Sebelumnya marilah kita panjatkan doa untuk kesembuhan putera Pak BSP. Siril fatihah ...
Pak Aby ysh, terima kasih atas 'simpanan ilmu'-nya, menjadi semakin jelas. Sebenarnya dari saya sendiri tidak ada maksud lain selain curiosity, siapa tahu jadi pengetahuan berguna dalam kajian spatial culture kita. Untuk Minangkabau sendiri, saya yakin dulu ada namun sekarang sudah tidak ada, tentang perhitungan budaya geografis ini. Beberapa yang tersisa tersimpan di dalam tambo secara tertulis, dan sisa yang lain tersimpan di alam terkembang yang menjadi guru. Pada awal abad 19 tepatnya pada tahun 1803-1821 telah berlangsung gerakan Paderi yang memurnikan ajaran Islam di Minangkabau yang dilakukan oleh kelompok yang diistilahkan sebagai Wahabi. Beberapa ekses gerakan ini di antaranya adalah penghancuran Kerajaan Pagaruyung pada tahun 1808 yang pernah hidup lebih 4 abad, dalam artian fisik dan pemusnahan keturunannya (walau ada yang dapat meloloskan diri). Termasuk juga berbagai praktek kurafat, bid'ah, dll yang hidup di dalam masyarakat. Dari chaos itu lahir budaya baru yang sering disebut dengan adat bersendi syarak dan syarak bersendikan kitabullah (abssbk). Kapan waktu saya akan menguraikan, karena cukup mendalami masalah ini. Pengembangan 'budaya' ini di masa sekarang saya kira untuk memahami kearifan orang-orang terdahulu yang telah mewariskan suatu sistem keruangan yang Tuhan telah beri nikmat, dan Tuhan tidak murka, serta orang-orang terdahulu itu juga bukan orang yang sesat (al ayat <http://www.indoquran.web.id/ayat.php?surat=1&ayat=7> ). Demikian Pak Aby, saran-saran Pak Aby selalu saya perhatikan, terima kasih dan mohon tuntunan selanjutnya. Salam. -ekadj --- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote: > > Milisters semuanya ysh, > Sebenarnya saya tak mau ikutan diskusi ttg keblat papat limo pancer (k45p) iniâ¦â¦ tapi apa boleh buat host postingtainment kita kemarin menyinggung jg masalah penerapan oleh orang2 Jawa diluar Jawa dan kawasan transmigrasi dan beliau nunjuk, maka terpaksa saya ikutan sedikitâ¦â¦ > Tak banyak mengerti soal keblat 4-5 pancer ituâ¦. Tapi setidaknya model tata ruang k45p ini adalah model mistikasi  tata ruang peruntukan bagi raja atau especially raja Mataram/ Yogya (walau sblmnya malah sudah ada sejak Majapahit atau lbh lama lagi)â¦. maka ia bersifat aristosentrikâ¦.dan benar spt kata rekan Djarot bhw k45p lbh banyak mengandung dan mengutamakan dimensi spiritual berikut aspek energi gaibnya⦠dan barulah sesudahnya dimensi sosial ekonomi sekedar menempel  dibelakangnyaâ¦â¦. > Sementara itu proyek transmigrasi (kecuali yg pertama 1904, di Lampung) adalah model tata ruang pemerintah republik/ planologik/ demokratikâ¦. Yg lbh mengandung dimensi ekonomi dan sosial dan tak lagi berkait dgn masalah hubungan rakyat dan raja atau bahkan antara raja dan Tuhanâ¦â¦. Apalagi semasa orde baru kita tahu sendiri⦠selain recruitnya tak melulu orang jawa saja lagiâ¦. target2 recruitnya jg kuantitatip dan sementara itu  tak semua orangsuka transmigrasiâ¦â¦ maka program  transmigrasi menjangkau targetnya dgn cara a.l. membujuk orang2 susah di Jawa termasuk spt pemulung, tunawisma dsb agar pindah keluar Jawa yg padatâ¦.. atau kalau di Deli menjadi kuli kontrak..