga pendidikan & penelitian, usaha besar terkait 
(pemasok, penjual, eksportir). Tahap demi tahap permasalahan 6-M (marketing, 
manusia, modal, mesin, manajemen, material) digarap dalam kemitraan klaster 
kegiatan ekonomi sejenis. 
Kata kuncinya ialah mendorong partisipasi, kemitraan dan kemandirian mereka. 
Jangan judul-judul besar (misi, program nasional) kepada mereka, supaya fokus 
pada apa yang bisa bergerak dan mereka lakukan dulu. FAsilitasi mereka untuk 
tumbuh natural dulu, jangan buat mereka jadi menunggu-nunggu kebijakan 
(nasional, provinsi) yang entah kapan sampai di tempat. Saya yakin naturally 
mereka banyak yang sudah berkembang dan ekspor, cuma diluar program pemerintah 
daerah, sehingga Pemda biasanya sibuk mengejar-ngejar mereka dengan berbagai 
regulasi (pembinaan) yang ujung-ujungnya ....

Salam,
Risfan Munir


--- In [email protected], Hannie Waworoentoe <waworoentoehan...@...> 
wrote:
>
> Sdr Nuzul dan Risfan, rupanya surat pertama saya tidak terkirim dan sekarang 
> akan saya ulangi secara singkat.  Pada waktu ini wilayah BIMP_EAGA, Brunei, 
> Indonesia, Malaysia Pilipina - East Asian Growth Area, dimana kebetulan  
> Manado merupakan salah satu kota yang cukup strategis , kini perhatian utama 
> justru terarah pada pelabuhan-pelabuhan yang lebih kecil (daripada pelabuhan 
> container samudra seperti Bitung) disamping fungsi transportasi antar pulau 
> dan pelayaran pantai maka pelabuhan Manado juga pemakai kapal-kapal  
> penumpang,  cargo maupun kapalnelayan yang memang lebih kecil, juga kini8 
> sudah ada kebutuhan kapal penumpang yang lebih cepat yang dapat pulang pergi 
> seperti ferry, saya jelas sangat tertarik pada klaster industri maritim yang 
> punya fungsi dan orientasi khusus ini, termasuk juga aspek pendidikan pelaut 
> nelayan maupun manajemen sistim maritim itu. Memang sekarang ada perhatian 
> khusus dari ABD, tapi apakah sudah ada kebijakan khusus dari
>  pemerintah atau lembaga di Indonesia. Maafkan baru sekarang mulaiu ikut 
> diskussi. Salam dari Pak Wawo. 
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: Nuzul Achjar <ach...@...>
> To: [email protected]
> Sent: Saturday, July 18, 2009 6:07:18 AM
> Subject: Re: [referensi] Re: Coretan Ringan Tentang Maritim
> 
>   
> Pak Risfan dan sahabat Referensiers,
> 
> Mungkin perlu penelitian lebih dalam lagi barangkali ya tentang
> klaster industri maritim sehingga kebijakannya tepat, realistik dan
> bisa menekan resiko gagal lebih kecil lagi.
> 
> Yang saya bayangkan adalah semacam klaster industri kecil menengah
> untuk pembuatan kapal ukuran kecil dan sedang beserta supply chainnya.
> Yang pasti, bahannya bukan dari kayu. Pasarnya misalnya ekspor dan
> domestik, untuk nelayan, ataupun kelas menengah ke atas untuk
> yachting, perahu untuk rekreasi di pantai, danau, dan sungai.
> 
> Saya yakin, teman-teman perkapalan dan kelautan pasti punya konsep,
> minimal belum ditulis secara terintegrasi untuk meyakinkan pengambil
> kebijakan. Isinya tentang masing-masing "diamond" nya Michael Porter
> (1990 dan 1998) tentang klaster industri. Banyak studi kasus ungkapkan
> pentingnya tata kelola, karena dari sinilah innovasi muncul, dan
> timbullah "keunggulan kompetitif" nya Porter.
> 
> Jangan-jangan gagalnya konsep "Kawasan Khusus" itu karena tata kelola
> yang lemah kali ya ditambah lagi infrastruktur. . nggak ada innovasi,
> dll. Solusinya? mungkin perlu manager professional kali ya...yang
> bantu itu birokrat penguasa kawasan khusus...ampun. . .takut banyak
> yang tersinggung he he he...
> 
> Yang saya perhatikan selama ini, konsep klaster industri sudah ada,
> Departemen Perindustrian punya prioritas pengembangan 10 klaster
> menurut industri (RPJM Industri 2005-2009), termasuk di antaranya
> klaster industri hasil perikanan, furniture, dll. tapi belum ada yang
> spesifik industri maritim, khususnya untuk UKM.
> 
> Di Riau Kepulauan, tradisi membuat perahu dan kapal tampaknya tidak
> terlalu menonjol dibandingkan Riau Daratan; sepanjang hulu dan muara
> sungai dulu banyak industri kapal rakyat. Masuk akal karena kayu ada
> di daratan. Sekarang tampaknya semakin pudar. Mungkin ada sahabat
> referensiers yang bisa beri pencerahan lebih lanjut?
> 
> Untuk bidang jasa maritim, kontribusi Singapura saja sekitar 4,9% PDB,
> mulai dari jasa pelabuhan, agen pelayaran, carter, hngga bunkering.
> Wah kalau saja ada sedikit "spill over" untuk BBK, wah lumayanlah,
> tapi hindarkanlah yang merusak lingkungan.
> 
> Mau tau berapa kira-kira kontribusi perhubungan laut Kepri? Jangan
> kaget, hanya 0,56% PDRB Kepri (2007). Jadi kesempatan masih sangat
> besar.
> 
> Sekian dulu pak.
> 
> Salam hangat,
> 
> Nuzul Achjar
>


Kirim email ke