Pak Ekadj, sejauh saya tahu tempat yang keramat biasanya ada kaitan dengan NILAI SPIRITUAL tertentu, dan didatangi orang karena ada kebutuhan spiritual yang cocok dengan nilai yang ada di tempat itu. Kasus yang paling saya tahu ya Parangtritis. Teori yang ditemukan dari penelitian lapangan dengan paradigma fenomenologi adalah bahwa nilai spiritual itu menlahirkan (generate) nilai-nilai lain yang akhirnya menciptakan entitas kehidupan di tempat itu.
Batu Gilang di Parangkusumo, yang menurut legenda adalah "tempat indehoy" Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul merupakan titik penting di kawasan Parangtritis. Orang penganut kejawen datang dan berdoa di tempat itu dengan pemahaman sedang menghadap dua sosok gaib sedang duduk berdua, maka posisi doa menghadap kedua batu itu. Saudara kita para keturunan Cina mengadakan Peh Cun dengan titik pusat di batu gilang dengan persepsi penguasa laut Kidul adalah Dewi Kwan Im. Saudara saya penganut Islam berdoa di atas bukit di makam Syeh Maulana Maghribi dalam kaitan dengan ziarah ke makam tokoh-tokoh Islam...konon beliau adalah salah satu wali. Penganut Kejawen Hondodento juga menghadap Kanjeng Ratu Kidul mempersembahkan labuhan setiap bulan Suro ya di pesisir Parangkusumo. Labuhan Hindu dalam rangka ritual tertentu juga di Parangkusumo, yang diyakini merupakan "alun-alun utara" dari Kraton Segoro Kidul. Sementara teman-teman saya kelompok Pak Tembong berdzikir setiap tengah malam tepat di bibir pantai menghadap selatan ya di parangkusumo. Saya pernah mengikuti di tengah dzikir itu dari awal sampai akhir, rasanya seperti naik perahu besar di tengah samudera dan diayun-ayunkan ombak penuh nikmat. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Fri, 7/24/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] tempat keramat To: [email protected] Date: Friday, July 24, 2009, 8:04 PM Pak Koes dan rekan2 ysh, Ex ovo omnia (Lt.), mumpung kita sedang bicara, mohon pencerahan mengenai tempat/lahan keramat sebagaimana telah bapak ungkapkan di bawah. Kurang lebih apa-apa saja yang dapat disebut sebagai tempat keramat, aspek pemanfaatan ruangnya bagaimana, dan aspek pengendalian pemanfaatan ruangnya juga bagaimana? Berhubung banyak 'guru' dan praktisi di milis ini untuk berkenan berbagi pengetahuan dan pengalaman. Terima kasih sebelumnya. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi <m_koesw...@. ..> wrote: > > Ini yang terlihat (kasad mata). Yang tersimpan/tidak terlihat/supranatur al > masih banyak yg belum dipublikasi. Bila mau mendalami, menseriusi, bisa ke > para informal leaders.. Termasuk pemahaman soal 'anasir alam'. Sebagai info, > di beberapa tempat, diyakini banyak lahan keramat, makam keramat, juga > 'pesantren tua' seperti di Batu Ampar. Nah, soal 'keramat' ini, saya agak > khawatir dengan rencana expansi pembangunan2 lantaran adanya jembatan baru. > Semoga tidak ada konflik sosial-ekonomi. Semoga semua beroleh berkahNya. > Wassalam Koes, JKT