⦠jelas bhw tak ada kedekatan migran dgn pemikiran2 filosofi keruangan  model apapun ditempat mereka yg baruâ¦.. > Bahwa tak lagi seperti masa 1904 dimana transmigrasi (kolonisasi) lbh merupakan resettlement yg benar2 bedol desa dgn keleluasan replikasi budaya dari tempat asalâ¦.. transmigrasi pasca kemerdekaan tak lagi memiliki banyak keleluasan keruanganâ¦..tak hanya dalam satu unit pemukiman⦠bahkan dalam satu blok pemukiman pun transmigran bisa berasal dari bbrp sukuâ¦. atau kalau yg dari jawapun juga berasal campuraduk dari kabupaten pedalaman maupun pesisiranâ¦.jg campuraduk bahasa baik Jawa maupun Banyuwangi/ Madura dsbâ¦. Sehingga budaya mistik keruangan k45p itu semakin tak lagi terpikirkanâ¦â¦ paling2 dilokasi transmigrasi sisa2 nostalgia budaya ditempat asal sekedar diwujudkan berupa bahasa sehari2 serta pemberian nama-nama jalan lokal  diblok2 pemukiman dgn nama2 pewayangan  spt Samiaji, Werkudoro (Bima), Madukara,  Kresno, Abimanyu, Gatotkaca dan tak kurang ada juga jalan Abiyoso di lokasi transmigrasi Batumarta SumSel sanaâ¦.. > Tapi kembali ke spatial planning mistis  yg mengandung unsur enenrgi gaib Jawa k45p tadi ituâ¦..  Falsafah Kiblat 4-5 pancer yg lalu memiliki aspek energi di 4 arah mata angin  yg semula berasal dari pengertian Dulur 4-5 Pancer (4 saudara/air ketuban, ari2, darah persalinan, potongan pusar - dan 1 diri kita sendiri) dimana dgn kita  mengaktifkan ritual tertentu orang lain lalu setidaknya dapat melihat halusinasi kembaran sosok dari diri kitaâ¦. K45p ini juga dihubungkan  pula dgn hitungan hari2 pasaran yg jumlahnya 5 pula, bahkan juga energi sinar serta warnanyaâ¦. Seperti Legi/ timur/ udara/ sinar putihâ¦. Paing/ selatan/ api/ sinar merahâ¦.Pon/ barat/ air/ kuningâ¦.. Wage/utara/ tanah/ sinar hitam⦠dan terakhir Kliwon dipandang sbg âpusatnyaâ/ jiwa/ bermacam warna sinarâ¦..  > Tak hanya itu⦠k45p bahkan ada yg menghubungkan dgn sosok 4 punakawan dan 1 ksatria yg kemana2 selalu  ber-5 pergi bersama2â¦. > Sebenarnya para advanced learners ilmu Kejawen  yg melingkupi k45p itu banyak mengatakan bahwa k45p  yg asalnya adalah dulur4 5 pancer itu belumlah  apa2â¦.. yg jauh lebih canggih lagi adalah energi ke 6 dan ke-7 yg berasal dari udara yg dihirup dan dikeluarkan ketika  siibu mengejan dalam melahirkan kita⦠yg ia bahkan dpt berkomunikasi dgn kita dan menjaga kita⦠ namun mungkin itu dipandang sebagai tak kebanyakan orang mampu menggalinya dan memahaminyaâ¦.. sehingga brkali yg lbh sederhana dan mudah dan orang kebanyakan lbh dapat memahaminya  lalu adalah filosofi  k45p tadi ituâ¦â¦ dan barangkali juga konstelasi  angka 4 dan 1 itu kompatibilitas dgn banyak sekali fenomena alam yg konkrit disekitar kita jauh lbh luas dan luwes â¦..maka lalu berkembanglah falsafah tata ruang mistik aristosentrik  k45p ituâ¦â¦..    > Dimata orang Jawa, keraton itu dipandang  keramat. Kawula takut kuwalat jika berbuat semaunya di lingkungan keraton. Kawula selalu berasumsi bahwa raja itu memiliki kuluk kanigara, yaitu mahkota yg esensinya memuat kewibawaan. Mahkota/ makutha menyimpan hal-hal yang "the seen" dan "unseen worlds". Yang kasatmata, makutha itu benda berharga, yg ada di balik barang itu, adalah lambang kesaktian, kekuasaan, sebagai warisan pusaka Kiai Jaka Piturun. Maka ketika dipimpin raja, kawula merasa adhem ayem, tenang. > Kosmologi keraton Yogya tidak terlepas dari pandangan dunia Kejawen. Masyarakat kejawen berpikir tentang kosmologi Jawa melalui jenjang ciptaan Yg Maha Kuasa yang disebut Tribuwana, terdiri atas Guru loka (baitul makmur), Endra loka (baitul muharam), dan Jana Loka (baitul muqadas). Guru loka dalam posisi keraton diwakili oleh Gunung Merapi. Gunung berada utara (lor, utama), luhur. Posisi tengah yaitu Endra loka. Endra artinya raja. Raja kehidupan tidak lain hati (rasa sejati). Adapun Jana loka adalah gambaran kawula, rendah, dan bawah. Ketiga ranah filosofi-kosmis ini lalu memposisikan keraton sebagai sentral/ pustnya. > Pemikiran kosmologi Jawa kemudian berkembang lagi, dari  Tribuwana menjadi Pancabuwana. Konsep Pancabuwana tetap meletakkan keraton sebagai pusat. Pancabuwana memuat keblat papat lima pancer. Artinya, bahwa buwana manusia selalu dilingkupi oleh empat anasir dan keraton sebagai sentral (pancer) kehidupan. > Keraton Yogyakarta secara kosmis diapit oleh empat anasir kiblat, yaitu Kampung Gandamanan (Timur), Kampung Krapyak (selatan), Barat (Wirabrajan), Utara (Jetis). Makna filosofi Kampung Gandamanan ini jika ditarik ke utara lurus, simetris dengan Kampung Gandalayu (timur Tugu). Adapun Kampung Wirabrajan jika ditarik lurus ke utara muncul Kampung Pingit, sebelah barat Tugu. Jadi garis imajiner keraton ke Tugu menandai bahwa keraton itu diapit oleh dua nama kampung yang melambangkan hidup (Pingit, berarti suci) dan mati (Gandalayu, artinya bau bangkai). Hal ini ditandai pula, bahwa Kampung Pingit itu dialiri sungai Winanga dan Kampung Gandalayu dialiri Sungai Code. Winanga, berasal dari bahasa Jawa winong, artinya paham, ketahuilah, dekatkanlah dengan Hyang Winong yaitu Tuhan. Sebaliknya, jauhilah yang buruk, berbau bangkai, yang dilambangkan Sungai Code (dalam bahasa Jawa, cocode, kejelekan). > Dari waktu ke waktu, umumnya orang Jawa memandang keraton selalu menyebarkan ruh kosmis, yaitu: (1) memberi perlindungan (hangayomi), (2) memberi rasa aman, tenang, dan tenteram (hangayemi), (3) memberi berkah berbagai hal (hamberkahi). Ketiganya tergambar pada watak raja yang mahambeg paramarta. Artinya, raja selalu menyebarkan watak keutamaan kepada kawula. Kawula memandang sultan sebagai figur yang mampu amangku-amengku. > Amangku, artinya bisa menciptakan suasana tenang, adhem ayem, memahami aspirasi bawahan secara total sebagaimana seorang ibu memangku anaknya. Amengku, berarti mampu menjalankan kekuasaan yang tidak semena-mena, penuh kecintaan, perlindungan, penuh perhatian, seperti halnya sayap ayam melindungi anaknya. Among-momot, artinya mampu memimpin dengan kultur kejawaan yang penuh asah-asih-asuh, mewadahi segala keinginan kawula. > Rekan H. Ekadj  yg adalah raja dan pemimpin adat disalah satu kawasan Sumatera Barat kiranya boleh juga kalau mau coba menerapkan  filosofi keblat 4 5 pancer itu utk tata ruang disanaâ¦â¦ konsultasi lengkapnya bisa ke mas Djarot dan pak BSPâ¦..⦠> Salam, > aby >  >  > On Wed, July 22, 2009 4:27 AM "ffekadj" 4ekadj@ wrote : >  > Pak Djarot ysh, sebenarnya ada dua hal yang ingin saya tanyakan, yaitu : > 1 Bagaimana konsep keblat papat limo pancer itu diterapkan di luar Jawa? Saya sering memperhatikan bagaimana orang Jawa yang berada di luar Jawa menentukan orientasinya, dan kelihatannya agak 'miss' gitu. Atau ada orientasi bentukan baru? Untuk permukiman yang dominan seperti transmigrasi, kelihatannya belum terlalu terlihat, atau malah lebur. Yang tertinggal hanya 'bahasa Jawa'-nya saja? Mungkin Pak Aby bisa sekalian membantu. Namun ada yang mewujud seperti Lampung, ada kreativitas membangun orientasi sendiri. Untuk 'Jawa Deli', saya kira sudah lebur. Dulu saya sempat bergaul dengan keluarga-keluarga Jawa Suriname di Belanda, tidak terlalu 'kontak', namun komunikasi bisa intens bila menggunakan basa Jawi. > 2 Untuk aspek 'saudara bayangan' (9 unsur) dll sebenarnya dapat terjawab secara Islamologi, namun kelihatannya hal ini sangat nyata dalam pandangan Katholik sebagai diskusi yang dulu ? Sehingga saya ingin menanyakan sedikit tentang konsep 'Roh Kudus' secara Christology bila berkesempatan ? > Salam. > -ekadj >

